Bhatara pun Berani Disuap

Nang Olog duduk termenung di depan rumah tuanya, di atas meja dari kayu jati yang mulai kusam dan dekil oleh usia berserakan berbagai kertas dengan tulisan yang bermacam-macam termasuk banyak foto yang tercetak di sela-selanya. Dia bingung tujuh keliling, apa yang hendak dilakukannya beberapa hari mendatang. Seandainya dia bukan salah satu tokoh Padharman (pe-dharma-an ~ kelompok masyarakat berdasarkan silsilah leluhur) dia pastilah tak akan banyak mendapat hal-hal yang tidak jelas ini.
Sejak seminggu yang lalu, ia sibuk sibuk menyiapkan piodalan ( ~ upacara keagamaan untuk hari jadi) pura padharmannya, hingga beberapa sepasang atau lebih orang datang dengan pakaian setelan satu sama lainnya mencarinya, mereka bertanya pada awalnya tentang pura tersebut dan mengklarifikasi bahwa itulah memang pura yang sedang mereka cari. Tentu saja Nang Olog agak bingung, tidak biasanya ada orang rapi-rapi mau datang ke tengah tegalan yang kumuh nan berlumpur di musim hujan seperti saat ini.
Wenten napi nggih Pak?” Tanya Nang Olog dengan penasaran. (~ ada apa yang Pak?)
Tan wenten punapi napi Pak, titiang wantah mariki makta punia anggen ngawangun penyengker ring pura” Kata mereka dengan sopan (~ tidak ada apa-apa Pak, saya hanya kemari membawa sumbangan untuk membangun pagar pelindung pura ini)
Akhirnya, Nang Olog mulai bisa bercakap-cakap dengan mereka. Tampaknya mereka begitu tertarik untuk ikut serta membantu umat memperbaiki tempat persembahyangan milik Nang Olog serta warga lain yang menjadi pangempon (pa-ngempu-an ~ kelompok masyarakat yang menjadi pengikut) pura itu. Di akhir kata, mereka pun berpamitan, namun sebelumnya mereka menyerahkan segepok kertas-kertas persegi, katanya untuk warga pengompon pura, sehingga kalau warga berpapasan dengan mereka bisa saling mengenal di masa mendatang sekaligus membina hubungan baik.
Sesampainya di rumah, Nang Olog yang membuka lembar-lembar itu, isinya semua adalah pamflet dengan foto seseorang yang tidak dia kenal. Tulisannya, “Ngiring nyame Bali sareng sinamian, ngiring iraga sareng sami ngajegan budaya lan agame sareng titiang“… “Carane sing jek sukeh, contreng niki ring pemilune sane jagi rawuh” (Saudara Bali sekalian, mari kita semua menjaga dan melangsungkan kebaikan budaya dan agama bersama saya… caranya tidaklah sulit, pilihlah ini saat pemilu mendatang). Memang seperti dugaan Nang Olog, tadinya dia mau menolak, namun tidak baik menurut norma masyarakat menolak sebuah sumbangan, namun kini ia sadar secara tidak langsung jadi juru kampanye partai tertentu, nah…, masakah pamfletnya tidak disebar? Tak hanya sampai di situ, terkadang beberapa orang datang lagi dari partai yang lain, di lain kesempatan di lain hari dengan cara-cara yang serupa, atau sekadar mengganti amplop dengan berbagai benda jadi yang bisa digunakan di pura. Atau ada yang datang mengaku bagian pangempon yang tinggal di luar daerah, dan meminta bantuan untuk dipilih dengan janji akan memperhatikan pemugaran pura yang sedang berlangsung nantinya jika terpilih.
Sekarang malah banyak sekali pamflet itu di tempat tinggalnya, besok akan ada sangkep warga, Nang Olog sedang mempertimbangkan apa sebaiknya disampaikannya besok…? Lamunannya melayang jauh…, sampai ia dikagetkan oleh tepukan tangan di pundaknya…
Wei…, ngudiang bengong…!!?” (Hei… mengapa bengong?)
Yeh…, Pan Godogan…., mai negak malu… jek tumben malali mai” (Oh… Pak Godogan, mari duduklah dahulu, kok tumben main kemari)
Sing kenken, tepuk nyamae mecik pelengan, kel depang to?” (Bukan kenapa, melihat saudara tampak kebingungan, masa mau didiamkan?”)

Kemudian Nang Olog menjelaskan rentetan cerita dan keadaan yang dihadapinya…

Beh…, Ci mula jelema lengeh…, sing nawang ken awak pelih?” (Bah…, kamu emang bloon…, ga tahu dirimu salah?)
Nawang…” (tahu..)
Sing nyadar masa iba pelih?” (Tidakkah sadar merasa diri salah?)
Masa san…” (Sangat merasa dong)
Suba je’ keto, adi nu masih jemak pipis anake?” (Sudah demikian, koq masih kamu kantongin duit orang…?)
Yeh…, nak mapunia to De, sing beneh masih raga nolak, pelih dadine” (Wah…, itu kan sumbangan De, ga bener juga kalau saya nolak, salah jadinya)
Wei…, Nang Olog, Ci mula lengeh apa kenken? Beneh tidong pelih boya, jek liu san paminehane kanti buka keto, engkenang Ci sing setres“… “Dingeh jani malu sep, lamen jani baang Ci betara jak pitara Ci suape, dong suba ya…, men nyak luung bhatara jak pitara Ci-ne ngingetan ento Ci suba pelih da biin keto, sing kenken, men sing Ci maan pawisik keto, beh…, bisa kayang piodalane ben cepok sate kebo tagihe anggo caru di pura” (Hei…, Nang Olog, kamu itu emang bego atau gimana sih? Benar bukan salah juga tidak, kok banyak betul yang kamu timang sebegitunya, gimana kamu tidak stress… Sekarang dengarkan dulu sebentar, kalau sekarang kamu biarkan dewa dan leluhurmu disuap, yah mau gimana lagi…, kalau mau baik dewa dan leluhurmu mengingatkan bahwa kamu sudah salah dan jangan begitu lagi, itu tak mengapa, namun jika kamu ga dengar bisikan seperti itu, bah…, bisa jadi saat upacara yang akan datang dimintai sate kebo untuk sesaji di pura)
Menyadari apa yang disampaikan Pan Godogan, Nang Olog pun terperanjak, namun apa daya…, nasi sudah menjadi bubur.
Suud setress, buin mani centangin suba onyangan to, pang pragat gaene…” Kata Pan Godongan sambil tertawa….

