What’s your favorite romantic song?

What’s my favorite romantic song? Well, there are two actually, but if I may only choose one of them, it would the “eyes on me” over “melodies of life.” Both are old school, but well, I came from an old era after all.

The songs come from the same game franchise, and I love them. I played FF VIII many times in the past, as well as the FF IX (while the latter I’ve never been able to finish it). So the song always gives me a vivid yet vibrant recollection of something carved deep in my memory.

I also like “To Zanarkand.” But, since I never gone too far within the game. Stuck somewhere within a dungeon before I quit 😅.

Final Fantasy VIII perhaps the only series that I have completed. And I fall in love with the story and the musics, including the legendary “Eyes on Me.” It is a warm, full of affection and tenderness song. When I miss something behind, I always find this song gives me a calmness and a bittersweet taste in my mind.

Wonder Woman 1984

Sudah nonton filmnya? Film ini asyik jadi film keluarga, kecuali jika yang nonton punya kecenderungan tertentu. Tapi untuk jadi film laga superhero, film ini kurang menggigit dibandingkan pendahulunya. Oke, malah sudah pada kesimpulan.

Jangan lihat banyak ulasan terlebih dahulu, karena banyak ulasan akan memberi nilai di bawah tujuh dari sepuluh bintang. Sangat pahit untuk sebuah film yang dinantikan di tengah pandemi. Sayangnya, ulasan itu mungkin tidak keliru.

Cuplikan Klip Wonder Woman 1984 (2020)

Konsep ceritanya bagus, tapi dibawakan terlalu lambat dan banyak tambahan yang membuat kesan cerita menjadi acak. Karakter antagonis rasanya juga dibawakan kurang mendalam, sehingga ada kesan “penjahatnya cuma kaya gitu?” ketika saya menonton. Tentu saja, mungkin ini akibat dosis tinggi trilogi “Dark Knight” yang masih saya rasa sebagai puncak adaptasi karya DC ke layar lebar, di mana kita mendapatkan asupan karakter antagonis yang wow.

Pun dibandingkan dengan film sebelumnya, Wonder Woman pada tahun 2017 memiliki puncak adegan terkenal yang diberi judul “No Man’s Land” yang punya kekuatan sebuah film yang tidak muncul di film tahun 2020 ini. Adegan pada film tahun 2017 tersebut merupakan salah satu adegan yang akan selalu dikenang oleh para penggemar film.

No Man’s Land – Wonder Woman (2017)

Akting yang dibawakan tokoh utama oleh Gal Gadot saya kira kualitasnya tidak menurun. Tapi tidak tersedia “scene” untuk memaksimalkan akting itu. Saya bahkan berharap ada semacam Snyder’s Cut untuk Wonder Woman 1984 sebagaimana yang ada untuk Justice League. Siapa tahu ada adegan yang cukup bagus untuk menyambung semua kekacauan yang ada dalam film ini.

Saya bahkan melewatkan beberapa adegan karena saya anggap tidak menarik atau tidak terlalu bermakna untuk dinikmati.

Tapi mengapa saya katakan film ini menjadi film keluarga yang sangat bagus? Karena pesan yang dibawa di awal, pertengahan dan akhir film sangat sesuai. Dan ini menjadi film keluarga di penghujung tahun yang sangat sayang untuk dilewati.

Shelter

I believe this was a full year where I’ve spent time to watch a memorable anime. I was planning to enjoy the “Waethering with You” by Makoto Shinkai, but somehow, I could not make myself to watch it. Even “Scarlet Bullet” from the cosmology of Case Closed movies was postponed this year to the pandemic situation.

Then, on a fateful day, I encountered this short, amazing old anime by Porter Robinson and Studio A-1, the “Shelter.”

Perhaps this six-minutes anime represents something deeply hidden in this year, that I love it.

Shelter

Mi Box S – Nonton 4K di Rumah Aja

Mi Box S sudah ada sejak lama, dan versi barunya Mi Box 4K baru meluncur di India. Tapi yang saya ulas kali ini adalah Mi Box S versi global yang sudah lama ada di Indonesia.

Mi Box S merupakan salah satu produk Android TV yang ditelorkan oleh Xiaomi. Setahu saya, secara global hanya ada dua produsen yang menghasilkan Android TV yang tersertifikasi oleh Google, Mi Box oleh Xiaomi dan Nvidia Shield oleh Nvidia. Sementara itu di dalam negeri ada perangkat seperti Transvision Xtream yang menyatakan sudah tersertifikasi oleh Google.

