The Book of Merton’s

Membaca adalah salah satu hal yang menyenangkan, terutama di negeri yang minat bacanya rendah – Anda mendadak bisa merasakan suatu eksklusivisme semu, di mana Anda bisa tersenyum pada diri Anda sendiri. Saya paling suka menghabiskan waktu luang dengan membaca novel picisan, terutama dari negeri Tiongkok dan Sakura. Tapi waktu yang paling menggembirakan mungkin ketika saya sekadar membuka satu ada dua halaman dari buku-buku tertentu.

Buku-buku tertentu ini tidak banyak yang ada di tangan saya, kebanyakan saya pinjam atau baca dari tempat lain. Dan mereka semua nyaris berbicara hal yang sama, yaitu kehidupan dan filsafat, tapi tidak semua buku tentang kehidupan dan filsafat. Saya biasanya merujuk pada penulis-penulis tertentu, misalnya Jiddu Krishnamurti, Anthony de Mello, dan beberapa di antaranya, yang terakhir saya temukan adalah salah satu karya Thomas Merton, “New Seeds of Contemplation“.

Trappist Fr. Thomas Merton difoto bersama Dalai Lama pada tahun 1968, yang ditemui Merton selama perjalanannya ke Asia. (Pusat CNS / Thomas Merton di Bellarmine University)

Lanjutkan membaca “The Book of Merton’s”

Agama dan KTP

Ini topik lama, perdebatan lawas, mungkin tidak akan pernah habis walau pilihannya silih berganti. Karena pada dasarnya manusia selalu memiliki sisi mana yang dia sukai, dan belum tentu disenangi oleh manusia lainnya. Sekeping mata uang yang tidak bisa ada satu tanpa yang lainnya, hanya saja kita hendak memilih yang mana. Lanjutkan membaca “Agama dan KTP”

Jadi Pembicara Dadakan

Awal pekan yang lalu saya menerima tawaran menjadi pembicara dalam sebuah acara bincang-bincang seputar kesehatan, donor darah dan religi yang diadakan oleh adik-adik dari KMHD UGM. Setelah saya pastikan tidak ada jadwal lain yang berbenturan, maka saya pun menyanggupinya. Materi yang saya bagikan mengambil judul, “Donor Darah dalam Pandangan Hindu”, saya usahakan berada dalam tema yang bisa diterima oleh umum.

Jika saya mengingat kembali – zaman mahasiswa tempo dulu, saya mungkin akan menolak tawaran seperti ini. Tapi ketika saya merasa sudah tidak lagi memiliki “kemewahan” seorang mahasiswa, maka saya memilih melawan kemalasan saya untuk tetap bisa berbagi dari sedikit yang saya miliki. Saya sendiri heran, kok bisanya saya duduk tenang di kursi pembicara, padahal narasumber lainnya adalah dosen saya sendiri, seorang guru besar di bidang kedokteran dan obat-obatan herbal. Lanjutkan membaca “Jadi Pembicara Dadakan”

Logika atau Kepercayaan?

Ketika saya mulai mendesain ruang kecil ini, saya memahami bahwa mungkin akan muncul perdebatan ke depannya. Namun bukan itu yang ingin ditampilkan lebih banyak. Dalam ranah masyarakat Hindu, setiap orang bebas menemukan jalan menuju pada kebenaran yang hakiki. Apakah melalui jalan kepercayaan sebagai seorang bhakta, jalan pengetahuan dan kebijaksanaan seorang jnanin, jalan ketulusan seorang karmin, atau kultivasi sang diri seorang yogi. Lanjutkan membaca “Logika atau Kepercayaan?”

Ramayana Dalam Sentuhan Modern

Ramayana adalah epos yang begitu tua, jauh lebih tua daripada Mahabharata, dalam ribuan tahun usianya dan penyebarannya dalam kerajaan-kerajaan tempo dulu di seluruh dunia, kita memiliki banyak versi kisah Ramayana yang beragam, termasuk di nusantara dalam Kekawin Ramayana. Demikian juga telah diangkat dan menjadi inspirasi banyak karya seni di seluruh dunia. Di nusantara misalnya menjadi relief Candi Prambanan, sendratari Ramayana, atau bahkan tari Kecak di Bali.

