Pandemi & Pilkada

Langkah eksekutif dan legislatif melenggangkan pesta demokrasi daerah atau PILKDA tampaknya tidak terbendung. Bagaimana pendapat pribadi saya sebagai praktisi kesehatan mengenai keterkaitan pandemi dan pilkada pada akhir tahun ini?

Saya bisa membaca di sejumlah tulisan daring, bahwa pemerintah tengah menyiapkan kemungkinan vaksinasi pada akhir tahun ini. Ya, vaksinasi adalah senjata terbaik yang bisa kita harapkan untuk memerangi pandemi saat ini. Tapi apakah ini realistis? Secara pribadi, saya rasa itu lebih pada sebuah keajaiban dibandingkan realita. Laporan perkembangan kemajuan uji coba pelbagai calon vaksin COVID-19 dapat diunduh dari situs resmi WHO. Jadi sebenarnya cukup sederhana untuk bisa membandingkan sejumlah pernyataan yang kita dengar atau baca dari media, dengan perkembangan menurut laporan resmi yang asli.

Jika pada akhir tahun belum ada vaksin, apakah pilkada tetap akan aman?

https://cbsnews3.cbsistatic.com/hub/i/r/2020/04/06/f8f0037e-8101-4a69-bc00-ad1e58d81bcc/thumbnail/640x519/1563ae2d8d2552ff122559ad1d39761b/thesacramentobee11061918-highlighted-1.jpg
Sebuah kliping acak mengenai potongan situasi pemilihan umum dan pandemi influenza seabad yang lalu.

Dalam situasi pandemi, semua kegiatan berkumpul adalah risiko bagi percepatan laju pandemi.

Kita harus memahami bahwa risiko percepatan laju pandemi selalu terkait dengan aktivitas manusia. Mengapa? Karena SARS-CoV-2 yang menjadi biang kerok Pandemi COVID-19 ini menular dari orang ke orang. Jika seseorang tidak pernah kontak dengan mereka yang sakit, bagaimana mungkin mereka bisa tertular?

Kita harus paham dengan yang namanya rantai penularan.

Rantai penularan infeksi. Sumber: Badan Kesehatan Masyarakat Ottawa.

Di mana pun kelima rantai ini bisa muncul, maka rantai infeksi akan mulai berputar. Untuk COVID-19, rantai ini pendek, hanya dari orang ke orang. Kumpulkan seratus orang dengan salah satunya COVID-19, kita bisa mendapatkan satu atau dua orang positif tambahan dalam beberapa hari ke depan.

Oleh karena itu, area publik merupakan wilayah yang paling mendukung rantai infeksi terbentuk dengan baik.

Tentu saja, manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat bertahan hidup sendiri. Kita saling ketergantungan satu sama lain. Dan proses pemenuhan hubungan saling ketergantungan ini menjadi oli penggerak laju pandemi. Di mana ada orang ketemu orang, di sana ada risiko penularan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperlambat laju pandemi (sementara ini kita katakan memperlambat, bukan menghentikan) adalah mengurangi faktor risiko terbentuknya rantai infeksi yang efektif.

Hindari kontak langsung dari orang ke orang. Selalu menggunakan sawar pada portal of exit and portal of entry, intinya semua orang menggunakan masker standar (jika bisa masker bedah) yang menutupi lubang hidung dan mulut, serta google untuk pelindung mata.

Pernyataan di atas merupakan secuil mitigasi pandemi yang bisa dilakukan oleh hampir semua orang. Hampir semua orang karena ada mereka dengan hendaya fisik dan kongnitif yang mungkin tidak dapat melakukan mitigasi tersebut secara mandiri.

Dan hampir semua masyarakat kita tahu akan situasi pandemi dan mitigasi sederhana di atas. Tapi apa kenyataannya di lapangan? Anda dan saya tahu, kita tidak usah membahasnya kembali.

Tanpa kesadaran dan komitmen setiap anggota masyarakat, maka menghentikan percepatan penyebaran pandemi adalah hal yang mustahil.

Saya tidak dapat membayangkan seperti apa jadinya ketika pilkada berlangsung. Karena pilkada bukan semata-mata datang ke tempat pemungutan suara (TPS), namun juga dimulai dari kampanye dan pelbagai pertemuan yang terjadi dalam prosesnya.

Mungkinkah masyarakat tidak peka? Mereka mungkin peka terhadap bencana yang terjadi mendadak, seperti gempa bumi dan tsunami yang dampaknya langsung ada di depan mata. Tapi pada bencana yang kini sudah merengut lebih dari selaksha nyawa korbannya, dan itu pun masih belum merupakan ledakan puncak bencana jika tidak dibendung, – mungkin orang tidak terlalu peduli.

Bukannya saya berkata bahwa pemilihan yang sukses di tengah pandemi itu tidak ada, tapi sulit (baca: Elections in a Pandemic: Lessons From Asia). Ada banyak pertimbangan teknis melakukan pemilihan dalam situasi pandemi, termasuk pemilihan melalui pos (baca: Pemilu & COVID-19).

Saya sendiri berharap, pemilihan seperti Pemilu dan Pilkada dapat dilakukan melalui internet. Sayangnya di tahun 2020 ini, hal tersebut masih tidak dimungkinkan.

Lalu apa pilkada harus ditunda? Pada situasi seperti ini, dan pada kesadaran dan komitmen masyarakat dan pemerintah kita dalam “taraf” seperti saat ini. Ya, saya sepakat bahwa pemilihan selayaknya ditunda.

Satu tanggapan untuk “Pandemi & Pilkada

  1. Saya geregetan dengan kebijakan pemerintah yang tidak menunda Pilkada 2020. Kalaupun tidak menunda, batasilah kegiatan-kegiatan kampanye atau debat terbuka, atau kegiatan yang selalui siikuti oleh pengumpulan massa. Pendaftaran ke KPUD saja dikawal ribuan simpatisan. No hope.

    Sekarang Kemenkeu menambah anggaran Pilkada triliunan untuk protokol kesehatan selama Pilkada. Protokol kesehatan selalu jadi kata sakti, padahal seharusnya menurut saya, protokol itu baru diberlakukan kalau segala upaya untuk pencegahan keramaian sudah dilakukan optimal dan ternyata gagal. Ini kan belum, pencegahan penularan baru sebatas imbauan-imbauan, belum ditegakkan secara tegas.

    Jakarta yang tidak ada Pilkada tahun ini saja masih yang tertinggi kasusnya, semoga daerah yang Pilkada tidak mengalaminya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.