Terkadang kita menjadi lupa, dan menjadi tumpul akan hal-hal yang sederhana, kita mempertimbangkan terlalu banyak hal, baik dan buruk, benar dan salah. Kita mempertimbangkan dari segala pengetahuan, rasa dan akal kita akan tindakan dan perbuatan yang kita putuskan dan laksanakan setiap harinya. Alangkah baiknya jika kita mampu melihat dengan begitu jelas, dengan seketika, bahwa sebuah tindakan membawa bahaya yang luar biasa, bahaya yang mengorupsi kita, ketika tindakan lahir dari kejelasan seperti ini seakan sejelas daya hidup untuk hidup seutuhnya itu sendiri, maka pertimbangan baik dan buruk tidak akan tampak lagi dengan segala gangguannya.

Iklan

Mengapa Engkau Tersenyum?

Hari itu Sang Guru tak sengaja berpapasan dengan salah seorang muridnya.
Murid itu tersenyum padanya dan kemudian melenggang pergi dengan santai
begitu berpapasan. Sang Guru hanya terdiam sejenak, setidaknya ini
selalu berlangsung sejak si murid memasuki "padepokannya". Guru yang
penasaran itu pun memanggil si murid.
"Do…, kemarilah sebentar" Kata Sang Guru dengan lantang.
Si murid lekas berlari mendekat, "Ya Guru, ada apa memanggilku?"
"Coba kamu lafalkan salah satu sajak pada gulungan bulan purnama yang
kuminta kamu menghapalkannya sejak seminggu yang lalu."
Si murid terdiam sejenak, lalu berkata, "Maaf Guru, kalau yang itu saya
tidak bisa menghapalkannya." Jawabnya dengan tersenyum ringan.
Sang Guru menjadi agak emosi pada muridnya yang paling bodoh ini,
"Kusuruh kamu belajar karena penilaianku padamu paling rendah di antara
murid yang lain, aku tak akan bisa melepasmu ke tengah masyarakat untuk
menunaikan tugasmu yang menanti, bagaimana bisa aku meluluskanmu?"
Si murid pun hanya tersenyum ringan…, dan Sang Guru menjadi tidak
paham, "Mengapa kamu hanya tersenyum seperti itu, tidakkah engkau merasa
khawatir?"
"Maaf Guru, mengapa guru tidak meluluskan saya?"
"Katakan bagaimana bisa meluluskanmu jika engkau tidak memenuhi syaratku
akan hal itu? Itulah keadaannya."
"Jika demikian saya hanyalah tersenyum, karena bagaimana bisa saya tidak
tersenyum jika tiada kekhawatiran bagi saya untuk ada. Itulah keadaannya."
Senyum si murid membuat Sang Guru memahami, "Baiklah…, kapan saja kamu
dapat meninggalkan tempat ini, tugas belajarmu telah usai, kini saatnya
dunia luas memberikanmu lebih banyak dari apa yang dapat kuberikan."
"Guru…, apa yang dapat diberikan pada saya dan apa yang dapat saya
terima? Saya hanyalah sebuah senyum ini yang Anda lihat setiap saat."
"Ah…" Sang Guru menghela napas, "Kalau begitu mulai besok atau
sekarang juga, kamu boleh menggantikanku sebagai kepala pengurus tempat
ini."

Sunyi Negeri

SUNYI NEGERI

(Serangkai kata ‘tuk Pertiwi kini)

 

Bertajuk sunyi di tepian negeri

Menatap pertiwi bagai bunda yang kan berpaling pergi

Halus redam dalam buaian halau pasti

Segala ada dan segenap menjadi tiada

Ada suara di relung dada

Menjadi rasa asa yang bergelung rupa pada

Aku tiada memijak rumput nan pasti

Kepada ia berharap sua kembali

Akan masa lalu negeri yang sunyi

Beribu gelombang datang menghempas kata

Hanya seruak kata akan beta

Walau mereka jua anak cucu negeri kita

Seluruh hujaman menjelma gelap menjadi kabut

Tarik dorong ataukah turut

Oleh mereka kering pula dibuatnya laut

Tempat orang-orang menderma hidup

Seakan tanpa hujan mereka kuyup

Angin gelombang tak kenal henti bertiup

Negeri tua di tangan yang muda

Indahnya sunyi kini durja gempita

Entah apa yang kau rayakan dan rakyatkan

Suaramu telah menelan hening selamanya

Bukan negeri becermin senja

Karena tiada yang lahir bertongkat tua

Aku tak kan bicara tak jua berkata-kata

Karena sunyi inilah seluruh tahta

Yang terwariskan lembut indah pada kita

A Day In Forensics

Jika ada bertanya-tanya apa sih itu forensik? Mungkin bayangannya sudah mengarah ke berbagai tindak kriminal dan kejahatan, yang melibatkan korban-korban bersimbahan darah. Hmm…, benarkah demikian? Kurasa kurang lebihnya bisa juga sih, namun tidak harus digambarkan semengerikan itu. Kalau ditilik, bukankah ilmu forensik itu luas sekali, karena itu mencakup semua ilmu pengetahuan yang mendukung sistem hukum legal. Nah kedokteran sendiri memiliki bagiannya, yaitu kedokteran forensik atau kedokteran kehakiman.

Apa yang dipelajari seorang calon dokter di bagian kedokteran kehakiman/forensik ini? Hemm…, tentunya banyak hal, namun secara garis besar bisa dikelompokkan ke dalam empat bagian. Pertama adalah aspek medikolegal, di sini dituntut kemampuan untuk melakukan komunikasi medikolegal kepada pihak-pihak yang terkait, seperti pihak keluarga, pasien/klien, dan pihak ketiga (misal penegak hukum atau pihak asuransi). Kemudian juga dituntut kemampuan penguasaan dokumen forensik (seperti informed consent dan rekam medis), membuat laporan medis (seperti SKM dan V et R klinis dan kasus mati), nah yang tidak kalah penting adalah kemampuan menjadi saksi ahli, karena inilah yang biasanya melibatkan kita secara langsung dengan persidangan.

Kemudian bagian patologi forensik yang berisikan sejumlah cara dan teknik pemeriksaan baik pada korban kasus meninggal maupun V et R pada kasus hidup, keahlian memeriksa di TKP (tempat kejadian perkara juga dituntut untuk dikenali). Ketiga, bagian identifikasi forensik, di sini dilibatkan kemampuan identifikasi kasus forensik yang meliputi anamnesis data antemortem, pemeriksaan fisik, pemeriksaan odontologi, pemeriksaan DNA dan serologi, serta pemeriksaan antropologi. Terakhir bagian toksikologi forensik, di sini melibatkan pemilihan sampel untuk pemeriksaan patologi anatomi atau toksikologi, pengenalan terhadap pemeriksaan laboratorium penunjang, serta kemampuan menginterpretasikan hasil pemeriksaan penunjang.