Saya tidak tahu saat ini, namun saat saya kecil dan masa-masa sebelum itu, Ramayana sudah menjadi bagian dari tradisi bercerita orang tua, seperti kakek dan nenek kepada cucu-cucunya. Dan di luar menjadi sebuah ekspresi seni yang mengalirkan nilai filosofis di dalamnya. Lanjutkan membaca “Ramayana Dalam Sentuhan Modern”

Melasti Dalam Hikayat

Pagi tadi saya mengikuti rangkaian Upacara Melasti bersama warga Desa Beringkit, sudah cukup lama saya tidak mengikuti kegiatan seperti ini. Melasti merupakan salah satu rangkaian Hari Raya Nyepi, di Bali dilakukan biasanya dua hari menjelang Nyepi, namun di tempat lain menyesuaikan, karena biasanya tidak libur khusus untuk kegiatan ini.

Secara ritual, Upacara Melasti melibatkan para umat yang mengiring benda-benda yang disucikan di Pura masing-masing (disebut Pratima) menuju laut (baca: segara) untuk dibersihkan kembali. Namun karena saya tidak terlalu memiliki ketertarikan, jadi detil ritualnya tidak pernah saya ketahui. Lanjutkan membaca “Melasti Dalam Hikayat”

Pipi Rama

Terkisahlah seorang saudagar yang dinasihati oleh guru rohaninya agar selalu ingat dan mengucapkan nama Tuhan. Namun sang saudagar menyampaikan keluhannya, bahwa ia kesulitan menemukan waktu yang tepat, ia terlalu sibuk dengan urusan niaganya, tidak memiliki waktu untuk duduk dan mengucapkan nama Tuhan. Semua tenaga dan waktunya telah terkuras habis untuk tokonya.

Lalu gurunya bertanya, kapan dia memiliki waktu di luar urusan dagangnya. Ia berkata saat istirahat untuk makan, namun itu pun tidak cukup untuk mengucapkan nama Tuhan, ia mesti makan dengan cepat dan kembali ke toko, tidak mungkin baginya untuk mengucapkan nama Tuhan saat makan.

Lanjutkan membaca “Pipi Rama”

Ayah yang Melompat

Apakah Anda masih ingat kisah pendek “Lebih Merdu dari Tansen” yang pernah saya ceritakan kembali sebelumnya? Ini adalah kisah lain dari Tansen dan Maharaja Akbar.

Maharaja Akbar seringkali menanyakan hal-hal seputar kepercayaan orang Hindu pada para pejabat istananya. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan umum yang sudah sering ditanyakan berulang kali. Dalam Purana disampaikan bahwa jika dharma di dunia mengalami kemerosotan, maka Tuhan sendiri akan turun ke dunia, mengambil rupa dalam wujud avatar. Lalu mengapa Tuhan mesti turun sendiri, mengapa tidak memerintahkan banyak dewa yang ada di bawah kekuasaan untuk bertindak? Kadang rasanya itu tidak masuk akal bagi mereka yang berkuasa.

Lukisan "Court of Akbar"

Tansen tidak langsung menjawab pertanyaan sang maharaja, namun meminta beberapa waktu sebelum ia memberikan jawabannya. Dan diperkenankan oleh rajanya untuk memberi jawaban dalam waktu satu minggu.

Beberapa hari berselang, keluarga kerajaan mengadakan pelayaran pesiar di sebuah danau. Ketika semua sedang asyik menikmati suasana, tiba-tiba ada suara keras benda yang jatuh ke air, dan di saat bersamaan terdengar teriakan, “O tidak! Pangeran terjatuh ke danau”.

Raja dan yang lain langsung melihat ke arah suara, dan semua kaget saat menyaksikan pangeran yang mulai tenggelam. Sang raja langsung melompat, dan menyelamatkan putranya. Namun begitu semua itu selesai, raja amat marah, karena itu hanya boneka yang dibusanakan mirip pangeran.

Tansen segera menjelaskan untuk meredakan amarah padukanya, bahwa pangeran baik-baik saja, dan dialah yang membuat rekayasa ini – tujuannya hanya satu, untuk menjawab pertanyaan sang raja. Mengapa Tuhan langsung yang datang mengambil wujud kehidupan di dunia ini untuk menyelamatkan dharma, dan bukan memerintah makhluk lain atau para dewa yang ada di bawah kuasanya.

