Membaca Lantang pada Microsoft Edge

Peramban modern memiliki salah satu fitur aksesibilitas yang penting, yaitu kemampuan untuk membaca dengan lantang (read aloud) pada konten web yang sedang diakses.

Selama ini, Google Chrome dibekali dengan suara natural yang paling baik menurut saya dalam fungsi ini. Tapi setelah mencoba setelan suara alami (natural voice) pada Microsoft Edge, saya memiliki pendapat yang berbeda.

Microsoft Edge menyediakan fitur membaca natural pada perangkat komputer dan perangkat tablet modern. Saya mencoba menggunakan fitur ini pada edisi ponsel cerdas, namun sepertinya tidak menghasilkan fitur suara yang alami, hanya teks ke suara (text to speech) yang normal.

Mengapa fitur ini penting?

Karena kita mungkin tidak ingin membaca dan menatap layar dalam jangka lama untuk teks yang panjang. Dan halam web yang “dibacakan” bisa jadi solusi agar matan tidak lelah.

Atau, bisa jadi seseorang memiliki keterbatasan dalam membaca secara visual, sehingga mendengar bisa menjadi pilihan mereka.

Saya bisa mengatakan bahwa pengembang Edge telah melakukan sesuatu yang bagus untuk peramban ini. Karena tidak semua peramban modern menyediakan fitur pembaca dengan suara yang alami.

Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas di Rumah Sakit

Sebagai salah satu area pelayanan publik (masyarakat umum), rumah sakit juga diharapkan mampu memberikan pelayanan yang baik bagi penyandang disabilitas (para difabel). Permasalahan yang umum, sebagaimana juga area layanan publik lain, belum banyak rumah sakit yang ‘ramah’ terhadap penyandang disabilitas.

Lanjutkan membaca “Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas di Rumah Sakit”

Manvahana dengan Tampilan dan Fitur Baru

Sudah lama sekali tidak disentuh, Manvaha menjadi sedikit berdebu. Memang blog asali saya ini sedari awal tidak ditujukan untuk terlalu sering disentuh, ditulis dalam bahasa Inggris sering kali memerlukan momen tersendiri untuk mengisinya. Sehingga saya melakukan beberapa perubahan pada blog ini, untuk kenyamanan saya dan para pembacanya.

Ada beberapa fitur yang dikurangi, dulu Manvahana mendukung fitur Odiogo,  yang membuat Manvahana tidak hanya bisa dibaca, namun juga didengarkan melalui iTunes (Mac OS, iOS), Banshee (Linux) dan pelbagai perangkat penerima siaran podcasting lainnya. Bagi yang masih ingin mendengarkan Manvahana dalam berkas suara (MP3), maka tulisannya dapat didengarkan di halaman ini. Beberapa berkas lawas akan tersedia dengan baik, dan tulisan baru akan tetap dialihkan ke bentuk suara sampai beberapa waktu ke depan; sehingga bagi yang sudah berlangganan berkas suara, tidak perlu khawatir akan kehilangan pembaruan. Lanjutkan membaca “Manvahana dengan Tampilan dan Fitur Baru”

Tetikus Tanpa Batas

Apakah Anda bekerja dengan beberapa komputer dan sejumlah layar monitor sekaligus? Anda mungkin akan menghadapi kesulitan dengan jumlah papan ketik dan tetikus yang berserakan di meja anda. Namun kini ada sebuah aplikasi yang dapat membantu “kekisruhan” ini, yaitu tetikus tanpa batas atau yang dikenal dengan “Mouse without Borders”.

Ini adalah peranti lunak yang dikembangkan oleh The Garage – kelompok pemikir kreatif di dalam Microsoft. Dengan menggunakan peranti lunak ini, orang hanya perlu satu tetikus dan satu papan ketik untuk mengendalikan hingga 4 lampilan layar monitor.

Lanjutkan membaca “Tetikus Tanpa Batas”

YaST pada GNOME 3 openSUSE Tumbleweed

Saya tidak tahu ada apa alasan di balik pengembangan GNOME 3 pada openSUSE yang memutuskan untuk tidak menampilkan YaST secara default, tentu saja YaST ada, namun hanya saja tidak dapat diakses semudah pada GNOME 2. Padahal bisa dikatakan YaST adalah tulang punggung si Geeko Hijau ini, bisa dikatakan ibaratnya Control Panel pada Microsoft Windows atau sistem lainnya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana bisa mengakses YaST pada openSUSE dengan GNOME 3. Oh, tentu saja bisa mungkin lewat KDE – jika kebetulan memasangnya juga, tinggal log out dan log in lagi. Tapi tentu saja itu tidak praktis, karenanya plihan praktis adalah menambahkan aksesibilitas YaST melalui ikon-ikon yang bisa diakses dengan mudah.