Sekali lagi, seperti stase radiologi yang sudah (belum seluruhnya) berlalu, forensik kedokteran hanya tersedia waktu belajar dua minggu, singkat memang, sehingga hari pertama sendiri penuh dengan penjadwalan yang diatur sedemikian ketat. Kami jadi sibuk dengan semua yang harus dikejar, sementara forensik tampaknya belum melepas semua teknik pengajaran jangka panjangnya, kami harus menyesuaikan dengan yang jangka pendek. Dan forensik adalah satu-satunya stase yang siap untuk panggilan kasus 24 jam non-stop, wah…, ini seperti tugas siaga satu alias red allert. Belum lagi ditambah dengan suasana pemilu yang akan datang, pertimbangan kami menjadi semakin rumit saja. Yap, the firts day in forensik, what a surprise.

Picture captured from Wikipedia.

Radiology ~ Path of Burning Hell

Radiologi merupakan sebuah bagian yang singkat dalam pendidikan kepaniteraan kali ini, hanya dua minggu, sedangkan ada materi menumpuk yang harus dikuasai, walau dalam kolom kompetensi begitu sederhana, tapi ga sreg rasanya kalau belum mencicipi semua.

Pertama-tama, apa sih definisi Radiologi (Radiology) itu? (aku menambahkan bagian ini karena ada beberapa pengunjung blog ini yang sering kali mampir ke sini melalui google dengan kata kunci “definisi radiologi”). Menurut Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29, Radiologi adalah cabang ilmu kesehatan yang berkaitan dengan zat-zat radioaktif dan energi pancaran serta dengan diagnosis dan pengobatan penyakit dengan memakai radiasi pengion (e.g: sinar-X) maupun bukan pengion (e.g ultrasound pada USG).

Radiologi adalah sesuatu yang unik, seperti antara yang pasti dan yang tak pasti, antara hitam dan putih, antara opak dan lusensi, antara densitas dan kehampaan, wuih… bikin bergetar dan merinding deh pokoknya… (sebenarnya sih karena AC ruang koass disetel super dingin). Pertama masuk ke radiologi, setelah terseok-seok dengan glaukoma dan katarak di oftalmologi, entah apa yang akan menunggu. Kami mengikuti jadwal yang ada sesuai dengan protokol kemahasiswaan/kepaniteraan. Hari pertama sesuai dengan kisi-kisi (dari para pendahulu kami yang tidak meninggalkan apapun kecuali 2 GB data untuk mempermudah kehidupan kami di stase ini), tentunya bimbingan oleh kepala bagian (sebelumnya oleh KODIK DOKTER MUDA, namun hanya orientasi singkat seperti stase lainnya) yang sudah tidak sabar ingin memberikan kesempatan pada kami seluas-luasnya. Anak-anak saat itu hanya meminta tiga tugas untuk masing-masing anak, setelah disetujui, setiap tugas seperti referat sederhana terdiri dari sebuah kasus klinis, definisi kondisi, temuan klinis saat pemeriksaan awal, permintaan pemeriksaan penunjang radiologis sesuai dengan tahapan kondisi dan keadaan penyakit, serta contoh-contoh foto yang mungkin ditemukan serta analisisnya sesuai dengan pembacaan yang lege artis.

Hmm…, kupikir tugas ini lumayan lah, setidaknya kami bisa saling bertukar ide. Ups…, ternyata masih ada lagi tugas yang lain, buku panduan studi di bagian radiologi terdiri dari enam bab, masing-masing bab dengan pertanyaan pendahuluan yang berjumlah hingga lebih dari 5 buah. Oke, kita kerjakan dulu yang bisa dikerjakan. Aku harus membuka-buka berkas buku elektronik hingga lebih dari 1 GB, buku-buku lain seperti Lecture Notes Radiologi, Radiologi Klinis hingga ke buku yang diwariskan secara turun-temurun dengan berbagai jebakan yang menyesatkan dalam corat-coret yang tidak jelas. Berburu membuka halaman emedicine medscapes di dunia maya yang begitu luas, hingga membolak-balik buku ajar Ilmu Penyakit Dalam, buku ajar bedah, patologi klinis, bahkan Kamus Kedokteran Dorland. Setelah beberapa jam, membalik-balik halaman demi halaman, menganalisa paragraf demi paragraf, menyimpulkan dan menulis ulang, termasuk menambahkan foto-foto radiologis dan pembacaannya, akhirnya hari kedua dini hari, satu tugas hari pertama selesai. Kini aku mengerti rasanya membaca lebih banyak dalam sehari apa yang biasanya kuhabiskan dalam sebulan (wuih…, ini hanya pernah terjadi di stase pediatri). Hari kedua, kembali datang tugas dari pembimbing dan bagian, 5 buah refleksi kasus dan 5 buah tutorial klinis…, tunggu dulu kalau dijumlah berarti ada 5 x (3+5+5+5) setara dengan 5×18 tugas, kemudian untuk setiap bagian akan ada satu tugas yang meliputi bagian foto polos, tomografi terkomputerisasi, ultrasonografi, dan foto dengan kontras, berarti kini ada 5×22 tugas, di hari keempat muncul masing-masing dengan tiga tugas membuat presentasi kuliah yang harus selesai dalam 1×24 jam, itu berarti 5×25 tugas, akhirnya setelah puas-puas berhitung-hitung, kami saling pandang dan menemukan kelompok kami mendapat setidaknya 130-an tugas dalam kurang dari seminggu. Saling berpandangan dan tidak bisa berhenti tertawa karena stressnya sudah mulai pada kumat.

;Aku pun masih teringat saat harus tidak tidur semalaman setelah menyelesaikan 3 mini lectures sehingga paginya hanya terkantuk-kantuk saat bertugas di rumah sakit, itu karena aku mendapat satu topik dengan tema miosarkoma, hah…! ternyata malah jadi dua topik rhabdomiosarkoma dan leiomiosarkoma, malah salinda yang dibuat bertambah menyamai 4 mini lectures. Setelah itu kondisiku lagi turun drastis, radang tenggorokkan yang tadinya tidak kunjung membaik walau tidak memburuk, malah jadi batuk-batuk akut dengan suara serak, wah… ini mah dah menjamah laringitis pikirku. Ternyata hingga sekarang kondisiku belum pulih total, seperti kendaraan pasca kerja rodi saja, mungkin perlu turun mesin segala. Setiap hari kami seperti paparazzi, membawa mini kamera ke mana-mana, siap membidik foto yang sudah hasil bidikan, padahal orang wajar mah membidik buat dijadikan foto, kami justru membidik foto untuk dijadikan foto (kurang kerjaan banget), namun begitulah prosesnya, kamera berwarna menghasilkan foto hitam putih, percayalah hal ini hanya bisa terjadi secara instan saat ini ketika berodi-ria di bagian radiologi!