Dharma bisa diibaratkan putra yang amat dikasihi oleh Tuhan. Sepertinya Maharaja Akbar, saat mengetahui putranya tercebur ke dalam danau, ia bisa saja memerintahkan salah satu pengawalnya untuk menyelamatkan putranya – ada banyak pengawal yang sigap yang bisa menyelamatkan putranya dalam sekejap, namun mengapa tidak? Inilah yang disebut kasih, inilah yang dipanggil cinta – demikian besar kasih Ilahi menyaksikan kemerosotan dharma di muka bumi, hingga keterdesakan akan kasih yang maha memahami ini membuat Beliau sendiri yang turun langsung ke dunia.

Diadaptasi dari Chinna Katha III, hal. 63. Gambar dikutip dari Lok Sabha.

Tiada Tuhan Di Sana

Seorang guru yang merasa perlu memberikan pendidikan lebih lanjut kepada para muridnya, sehingga suatu ketika guru tersebut mengirim para muridnya keluar dari ashram untuk belajar di salah satu kuil Siwa.

Para murid mungkin tidak begitu paham maksud sang guru, mereka merasa telah belajar dari guru terbaik yang bisa ditemukan dari segala penjuru, mengapa mereka harus keluar ke tempat yang tidak mereka kenal. Apakah guru mereka sudah kehabisan bahan pelajaran, dan semua telah diajarkan pada mereka, setidaknya mereka tidak berani telalu banyak bertanya, dan melanjutkan perjalanan sesuai dengan kata-kata guru mereka.

Setelah beberapa lama perjalanan yang cukup melelahkan, mereka tiba di kuil Siwa yang dimaksudkan. Mereka merasa ingin cepat istirahat, namun tidak merasa sopan sebelum menghaturkan doa pada Siwa yang berada di dalam kuil.

Namun alangkah kagetnya mereka ketika masuk ke dalam ruangan. Di tengah ruangan ada seorang fakir yang berpakaian begitu lusuh, kumal, dan compang-camping, ia terlihat begitu tidak terurus, bahkan aroma tidak menyedapkan dari tubuh pengemis itu sampai tercium ke pintu masuk kuil. Yang lebih mengejutkan lagi, fakir yang tampat bisa saja mati tiba-tiba itu dengan leluasa berbaring sambil meletakkan ke dua kakinya di atas lingam – yang merupakan personifikasi Siwa yang Agung.

Para murid ini begitu geram karena ada orang yang begitu tidak tahu diri menodai kesucian lingam dengan kaki kotornya. Ini merupakan penghinaan pada Siwa, dan mereka serentak melabrak pengemis yang sedang tertidur pulas itu. Mereka berteriak dengan marah pada fakir tersebut, dan sehingga suara mereka bahkan bisa terdengar hingga ke luar kuil.

Fakir tersebut membuka matanya & tampak begitu kelelahan, hanya menjawab dengan beberapa kata lemah, “Jika demikian, silakan pindahkan kaki kotor saya ini ke tempat yang tiada lingamnya”.

Dengan kasar para murid itu segera menghempaskan kaki si fakir tempat lain, namun begitu kaki itu hendak terjatuh, muncul sebuah lingam. Berkali-kali para murid memindahkan kaki itu, di sana selalu muncul lingam lagi. Para murid itu nyaris putus asa untuk menemukan di mana harus meletakkan kaki si pengemis agar tidak muncul lingam di sana.

Pengemis malang itu hanya sedang mendidik para murid yang merasa sudah tahu segalanya, bahwa kehadiran Tuhan ada di mana-mana, jika pun manusia tidak bisa melihat & merasakan-Nya di mana-mana, itu hanyalah karena keterbatasan seorang manusia. Walau kasih Ilahi meliputi segenap alam raya, namun kebodohan manusia selalu menemukan tempat yang menurutnya tiada Tuhan di sana.

Mau Tajen di-PERDA-kan?

Hujan belum mereda sore itu, Nang Lecir tampak tergopoh-gopoh menuju pondokan Nang Olog bersama seorang anak muda – jika tidak salah ia adalah salah satu kemenakan Nang Lecir yang jadi semacam ajudan di kantor wakil rakyat di provinsi. Nang Olog yang sedang memperbaiki atap ambengan (alang-alang) pada tempat penyimpanan jijih (buah padi), menyambut mereka ala kadarnya dan mempersilakan mereka duduk di jineng yang sudah amat reot.