Lanjutkan membaca “YaST pada GNOME 3 openSUSE Tumbleweed”

Memikirkan Kembali Si Pengguna Ponsel

Disqus memberikan saya cukup banyak waktu untuk membuat kepala saya berasap. Tapi itu toh tidak perlu dikhawatirkan. Saya kali ini ingin melihat sebenarnya bagaimana pola pengaksesan blog ini menggunakan ponsel, seberapa banyak ponsel yang bisa mengakses dengan baik, dan seberapa banyak yang tidak.

Saya pun memutuskan menggunakan layanan analisis trafik kunjungan oleh pengguna mobile phone termutakhir saat ini (yang gratis tentunya) yaitu Percent Mobile. Karena jika hanya mengandalkan Google Analytics bisa-bisa saya malah berurusan dengan statistik yang tidak jelas.

Saya juga memutuskan membuang pengaya WordPress Mobile Edition yang lawas, dan menggantikannya dengan WordPress Mobile Pack yang lebih teratur perawatan dan pembaharuannya oleh pihak pengembang.

Saya bisa melihat bahwa sekitar 19% sampai 20% pengunjung blog ini menggunakan ponsel mereka. Dan dari gambaran berikut:

Tampilan statistik kunjungan via ponsel (klik untuk memperbesar)

Saya bisa tahu bahwa, ada beberapa jenis perangkat ponsel yang cukup sering digunakan. Sekitar 41 % adalah pengguna BlackBerry dari pelbagai tipe, sisanya rata-rata dalam jumlah yang tidak begitu jauh menggunakan Nokia, Generic, Apple, dan Sony Ericson. Dan dari data itu sejumlah besar semuanya adalah ponsel-ponsel dengan kemampuan pengenal bahasa Java yang cukup baik, sehingga seharusnya tidak ada masalah dengan markah Java pada blog ini.

Dalam hati saya, ternyata para pengguna ponsel yang kesasar ke blog ini kebanyakan lebih canggih dari ponsel lawas saya (yang notebene tidak menemukan masalah dengan blog ini). Jadi menurut suara mayoritas, blog ini rasanya tidak mengalami masalah diakses via ponsel.

Jika pengguna Apple iPhone atau BlackBerry protes dengan ekstensi bahasa Java pada blog ini, apa mungkin mereka sendiri tidak secerdas ponsel mereka? He he, no offense. Bahkan jika pun borang komentar tidak dapat diakses, silakan menghubungi admin via surel, toh meninggalkan komentar tidak wajib.

Menghalangi Pengomentar?

Penerapan Antispam Bee kemarin saya mendapatkan banyak keluhan, apakah komentar atau tanggapan seseorang di blok? Padahal sebenarnya saya sudah menulis tentang hal ini di halaman bantuan, he he, sepertinya malah tidak ada yang membaca.

Apakah saya menghalangi seorang pengomentar? Secara umum jawabnya ‘TIDAK!’ – kalau sekadar menyulitkan, mungkin ya? Kadang saya memasang CAPTCHA jika sedang musim spam – misalnya. Kalau untuk narablog tertentu, secara spesifik, ‘YA’ saya menghalangi!

Misalnya mencegahnya memberikan komentar dengan memblok alamat IP, alamat surel, hingga memblok akun jejaring sosialnya di sistem komentar DISQUS. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya dalam ‘Tak Usah Memaksa Kunjungan Balik’, semua alasannya serupa.

Jika begitu inginnya mendapatkan backlink dari situs tidak berguna ini, silakan menyimak tulisan ‘Halaman Pranala Keluar’. Ingat, kemudahan aksesibilitas web juga memiliki unsur ‘menjunjung etika’.

Hmm…, setelah saya pikir-pikir, kok jadi menulis seperti ini ya (bengong sendiri).

Opera Mini dan Desain Blog

Narablog yang memiliki blog pribadi (bukan blog komunitas) umumnya memilih desain blognya sendiri, baik dengan menggunakan cetakan yang sudah ada ataupun mendesain sendiri.

Untuk mengetahui apakah blog juga tampak baik di peramban ponsel, maka saya juga perlu mengujinya. Kebanyakan saya menggunakan Opera Mini untuk melihat hasilnya, karena Opera Mini cukup luas digunakan.

Pastikan versi Opera Mini anda termutakhir saat melihat blog anda lewat ponsel. Jika tidak tahu versi yang terbaru saat ini, silakan unduh Opera untuk telepon. Kalau tidak salah, saat tulisan ini dibuat, versi terkini Opera Mini adalah 5.1.21214.

Lanjutkan membaca “Opera Mini dan Desain Blog”