Roku Streaming Stick di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, saya melakukan pesanan untuk produk refurbish Roku Streaming Stick+ yang mampu mendukung aliran multimedia daring hingga kualitas 4K. Hanya penasaran, dan kualitas refurbish juga mendapatkan banyak ulasan yang baik. Namun setelah mendapatkan produk ini, ternyata tidak semua seperti apa yang diharapkan.

wp-15327668235511043191381.jpg

Paket Roku dari Amazon, isi dan setelan di Samsung SmartTV,

Continue reading →

Iklan

Mencicipi Google Play Movies & Film

Salah satu layanan Google yang tersambung dengan banyak perangkat adalah Google Play, di dalamnya termasuk Play Movies & Film yang merupakan media aliran daring film-film yang dapat disewa dan dibeli.

Bagi yang memiliki perangkat Android, biasanya aplikasi ini sudah terpasang dengan sendirinya. Dan bisa dipasang pada perangkat lainnya, misal saya memasang aplikasi Google Play Movies & Film di Samsung Smart TV. Saya juga hendak memasangnya pada perangkat Roku, namun entah kenapa belum saya temukan pada kanal resmi, padahal seharusnya ada di situ.

Layanan Google Play Movies & Film bisa didapatkan dengan menyewa atau membeli koleksi film di dalamnya. Baik dalam kualitas standar maupun definisi tinggi. Harganya berbeda-beda, saya sendiri tidak yakin apa yang menjadi pembedanya. Hanya saja film baru atau film populer memiliki harga yang lebih mahal.

Harga sewa/beli untuk kualitas SD & HD juga berbeda. Kualitas HD sedikit lebih mahal. Dan pembayaran dilakukan melalui akun Google dengan menggunakan kartu kredit (belum tahu jika ada metode pembayaran lain).

Untuk menikmati kualitas HD, film dianjurkan ditonton melalui layar kaca, di mana streaming melalui televisi sudah mendukung tayangan HD. Bisa menggunakan aplikasi yang tertanam pada televisi, atau menggunakan Chromecast (perangkat sejenis) pada televisi yang bukan Smart TV. Sedangkan pada ponsel Android, umumnya hanya bisa dinikmati kualitas SD, walau yang dibeli/sewa adalah kualitas HD.

Dari segi harga, bisa dibilang tayangan di sini tidak terlalu mahal. Misalnya saya menyewa film Justice League yang terbit tahun lalu (2017) dengan biaya sewa kualitas HD sebesar Rp 29.000,00. Dibandingkan menonton di bioskop, ini jauh lebih terjangkau. Dan bisa ditonton dengan nyaman di rumah sendiri tanpa perlu mengantri atau berdesakan di bioskop.

Tentunya jika ingin mengoleksi juga bisa membelinya dengan harga bervariasi, tapi biasanya di bawah dua ratus ribu rupiah. Film bisa diputar berulang-ulang tanpa batas, berbeda dengan sewa, hanya satu kali tonton dalam batas waktu tertentu, benar-benar mirip seperti ke bioskop, tidak bisa diputar ulang.

Untuk kolektor film, membeli mungkin adalah pilihan. Tapi sekadar bagi penggemar film seperti saya, menyewa adalah pilihan. Jauh lebih murah dibandingkan membeli, dan juga sangat jarang berminat menonton ulang film yang sudah pernah ditonton. Dan dengan menyewa film tidak dikenakan pajak tambahan, sebagaimana halnya dengan membeli film.

Tapi apakah sewanya hanya itu. Bagi saya yang tidak memiliki layanan ISP berlangganan, dan menggunakan data dari kuota kartu GSM. Maka, kuota Internet perlu dipersiapkan. Sekitar satu hingga tiga gigabit untuk menikmati satu film Hollywood kualitas HD. Tentunya sinyal juga menentukan kenikmatan. Jika sinyal ngadat di tengah jalan, maka kualitas film turun dari HD menjadi SD, ini sungguh tidak mengenakan. Kadang jika ingin hemat dan lancar, mungkin bisa jadi metode pilihan kuota bagi kalong bisa dipertimbangkan.

Sedemikian hingga masing-masing orang bisa sama-sama mengeluarkan dana yang sama untuk sewa film, namun kualitas tayangan yang dihadirkan sangat tergantung dengan teknologi multimedia yang digunakan untuk menikmati film tersebut.

Kualitas HD yang ditampilkan di layar kaca oleh Google Play Movies Film sudah lumayan memuaskan mata. Saya tidak akan membandingkan dengan kualitas 4K dari media tertentu pastinya. Karena bagi hiburan umum kualitas HD sudah lebih dari cukup.

Ada beberapa hal yang memang mungkin kurang memuaskan. Misalnya untuk film tertentu, seperti film baru populer, tidak bisa disewa, hanya bisa dibeli. Itupun belum tentu ada teks terjemahan berbahasa Indonesia. Jika ingin menyewa, mungkin harus menunggu lama. Tapi film populer baru cepat tersedia di sini.

Tidak semua film tersedia di sini. Misalnya ketika saya ingin menonton Film “Your Name” atau “Kimi No Nawa”, film tersebut ada di database, namun tidak tersedia untuk wilayah Indonesia. Dan tidak tahu, apakah akan ada atau tidak. Sehingga penggemar Anime mungkin akan lebih suka berlangganan crunchyroll dan ditayangkan sesuai permintaan melalui Roku atau berlangganan Netflix untuk mendapatkan anime besutan mereka, atau berlangganan Iflix untuk mendapatkan tayangan Aniplus on-demand.

