Upgrade SSD pada Laptop Dell

Empat tahun yang lalu, saya berpikir bahwa kapasitas SSD 128GB untuk menjalankan Windows 10 dan pelbagai perangkat lunak pendukung akan cukup. Ternyata saya antara keliru dan tidak. Mengapa demikian?

Laptop Dell Inspiron 14 7860 yang saya miliki memiliki dua kandar penyimpanan, pertama adalah SSD berkapasitas 128 GB untuk kandar C:\ dan sebuah HDD berkapasitas 500 GB untuk kandar D:\. Setelah hampir empat tahun menggunakan, sisa ruang SSD hanya kurang dari 20 GB, dan sisa ruang saat melakukan peningkatan atau pembaruan Windows hanya kurang dari 10 GB.

Saya tidak bisa dengan leluasa melakukan ekspansi untuk menambah aplikasi tertentu yang saya butuhkan. Sementara itu, untuk data dan berkas, saya tidak terlalu mempermasalahkannya, karena terletak di kandar HDD dan disinkronisasi dengan layanan penyimpanan awan OneDrive.

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan peningkatan (upgrade) kapasitas SSD di kandar C:\ yang minimalis tersebut.

Pertimbangan pertama adalah kapasitas, saya tidak memerlukan terlalu banyak. Tapi saya tidak ingin kapasitas hanya 250 GB, siapa tahu suatu saat nanti saya perlu melakukan pengolahan data yang cukup besar. Dan aplikasi tertentu cenderung menyimpan berkas sementara yang besar di kandar C:\, jika saya tidak memanfaatkan Avast Cleanup, mungkin kandar tersebut sudah sesak sejak lama.

Pertimbangan kedua adalah daya hidup. Orang banyak melihat kecepatan baca-tulis suatu produk SSD, dan ini saya rasa cukup penting. Tapi karena laptop saya masih menggunakan SSD tipe M.2 SATA (bukan NVMe), yaitu SanDisk X400 M.2 2880 128GB, maka kecepatan hanya ada di sekitaran itu walau diganti dengan model apapun asal bukan yang jelek-jelek amat. Sehingga daya hidup lebih penting, seberapa lama sebuah SSD bisa digunakan? Bagaimana pengalaman pengguna lain saat mencoba produk itu? Seberapa banyak laporan kegagalan produk dalam setahun awal pemakaian?

Ketiga tentu adalah harga. Sebenarnya lebih tepat adalah anggaran, saya tidak ingin menggarkan lebih tinggi daripada IDR 1.500K.

Akhirnya, pilihan pertama saya ada di antara produk WD dan Samsung, pilihan lini kedua ada di antara Orico dan Adata. Saya sulit menemukan produk SanDisk yang sesuai di pasaran e-niaga. Sejumlah tambahan pertimbangan pribadi dan penawaran, akhirnya saya memutuskan untuk membeli SSD Samsung 860EVO M.2. SATA 500GB.

Saya juga memerlukan penutup (enclosure) untuk SSD tersebut. Dan saya memilih produk Orico yang sesuai, mereka cukup memiliki nama baik di bidang produk ini.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan penyalinan (cloning) kandar C:\ yang berisi Windows 10, Bootloader, dan perangkat lunak lainnya. Saya memilih membuat clone daripada menginstal ulang seluruh Windows 10 yang akan memakan banyak waktu.

Untuk membuat salinan ini, saya memanfaatkan aplikasi EaseUS ToDO BackUp. Aplikasi ini bisa diunduh di situs resminya. Dan saya hanya menggunakan versi uji coba (trial) yang bisa digunakan selama 30 hari sebelum wajib membeli lisensi. Panduan cara membuat clone juga tersedia banyak di Internet. Proses ini memakan waktu kurang dari 10 menit.

Langkah kedua adalah mengganti SSD lama dengan SSD baru yang sudah selesai menjadi salinannya. Setiap laptop memiliki cara tersendiri dalam mengganti SSD, saya mengikuti salah satu tutorial di YouTube. Dan bongkar pasang juga tidak memerlukan waktu lebih dari 10 menit. Karena saya sudah cukup sering melakukan bongkar pasang, mungkin saya tidak menemukan kesulitan berarti.