Radiologi bukanlah pembacaan yang mudah, sesederhana rangkaian gelap dan terang yang ia perlihatkan, kami terkadang harus duduk bersama, berbekal proyektor LCD dan foto-foto yang tidak pernah jelas, berusaha membaca secara teliti ~ entah oleh karena tugas atau inisiatif kelompok ~ kami bisa bertahan berjam-jam memandangi bayangan opak dan lusensi silih berganti terpampang di atas layar yang putih, itulah yang terjadi sebelum kami menyerah karena menyadari tidak ada yang dapat kami baca (foto koq dibaca coba).

Minggu dua adalah minggu terakhir, padahal minggu satu adalah minggu orientasi maka kita akan langsung melompat ke minggu ujian dengan sedikit tryout yang diadakan ala kadarnya. Kami kadang berkumpul hingga agak malam, membaca beberapa foto dan mendiskusikannya, walau sungguh ga ngerti apa hasil diskusinya valid atau tidak, ya… tidak dipungkiri radiologi adalah satu bagian yang menyenangkan untuk dipelajari, karena kamu tidak mengerti apa yang sudah kamu pelajari (coba kalau ngerti pasti berhenti belajar dan bosan), hasilnya setiap hari di muka kami hanya ada opak dan lusen (kecuali kalau mau ada USG Doppler). Lama kelamaan aku merasa bayangan lusen dan opak-lah yang menempel di mata kami, wuih…, capek deh…. ^_^

Hari ujian tiba, walau sudah beberapa ratus halaman dibolak-balik, dengan segudang print-outSiapkan ujian! Siapkan ujian untuk remediasi besok!” Ha ha ha, kupikir mereka sudah patah semangat, namun mereka selalu menunjukkan semangat yang sama yang tidak pernah surut walau sesulit apa pun. Dan aku melihat si narsis numeo uno dan the lucky man number one sedang asyik mengutak-atik laptopnya, berawal dari sebuah ide kecil, mereka sibuk mengerjakan sebuah script untuk memindahkan semua berkas dari mobile device seperti UFD yang dicolokkan ke notebook ke sebuah folder X tanpa kentara. Setelah sejam kerja keras sebelum ujian (dan kerja yang ga ada hubungannya itu) akhirnya tibalah waktunya kami ujian, notebook OK! Proyektor dan layar OK!, (the sibbling trouble maker say: Script OK!), kemudian datanglah dosen kami, ia mengambil notebook dan taraa…., sebuah CD dimasukkan ke dalam DVD Drive, oh…, bukan UFD, aku tertawa terbahak-bahak, mereka berdua kelihatan syok karena script hasil karya cipta mereka gagal total (ga dirancang untuk DVD ROM). Aku masih ingat beberapa soal yang keluar, ada Babygram (mesti ga yakin kelainannya ada di mana, mungkin pada gambaran lusensi yang agak nyentrik di area testikuler), Bronkiektasis (jelas sekali pemanjangan area opaq linier dari area hilus ke daerah diafragma, entah juga apa disengaja atau memang asli kalau ini gambar dari suatu keadaan situ invertus, karena posisi jantung dan udara lambung yang berada di kanan pada daerah ini), perforasi usus ~ mungkin lebih tepat pnumoniabdominalis? (karena ada udara bebas di peritoneum namun terkesan di luar udara usus, mau dari mana lagi coba, aku udah ga bisa mikir yang lain), pneumothorax dengan kolaps paru bilateral (habis gambaran parunya dah pada hilang semua, tinggal lusensi di mana-mana), Head CT Scan (menilai bagian-bagian yang tampak, seharusnya aku lebih belajar saat neurologi kemarin, masa nukleus pada hipotalamus aja ga dong (ngerti), memalukan), ada gambar Ca colon (dengan berbagai pola mukosa usus ireguler dan gambaran apel tergigit), fraktur fibula proksimal (yang kelihatan cuma diskontinuitas fibula di seperempat proksimal dengan kesan pembengkakan soft tissue, tapi ga yakin juga potongan yang tajam itu fraktur, makanya aku lebih suka seni anamnesis yang indah), terakhir mungkin masa intraluminal di bagian distal kolon asenden (tampak krontras terhalangi perjalanannya, namun ada yang terkesan seperti menyelusup di antara halangan yang lusen). Ga tahu bener atau salah, kayanya bener tapi ga yakin, parah bener, mungkin besok rombongan lagi kalau mau ikut remediasi, ha ha…, kalau udah pusing begini dah jadinya. dan beberapa buku, tetap saja susah untuk menginterpretasikan hal ini. Aku ingat semboyan GUCAGIJI yang berkobar-kobar, “

Bagi yang mau memasuki radiologi, ada beberapa konsep awal yang harus dipahami, beberapa pertanyaan mendasar yang harus dijawab, walau tidak diujikan. Berikut kuberikan bonus itu, diambil dari negeri antah berantah, jadi harus dicek dan cek ulang hingga puas. Mungkin ini berasal dari bab-bab Health study club dari mereka yang telah mendahului kami di sini.

Atas saran seorang rekan, saya memindahkan tulisan di bagian ini yang berisi tanya jawab mengenai radiologi ke halaman ini, untuk lebih mudah dibaca berhubung juga dengan isu kompatibilitas halaman weblog.

Kurasa ini yang bisa kusampaikan, terima kasih untuk siapa pun leluhur kami di radiologi yang menyediakan tulisan ini, sungguh sangat bermanfaat…. Next stop… CSI alias departemen forensik, saatnya membuka kasus-kasus kejahatan…. atau kecelakaan (ah…, terserah, pokoknya belajar lagi)

Pangrupukan: Menyambut Nyepi 1931 Saka

Sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali, umum dilakukan pelaksanaan kegiatan Pangrupukan, secara tradisional dilakukan pengarakan ogoh-ogoh (suatu model raksasa ukuran besar) dengan berbagai variasi di desa-desa, umumnya setiap banjar (pembagian area yang lebih kecil dari desa) akan setidaknya terdapat satu buah ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh secara sekala, merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia: adharma svarupa; sehingga pengarakannya berbagai lokasi di sekitar banjar atau desa, yang melewati jalan-jalan utama sehingga tampak oleh semua warga banjar, memiliki suatu makna tersendiri. Kehidupan selalu memiliki elemen yang positif maupun negatif, hal ini selalu ada di dalam diri manusia, dan jika kita bijaksana untuk bersedia melihatnya, kita tidak akan menyangkalnya. Ogoh-ogoh yang dibangun bersama secara swadaya oleh masyarakat banjar, secara implisit, memberikan ide bagi kita semua untuk bersedia melihat sifat-sifat negatif dalam diri kita, dan menjadi terbuka akannya, bahwa hal itu bukanlah hal yang harus ditakuti, namun untuk kita lihat dan amati bersama, sehingga kita dapat memahaminya. Tradisi ini mengingatkan masyarakat Bali khususnya, bahwa beban yang mereka gendong adalah sebuah sifat negatif, seperti cerminan sifat-sifat raksasa, ketika manusia menyadari hal ini, mereka tidak akan menahan elemen-elemen ini sendirinya, dan membiarkan elemen ini menjadi tiada seperti abu dan debu yang tertiup angin. Sehingga biasanya, secara tradisional, di akhir pengarakan ogoh-ogoh, masyarakat akan membakar figur raksasa ini, boleh jadi dikatakan membakar (membiarkan terbakar habis) sifat-sifat yang seperti si raksasa.

