Pemahaman Terintegrasi

Apakah yang kita maksudkan dengan penderitaan yang teramat sangat? Apakah itu sesuatu yang terpisah dari Anda?

Apakah itu sesuatu di luar diri anda, secara batiniah maupun dengan hubungan ke luar, yang Anda amati, yang Anda alami? Apakah Anda semata-mata si pengamat pengalaman? Ataukah, itu sesuatu yang berbeda? Pastinya itu adalah sebuah poin yang penting, bukankah demikian? Ketika saya berkata “saya menderita”, apa yang saya maksudkan akan itu? Apakah saya berbeda dari si penderitaan? Pastinya itukan pertanyaannya? Marilah kita cari tahu.

Ada duka (derita) – saya tidak dicintai, anak-anak saya mati, apa Anda jadinya. Ada sebuah bagian dari saya yang menuntut mengapa, menuntut penjelasan, alasan-alasan, penyebab-penyebab. Bagian yang lain dari saya berada dalam rasa sakit yang bergejolak dengan emosi yang luar biasa untuk berbagai alasan. Dan ada juga bagian lain dari saya yang menginginkan untuk bebas dari duka, yang ingin pergi melampauinya. Kita adalah semua hal ini, bukankah demikian? Jadi, jika satu bagian dari saya menolak, melawan penderitaan, bagian yang lain dari saya mencari suatu penjelasan, terperangkap dalam teori-teori, dan bagian lain dari saya melarikan diri dari fakta – kemudian bagaimana bisa saya memahaminya seutuhnya? Hanya ketika saya mampu akan pemahaman yang terintegrasi bahwa ada sebuah kemungkinan akan kebebasan dari duka. Namun ketika saya tercabik dalam arah-arah yang berbeda, maka saya tidak melihat kebenaran akannya…

Sekarang, mohon dengarkan secara seksama; dan Anda akan melihat bahwa ketika ada sebuah fakta, sebuah kebenaran, ada pemahaman akannya hanya ketika saya dapat mengalami keseluruhan hal tanpa pembagian – dan bukan ketika ada pemisahan akan “aku” yang mengamati penderitaan. Itulah kebenaran.

Book of Life – 7.11

Iklan

Memperoleh Berbagai Kepercayaan Untuk Menghapus Duka

Nyeri (rasa sakit) fisik merupakan respons sistem saraf, namun rasa sakit psikologis muncul ketika saya berpegang pada sesuatu yang memberikan saya kepuasan, oleh karenanya saya takut jika seseorang atau sesuatu akan mungkin merengut mereka dari saya. Kumpulan-kumpulan psikologis mencegah rasa sakit psikologi selama mereka tidak terganggu. Oleh karenanya saya takut akan seseorang yang mengganggu mereka. Ketakutan-ketakutan saya itulah yang dikenal; saya takut akan akumulasi-akumulasi, fisik maupun psikologis, yang saya telah kumpulkan sebagai alat guna menghapus rasa sakit atau mencegah penderitaan. Namun penderitaan ada di dalam inti proses pengumpulan (akumulasi) guna menyingkirkan rasa sakit psikologis. Pengetahuan juga membantu dalam mencegah rasa sakit. Sebagaimana pengetahuan kedokteran (pengobatan) membantu mencegah nyeri fisik, demikianlah kepercayaan-kepercayaan membantu mencegah rasa sakit psikologis, dan itulah mengapa saya takut kehilangan kepercayaan saya, meski saya tidak memiliki pengetahuan yang sempurna atau bukti nyata akan nyatanya kepercayaan-kepercayaan itu. Saya mungkin menolak beberapa kepercayaan tradisional yang telah disusupkan pada saya oleh karena pengalaman saya sendiri memberikan saya kekuatan, percaya diri, pemahaman; namun kepercayaan dan pengetahuan itu yang telah saya peroleh secara mendasar sama saja – sebuah media untuk menghapus duka.

Book of Life 7.10

Memahami Penderitaan

Mengapakah saya atau mengapakah Anda tak acuh pada penderitaan orang lain? Mengapa kita tak memedulikan kuli yang sedang mengangkat beban berat, pada wanita yang sedang membopong bayinya? Mengapa kita begitu tak acuh? Untuk memahami itu, kita harus memahami penderitaan, kita harus mengerti mengapa penderitaan membuat kita tumpul. Tentunya, penderitaanlah yang membuat kita tak acuh; karena kita tidak memahami penderitaan, kita menjadi tidak memedulikannya. Jika saya memahami penderitaan, maka saya menjadi sensitif terhadap penderitaan, awas akan segalanya, tidak hanya pada diri saya, namun terhadap orang-orang di sekitar saya, pada istri saya, pada anak-anak saya, pada seekor hewan, pada pengemis. Namun kita tidak hendak memahami penderitaan, dan melarikan diri dari penderitaan membuat kita tumpul, dan karenanya kita tak acuh. Tuan, intinya adalah penderitaan tersebut, ketika tidak dipahami, menumpulkan batin dan hati; dan kita tidak memahami penderitaan karena kita ingin lari darinya, melalui guru, melalui seorang juru selamat, melalui mantra-mantra, melalui reinkarnasi, melalui ide-ide, melalui mabuk-mabukan dan berbagai jenis lain dari ketagihan, ketergantungan – apapun untuk lolos dari apa adanya…

Kini, pemahaman akan penderitaan tidak terletak dalam menemukan apa penyebabnya. Setiap orang dapat mengetahui penyebab penderitaan; kebodohannya, keidiotannya, kepicikannya, kebrutalannya dan sebagainya. Namun jika saya melihat penderitaan itu sendiri tanpa menghendaki sebuah jawaban, lalu apa yang terjadi? Kemudian, sebagaimana saya tidak berusaha untuk kabur, saya mulai memahami penderitaan; batin saya sepenuhnya waspada, tajam, yang berarti saja menjadi sensitif, dan menjadi sensitif, saya awas akan penderitaan orang lain.

Book of Life – 7.9

Penderitaan adalah Penderitaan, Bukan milikmu atau milikku

Adakah penderitaanmu sebagai seorang individu berbeda dengan penderitaanku, atau dari penderitaan seorang manusia di Asia, di Amerika, atau di Rusia? Situasinya, kejadiannya boleh jadi bervariasi, namun dalam esensinya penderitaan orang lain sama dengan milikku dan milikku, tidakkah demikian? Penderitaan adalah penderitaan, pastinya, bukanlah milikmu atau milikku. Kesenangan bukanlah kesenanganmu atau kesenanganku – ia hanya kesenangan. Ketika Anda lapar, itu bukanlah hanya lapar anda semata, ia juga lapar bagi seluruh Asia. Ketika Anda didorong oleh ambisi, ketika Anda semena-mena, ialah kesemena-menaan yang sama yang mendorong politisi, orang yang berkuasa, apakah ia di Asia, Amerika atau di Rusia.

Anda lihat, itulah apa yang menjadikan kita objek. Kita tidak melihat bahwa kita semua adalah satu kemanusiaan, terperangkap dalam bagian-bagian kehidupan yang berbeda, di daerah-daerah yang berbeda. Ketika Anda mencintai seseorang, itu bukanlah cinta anda. Jika iya demikian, ia menjadi tirani, posesif, cemburu, cemas, brutal. Serupa juga halnya, penderitaan adalah penderitaan; bukanlah milikmu atau milikku. Saya tidak membuatnya impersonal, saya tidak menjadikannya sesuatu yang abstrak. Ketika seorang menderita, ia menderita. Ketika seorang manusia tidak memiliki pangan, tanpa sandang, tanpa papan, ia menderita, baik ia hidup di Asia, atau di Barat. Orang-orang yang saat ini sedang dibunuh atau dilukai – orang Vietnam dan Amerika – mereka menderita. Untuk memahami penderitaan – yang bukanlah milikmu bukan pula milikku, yang bukan impersonal atau abstrak, namun aktual dan yang kita semua memiliki – memerlukan sejumlah sangat besar daya tembus, penilikan. Dan akhir dari penderitaan secara alami akan menghadirkan kedamaian, tidak hanya di dalam, namun juga di luar.