Langkah ketiga menyalakan kembali laptop dalam kondisi terhubung dengan sumber daya listrik. Dan saya memastikan ulang lewat BIOS, ternyata urutan boot sudah sesuai menuju ke SSD baru, di mana Windows 10 loader terletak di dalamnya. Setelah konfirmasi dan dinyalakan ulang (restart), Windows 10 kembali menyala seperti biasa.

Saya melakukan pemindaian dengan Avast Ultimate untuk melihat apakah ada masalah dengan sistem dan SSD yang baru. Tentu saja ini bisa dilakukan dengan aplikasi lain. Hasilnya memuaskan, dan saya tidak menemukan masalah.

Langkah keempat adalah menghapus isi SSD lawas. Dan ini sangat penting, karena di SSD ini tersimpan tidak hanya sistem operasi Windows 10 yang saya gunakan, tapi juga kredensial (seperti data nama pengguna, kata sandi, nomor rekening, nomor kartu kredit dan lain sebagainya) yang sangat bahaya jika lepas dari kendali saya. Ini juga yang menjadi alasan untuk tidak pernah menjual laptop lama tanpa membersihkan datanya terlebih dahulu.

Saya menggunakan algoritma DOD (Department of Defense) 5220.22-M yang merupakan salah satu algoritma pemusnahan data (data shredder) di departemen pertahanan AS. Saya tidak memilih menggunakan algoritma Gutmann yang memiliki hasil lebih bagus, karena saya malas menunggu terlalu lama. Setelah data dihapus, SSD lawas dapat diformat kembali untuk digunakan.

Terakhir, saya membungkus SSD SanDisk lawas dengan enclosure Orico baru itu, dan menjadikannya SSD eksternal 128GB. Saya pasang di Tokopedia untuk dijual, dan langsung ada yang membeli.

Yang menjadi tantangan dalam proses ini bagi saya adalah memilih SSD dan memilih enclosur-nya. Porses cloning, bongkar pasang laptop, hingga menghancurkan data lawas tidak terlalu rumit. Dell termasuk laptop yang enak dibongkar pasang. Lalu untuk proses penyalinan dan penghancuran data, asalkan memiliki perangkat lunak yang sesuai, maka prosesnya dijamin tidak sulit.

YouTube Music menggantikan Spotify

Era membeli kaset telah sirna, sementara membeli musik digital dalam bentuk audio cakram kompak juga sudah terlalu populer lagi. Saya tidak menyimpan lagi kaset dan audio CD yang saya beli bertahun-tahun lalu. Perpindahan dekade, abad sekaligus milenium dari tahun 1990-an menuju 2000-an adalah masa-masa penuh kenangan dengan lagu-lagu keren.

Era ini, musik hadir dalam bentuk digital, entah membelinya melalui penyedia (seperti iTunes) atau mendengarkan gratis maupun berbayar seperti di Spotify atau Deezer. Dan saya sangat menyukai Spotify untuk mendengarkan musik.

Namun kemarin saya beralih ke layanan lain, yaitu YouTube Music. Ya, seperti YouTube yang biasanya menyediakan media user generated content berupa video, kini menyediakan kanal musik. YouTube Music resmi menggantikan Google Play Music yang mungkin kurang laku. Strategi pemasarannya adalah pelanggan bisa mendengarkan musik dan bebas iklan menonton video di kanal YouTube. Anda mungkin merasakan bahwa menonton YouTube saat ini bisa lebih banyak iklan dibandingkan konten, tergantung nasib (baca: algoritme Google).

Sebenarnya harga yang ditawarkan baik oleh YouTube Music, Spotify, maupun Deezer tidak berbeda jauh. Ada paket personal, dan ada paket keluarga. Harganya juga bersaing. Sayangnya saya tidak terlalu jauh mencoba Deezer, jadi saya tidak bisa bekomentar.