Ketika semua beban akan sifat-sifat negatif yang selama ini mengambil (memboroskan) begitu banyak energi kehidupan seseorang, maka seseorang akan siap memulai sebuah saat yang baru, ketika segalanya menjadi hening, masyarakat diajak untuk siap memasuki dan memaknai Nyepi dengan sebuah daya hidup yang sepenuhnya baru dan berharap menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya bagi dirinya dan segenap semesta.

Walau kini budaya pangrupukan ini memberi beberapa dampak positif di masyarakat seperti menjadi hiburan tersendiri, menarik banyak minat wisatawan karena keunikannya; namun juga menghadirkan beberapa dampak yang kurang diharapkan seperti pertikaian baik kecil maupun besar antara warga (khususnya kaum pemuda) akan hal-hal yang secara personal tidak terkait dengan pemaknaan pangrupukan sendiri; Anda dapat bayangkan kelompok warga yang tumpah ruah ke jalan-jalan menyaksikan arak-arakan yang ada dari desa ke desa hampir di seluruh Bali, tentu bisa menjadi tempat muncul sentimen-sentimen personal lama ke permukaan, sehingga sejak lama paruman bendesa (permufakatan para pemuka daerah) atau sejenisnya sepakat untuk merayakan Nyepi (dan Pangrupukan) tanpa ogoh-ogoh. Terlepas dari apa-apa yang menjadi problematika berbagai sisi mengenai hal-hal tersebut, namun semoga perayaan Nyepi tahun ini dapat berjalan dengan baik.

Sebuah tulisan untuk renungan Nyepi kali ini dapat ditemukan di sini, Rahajeng nyanggra rahina penyepian 1931 Saka.

Nyepi – Menapak Dengan Keheningan Yang Utuh

Sebuah Renungan Nyepi:

Menapak Dengan Keheningan Yang Utuh

Setapak yang lebih panjang dari jalan menuju surga

Anda mungkin pernah berjalan di pedesaan yang masih asri, masih sederhana dan elok dalam pandangan mata. Anda mungkin pernah berada di antara alam yang masih berdendang dalam kebebasannya, pernahkah Anda berlari kecil di atas rerumputan pematang yang masih segar oleh embun pagi? Sempatkah Anda menghirup hangatnya cahaya pagi yang baru saja menyeruak? Ah…, siang atau pun malam, alam memiliki siklus suara yang silih berganti, membuat keindahan tidak pernah menjemukan…, karena mereka selalu ‘baru’.

Ketika aku mulai menulis ini, ini adalah pertengahan Februari di tahun kesembilan, abad pertama pada milenium ketiga, hmm…, terdengar panjang untuk perjalanan sejarah, namun cukup singkat untuk kehidupan ini. Aku sedang terduduk bersandar di sebuah sudut ruang periksa di salah satu rumah sakit di kotaku saat ini tinggal, terhimpit dan terhalangi oleh sebuah lemari berkas yang tinggi dan memanjang, dengan beberapa pasang pintu geser kaca yang telah kumal oleh debu-debu tua di pinggiran dan sudut-sudutnya, bertumpuk map dan kertas lepas yang terlihat tak kalah tua dari lemari ini sendiri. Sementara aku bisa mendengarkan langkah lalu lalang di sepanjang koridor, serta suara orang-orang yang dapat kubedakan apakah mereka adalah petugas medis ataukah sekadar sanak saudara atau sahabat yang mengunjungi si sakit. Aku telah menyelesaikan beberapa tugas jaga, dan beberapa tindak lanjut yang diperlukan, dan kugunakan waktu luang sekadar untuk menulis satu dua hal. Yah…, inilah rutinitasku seharian, walau belum memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Dan setiap harinya tidak akan jauh berbeda, dalam pengertian hal yang serupa akan berlangsung selalu dan selalu, sehingga sering kali muncul ‘suatu’ kejenuhan yang sulit untuk diungkapkan dalam satu atau dua pemahaman.

Satu sisi di dunia ini ada sesuatu yang tidak menjemukan, namun di sisi lain terdapat yang menghadirkan kejenuhan. Bagi mereka yang telah memahami kealamian sang dua sifat yang berbeda, mungkin tidak akan bertanya banyak akan apa yang kuungkapkan, karena mereka telah melampaui surga walau sedang berendam hangat di neraka, setidaknya itulah yang kurasakan dari ungkapan kalbu mereka. Namun tidak ada salahnya kita berjalan bersama sejenak, bersama untuk melihat, mungkin ada hal-hal yang telah kita lewati. Janganlah bertanya kepadaku ke mana kita akan menuju, karena aku pun tak memiliki jawabannya, langkah ini mungkin akan melewati tempat yang sama, mungkin akan menuju negeri asing, namun janganlah khawatir, karena kekhawatiran tidak akan membuat Anda melangkah, dan jika pun Anda melangkah, kekhawatiran tidak akan pernah membisikkan sisi-sisi indah yang sedang kita lewati.

Aku tengah kembali ke dalam ingatan masa lalu, ketika usiaku berada antara 11-12 tahun. Aku berada di depan bangunan perpustakaan sekolahku, aku melihat diriku sedang berdiri di pinggiran telaga yang kecil, beberapa pancuran selalu mengalirkan airnya ke dalam rumah dari ikan-ikan yang sedang berebut remahan roti yang kulemparkan ke mereka. Kehidupan itu begitu nyata ketika itu, namun ada hal lain yang terlihat begitu alami saat itu, nampak hidup namun tidak. Walau kesan itu hanya sesaat saja dan kemudian berlalu. Pada masa itu, masih umum bagi masyarakat di daerah tempat tinggalku untuk menempatkan beberapa ornamen bernuansa tradisional di sekitar areal tempat tinggal mereka, apakah itu bersifat hiasan, simbolis maupun sakrali. Salah satu yang umum ‘berserakan’ adalah patung/ornamen katak, atau ‘godogan’ dalam bahasa lokalnya. Orang-orang suka menjadikannya guyon karena gemuk, dan kerjaannya hanya makan, tidur dan bernyanyi di kala hujan. Maka orang-orang yang memiliki sifat sejenis sering menjadi olok-olokan dengan dipanggil si godokan oleh kerabat dan teman-temannya. Kita akan simpan sejenak kisah ini, dan kembali ke masa kini.