Mengapa bukan Mi TV Stick? Alasan yang sama ketika saya memilih Roku Streaming Stick dulu. Mi Box S sudah mendukung siaran 4K, sementara Mi TV Stick saat ini baru mendukung sampai HD. Kecuali televisi yang digunakan tidak mendukung 4K (Ultra HD), maka tidak ada fungsinya mengambil produk yang mendukung hingga 4K. Tentu saja, pita internet selebar minimal 25 Mbps diperlukan untuk mendukung streaming siaran daring 4K.

Pertama-tama, apa yang saya suka dari Mi Box S?

  1. Termurah dari Google Certified Android TV yang mendukung resolusi 4K di pasaran saat ini.
  2. Dimensi mungil dan bisa ditempatkan di mana saja.
  3. Remote tidak berbasis IR, tapi menggunakan bluetooth.
  4. Memudahkan login ke pelbagai aplikasi dengan SSO Google.
  5. Now, we talk with VPN, baby!

Lalu, apa yang kurang saya sukai?

  1. Remote nyaris tidak bisa dipasangkan (pairing) pada kasus saya, sehingga saya harus menggunakan aplikasi Android TV Remote oleh Google di ponsel Android pada awalnya.
  2. Tidak mendukung RJ45, artinya tidak mendukung konektivitas kabel, hanya dari WiFi.
  3. Tayangan yang dihasilkan tidak semanis aplikasi asli (native) di Tizen OS.
Tampilan Android TV Mi Box S pada Smart TV Samsung.

Saya akan berbicara tentang user experience (pengalaman pengguna) dari kacamata saya.

Harus diketahui, tidak semua tayangan disajikan dalam format 4K (2160). Hanya sangat sedikit tayangan dalam format ini. Kebanyakan dalam format HD (720) atau FHD (1080). Atau kadang justru malah film lama memiliki kualitas SD (480) ke bawah, yang membuatnya sangat tidak nyaman ditonton di televisi modern.

Tayangan yang tidak 4K, pada Smart TV berbasis Tizen OS seperti Samsung yang saya gunakan, ada istilah smart upscalling. Jadi menampilkan tayangan yang tidak 4K, setidaknya tetap nyaman di layar 4K. Tentu saja dengan teknologi HDR yang menjadikannya tampil lebih manis.

Tizen OS sudah mulai sejak lama dalam dunia pertelevisian, sementara Android OS mungkin baru saja mencoba merebut pasaran. Tapi ketika keduanya dipadukan, hasilnya menjadi tidak menarik.

Perhatikan perbandingan gambar berikut.

Aplikasi Viu melalui aplikasi di Mi Box S (kiri) dan aplikasi asli pada Samsung Smart TV (kanan)

Aplikasi dari Mi Box S yang tayang di Samsung Smart TV memiliki kualitas gambar yang tidak semanis aplikasi bawaan Samsung Smart TV. Jadi jika orang ingin streaming dengan kualitas yang lebih baik, dan aplikasi ada di Android Box dan Native Apps, maka pilihan terbaik adalah menonton melalui native apps di Smart TV itu sendiri.

Upscalling pada Mi Box S sepertinya tidak dapat dilakukan dengan baik oleh Samsung Smart TV, atau memang Samsung Smart TV tidak mendukung teknologi upscalling dan HDR dari perangkat eksternal? Entahlah.

Karena, tanpa HDR, rasanya hidup tidaklah hidup. Tontonan kurang terasa realistis.

Isu ini tidak hanya muncul pada Mi Box S, tapi juga pada Roku Streaming Stick. Jadi saya menganggap, mungkin memang demikian.

Sehingga, mungkin saja, jika memang ingin pengalaman Android TV yang sesungguhnya. Bisa jadi memilih langsung dari televisi yang menggunakan Android OS, bukan dari Android TV Box. Sayangnya, Samsung setahu saya tidak memiliki produk Android TV. Karena Tizen OS yang dikembangkan olehnya cukup bagus, stabil, dan berkualitas tinggi.

Hanya saja, aplikasi pada Tizen OS sering tidak mendapatkan perhatian pengembang. Merebaknya Android TV mungkin saja bisa mengubah arah prioritas pengembangan aplikasi streaming dari Tizen OS ke Android OS. Kabar baiknya, banyak produsen TV berkualitas seperti BenQ, Blaupunkt, hingga Sony menyediakan produk Android TV mereka. Atau jika anggaran terbatas, produk Changhong dan Xiaomi siap menjadi solusi Anda.

Kualitas siaran Mi Box S

Saya mencoba menayangkan film Moana dari aplikasi Disney+ di Mi Box S. Film ini hadir dengan format FHD (1080), dan membutuhkan lebar pita 26-27 Mbps untuk membuatnya bisa tayang lancar di Mi Box S.

Apakah hasilnya bagus? Ya, cukup enak untuk ditonton. Saya bilang cukup, karena saya pernah memutar film Moana kualitas FHD (1080) dengan kualitas yang lebih baik dalam ingatan saya. Meskipun Mi Box S membawa kemampuan HDR di dalamnya, saya masih merasakan ada yang kurang.