Bagaimana dengan pengalaman pengguna? Menurut saya, untuk aplikasi streaming musik, saya masih menyukai antarmuka Spotify, entah kenapa, terasa lebih nyaman ketika digunakan. Tapi sekali lagi, price for benefit membuat saya memilih YouTube Music.

Baik Spotify maupun YouTube music memiliki paket langganan hemat untuk pelajar. Jadi sekali lagi, harga keduanya bisa sangat terjangkau. Apalagi dengan fitur penyimpan lagu menjadi berkas luring, lebih mudah bagi yang suka bepergian. Kelemahannya, YouTube music tidak memiliki paket harian, sehingga bagi yang hanya perlu untuk satu atau dua hari, tentu saja ndak bisa. Beda dengan Spotify, jika hanya perlu paket premium sehari, tinggal beli dengan pulsa.

Saya juga pernah membeli paket sharing Spotify dari niaga elektronik seperti Shopee, hasilnya belum selesai masa berlangganan, saya sudah “ditendang” dari kelompok sharing. Kebanyakan akun sharing yang dijual seperti itu, jadi jangan terlalu berharap layanan bagus, mending keluar uang berenam untuk sama-sama berlangganan, kan jadi murah.

Hal menarik lain dari YouTube music adalah tidak tersedianya aplikasi tersendiri bagi desktop. Sehingga jika ingin mendengarkan di komputer/laptop harus memasang aplikasi berbasis peramban dengan apa yang dinamakan progressive web app (PWA) untuk chromium, seharusnya semua peramban berbasis chromium bisa melakukannya. Tentu saja pengguna juga bisa langsung memutarnya dari peramban.

Hanya saja, dengan menggunakan PWA, fitur seperti mengunduh lagu tidak tersedia. Sehingga Anda bergantung pada kualitas jaringan internet yang baik untuk mendengarkan lagu-lagunya. Berbeda dengan Spotify yang memiliki aplikasi asali, lagu bisa diunduh dan disimpan di komputer.

Tenaga kesehatan dan aplikasi perpesanan Signal

Signal – sebuah aplikasi perpesanan yang turut dibangun oleh pendiri WhatsApp kini sedang naik daun. Sebagaimana banyak yang telah kita baca, hal ini disebabkan oleh sejumlah pembagian data antara WhatsApp dan Facebook, yang menyebabkan pengguna yang tidak suka oleh praktik ini beralih ke aplikasi perpesanan alternatif, yaitu kebanyakan Telegram dan Signal. Celetohan Elon Musk di twitternya juga berperan dalam melonjakkan pengguna Signal hingga puluhan juta dalam hitungan hari.

Mereka yang menginginkan lebih banyak privasi akan lari ke Signal atau Telegram, dan ini terjadi!

Pelonjakan penggunaan Signal dalam beberapa hari ini mungkin tidak terlalu terdampak di Indonesia. Kita sangat nyaman dengan WhatsApp, sehingga apapun kata orang, kita tidak akan pindah ke Telegram beberapa tahun lalu, atau pun mungkin Signal tahun ini. Kita juga tidak terlalu peduli dengan privasi, dan itu sudah jadi bagian keseharian kita sebagai sebuah komunitas.

Tapi bagaimana dengan profesi, misalnya tenaga kesehatan?

Pendapat saya sendiri, untuk urusan tugas dan kegiatan berhubungan dengan data kesehatan di mana kerahasiaan sangat diperlukan, aplikasi khusus memang sangat diperlukan. Aplikasi seperti Siilo umumnya dianjurkan, tapi aplikasi ini bekerja seperti masker, jika hanya satu dua orang yang menggunakan, maka akan sia-sia, selayaknya aplikasi seperti ini diterapkan pada tataran organinasi. Apabila penggunaan aplikasi yang khusus tidak bisa dihadirkan, maka aplikasi publik yang menjaga privasi dengan sangat baik adalah alternatif lainnya, seperti Signal dan Telegram.

Untuk data yang bersifat rahasia, termasuk karena sangkut pautnya dengan rahasia medis atau rahasia jabatan. Semakin privat media komunikasinya, maka akan semakin baik mutu kerahasiaannya dapat terjamin.