Ketika kita menemukan sesuatu yang tak menjemukan, apa yang kalian harapkan? Ketika berada dalam keadaan bahagian, senang luar biasa, baik secara alami maupun buatan, mungkin ketika itu kita tak mengharapkan apapun lagi, atau kita mengharapkan sesuatu yang lebih, itu bergantung pada apa yang berlalu di dalam batin ini. Keadaan batin selalu berubah, kenyamanan…, mungkin adalah yang ia inginkan sepanjang waktu, karena ia memiliki kemampuan untuk mengingat, mengenang dan membandingkan, ia mengenali jika ia bisa berada dalam situasi yang lebih nyaman lagi, maka ia pun cenderung berlari ke arah kesenangan yang membuatnya nyaman, ini seperti hal yang sama dengan dua nama yang berbeda. Ia pun dapat menduga, ketika ia akan segera berada dalam posisi yang tidak nyaman, dan ia akan menjauh dari hal-hal yang menjenuhkannya. Ia hendak menghentikan waktu sehingga kenyamanan terus bersamanya, atau menghilangkan waktu sehingga saat-saat menyakitkan dapat hilang dengan sekejap.

Baik secara sadar maupun tidak sadar, kita telah berada dalam kondisi serupa selama ini, kita telah berada dalam keadaan mengejar yang menyenangkan atau membuat nyaman, dan menghindari yang sebaliknya. Kita bahagia ketika kita memperolehnya, dan merasa sakit ketika tidak mendapatkan yang kita inginkan, atau ketakutan ketika ketidakpastian antara keduanya hadir. Banyak orang yang menyadari hal ini secara alami, namun tetap membiarkan dirinya terombang-ambing dalam kealamian yang menghadirkan sukha dan dukha ini. Sahabat, janganlah salah mengira, perjalanan ini bukanlah untuk menunjukkan antara mana yang benar dan mana yang salah, antara mana yang hitam dan mana yang putih, namun sekali lagi untuk memberi kesempatan bagi kita yang berjalan bersama, sehingga mungkin kita dapat melihat apa-apa yang kita lewati bersama dalam perjalanan ini, dan apakah itu hitam dan putih, saatnya kita menjadi dewasa secara batiniah untuk menentukan apa-apa yang kita petik. Dan tidaklah kusampaikan bahwa salah jika seseorang mencari kenyamanan, untuk hidup, makhluk hidup memerlukan perlindungan, dan bentuk sederhana perlindungan itu berupa makanan, pakaian dan tempat bernaung yang banyak dari kita menyebutnya sebagai rumah. Hal-hal itu “memberi” kenyamanan pada kita dalam bentuk perlindungan. Dan salahkah semua itu? Sehingga saya tak hendak mengajak Anda berputar pada setapak yang penuh dengan benar dan salah, baik dan buruk, karena setiap orang memiliki pandangannya sendiri, dan hal itu bukanlah sesuatu yang esensial, walau selayaknya menjadi bagian dari perhatian mendalam untuk dipahami.

Marilah kita berjalan sejenak, kemudian kita berhenti dan menikmati sepotong ubi bakar. Sahabat, bagaimanakah rasa ubi bakar ini ketika perutmu lapar itu mulai terisi? Tunggulah sebentar sebelum dirimu membayangkan pada hal-hal yang lainnya, mungkin jika ada sehamparan menu-menu kegemaranmu yang kelezatannya sudah tidak bisa dibantah oleh lidah manapun, engkau pun kan membuang keraguanmu untuk tidak tak menikmatinya. Mungkin hal ini begitu alamiah, bahwa kita selalu mencari yang lebih baik bagi diri kita. Itu bagian dari fungsi kecerdasan kita, bagian yang membuat kita berhitung. Namun, kemudian…, pencarian ini, baik dengan sengaja atau tanpa sengaja, dapat membawa kita menuju ke sebuah pengejaran dan pada penolakan. Kita mengejar makanan yang lebih enak, pakaian yang lebih nyaman rumah yang lebih indah…, segalanya yang lebih dari sebelumnya. Kita menolak sesuatu yang tidak lebih baik, ketika kita telah menggenggam yang lebih baik. Ya, inilah kealamian kita sebagai manusia.

Sahabat, apakah yang baik dan apakah yang lebih baik? Tidakkah itu sekadar penilaian, sekadar pendapat? Apa pun yang memberikan kesan, pemahaman atau ide atau apapun yang akan kamu suka untuk menyebutnya tentang itu, mungkin kita mendengarnya, membacanya atau melihatnya, dan memberi gambaran pada kita bahwa hal ini baik dan itu mungkin atau pasti lebih baik. Apakah pemahaman akan baik dan buruk ini kemudian menjadi esensial bagi kita?

Katakanlah engkau telah hidup selama ini dengan semua kebaikan yang telah kau pahami dalam arti baik yang benar. Ketika kebaikan atau yang kita anggap baik tersebut singgah ke dalam kehidupan kita, maka kita pun merasa senang bahkan sangat senang…, kita memuji dan memuja kebaikan itu serta menjadikan media-media yang kita anggap sebagai pengantar tibanya si kebaikan sebagai sesuatu yang berharga dan teramat penting, terkadang kita akan membangun banyak hal atau ide lagi, sehingga kita pun menyakralkannya baik secara nyata maupun terselubung halus di dalam batin kita yang paling dalam. Ketika kebaikan itu pergi, kita menjadi sedih, tidak suka, bahkan benci mungkin juga frustrasi, media-media yang menyebabkan kebaikan pergi atau tibanya keburukan akan kita hindari, kita benci atau kita kutuk, kita kucilkan, kita haramkan…, sebut sebanyaknya kata-kata yang menggambarkan perasaanmu akan hal itu.