Rupanya Nang Lecir baru saja menjemput kemenakannya itu dari jalanan desa, dan hujan semakin deras ketika mereka berjalan pulang sehingga terpaksa mencari tempat berteduh sejenak.

Mereka pun ngobrol karena kebetulan juga Nang Olog lama sudah tidak berjumpa Gus Anom – nama kemenakan Nang Lecir, yang sudah meninggalkan desa sejak masa SMP untuk bekerja serabutan di kota sambil bersekolah.

“Wah, Gus, lama Bapa tidak berjumpa dengan Agus, sekarang semakin truna saja. Bapa dengar Gus mangkin bekerja jadi pegawai nggih?” Tanya Nang Olog pada salah satu generasi penerus desa mereka itu.

Nggih Bapa, tyang mangkin dados pegawai, nanging hidupe pateh sakadi tani driki, mungkin lebih tidak baik lagi Bapa.” Tampaknya Gus Anom mengeluhkan kehidupannya di kota sebagai pegawai negeri.

Dadi keto Gus?” Nang Lecir menanyakan maksud kemenakannya.

Tuyuh patuh, kerja sama banyak, bedanya hanya ruang ber-AC, di samping itu terlalu banyak konflik di dalam, sampai tyang merasa serba salah melihat banyak hal Bapa.”

Nang Olog & Nang Lecir saling berpandangan menunggu penjelasan selanjutnya dari pemuda itu. Sementara, mendung yang masih menggulung dan langit yang lebih gelap dari seharusnya, membuat hewan malam bersawahan memulai kidung rutin mereka merayakan hujan.

Nah, misal sane minggu imalu tyang mireng wenten gatra indik ngangkat utawi usul, mangda tajen utawi tabuh rah katur antuk awig-awig utawa PERDA, jek ningehang ento, tyang lantas sing setuju, nanging lantarang tyang ‘nak cerik’ drika, tusing bani ngorang napi-napi.”

Rupanya di Dewan Rakyat Daerah sedang ada isu untuk mengatur/mengaji tajen (sabung ayam) ke dalam peraturan daerah. Nang Olong & Nang Lecir saling berpandangan, mereka bisa tahu mengapa hal ini begitu menganggu Gus Anom, sampai-sampai bisa dilihat emosi yang bisa meledak di dalam diri pemuda itu. Para tua itu ingat betul, apa yang menimpa keluarga Gus Anom belasan tahun lalu – ayahnya dimabuk oleh tajen sehingga seluruh harta benda keluarga ludes dalam ajang pertaruhan sabung ayam, ibunya jatuh sakit dan tidak bisa berobat karena keluarga sudah tidak punya apa-apa, kondisinya diperburuk lagi oleh kelakuan suaminya yang sudah tak mendengar nasihat si istri yang hanya tergolek lemah di ranjang. Singkat kata bencana tidak terhindarkan, si ayah dililit hutang dan lari dari desa, sementara ibunya setiap hari mesti diganggu penagih hutang – meski mendapat uluran tangan tetangga dan saudara sesama warga desa, namun akhirnya si ibu meninggal dunia dalam kesedihan yang mendalam. Gus Anom kemudian pergi mengandu nasih ke kota, karena tidak enak jika terlalu bergantung pada saudara-saudara ibu dan ayahnya.

Nang Lecir sebagai pimpinan desa dan Nang Olog sebagai yang dituakan di desa itu sudah sejak lama mengajak warganya untuk tidak mengadakan tajen lagi, mereka mesti belajar dari kasus keluarga Gus Anom. Tajen hanya judi yang menjadi penyakit masyarakat, tidak perlu dilestarikan apalagi diatur dengan peraturan resmi. Selama ini tajen bersembunyi di balik budaya dan adat yang bernama ‘tabuh rah‘ sebuah tradisi korban hewan pada upacara keagamaan.

Sebenarnya siapa yang diuntungkan dari judi, kecuali mereka yang mem-backing-i-nya.