Sementara itu, tenaga kesehatan juga orang pribadi. Jika tidak terkait komunikasi yang mengandung rahasia medis atau jabatan, maka media komunikasi publik apapun saya rasa tidak masalah.

Berminat dengan Signal? Anda dapat mencobanya memasangnya di ponsel Anda.

Antivirus untuk Mac OS

Pengguna klasik Mac OS mengatakan bahwa Mac OS tidak memerlukan antivirus. Dan semua sistemnya berjalan dengan aman dan baik. Sayangnya, saya tidak setuju dengan hal itu. Mac OS bukan sebuah sistem tertutup penuh yang bisa aman dari serangan malware, dan saya termasuk yang sepakat dengan pernyataan tersebut.

Semua fasilitas perlindungan standar yang diperlukan Windows juga layak dipertimbangkan ada di Mac OS, antivirus adalah salah satunya. Tentu saja, hal ini ada untung dan ruginya.

Avast Premium Security

Ada banyak tersedia produk antivirus untuk Mac OS di pasaran. Bahkan lebih banyak daripada yang disediakan bagi distribusi Linux. Mulai dari yang gratis, hingga yang premium.

Pertama, mari bicara keuntungannya. Tentu saja dari namanya, antivirus berfungsi untuk menemukan, menghapus aplikasi jahat (malware) sebelum menimbulkan kerusakan pada data atau privasi pemilik data di komputer, dalam ini pengguna Mac OS. Antivirus pada Mac OS efektif, dan saya selama dua pekan menggunakan Mac OS mencegah potensi serangan dari tidak hanya satu atau dua saja berkas yang potensial merusak.

Mereka yang tidak menggunakan antivirus mungkin tidak akan menyadari bahwa Mac OS mereka terinfeksi oleh malware. Sama seperti halnya pengguna Windows, tidak banyak yang menyadari bahwa komputer Windows mereka telah terinfeksi oleh virus komputer. Setidaknya Windows 10 mengambil langkah lebih baik saat ini dengan memiliki antivirus Windows Defender yang mereka jalankan secara asali dan memiliki pembaruan keamanan berkala setiap bulannya.

Intinya, jika pengguna mengunduh berkas terinfeksi virus di Mac OS, saya melihat Mac OS tidak akan melakukan apapun. Ya, Mac OS memiliki sistem antimalware yang menurut produsen bekerja secara tak kasat mata. Tapi untuk kasus yang saya temukan langsung, hal ini tidak terjadi. Antivirus mencegat dan mengamankan berkas perusak lebih cepat dibandingkan dengan sistem keamanan bawaan.

Sedemikian hingga, antivirus pada Mac OS memang bekerja secara efektif.

Kedua, apa kerugiannya? Banyak yang mengatakan bahwa antivirus akan menyita sumber daya komputer, dan membuatnya menjadi lebih lambat. Memasang antivirus pada Mac OS lebih banyak rugi daripada untung, kata beberapa nasihat di forum. Tapi apakah demikian?

Penggunaan RAM oleh aplikasi avast antivirus pada Mac OS Big Sur

Sejak tahun 2020 yang lalu, saya kira standar minimal RAM untuk komputer yang dijalankan oleh Windows 10 dan Mac OS 11 adalah 8GB RAM. Jika kapasitas RAM di bawah 8GB, maka biasanya saya menyarankan menggunakan distribusi Linux yang ringan, atau menggunakan Windows versi sebelumnya dengan lebih berhati-hati. Jika perangkat kita memiliki 8GB RAM, maka tambahan aplikasi antivirus yang berjalan tidak terlalu berat.

Lalu, antivirus apa yang akan digunakan?

Jika aktivitas Anda hanya membaca dan membalas surel, menjelajahi situs web, Anda mungkin tidak memerlukan antivirus tambahan. Jika Anda harus bertukar berkas lewat email/instant messaging atau flashdrive/disk, Anda mungkin memerlukan antivirus dengan perlindungan dasar. Jika Anda memiliki data sensitif yang tidak boleh rusak sama sekali, Anda akan mempertimbangkan proteksi premium.