Book of Life – 7.8

Memahami Penderitaan

Mengapa kita menyelidiki “apakah kebahagian itu”? Apakah ini pendekatan yang tepat? Apakah ini cara guna yang tepat? Kita tidak bahagia. Jika kita bahagia, dunia kita akan sepenuhnya berbeda; peradaban kita, budaya kita akan sepenuhnya, secara radikal berbeda. Kita adalah umat manusia yang tidak bahagia, menyedihkan, kacau, bergulat, menderita, memagari diri kita dengan hal-hal yang tak berguna, yang sia-sia, terpuaskan dengan ambisi-ambisi, dengan uang dan posisi yang menyedihkan. Kita adalah makhluk yang tidak bahagia, meski kita memiliki pengetahuan, walau kita memiliki uang, rumah mewah, banyak anak, mobil-mobil, pengalaman. Kita tidaklah berbahagia, manusia yang menderita, dan karena kita menderita kita menginginkan kebahagiaan, dan demikianlah kita dituntun oleh mereka yang menjanjikan kebahagiaan, sosial, ekonomi atau spiritual ini.

Apakah baiknya saya bertanya jika adakah kebahagiaan ketika saya sedang menderita? Dapatkah saya memahami penderitaan? Itulah masalah saya, bukannya bagaimana agar berbahagia. Saya bahagia ketika saya tidak menderita, namun seketika saya sadar akannya, ini bukanlah kebahagiaan…. jadi, saya harus memahami apakah itu penderitaan, dapatkah saya memamahi apakah penderitaan itu ketika sebagian batin saya berlarian mengejar kebahagiaan, mencari jalan keluar dari kesengsaraan ini? Jadi tidakkah saya harus, jika saya hendak memahami penderitaan, menjadi sepenuhnya satu dengannya, tidak menolaknya, tidak menghakiminya, tidak menyalahkannya, tidak membandingkannya, namun sepenuhnya bersamanya dan memamahinya?

Kesejatian akan apakah kebahagiaan itu akan hadir jika saya tahu bagaimana mendengar. Saya harus tahu bagaimana mendengar penderitaan; jika saya dapat mendengar penderitaan saya mampu mendengar kebahagiaan karena itulah adanya saya.

Book of Life – 7.7

Kebahagiaan Yang Bukan Kreasi Batin

Kita bisa berpindah dari satu naungan ke yang lainnya, dari satu secara tak kentara ke naungan yang lainnya, dari satu kesenangan ke bentuk yang lainnya; namun di pusat semuanya itu, di sanalah si “aku” – si “aku yang menikmati, yang menginginkan lebih banyak kebahagiaan, si “aku” yang mencari-cari, berharap-harap akan kebahagiaan, si “aku” yang bergulat, si “aku” yang semakin terisi, namun tak tampak akan penuh pada akhirnya. Hanya ketika si “aku” dalam semua bentuk lembutnya berakhir maka di sana ada sebuah keadaan penuh berkah yang tak dapat dicari, suatu ekstasi, suka cita sejati tanpa duka, tanpa korupsi…

…ketika batin melampaui pikiran akan si “aku”, yang mengalami, si pengamat, si pemikir, maka di sana ada sebuah kemungkinan akan suatu kebahagiaan yang tidak dapat dikorupsi. Kebahagiaan itu tidak bisa permanen, dalam pengertian yang kita gunakan pada kata itu. Namun, batin kita mencari kebahagiaan yang permanen, sesuatu yang akan bertahan, yang akan berkelanjutan. Hasrat mendasar akan kesinambungan itulah korupsi…