Sementara hal lain yang kurang menyenangkan adalah, ketika saya menyewa film, dan tayang melalui aplikasi Smart TV, tidak ada tombol untuk pause. Kebayang rasanya kebelet di tengah tayangan. Tata letak teks subtitle juga diberi latar hitam, kadang terkesan agak mengganggu, sehingga lebih banyak tanpa teks. Tapi kan tidak semua orang paham dengan bahasa asing.

Bagi penikmat film yang malas berdesakan atau mengantre di Bioskop. Rasanya layanan Google Play Movies & Film adalah pilihan menarik. Ya, tentu saja di Indonesia adalah pilihan lain, HOOQ misalnya, punya penyewaan serupa dengan harga yang relatif lebih miring. Hanya saja saya belum mencobanya, nanti akan saya coba melalui Roku.

Summer for Gamers

Musim panas berarti akan ada banyak diskon pada produk Steam. Dan terbukti dalam sekejap wishlist saya dipenuhi dengan promo dan diskon untuk produk-produk yang dipasarkan melalui Steam. Pada musim panas, para gamers bisa berubah menjadi emak-emak yang menyerbu swalayan menjelang Lebaran atau Natal, di mana diskon betebaran.

Capture

Sejumlah koleksi Steam saya juga didapatkan pada summer sale pada tahun yang lalu.  Beberapa video game yang saya ambil merupakan sejumlah yang saya sempat mainkan beberapa tahun yang lalu (belasan tahun?), pada saat itu video game paling mudah diakses sebagai edisi ‘bajakan’. Saat ini, saya bisa membelinya, maka saya membeli mereka, karena ada perasaan tidak nyaman pernah menggunakan produk mereka tanpa membayar. Continue reading →

LaserJet untuk Rumah – HP MFP 130NW

Beberapa orang memerlukan mesin pencetak (baca: printer) untuk digunakan di rumah, setidaknya membantu mencetak dokumen yang diperlukan dalam pekerjaan. Selama ini yang populer adalah printer jenis InkJet yang menggunakan tinta basah, untuk kegiatan ini, saya pun dari dulu menggunakan printer jenis ini, pertama harganya terjangkau dan mudah didapatkan tintanya.

Permasalahannya, seiring dengan perkembangan zaman. Untuk menghindari penggunaan tinta palsu, dan memastikan konsumen menggunakan ‘hanya’ spare-part resmi dari produsen printer, maka perawatan printer jenis InkJet menjadi semakin rumit. Apalagi bagi mereka yang tidak mencetak dalam jumlah besar setiap bulannya atau bahkan belum tentu mencetak tiap bulannya, tinta ini biasanya mengering dan rusak di dalam printer – dan harus diganti baru bersama tangki tinta yang asli. Continue reading →

Windows Defender, antara YA dan TIDAK

Salah aktivitas paling menarik pengguna Windows baru (tentu saja Windows 10) adalah segera memasang produk antivirus (selain game favorit bagi beberapa orang). Mulai dari menggunakan antivirus pihak ketiga yang gratis, hingga membeli lisensi yang berbayar, apalagi sekarang lisensi mudah didapatkan dari toko daring. Kecuali mereka yang menggunakan komputer hanya sekadar menerima jadi dan langsung pakai, golongan ini tidak terlalu peduli apakah antivirus ada atau berjalan di komputer yang mereka gunakan.

Perilaku mengutamakan memasang antivirus tambahan bisa jadi menunjukkan bahwa pengguna teknologi juga memiliki kesadaran terhadap keamanan menggunakan komputer.

Continue reading →

Menetap dengan Office 365

Setelah lebih dari setahun bermigrasi dari LibreOffice 1 ke Office 365 2 , ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan.

Pertama-tama, LibreOffice masih tetap saya rekomendasikan bagi mereka yang tidak memerlukan fitur lengkap Microsoft Office, atau kemudahan yang ditawarkan oleh Office 365. Bagaimana pun juga, LibreOffice memiliki portabilitas yang tinggi, baik di komputer yang berjalan dengan Windows, Distro Linux, maupun Mac OS.

Saat saya bermigrasi ke Windows dari Linux, lebih pada kenyamanan bekerja dengan mereka yang tidak bersama-sama menggunakan Linux, saya juga akhirnya pindah ke Office 365 karena bekerja bersama-sama mereka yang tidak menggunakan bentuk dokumen terbuka.

Terus terang membeli lisensi untuk Microsoft Office tunggal seperti Office 2016 terasa mahal. Dan bagi penggemar teknologi yang selalu terbarukan, mengeluarkan pembelanjaan yang sama setiap tiga atau empat tahun sekali untuk lisensi ini terasa berat, jika kemudian ditambah digunakan pada beberapa komputer dalam satu keluarga. Sedemikian hingga, penawaran lisensi berlangganan ala Office 365 memang menjadi tepat bagi saya dan keluarga.

Continue reading →

Membakar Cakram Padat pada Windows 10

Sekitar satu dasawarsa yang lalu atau lebih, setiap kali seseorang hendak membakar (burning) CD/DVD dari Windows 98 atau XP yang populer ketika itu, maka pilihan yang juga populer ada Nero Burning ROM. Namun saat ini, teknologi pada Windows 10 tidak lagi mengharuskan menggunakan aplikasi pihak ketiga. Tapi tetap saja ada orang-orang yang tidak akan pernah terbiasa untuk membakar cakram padat tanpa aplikasi pihak ketiga, karena merasa ada sesuatu yang kurang. Continue reading →