Produk antivirus bisa dipilih dari produk yang memang sudah Anda percayai. Atau jika belum pernah menggunakannya, silakan bertanya pada forum atau pada mereka yang sudah pernah menggunakan. Pengguna juga harus mempertimbangkan harga, kadang proteksi premium jika Anda tidak benar-benar memerlukannya mungkin akan sia-sia saja dan menjadi pemborosan.

Setelan Pemeriksaan Ejaan Bahasa Indonesia di Ms Word

Salah satu alasan saya menggunakan Microsoft Word adalah pemeriksaan ejaan bahasa Indonesia yang lebih unggul dibandingkan aplikasi lain bertahun-tahun lalu. Ini membuat saya nyaman menulis dokumen dalam bahasa Indonesia di komputer. Sayangnya, mesin baru saya tidak berpikir demikian.

Mac Mini M1 dengan Big Sur mengenali ejaan Indonesia dengan baik, namun tidak mau menggunakannya secara asali (default). Walau pun setelan sistem menggunakan bahasa Indonesia, dan Microsoft Word sudah menggunakan setelan bahasa Indonesia, namun saat mengetik, sistem akan mengembalikan pemeriksaan ejaan ke English (Amerika Serikat).

Situasi ini tidak pernah saya temukan ketika menggunakan Windows (sejak versi Windows 98) dan juga pelbagai distribusi Linux. Saya berusaha mencari jalan keluar untuk masalah ini di Internet, namun belum beruntung menemukan hasilnya, karena menurut Apple, jika sudah disetel ke bahasa lokal, maka semuanya akan otomatis mengikuti. Nyatanya tidak!

Isu sebenarnya bisa dimunculkan pada Windows dengan mengubah setelan bahasa keyboard (papan ketik). Microsoft Windows punya setelan papan ketik US – Indonesia, yaitu papan ketik tipe Amerika Serikat yang digunakan untuk mengetik dalam bahasa Indonesia. Adopsi ini tidak terdapat pada Big Sur 11.11, saya tidak bisa menemukannya. Papan ketik yang tersedia tetap ABC (default) dan U.S. Internasional yang paling mendekati.

Tidak ada satu pun setelan itu yang bisa membuat saya mengetik dengan pemeriksaan ejaan bahasa Indonesia, baik di Ms Word maupun aplikasi lain, termasuk Safari.

Pada akhirnya solusi terakhir yang bisa membantu saya sedikit bernapas lega adalah memilih keyborad Unicode Hex input yang bisa membiarkan ejaan bahasa Indonesia terdeteksi saat mengetik di Microsoft Word, walau tidak berefek pada aplikasi lainnya.

PDF Reader Pro

Kembali bercerita tentang pembaca PDF dan aplikasi yang bisa dipilih untuk itu. Selain tentu saja yang gratis seperti Sumatra PDF, hingga yang premium seperti Kofax Power PDF Reader yang saya gunakan, ada yang berada di tengah-tengah, seperti semi premium-lah. Aplikasi pembaca PDF ini adalah PDF Reader Pro.

PDF Reader Pro tersedia untuk pelbagai versi sistem operasi: Windows, Mac OS, Android, dan iOS. Aplikasinya termasuk aplikasi yang ringan dan kecil, serta mudah dioperasikan.

PDF Reader Pro memiliki dua versi Lite dan Pro. Versi Lite tentunya adalah yang gratis, ada iklan yang tidak terlalu menganggu (ini relatif), dan keterbatasan fungsi. Sementara versi Pro (yang sebenarnya agak aneh karena nama aplikasinya adalah PDF Reader Pro) tidak memiliki iklan, dan lebih banyak fungsi yang dapat diakses.

Fitur PDF Reader Pro tidak berbeda dengan pembaca PDF kebanyakan seperti membaca dan memberi anotasi, menyunting PDF (menyunting tulisan/isi, halaman (rotasi/subsitusi), menggabung dan memisah halaman), mengonversi PDF (ke Word/Excel/PowerPoint/Gambar), serta mengisi dan menandatangi berkas PDF.