Dapat engkau memahami, atau mungkin melihat dengan jelas tanpa usaha menutup-nutupi dari hatimu, karena engkau harus berjalan meniti ke dalam dan mengenali bentuk-bentuk nyata media-media ini. Kehidupan seperti perjalanan, kehidupan seperti sungai yang mengalir atau angin yang bertiup, adakah engkau melihat sungai di hadapanmu dan merasakan sentuhan angin yang membelaimu? Atau kita sekadar melenggang dan tak pernah sadar akan hal-hal sederhana ini? Saat ini, manusia yang kuperhatikan di sekitarku sangat gemar melangkah dengan cepat, kita suka akan segala hal yang cepat dan instan, dan kita menilai keefisienan suatu sistem dengan cara-cara serupa. Engkau dan aku dapat berada dalam sebuah bus, mobil atau mengendarai motor di sebuah pagi untuk menuju ke suatu tempat untuk mengerjakan suatu hal. Adakah kita sempat memperhatikan pepohonan atau bangunan yang kita lewati dengan seksama? Adakah kita melihat warna langit di pagi itu dengan sebuah suka cita yang luar biasa? Ataukah kita hanya berkendara dan melewati semua itu dengan segera?

Mengapa manusia terburu, mengapa kita melewatkan begitu banyak hal dalam kehidupan ini? Dapatkah dengan kondisi kita, atau keterkondisian kita saat ini untuk melihat jauh ke dalam batin kita mengenai segala hal antara yang baik dan buruk.  Keterkondisian kita yang telah membuat banyak hal terlewati. Jika aku berkata, sembari kita berjalan bahwa kita baru saja melewati sebuah sungai kecil, adakah engkau menyadarinya sahabat? Jika perjalanan dari rumah menuju tempat kerja melewati sebuah sungai kecil, untuk pertama kalinya ketika melewati jalan itu ketika engkau memperhatikan ada sungai itu, maka sungai itu ada, dan hanya ada sungai itu, dapatkah engkau memahami yang kusampaikan? Pergilah ke sebuah tempat baru, pandanglah untuk pertama kalinya, dan maka yang ada hanyalah pandangan itu. Segera atau beberapa kali setelah engkau melewati sungai itu, maka akan engkau mungkin akan berpikir, hmm…, sungai ini biasa saja, atau sungai ini indah dan bersih, atau sungai ini penuh sampah, kotor dan bau. Kemudian engkau akan menyukai sungai itu atau pun menaruh rasa tidak suka pada sungai itu. Jika engkau suka, maka engkau akan melewati tempa itu setiap kali berangkat ke tempat kerja, jika tidak maka engkau akan berusaha mencari jalur yang lain. Ya, inilah bentuk keterkondisian kita, kita mengalami hal ini dengan nyata setiap saatnya, namun adakah kita menyadarinya?

Dapatkah engkau melihat kealamian gerak ini, dapatkah kita melihat gerak alami dari terbentuknya keterkondisian ini? Terbentuknya suka dan tidak suka, untuk hal yang sama pada rasa-rasa yang lainnya. Jika saya dan Anda, bersedia dengan sepenuh hati untuk mengamati gerak ini, tanpa menutup-nutupinya, tanpa membenarkan atau menyalahkannya sebagaimana kita juga telah terkondisi oleh apa yang kita anggap benar dan salah, maka gerak pikiran ini akan menjadi begitu alami untuk teramati.

Jika engkau masih berusaha untuk memahami hal ini, mungkin belum semua beban akan keterkondisian yang terbuang dari pundakmu. Selama kita berusaha mengatakan benar dan salah, baik dan buruk, maka hanya itulah yang terlihat oleh diri ini. Mengapa kita tidak melepaskan sejenak akan semua itu, hanya untuk melihat kehidupan ini apa adanya? Ketika engkau melihat bahwa, menurut A bahwa B adalah yang baik dan C buruk, apa yang terjadi ketika kita melepas pendapat si A dari pundak kita, maka kita akan melihat A, B dan C secara wajarnya tanpa interpretasi apapun. Dan melihat sesuatu secara wajar, secara apa adanya, adalah sebuah kebebasan yang luar biasa, dan dengan kebebasan yang luar biasa inilah saya rasa barulah kita dapat berjalan dengan energi kehidupan yang luar biasa pula, karena energi kita tidak terkunci oleh korupsi keterkondisian. Dan energi ini memberikan suatu daya hidup yang luar biasa untuk melihat kehidupan secara faktual, untuk menyelam ke dalam kehidupan itu sendiri.

Maka ketika kebebasan ini hadir, bukankah mereka yang melewati sungai itu hanya akan melihat sungai itu apa adanya? Adakah perasaan suka dan tidak suka hadir ketika itu, jika ada, mungkin engkau harus bertanya, sudahkah semua beban akan berbagai pandangan dan pemahaman terlepaskan?

Lalu engkau mungkin bertanya seperti sebelum dan sebelumnya, salahkah rasa suka dan tidak suka? Kembali kuingatkan sahabat, perjalanan kita bukan tentang benar dan salah, apa yang engkau dapatkan dengan mempermasalahkan hal-hal itu. Engkau suka pada si A dan ajarannya atau nasihatnya, dan engkau sedemikian percaya karena hal itu begitu meyakinkan. Kau melangkah dalam jalan yang dianggap benar itu, dan kau begitu puas, kemudian ada seorang berkata padamu tentang ajaran si B, jika meyakinkan engkau akan menyukainya jika tidak engkau akan membencinya. Bukan tentang salah, bukan pula tentang benar, namun ke mana benar dan salah, suka dan tak suka ini akan membawa kita? Ia akan menarik kita mengejar yang suka dan berlari atau melawan apa yang tidak kita suka, jika itu kehidupan yang engkau jalani dengan segenap tekadmu maka jalanilah, dan kau sudah tahu lingkaran suka dan tidak suka ini akan selalu berputar dengan pola yang sederhana itu.

Jika aku suka, maka aku akan gembira, jika aku tidak suka aku menjadi jenuh dan menghindar. Hal ini sedemikian alami. Jika kita dapat memperhatikannya, hal-hal inilah yang mengisi kehidupan kita sehari-hari. Kita senang, sedih, marah, menyukai, membenci, mendekati dan menjauhi, semua bergerak dari keterkondisian kita pada sesuatu. Sehingga kini kita dapat melihat, bahwa setiap gerak kita tidaklah bebas selama kita terkondisi, dan gerak kita mengikuti sebuah pola yang rutin, namun kehidupan ini selalu bergerak bebas, kini kita layak bertanya, apakah gerak kita yang terikat ini dapat menyentuh kebebasan yang sesungguhnya?