Nang Lecir masih ingat benar kata-kata Nang Olog yang dipanggilnya Bli – kakak di paruman (pertemuan) desa belasan tahun lalu. Dia bertanya dengan nada menantang di paruman desa – mengetahu bahwa di sana ada banyak babotoh (penjudi sabung ayam) yang turut serta. Dia bertanya, siapa yang bertanggung jawab atas hancurnya salah satu keluarga di desa itu karena judi yang disebut tajen tersebut, siapa yang akan mengelak dari tanggung jawab bahwa semua orang telah membiarkan tajen berlangsung baik dengan ikut bergembira menikmati dan menyelanggarakannya, atau turut diam tak acuh dengan berlangsungnya tajen, bahkan dia pun turut menyalahkan dirinya karena tidak bisa membuat orang-orang mendengarkannya – tapi saat itu dia mesti bicara, jika tidak desa akan semakin masuk ke dalam kegelapan judi ini.

Nang Lecir ingat bagaimana bulu kuduknya berdiri ketika mendengar Nang Olog berucap berapi-api di jaba pura puseh di hadapan pamedek anggota pesamuhan. Ia hanya pernah melihatnya orang yang sudah dianggap kakaknya sendiri itu berbicara dengan kharisma seperti itu ketika mengikuti perang di era kemerdekaan dulu, dan tidak disangka ia akan mendengar kakaknya berbicara seperti itu lagi seakan-akan ada musuh yang amat nyata di hadapan mereka, ada bahaya yang sangat nyata di hadapan mereka, dan mereka – warga desa – mesti disadarkan dengan segera. Kata-kata yang merupakan luapan emosi itu bukanlah amarah, namun lebih seperti lautan kesedihan yang tak terbendung lagi. Ia sedih tanahnya yang dulu ia pertahankan dengan merelakan segalanya mesti rusak oleh tabiat mereka yang terlarut pada kenikmatan tajen. Yang ia perjuangkan dulu adalah tanah di mana generasi setelahnya, di mana anak cucunya nanti bisa hidup baik, layak dan bahagia – bukan sebaliknya, rumah tangga yang hancur, saudara yang meninggal, dan anak yang pergi dengan penuh kehancuran dalam hatinya tanpa sanggup ia lakukan sesuatu.

Dalam pemahaman Nang Lecir, tidak ada budaya yang cukup baik untuk dipertahankan jika itu menghancurkan masyarakatnya sendiri – jika itu ada, maka itu bukanlah budaya – budi (kebaikan) & daya (segenap yang bisa dicurahkan) yang sesungguhnya, karena ia sama sekali tidak mencurahkan kebaikan – tidak juga menuntun pada kebaikan. Manusia selalu berdalih untuk sebentuk kenikmatan dan keuntungan, meskipun harus berkonspirasi dalam lumpur kehinaan yang tak kentara. Jika manusia tidak memikirkan apa yang diakibatkan dari pemikirannya, dari ide-idenya akan kebaikan sesama – lalu mananya yang manacika (berpikir baik dan jernih) dalam ranah Tri Kaya Parisudha yang dikatakan sebagai landasan praktis kebudayaan yang ada di tanahnya sendiri.

Nang Lecir memandang wajah kakaknya yang penuh kerut dan rambutnya yang telah memutih, ia tahu pasti kakaknya ingin menyampaikan sesuatu, namun ia sudah begitu tua. Siapa yang akan mendengarkan suara serak seorang petani tua yang miskin, yang bahkan tidak sudah tidak sanggup lagi untuk mengusir burung-burung yang mencoba mencuri padi di persawahan. Pun demikian, kepada siapa dia mesti berbicara, mestinya generasi pemimpin saat ini memahami dengan baik permasalahan seperti ini, tantangan klasik yang selalu ada dalam masyarakat. Jika yang semestinya memimpin justru melempar kail untuk menarik kembali masalah agar bermunculan ke permukaan kehidupan bermasyarakat, maka habislah sudah regenerasi yang diharapkan oleh orang-orang seperti Nang Lecir dan Nang Olog, dan celakalah generasi yang akan datang di siklus berikutnya untuk memimpin dan hidup terpimpin.

Suara-suara para tua seperti Nang Olog dan Nang Lecir akankah terdengar oleh mereka yang selayaknya membawakan suara rakyat? Warna Ksatria mestinya menjaga apa yang patut untuk dijaga, dan rakyat yang menyokong kehidupan bersama dapat hidup sesuai apa yang patut secara baik, adil, dan jujur.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa