Meja Kerja

Katanya, meja kerja mencerminkan kepribadian pemiliknya. Sayangnya, meja kerja saya mungkin mencerminkan kondisi pikiran yang jauh dari tenang. Kondisi pandemi mengubah banyak hal, dan lebih banyak dari yang diduga, karena perburukan serta merta bisa diperkirakan dengan melibat pilihan masyarakat dalam menghadapinya.

Ada banyak hal yang saya kerjakan saat ini, hanya saja bukan itu yang ingin saya utarakan.

Pagi ini, meja kerja lama saya diambil alih istri, dan diberikan ganti meja lainnya. Lebih pendek, tapi lebih lebar. Mungkin sindiran untuk perut saya yang bertambah lebar 😂.

Meja kerja saya selalu penuh seperti itu. Ini pun sudah termasuk lebih rapi. Biasanya ada banyak tumpukan kertas bekas hingga bungkus susu UHT atau gelas kopi. Bedanya dengan masa kuliah, sudah tidak ada tumpukan buku lagi.

Era nirkertas membuat perubahan besar, di mana buku dan catatan tersimpan dalam bentuk elektronik. Apalagi saat ini, rujukan kepustakaan beralih dari era buku menuju era karya ilmiah. Sehingga kadang menjadi lelucon bahwa di era paperless pelajar malah berburu paper.

Saya terbiasa bekerja dengan monitor ganda (dulu), dan juga dengan sejumlah layar (sekarang). Kadang itu pun bisa jadi terasa tidak cukup. Untungnya, ketidakcukupan itu hanya perasaan, bukan kondisi yang mendesak untuk dicukupkan.

Meja kerja dicukupkan seadanya, buat saya saat ini, yang penting bisa dipakai kerja. Kalau meja kerjanya keenakan, I could gain weight faster than I could gain brain.

Satu respons untuk “Meja Kerja

Komentar ditutup.