Saya menggunakan PDF Reader Pro sebagai alternatif Kofax di laptop utama, saya juga menggunakannya di laptop milik anggota keluarga lainnya.

PDF Reader Pro termasuk aplikasi pembaca PDF yang paling ringan yang pernah saya temukan. Dan saya suka lisensinya, untuk 1 PC seumur hidup. Tentu saja lisensi ini akan hilang jika PC atau laptop rusak dan tidak bisa diperbaiki, tapi ini lebih murah dibandingkan lisensi lain yang berlangganan per bulan atau per tahun.

Walau pun produk ini tersedia untuk perangkat gawai, namun saya tidak memilih menggunakannya pada posenl android atau tablet iPad. Karena fungsinya hanya sekadar membaca, maka saya lebih suka Adobe Reader atau PDFElement untuk menemani perangkat jenis gawai untuk saat ini.

OCR pada aplikasi ini juga mendukung bahasa Indonesia, walau tidak sempurna, namun membantu mereka yang bekerja untuk menyalin isi dokumen ke dalam bentuk teks. Saya sendiri suka, karena aplikasi ini sederhana dan mudah digunakan dibandingkan pesaing lainnya, serta tetap enak dipandang karena desain antarmuka yang sesuai dengan selera saya.

Kesan Pertama dengan M1 dan Big Sur

Sangat aneh jika mengatakan bahwa saya penyuka Linux yang bekerja kesehariannya menggunakan Windows 10 dari Microsoft. Satu-satunya mesin yang menemani saya adalah sebuah laptop Dell dengan prosesor Intel Generasi ke-6/7, saya tidak begitu ingat. Sebuah laptop yang sejak saya membelinya empat tahun lalu, sudah empat kali berganti baterai.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah biaya perawatannya akan menjadi tinggi, dan kemungkinan kerusakan laptop lebih awal daripada yang masa pakai yang ditargetkan karena sering dibongkar pasang.

Mau tidak mau, ini membuat saya mempertimbangkan sebuah alternatif, mesin kedua yang tidak semahal laptop saya, namun cukup mumpuni untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari saya. Tidak perlu juga berupa laptop, saya tidak ingin berurusan dengan baterai lagi, dan saya rasa sudah cukup dengan notebook Dell saya tersebut.

Sehingga saya melirik pada sebuah produk besutan salah satu produsen komputer dari Kalifornia. Sebuah mesin mini hemat daya, yang menggunakan prosesor berbasis ARM bernama M1, yang biasanya digunakan pada gawai cerdas. Saya mengambil varian yang paling murah, 8GB RAM dan 256GB SSD, yang sudah tertaman Big Sur di dalamnya.

Saya sama sekali tidak pernah menggunakan sistem operasi ini sebelumnya, kecuali mungkin hampir tiga puluh tahun yang lalu, ketika logo perusahaan ini masih bermotif pelangi. Hei, tapi apa yang mungkin jadi keliru, saya sudah menjalankan distribusi Linux termasuk Ubuntu, openSUSE, Fedora, Arch, dan lainnya selama bertahun-tahun, sesama turunan UNIX seharusnya tidak akan bermasalah – pikir saya.

Jika pengalaman pengguna Windows 10 seperti dari gunung ke pantai dengan jalur tol, sementara distribusi Linux kita bebas memilih jalan yang diinginkan, maka Big Sur seperti kita naik angkot ngetem yang mesti singgah di kota sebelah terlebih dahulu.

Android 10 jauh lebih mumpuni bagi pekerja harian seperti saya dibandingkan Big Sur.

Mari bicara yang bagus-bagusnya dulu. 8GB RAM dan 256GB SSD saya mendapatinya sudah lebih dari cukup. Bahkan berjalan dengan sangat cepat, tapi tidak selancar Dell saya, yang menggunakan 12GB RAM dan 128GB SSD. Intinya, tidak banyak berbeda, dan ini bagus.

Hampir semua aplikasi di Windows 10 tersedia di Big Sur, dan sisanya tiga atau empat dicarikan alternatif yang gratis atau murah. Saya akan bertebal muka memanfaatkan diskon kartu pelajar saya dalam hal ini. Ya, ini juga termasuk kabar yang bagus. Buruknya, tidak semua aplikasi ini bekerja dengan baik sebagaimana pada Windows 10.