Mari kita berhenti sejenak sahabatku, lepaskan batinmu dari ide tentang kebebasan yang baru saja kita lewati, sementara jika itu hanya sebatas ide maka hanya akan membebani batinmu. Lihatlah, jika engkau melongok dengan polos ke dalam batinmu, mungkin di sana ada lebih banyak ide lagi, tentang agama, tentang keyakinan, tentang norma dan nilai, tentang surga dan neraka, tentang Tuhan, tentang Mokhsa atau Nibbana. Batinmu mungkin seperti sebuah pasar tradisional dengan begitu banyak yang menjajakan ide-ide tentang banyak hal yang lebih baik dan lebih hebat. Lihatlah ke dalam batin yang penuh sesak ini, jangan tutupi dari pandanganmu. Namun adakah hal-hal yang dijajakan di sana membuatmu menyentuh aktualitas yang sesungguhnya. Katakanlah secara ekstrem, di sana engkau menemukan bahwa Tuhan itu seperti ini dan seperti itu, sehingga untuk ini dan itu engkau harus begini dan begitu. Adakah hal-hal yang engkau dapati itu membuatmu menyadari Tuhan secara aktualitas? Atau hal-hal yang lainnya yang tak akan jauh berbeda. Ketika orang melihat bahwa apa yang ada di dalam batinnya hanyalah sebatas ide, dan ide ini selalu bisa ditambah dan dikurangi, sehingga ia selalu terbatas, ide ini selalu melekat pada sesuatu untuk membuatnya tetap ada, apakah itu keyakinan, atau rasa suka. Maka orang akan sendiri melihat bahwa ide yang ada dalam batin ini selalu terbatas dan tak bebas, begitu menyedihkan dan sia-sia, ia tak mampu berdendang bersama kehidupan yang selalu bergerak, hidup, berubah, aktual, bebas, dan karena keterbatasannya, ia menghadirkan duka dalam kehidupan seseorang. Hal yang sia-sia ini adalah beban, dan jika engkau sungguh melihat beban ini secara nyata, bukan sebatas ide yang turut berkembang bersama perjalanan kita ini, maka secara sendirinya engkau tidak akan membawa beban ini lagi. Secara nyata jika orang melihat betapa sia-sia ide yang berserakan ini di dalam batinnya, maka orang akan membiarkan ide itu lenyap dengan sendirinya, ia tak lagi menahan beban itu, dan dengan melepaskan sang beban, orang dapat melangkah dengan kebebasan, dengan sebuah batin yang bebas, jernih dan polos, karena batin yang murnilah yang mampu melihat kehidupan ini adanya, menyelam hingga ke relung terdalam dengan segenap daya hidupnya.

Jadi, engkau tak perlu menciptakan kebebasan, karena dengan batin yang jernih …, batin yang hening, kebebasan itu hadir dengan sendirinya. Ketika batin ini hening dengan kebebasan yang penuh, yang bermakna terlepas dari segala keterikatan dan korupsi, maka batin ini dapat hidup seutuhnya.

Di sinilah hadir keheningan yang luar biasa, dan keheningan seperti ini memberikan kesempatan pada orang untuk memberikan pengamatan yang luar biasa. Engkau tak perlu mengekang batinmu untuk pergi terlalu jauh karena takut melewati batas dan tak bisa kembali hening, bagaimana bisa mengekang sesuatu yang bebas, ke mana pula ia dapat pergi, karena keheningan dan kebebasan membuatnya menjangkau semuanya, semuanya adalah “rumah” baginya. Engkau tak perlu mengingatkannya agar tidak terbakar emosi, apa yang hendak ia bakar, ia tak memiliki apa pun untuk dibakar, segalanya telah sirna dan hanya menyisakan kekosongan yang padam. Engkau tak perlu mengancamnya agar tidak bersenang-senang dan menjadi terlupa, bagaimana bisa, keheningan yang luar biasa ini telah menimbulkan sebuah keawasan yang luar biasa, sehingga ia bergerak sewajarnya bersama kehidupan tidak kurang tidak lebih, seadanya, apa adanya. Engkau tak perlu melarangnya untuk bekerja, karena gerak dari keheningan tak memiliki motif, corak apa yang dapat ia hasilkan kecuali gerak kehidupan ini sendiri.

Ketika orang menapaki kehidupan dengan keheningan yang utuh, ia telah jauh melewati segala hal tentang suka dan benci, kesenangan dan kesedihan, pengejaran dan pelarian, ia telah melampaui jalan surga dan neraka. Aku dengar banyak orang yang berkata, menuju keheningan lebih jauh dari pada menuju surga. Namun itu pun sebatas ide, dan ide tetaplah ide. Ketika engkau berjalan dengan keheningan yang penuh, adakah aturan yang dapat kau terapkan padanya? Adakah ketentuan, dogma, ritual yang dapat lebih mengagungkannya?

Melangkah dalam keheningan yang utuh, berjalan dengan kebebasan yang penuh, sedemikianlah batin ini dapat hidup dengan sesungguhnya, dan hanya batin yang hidup, dan yang bebas yang dapat mencintai dan mengasihi dengan indah, dengan murni, dan cinta yang murni ini mungkin akan mempertemukanmu dengan suka cita yang sejati, suka cita yang penuh damai.

Nah, sahabat perjalanan kita sampai di sini dahulu, engkau dapat kembali meneruskan perjalananmu, dan aku mungkin akan berhenti sejenak. Saat kuselesaikan tulisan ini, ini telah menjelang akhir bulan kedua di tahun ini, dan kini aku menemukan diriku di sebuah rumah kecil di kota yang berjarak lima jam perjalanan dari tempat awal aku menulis ini. Banyak hal yang terlewati, namun satu hal yang kurasakan selalu ketika melihat dan bergerak, mungkin aku lupa, mungkin aku melewati banyak hal, lebih banyak dari engkau sahabat, ketika sebuah pengamatan hadir, mungkin akan hadir sang kedamaian ketika pengamatan berakhir dalam keheningan.

Aku akan kembali sejenak dalam kisah kecilku dulu, karena aku tumbuh di tempat yang masih alami, maka aku bisa menemukan godogan di persawahan atau sungai-sungai kecil yang membelah persawahan. Kadang aku berjongkok dan memandanginya dalam waktu yang lama, kuperhatikan ia tak bergerak juga, boleh dibilang kami saling adu memelototi walau kurasa ia tak berpikiran sama padaku saat itu. Aku biasanya pergi karena tak tahan diam seperti dia terlalu lama. Terkadang jika aku berjodoh, aku bisa melihat ia yang dari tadi diam, tiba-tiba bergerak, dan melesatkan lidahnya hampir tak terlihat dan kemudian seakan menelan sesuatu, lalu ia pun kembali diam. Rupanya ia tidak tertidur, walau ia terdiam ia begitu awas dan begitu waspada, ia tahu secara alami kapan harus bergerak dan kemudian kembali dalam ketenangannya yang menghanyutkan. Ialah bentuk sepi yang memukau yang masih dapat dijumpai, karena dengan keheningan dan sepi yang begitu maka “aku” pun tak akan pernah bisa menangkapnya, ia begitu waspada.

Tulisan oleh,

I Putu Cahya Legawa

Tulisan sejenis dapat ditemukan di http://haridiva-indonesia.blogspot.com/