Protokol Kesehatan COVID-19

Ada beberapa protokol yang selayaknya diketahui masyarakat mengenai alur penanganan COVID-19 secara umum. Sedemikian hingga tidak bingung.

Apakah Anda baru saja pulang dari daerah dengan transmisi lokal?1 Jika “YA” dan Anda sehat, segera isolasi diri di rumah. Jika memerlukan surat keterangan dokter, silakan kunjungi puskesmas, atau hubungi petugas puskesmas yang ditunjuk sebagai petugas dalam kasus COVID-19.

Jika “YA” dan bergejala. Segera memeriksakan diri ke puskesmas, gunakan masker dan hindari menggunakan transportasi umum. Jaga diri Anda dan orang lain.

Jika Anda merasa pernah “KONTAK” langsung dengan pasien/orang yang “POSITIF” COVID-19, segera melapor ke puskesmas atau rumah sakit rujukan. Sama, gunakan masker dan hindari menggunakan transportasi umum. Continue reading →

Bagaimana Coronavirus Mengubah Gaya Hidup dalam Sepekan Terakhir?

Wabah COVID-19 menghampiri kita dengan cepat. Saya pertama kali berceletuk sekitar 8 Januari, sepekan setelah pertama kali wabah merebak di Wuhan, Tiongkok. Kini, dua pertiga perjalanan di Bulan Maret, saya melihat kekacauan yang tak kasat di mata-mata, dan komunitas kesehatan berjibaku dalam keheningan – atau mungkin dalam kebisingan yang salah arah dalam menyikapi pandemi.

Meski saya sendiri melihat bahwa pemangku kebijakan kita kurang peka, setidaknya kita tidak seburuk Amerika Serikat, dan kita jauh dari sebaik Kanada, saya melihat teman-teman berjuang dengan sebaik-baiknya. Banyak pejabat yang justru terkena COVID-19, yang menunjukkan betapa konyolnya itu, sekonyol kita menyaksikan tentang para pejabat Iran yang berjatuhan karena COVID-19.

Continue reading →

Kesan Menggunakan Realme XT

Kurang dari tiga hari, saya mengganti ponsel lama saya dengan ponsel baru-bekas, Realme XT. Bisa dibilang sebuah proses tukar tambah, dari Xiaomi Note 4 dan BlackBerry Passport dengan ponsel second-hand Realme XT. Pada awalnya, saya juga sempat mempertimbangkan iPhone 7, namun waktu hidupnya tidak lama lagi, sekitar dua tahunan, jadi saya mengurungkannya. Xiaomi Note 4 yang saya pegang awalnya, sebenarnya masih punya dua hingga empat tahun waktu hidup lagi, hanya saja saya terkendala dengan ruang (ROM) internal yang berkapasitas 32 GB yang makin sesak, dan tidak memiliki tambahan celah untuk bergerak. Saya kehilangan beberapa pesan penting di ponsel ini karena ketidakmampuannya melakukan pencadangan secara segera.

Realme XT yang saya gunakan saat ini adalah sebuah ponsel bekas yang saya dapatkan dari toko daring. Sehingga, pengalaman saya menggunakannya, mungkin tidak akan sama dengan yang menggunakan ponsel barunya, dan saya tidak dikabari juga alasan mengapa ponsel ini dijual, apakah karena kerusakan, atau sebagainya.

Continue reading →

Format Ulang Laptop Lagi

Entah sudah berapa tahun saya tidak pernah berurusan dengan kerusakan laptop, yang saya harus melakukan format mandiri laptop milik sendiri. Entah mimpi apa yang datang di awal pekan yang lalu, di tengah pekan saya sampai kehilangan akses terhadap beberapa aplikasi, dan dengan pelbagai cara, saya tidak bisa melakukan pemulihan. Salah satunya adalah akses terhadap Office 365 – yang merupakan ‘senjata’ kerja saya di laptop.

Baru saja kemarin saya mengganti baterai-nya, eh sekarang malah muncul masalah ini. Ini laptop sepertinya punya sentimen pribadi.

Awalnya saya mengikuti secara rinci penyelesaian masalah yang disarankan oleh pihak Microsoft, baik di halaman resminya, maupun melalui pesan langsung di Twitter. Tidak satu-pun dari saran dan metode tersebut bisa. Kesalahan tersebut terdokumentasi dengan baik, tapi solusi yang ditawarkan tidak bermanfaat bagi situasi yang saya hadapi.

Akhirnya, saya memutuskan melakukan penyetelan ulang (istilahnya dikembalikan ke kondisi awal pabrik), dan ini juga gagal. Saya mencoba mengembalikan Windows seperti baru dengan menghapus semua setelan pabrik, ini pun tak membuahkan hasil. Continue reading →

Aku dan Sepatu

Memilih sepatu adalah hal yang paling jarang saya alami. Dalam sepuluh tahun terakhir, mungkin dua atau tiga kali memilih sepatu. Bahkan, mungkin tidak terlalu pas jika disebut memilih sepatu.

Sepatu yang saya suka, asalkan polos dan pas/nyaman di kaki, maka saya tidak perlu mempertimbangkan hal lain lagi. Polos di sini, tidak terlalu banyak desain yang muncul ke permukaan, ini terkait dengan profesi saya sebagai dokter, mencegah terlalu banyak kuman hinggap di sepatu. Sementara itu juga mudah dilepas, karena sifat kerja yang berpotensi akan sering berganti alas kali jika memasuki ruang yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan harga? Ada rupa ada harga, sepatu pun demikian.

Terakhir kali saya membeli sepatu yang nyaman ketika di Banyuwangi dulu, tepatnya di daerah Sempu. Sebuah produksi sepatu lokal bermerek Ivori, saya datang langsung ke tempat produksinya untuk mendapatkan harga yang relatif murah.

Saya, karena beberapa hal, membeli dua pasang sepatu dari tempat tersebut, dan sampai sekarang satu masih saya pakai cukup sering, sementara satunya masih bagus seperti baru karena jarang digunakan. Continue reading →

Banjir, Jakarta, dan Belanda

Satu dua hari terakhir menyaksikan berita dan pembaruan kabar di televisi dan media sosial, terbanyak adalah isinya mengenai banjir – terutama di ibukota dan daerah sekitar (penyangga ibukota). Mungkin adalah drama antara tragedi bencana alam dan tragedi kemanusiaan. Bahkan dikabarkan korban nyawa telah berjatuhan.

Tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia, banjir merupakan bencana alam. Tapi untuk kasus Jakarta, saya kadang mengingat kembali bahwa Jakarta tidak terlalu berbeda dengan Belanda dalam hal posisi dengan laut. Bahkan Belanda tercatat dalam sejarah perlu waktu seribu tahun untuk menaklukan banjir. Continue reading →