Misalnya saja, saya hendak membagi tangkapan layar (screenshot) via perpesanan seperti WhatsApp dan Telegram, saat menempel (paste), aplikasinya akan macet, bahkan hal yang sama terjadi pada Microsoft Outlook. Ini artinya baik aplikasi bawaan asli (native) maupun yang dijalankan melalui Intel Rosetta, semuanya memiliki masalah yang sama. Ini kabar yang sangat buruk bagi produktivitas.

Bagian bagus yang lain, mesin ini sangat dingin. Saya bisa menjalankan banyak aplikasi sekaligus tanpa menambah panas di ruangan kerja saya yang kecil. Hal ini berbeda dengan Dell, yang mulai menebar semangat musim panas ketika diajak gotong royong.

Pengalaman scrolling halaman di Big Sur sangat menyakitkan mata, apa karena saya pakai mouse dan monitor murah meriah, second pula? Saya kira tidak, saya menghubungkan Dell ke monitor yang sama, dan hasilnya Windows 10 bisa meluncurkan halama secara vertikal dengan sangat elegan. Jadi saya rasa masalahnya memang ada di Big Sur. Demikian juga font-nya, menyiksa mata, mungkin keduanya saling berhubungan.

Di luar dugaan, setelah memasang seluruh aplikasi yang saya butuhkan, masih tersisa ruangan nyaris 4/5 dari keseluruhan 256GB SSD. Karena sebagian data saya selalu disimpan di cloud service, jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkan ruangan sisa.

Ini adalah mesin yang bagus, pas dengan keperluan sehari-hari saya. Tidak berlebihan, tidak juga kekurangan. Saya hanya perlu membiasakan diri, karena harus belajar kembali shortcut dari awal. Serta sedikit bersabar dengan beberapa aplikasi yang berjalan tidak sebaik ketika mereka digunakan di Windows 10.

Belanja Buah di Lumbung Nusa

Situasi pandemi membuat kelompok malas gerak tumbuh bak cendawan di musim hujan. Dan kita juga dimanjakan dengan pelbagai kemudahan teknologi informasi. Salah satu yang keluarga kami coba dan tiba malam ini adalah belanja buah di Lumbung Nusa, yang juga memiliki aplikasi yang sama pada smartphone.

Lumbung Nusa baru saja hadir di Jogja, Sleman, dan Bantul (maaf bagi wilayah lainnya di provinsi istimewa ini). Produk yang mereka tawarkan adalah produk pangan buah, sayur, protein (nabati dan hewani), dan bumbu; yang lain mungkin akan segera menyusul.

Pemesanannya juga cukup sederhana, mendaftar lewat aplikasi, termasuk menentukan lokasi pengantaran (gratis ongkos kirim). Setelahnya, baru melakukan pemesanan produk yang kita inginkan.

Konfirmasi dilakukan via WhatsApp, dan akan ada pemberitahuan kapan produk dikirim, serta perkiraan jadwal penerimaan barang di lokasi/rumah kita.

Buah yang kami pesan tiba dalam kondisi segar, bersih, dan baik. Tentu saja, rasa buahnya enak di lidah. Sehingga ini membuat sobat rebahan akan makin malas bergerak untuk mendapatkan buah di toko-toko buah. Tentunya, dalam situasi pandemi, belanja model ini relatif lebih aman.

Membaca Lantang pada Microsoft Edge

Peramban modern memiliki salah satu fitur aksesibilitas yang penting, yaitu kemampuan untuk membaca dengan lantang (read aloud) pada konten web yang sedang diakses.

Selama ini, Google Chrome dibekali dengan suara natural yang paling baik menurut saya dalam fungsi ini. Tapi setelah mencoba setelan suara alami (natural voice) pada Microsoft Edge, saya memiliki pendapat yang berbeda.