…Jika kita dapat memahami proses kehidupan tanpa menyalahkan, tanpa berkata itu benar atau salah, kemudian, saya rasa, di sana hadir sebuah kebahagiaan yang kreatif yang bukanlah “milikku” atau “milikmu”. Kebahagiaan yang kreatif itu bak cahaya mentari. Jika Anda hendak menjadikan sinar matahari hanya untuk diri anda, maka sinar itu tak lagi matahari yang memberikan kejernihan, kehidupan yang hangat. Demikian halnya, jika Anda ingin kebahagiaan karena Anda menderita, atau karena Anda kehilangan seseorang, atau karena Anda belum mencapai kesuksesan, maka itu hanyalah sebuah reaksi semata. Namun ketika batin dapat melampaui, maka di sana ada kebahagiaan yang bukan berasal dari batin.

Book of Life – 7.6

Delapan Percakapan ~ Bagian 5

Penanya: Saya menemukan diri saya begitu terikat pada orang-orang dan bergantung pada mereka. Pada hubungan-hubungan saya, ikatan ini berkembang ke bentuk tuntutan-tuntutan yang posesif yang menimbulkan rasa dominasi. Menjadi bergantung, dan menyaksikan ketidaknyamanan dan rasa sakit akan itu, saya mencoba melepaskan. Kemudian saya merasa begitu sendirian, dan tidak mampu menghadapi kesendirian saya melarikan diri darinya melalui minuman beralkohol dan jalan-jalan lainnya. Dan sementara saya tidak ingin memiliki hubungan yang biasa dan dangkal semata.

Krishnamurti: Di situ terdapat kemelekatan, lalu pergulatan agar menjadi tidak terikat, lalu oleh karena ini muncul konflik yang lebih mendalam, ketakutan akan kesendirian. Jadi apa masalah Anda, apa yang Anda coba untuk temukan, untuk dipelajari? Apakah semua hubungan adalah tentang ketergantungan? Anda bergantung pada lingkungan dan orang-orang. Apakah mungkin untuk bebas, tidak hanya akan lingkungan dan orang-orang, namun menjadi bebas di dalam diri anda, sehingga Anda tidak bergantung pada apa pun atau siapa pun? Dapatkah hadir suka cita yang bukan merupakan hasil dari lingkungan atau orang-orang? Lingkungan berubah, masyarakat berubah, dan jika Anda bergantung pada mereka, maka Anda terperangkap oleh mereka, atau di sisi lain Anda menjadi keras, tak acuh, keras kepala, sarkastik. Jadi ini bukanlah mengenai apakah Anda dapat hidup dalam kehidupan yang bebas dan suka cita yang bukanlah hasil lingkungan, manusia atau lainnya? Ini adalah pertanyaan yang teramat penting. Kebanyakan manusia adalah budak-budak keluarga mereka atau situasi-situasi mereka, dan mereka ingin mengubah situasi dan orang-orang, berharap semata tuk menemukan suka cita, untuk hidup dengan bebas dan lebih terbuka. Namun jika pun mereka menciptakan lingkungan mereka atau memilih hubungan mereka sendiri, mereka segera akan menjadi bergantung kembali pada lingkungan yang baru dan teman-teman yang baru. Apakah kebergantungan dalam bentuk apapun membawa suka cita? Kebergantungan ini juga mendesak untuk diekspresikan, keterdesakan untuk menjadi sesuatu. Manusia memiliki suatu bakat atau kemampuan tertentu bergantung akannya, dan ketika itu lenyap ia menjadi kehilangan dan menjadi menderita dan buruk. Jadi bergantung secara psikologis terhadap sesuatu – orang-orang, hasrat-hasrat, ide-ide, bakat – ialah mengundang penderitaan. Sehingga orang bertanya: adakah di sana sebuah suka cita yang tidak bergantung pada apa pun? Adakah sebuah cahaya yang tidak dinyalakan oleh orang lain?