Hei, tapi siapa saya yang protes. Langganan Disney+ juga karena dapat promo hanya IDR 70-an ribu per tahun. Kalau mau kualitas bagus banget, mungkin mimpi kali ya.

Saya hanya penasaran, kalau saya menggunakan Nvidia Shield atau Nvidia Android TV yang mendukung 4K, apakah pengalaman penggunaannya akan serupa?

Terakhir, saya senang karena pada Mi Box S, saya bisa menggunakan VPN yang tidak bisa saya gunakan pada Tizen OS Samsung Smart TV sebelumnya. Yang saya gunakan adalah langganan saya, avast! SecureLine yang pernah saya ulas sebelumnya.

VPN memungkinkan pengguna mengakses banyak siaran yang bermasalah di Indonesia. Misalnya siaran Netflix pada jaringan Indihome. Saya bisa menonton Netflix dengan lancar menggunakan VPN di Mi Box S pada jaringan Indihome. Tentu saja repotnya, VPN harus dinonaktifkan kembali jika hendak menonton siaran lain, seperti Viu, Iflix, Amazon Prime Video, atau Disney+ Hostar.

Simpulan saya, Mi Box S merupakan alternatif paling terjangkau untuk menikmati siaran daring dari pelbagai penyedia yang tersedia melalui Android TV hingga kualitas 4K. Sayangnya, pengalaman 4K ataupun FHD yang ditawarkan kurang sempurna karena kualitas pengolahan gambar yang kurang mumpuni. Jika menggunakan Tizen OS Smart TV, maka sebaiknya memilih aplikasi bawaan Smart TV jika tersedia untuk pengalaman yang lebih baik, manfaatkan Mi Box S untuk siaran yang tidak bisa diakses atau tidak tersedia pada Tizen OS.

Hua Mulan – Penantian yang Tertunda

Pandemi COVID-19 menyebabkan kita mengalah untuk tidak pergi ke bioskop. Banyak film yang ditunggu-tunggu untuk tayang di bioskop ditunda, atau dialihkan media tayangnya. Salah satunya adalah Film Mulan (2020), yang melewati fase tayang di bioskop dan lebih dahulu tayang melalui media streaming Disney+.

Jadi bagaimana Film ini, apakah menarik? Menurut IMDB, film ini biasa saja. Tapi menurut saya, fim ini jauh lebih baik dari harapan (expectation) saya. Tentu saja saya masih ingat ketika menonton Mulan (1998), membuat saya tertawa dan terhibur dengan animasi serta musik yang indah. Dan Mulan (2020) memberikan adaptasi live action yang sangat memuaskan atas film animasinya.

Jalan cerita Mulan (2020) tidak jauh berbeda dengan animasi Mulan (1998), tentu saja ada yang berbeda, tapi tidak secara umum. Tentu saja juga tidak serta merta serupa dengan cerita Mulan asli dari dataran Utara negeri Tiongkok. Disney memang terkenal mengadaptasi menjadi cerita yang berbeda dari aslinya.

Karakter dan jalan ceritanya tampak lebih hidup, dan meskipun cerita bertema perang dan pembantaian, Disney mampu menghadirkan latar cerita yang tidak terlalu gelap dan tetap ramah bagi semua usia. Ini yang membuat film Mulan layak menjadi film keluarga, tentu saja dengan sematan nilai-nilai moral di dalamnya.

Bagi saya, film ini memberikan hiburan yang memuaskan. Cerita yang tertata apik, humor ringan, tata efek khusus yang apik, hingga aktor-aktris favorit. Saya bahkan tidak tahu siapa pemeran utamanya, yang saya tahu hanya Donnie Yen dan Gong Li, saya bahkan melewatkan Jet Li yang hanya tampil beberapa detik-menit dalam skenario yang terpotong-potong. Maklum, penikmat film seusia saya ingatnya bintang Mandarin dari era yang lalu.

Akhirnya, setelah Crouching Tiger Hidden Dragon, akhirnya ada juga film Tiongkok klasik hasil kerjasama Barat-Timur yang bisa tampil baik di layar global. Saya agak kecewa dengan film the Great Wall yang dibintangi oleh Matt Damon dan Andy Lau, lumayan terobati dengan the Wandering Earth – hanya saja kelas aktornya memang beda, dan temanya tidak klasik.

Secara keseluruhan film ini tidak boleh dilewatkan dari daftar film keluarga. Hanya saja, harganya cukup mahal untuk langganan Disney+ dan pembelian tiket premier film Mulan. Jadi, sayang jika ditonton seorang diri.

Penggemar Anime, Pilih Crunchyroll atau Netflix?