Microsoft Edge menyediakan fitur membaca natural pada perangkat komputer dan perangkat tablet modern. Saya mencoba menggunakan fitur ini pada edisi ponsel cerdas, namun sepertinya tidak menghasilkan fitur suara yang alami, hanya teks ke suara (text to speech) yang normal.

Mengapa fitur ini penting?

Karena kita mungkin tidak ingin membaca dan menatap layar dalam jangka lama untuk teks yang panjang. Dan halam web yang “dibacakan” bisa jadi solusi agar matan tidak lelah.

Atau, bisa jadi seseorang memiliki keterbatasan dalam membaca secara visual, sehingga mendengar bisa menjadi pilihan mereka.

Saya bisa mengatakan bahwa pengembang Edge telah melakukan sesuatu yang bagus untuk peramban ini. Karena tidak semua peramban modern menyediakan fitur pembaca dengan suara yang alami.

Lisensi Microsoft Office 365 yang Murah

Anda perlu lisensi Microsoft Office 365 yang murah untuk mengerjakan tugas sekolah, kuliah atau kantor dengan anggaran yang terjangkau? Ada banyak pilihan, salah satunya adalah membeli melalui toko niaga elektronik.

Perlu diingat bahwa harga lisensi Microsoft 365 Personal adalah Rp 87.999 per bulan atau Rp 879.999,00 per tahun. Anda tidak mungkin mendapatkan harga lebih murah dari itu untuk barang asli. Tapi tentu saja ada cara lainnya.

Microsoft Office juga menyediakan produk Office 365 Family dengan biaya langganan per tahun Rp 1.199.999,00 per tahun, atau satu juta dua ratus ribu rupiah jika dibulatkan. Dan lisensi ini bisa digunakan hingga 6 pengguna atau 6 akun Office.

Yang berarti, jika ditanggung bersama, sekitar Rp 200.000,00 per tahun. Jauh lebih murah dibandingkan dengan lisensi personal. Untungnya, di negara kita semangat gotong royong tinggi, banyak yang bersedia berbagi beban.

Microsoft 365 menawarkan:

Dengan Microsoft 365 Family, Anda dan anggota keluarga yang memanfaatkan langganan bersama dapat:

  • Mengakses fitur bantuan cerdas serta ratusan templat premium, foto, ikon, dan font di Word, Excel, dan PowerPoint
  • Menyimpan dan berbagi file dan foto di seluruh perangkat dengan OneDrive
  • Menikmati perlindungan keamanan tingkat lanjut di OneDrive dan Outlook
  • Mengatur peringatan lokasi di aplikasi seluler Microsoft Family Safety*
  • Setiap orang dapat menggunakan langganan hingga di 5 perangkat secara bersamaan
  • Menghubungi dukungan melalui obrolan atau telepon tanpa biaya tambahan selama berlangganan
  • *Aplikasi tersedia secara gratis. Ketersediaan bervariasi menurut platform operasi dan pasar. Kunjungi http://microsoft365.com/information untuk informasi selengkapnya.

Saya menawarkan bagi pembaca blog saya berbagi lisensi ini dengan biaya dasar sebesar Rp 200.000,00 per akun per tahun. Saat ini, terbatas hanya untuk 4 akun saja.

Jika berminat, silakan tinggalkan komentar Anda di bawah, atau hubungi saya melalui Telegram: @haridiva atau bisa membeli langsung di toko niaga elektronik tempat saya menawarkan dengan penawaran yang sedikit lebih mahal: https://is.gd/7qTDRn.

Perlu diperhatikan, pertama bahwa lisensi ini tidak dan tidak bisa bersifat perpetual/lifetime. Setelah satu tahun, sistem berbagi akan terhapus, terkecuali Anda berminat memperpanjangnya kembali. Kedua, layanan biasanya diperbarui sebulan sekali, jadi jangan heran ada upgrade/update setiap bulan, juga pastikan bahwa PC/Ponsel sudah sesuai dengan spesifikasi minimal yang diprasyaratkan di situs resmi. Ketiga, 1 akun yang sudah terdaftar/dibayar tidak bisa diubah/dikembalikan. Terakhir, saya tidak memberikan media instalasi luring, silakan unduh masing-masing 😁.