Penanya: suka cita saya telah selalu dinyalakan oleh sesuatu atau seseorang di luar diri saya sehingga saya tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Mungkin saya bahkan tidak akan berani mempertanyakannya karena kemudian saya bisa jadi harus mengubah cara hidup saya. Saya tentunya bergantung pada minuman, buku-buku, seks dan pendampingan.

Krishnamurti: Namun ketika Anda melihat sendirinya, dengan jelasnya, bahwa kebergantungan ini menyebarkan berbagai bentuk ketakutan dan penderitaan, tidakkah Anda secara tak terelakkan bertanya pertanyaan lainnya, yang bukanlah bagaimana menjadi bebas dari lingkungan dan orang-orang namun, lebih pada, apakah ada sebuah suka cita, sebuah berkah, yang memiliki cahayanya sendiri?

Penanya: Saya bisa menanyakannya namun itu tidak memiliki nilai. Terperangkap dalam semua ini, inilah semua kenyataan yang ada bagi saya.

Krishnamurti: Apa yang menjadi perhatian Anda dengan kebergantungan, dengan semua implikasinya, yang merupakan fakta. Kemudian di sana terdapat fakta yang lebih dalam, yang adalah kesendirian, perasaan akan terkucili. Dapat kesendirian ini dipahami dan dapatkah seseorang menemukan bagi dirinya apakah yang melampauinya? Itulah pertanyaan yang sesungguhnya, bukan apa yang harus dilakukan pada keterikatan pada orang-orang atau lingkungan. Dapatkah perasaan mendalam akan kesedirian, kekosongan ini, menjadi transenden? Gerakan apapun yang menjauh dari kesendirian, memperkuat kesendirian, dan sehingga di sana diperlukan lebih banyak dari sebelumnya untuk menjauh darinya. Pembuatan keterikatan ini yang membawa masalahnya sendiri. permasalahan-permasalahan keterikatan menguasai batin sedemikian besar sehingga orang kehilangan pandang akan kesendirian dan menyesalinya. Jadi kita menyesali penyebab dan mengisi diri kita dengan akibatnya. Namun kesendirian bekerja setiap saat oleh karena tiada perbedaan antara sebab dan akibat. Hanya ada apa yang ada. Itu menjadi penyebab hanya ketika ia bergerak menjauh dari dirinya. Penting untuk memahami bahwa gerak menjauh dari dirinya ini adalah dirinya, oleh karenanya ia adalah akibatnya sendiri. Di sana, oleh karenanya, tiada sebab dan akibat sama sekali, tiada gerak ke manapun sama sekali, namun hanya apa adanya. Anda tidak melihat apa adanya karena Anda bergelantungan pada akibat. Ada kesendirian, dan tampak gerak menjauh dari kesendirian ini menuju keterikatan; lalu keterikatan ini dengan segala komplikasinya menjadi begitu penting, begitu mendominasi, itu yang mencegah seseorang untuk melihat apakah itu. Gerak menjauh dari apa adanya, adalah ketakutan, dan kita mencoba mengatasinya dengan pelarian yang lainnya. Ini adalah gerak yang terjadi terus menerus, nampaknya menjauh dari apa adanya, namun sesungguhnya tiada gerak sama sekali. Sehingga hanya batin yang melihat apa adanya dan tidak bergerak menjauh darinya ke arah manapun yang bebas dari apa adanya. Oleh karena rantai sebab akibat ini adalah gerak kesendirian, jelaslah satu-satunya akhir bagi kesendirian adalah akhir bagi gerak ini.

Penanya: saya akan menyalami ini dengan amat mendalam.

Krishnamurti: namun ini juga bisa menjadi sebuah pengisian yang menjadi sebuah pelarian. Jika Anda melihat semua ini dengan kejernihan yang menyeluruh ini seperti terbangnya sang elang yang tidak meninggalkan bekas di udara.