Kemarin saya sempat menulis memilih antara Prime Video dan Netflix untuk edisi hiburan yang umum. Tapi bagaimana dengan penggemar anime? Nah, kenapa tidak ambil keduanya saja? Oh, keduanya sama-sama mahal, terkecuali Netflix yang hanya untuk gawai tanpa siaran HD.

Crunchyroll diketahui ada sejak lama dan bersanding dengan layanan anime klasik seperti Funimation. Keduanya memiliki pro dan kontra sendiri, meski sekarang mungkin agak sulit dibedakan.

Crunchyroll vs Netflix pada Windows 10 Apps

Keduanya memiliki kepustakaan yang cukup, namun terbatas dengan isi yang cukup berbeda. Sering kali apa yang ada di Crunchyroll tidak akan ditemukan pada Netflix, demikian juga sebaliknya.

Tentu saja ini mungkin karena Netflix memiliki konten orisinal mereka sendiri, dan Chrunchyroll (mungkin) memiliki kontrak eksklusif dengan studio anime tertentu. Sesuatu yang wajar pada industri siaran digital saat ini.

Sedemikian hingga, saya rasa keduanya bisa dibilang bersaing dengan baik. Tapi, banyak pendapat yang menyuarakan Netflix lebih unggul oleh karena konten asli mereka yang berani memproduksi sejumlah anime yang diminati komunitas, namun tidak diproduksi oleh rumah produksi negeri sakura sebelum kedatangan Netflix.

Dari segi platform, saya kira Crunchyroll dan Netflix juga sama-sama tersedia di hampir semua gawai dan TV Android. Jadi tidak ada yang lebih unggul, kecuali beberapa Smart TV yang dipasarkan di Indonesia sudah memiliki native apps untuk Netflix tapi tidak terdapat Crunchyroll.

Netflix juga dikenakan pajak berlangganannya, sementara Crunchyroll tampaknya tidak secara langsung.

Sulit mengatakan yang mana yang lebih unggul, tergantung minat anime mana yang lebih suka dinikmati. Saya sendiri melihat baik Netflix maupun Crunchyroll tidak memiliki anime yang saya suka, bahkan tidak ada film digital seperti karya-karya Makoto Shinkai yang populer. Jadi, untuk anime, keduanya bukan pilihan saya secara pribadi.

Netflix atau Amazon Prime Video?

Banyak yang bersorak ketika Telkom memutuskan membuka akses bagi Netflix, salah satu penyedia layanan digital video streaming yang populer, termasuk saya juga. Sebelumnya, saya juga sudah menggunakan layanan Amazon Prime Video yang mirip dengan Netflix.

Jika harus memilih antara Netflix atau Amazon Prime Video, layanan mana yang akan dipilih? Ini pertanyaan yang sulit, dan orang bisa jadi memiliki jawaban yang berbeda satu sama lainnya.

Bagi saya sendiri, yang memiliki nilai value for money paling tinggi adalah Amazon Prime Video.

Anotasi 2020-07-13 214120 Lanjutkan membaca “Netflix atau Amazon Prime Video?”

Webnovel Martial Arts Master

Awalnya saya mengira ini adalah sebuah webnovel mengenai bela diri, akhirnya sampai saya selesai membacanya, saya menyadari betapa tidak tepatnya anggapan saya akibat judul novel tersebut “Martial Arts Master” atau “Ahli Bela Diri.”

Novel ringan dari negeri Tiongkok ini lebih asyik disebut sebagai cerita romans modern, tentang anak sekolah yang jatuh hati dan berusaha berjuang mendapatkan pujaan hatinya. Dari seorang pelajar yang lugu menjadi seorang yang dikagumi oleh kawan maupun lawan dalam dunia persilatan.

Mungkin novel oleh Cuttlefish That Loves Diving ini menjadi salah satu novel romans wuxia yang cukup populer di negara asalnya maupun secara internasional. Lanjutkan membaca “Webnovel Martial Arts Master”

Have you opened your eyes?

Billions of billions of stars, the soul that always wandering across the uncharted sky. Why we haven’t met?

Have you opened your eyes? Or just me stand beyond your horizon?

The Novel’s Extra

When the notification of a complete web novel arrived days ago, I saw a list, and this novel – The Novel’s Extra was one of them. WuxiaWorld provides this novel on its website. You may visit the site to read it in English.

Lets first start with the introduction:

Waking up, Kim Hajin finds himself in a familiar world but an unfamiliar body. A world he created himself and a story he wrote, yet never finished. He had become his novel’s extra, a filler character with no importance to the story. The only clue to escaping is to stay close to the main storyline. However, he soon finds out the world isn’t exactly identical to his creation.

Lanjutkan membaca “The Novel’s Extra”