Aku dan Sepatu

Memilih sepatu adalah hal yang paling jarang saya alami. Dalam sepuluh tahun terakhir, mungkin dua atau tiga kali memilih sepatu. Bahkan, mungkin tidak terlalu pas jika disebut memilih sepatu.

Sepatu yang saya suka, asalkan polos dan pas/nyaman di kaki, maka saya tidak perlu mempertimbangkan hal lain lagi. Polos di sini, tidak terlalu banyak desain yang muncul ke permukaan, ini terkait dengan profesi saya sebagai dokter, mencegah terlalu banyak kuman hinggap di sepatu. Sementara itu juga mudah dilepas, karena sifat kerja yang berpotensi akan sering berganti alas kali jika memasuki ruang yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan harga? Ada rupa ada harga, sepatu pun demikian.

Terakhir kali saya membeli sepatu yang nyaman ketika di Banyuwangi dulu, tepatnya di daerah Sempu. Sebuah produksi sepatu lokal bermerek Ivori, saya datang langsung ke tempat produksinya untuk mendapatkan harga yang relatif murah.

Saya, karena beberapa hal, membeli dua pasang sepatu dari tempat tersebut, dan sampai sekarang satu masih saya pakai cukup sering, sementara satunya masih bagus seperti baru karena jarang digunakan.

Sampai beberapa hari yang lalu saat Imlek, istri mentraktir saya untuk sebuah sepatu, mungkin melihat sepatu yang saya gunakan sudah lusuh dan lama. Yah, saya sudah menggunakan sejak enam tahun yang lalu dan hampir setiap hari.

Dulu saya juga sempat melihat-lihat ke sentra produksi sepatu lokal di Bantul, tepatnya di Manding. Tapi waktu itu, tidak ada satu pun sepatu yang bagiku saya ‘polos dan nyaman’, seperti yang saya dapatkan di Banyuwangi dulu. Jadi saya batal membeli sepatu, itu sekitar lebih dari dua tahun yang lalu.

Kemudian, saat kemarin kami berputar-putar mencari sepatu. Saya akhirnya mendapatkan sepatu yang pas di Marc & Stuart, yang berlokasi tidak jauh dari Mirota Kampus, Sleman.

Saya juga cukup kaget, karena harganya bisa lima hingga sepuluh kali harga sepatu yang saya beli enam tahun yang lalu. Untungnya, saya boleh memilih, sambil berdoa dalam hati, semoga awet digunakan.

Sepatu yang bagus akan membuat kaki nyaman menggunakannya, apakah dikenakan lama, untuk berjalan jauh, naik turun tangga, dan sebagainya, kaki tidak mudah merasa lelah. Jika kaki merasa tidak nyaman berlama-lama menggunakan sepatu, berarti sepatu tersebut tidak sehat untuk kaki.

Kadang ada orang yang suka membuat sepatu langsung ke pengerajin sepatu karena memang kebutuhan akan kenyamanan sepatu. Untungnya kaki saya masih cukup nyaman untuk sepatu yang ada di pasaran.

Istri saya sendiri mendapatkan sepatunya di Shoeline dengan bermerek Horde. Dia memerlukan sepatu yang jauh lebih empuk untuk mendukung aktivitasnya dalam bekerja, dan saya masih menyarankan untuk menambahkan bantalan silikon jika masih merasa kurang pas. Setidaknya bantalan seperti ini mampu mencegah kondisi seperti “plantar fascitis” muncul mengganggu tumit dan telapak kaki.

2 tanggapan untuk “Aku dan Sepatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.