PDF Reader Pro

Kembali bercerita tentang pembaca PDF dan aplikasi yang bisa dipilih untuk itu. Selain tentu saja yang gratis seperti Sumatra PDF, hingga yang premium seperti Kofax Power PDF Reader yang saya gunakan, ada yang berada di tengah-tengah, seperti semi premium-lah. Aplikasi pembaca PDF ini adalah PDF Reader Pro.

PDF Reader Pro tersedia untuk pelbagai versi sistem operasi: Windows, Mac OS, Android, dan iOS. Aplikasinya termasuk aplikasi yang ringan dan kecil, serta mudah dioperasikan.

PDF Reader Pro memiliki dua versi Lite dan Pro. Versi Lite tentunya adalah yang gratis, ada iklan yang tidak terlalu menganggu (ini relatif), dan keterbatasan fungsi. Sementara versi Pro (yang sebenarnya agak aneh karena nama aplikasinya adalah PDF Reader Pro) tidak memiliki iklan, dan lebih banyak fungsi yang dapat diakses.

Fitur PDF Reader Pro tidak berbeda dengan pembaca PDF kebanyakan seperti membaca dan memberi anotasi, menyunting PDF (menyunting tulisan/isi, halaman (rotasi/subsitusi), menggabung dan memisah halaman), mengonversi PDF (ke Word/Excel/PowerPoint/Gambar), serta mengisi dan menandatangi berkas PDF.

Saya menggunakan PDF Reader Pro sebagai alternatif Kofax di laptop utama, saya juga menggunakannya di laptop milik anggota keluarga lainnya.

PDF Reader Pro termasuk aplikasi pembaca PDF yang paling ringan yang pernah saya temukan. Dan saya suka lisensinya, untuk 1 PC seumur hidup. Tentu saja lisensi ini akan hilang jika PC atau laptop rusak dan tidak bisa diperbaiki, tapi ini lebih murah dibandingkan lisensi lain yang berlangganan per bulan atau per tahun.

Walau pun produk ini tersedia untuk perangkat gawai, namun saya tidak memilih menggunakannya pada posenl android atau tablet iPad. Karena fungsinya hanya sekadar membaca, maka saya lebih suka Adobe Reader atau PDFElement untuk menemani perangkat jenis gawai untuk saat ini.

OCR pada aplikasi ini juga mendukung bahasa Indonesia, walau tidak sempurna, namun membantu mereka yang bekerja untuk menyalin isi dokumen ke dalam bentuk teks. Saya sendiri suka, karena aplikasi ini sederhana dan mudah digunakan dibandingkan pesaing lainnya, serta tetap enak dipandang karena desain antarmuka yang sesuai dengan selera saya.

Mi Box S – Nonton 4K di Rumah Aja

Mi Box S sudah ada sejak lama, dan versi barunya Mi Box 4K baru meluncur di India. Tapi yang saya ulas kali ini adalah Mi Box S versi global yang sudah lama ada di Indonesia.

Mi Box S merupakan salah satu produk Android TV yang ditelorkan oleh Xiaomi. Setahu saya, secara global hanya ada dua produsen yang menghasilkan Android TV yang tersertifikasi oleh Google, Mi Box oleh Xiaomi dan Nvidia Shield oleh Nvidia. Sementara itu di dalam negeri ada perangkat seperti Transvision Xtream yang menyatakan sudah tersertifikasi oleh Google.

Mengapa bukan Mi TV Stick? Alasan yang sama ketika saya memilih Roku Streaming Stick dulu. Mi Box S sudah mendukung siaran 4K, sementara Mi TV Stick saat ini baru mendukung sampai HD. Kecuali televisi yang digunakan tidak mendukung 4K (Ultra HD), maka tidak ada fungsinya mengambil produk yang mendukung hingga 4K. Tentu saja, pita internet selebar minimal 25 Mbps diperlukan untuk mendukung streaming siaran daring 4K.

Pertama-tama, apa yang saya suka dari Mi Box S?

  1. Termurah dari Google Certified Android TV yang mendukung resolusi 4K di pasaran saat ini.
  2. Dimensi mungil dan bisa ditempatkan di mana saja.
  3. Remote tidak berbasis IR, tapi menggunakan bluetooth.
  4. Memudahkan login ke pelbagai aplikasi dengan SSO Google.
  5. Now, we talk with VPN, baby!

Lalu, apa yang kurang saya sukai?

  1. Remote nyaris tidak bisa dipasangkan (pairing) pada kasus saya, sehingga saya harus menggunakan aplikasi Android TV Remote oleh Google di ponsel Android pada awalnya.
  2. Tidak mendukung RJ45, artinya tidak mendukung konektivitas kabel, hanya dari WiFi.
  3. Tayangan yang dihasilkan tidak semanis aplikasi asli (native) di Tizen OS.
Tampilan Android TV Mi Box S pada Smart TV Samsung.

Saya akan berbicara tentang user experience (pengalaman pengguna) dari kacamata saya.

Harus diketahui, tidak semua tayangan disajikan dalam format 4K (2160). Hanya sangat sedikit tayangan dalam format ini. Kebanyakan dalam format HD (720) atau FHD (1080). Atau kadang justru malah film lama memiliki kualitas SD (480) ke bawah, yang membuatnya sangat tidak nyaman ditonton di televisi modern.

Tayangan yang tidak 4K, pada Smart TV berbasis Tizen OS seperti Samsung yang saya gunakan, ada istilah smart upscalling. Jadi menampilkan tayangan yang tidak 4K, setidaknya tetap nyaman di layar 4K. Tentu saja dengan teknologi HDR yang menjadikannya tampil lebih manis.

Tizen OS sudah mulai sejak lama dalam dunia pertelevisian, sementara Android OS mungkin baru saja mencoba merebut pasaran. Tapi ketika keduanya dipadukan, hasilnya menjadi tidak menarik.

Perhatikan perbandingan gambar berikut.

Aplikasi Viu melalui aplikasi di Mi Box S (kiri) dan aplikasi asli pada Samsung Smart TV (kanan)

Aplikasi dari Mi Box S yang tayang di Samsung Smart TV memiliki kualitas gambar yang tidak semanis aplikasi bawaan Samsung Smart TV. Jadi jika orang ingin streaming dengan kualitas yang lebih baik, dan aplikasi ada di Android Box dan Native Apps, maka pilihan terbaik adalah menonton melalui native apps di Smart TV itu sendiri.

Upscalling pada Mi Box S sepertinya tidak dapat dilakukan dengan baik oleh Samsung Smart TV, atau memang Samsung Smart TV tidak mendukung teknologi upscalling dan HDR dari perangkat eksternal? Entahlah.

Karena, tanpa HDR, rasanya hidup tidaklah hidup. Tontonan kurang terasa realistis.

Isu ini tidak hanya muncul pada Mi Box S, tapi juga pada Roku Streaming Stick. Jadi saya menganggap, mungkin memang demikian.

Sehingga, mungkin saja, jika memang ingin pengalaman Android TV yang sesungguhnya. Bisa jadi memilih langsung dari televisi yang menggunakan Android OS, bukan dari Android TV Box. Sayangnya, Samsung setahu saya tidak memiliki produk Android TV. Karena Tizen OS yang dikembangkan olehnya cukup bagus, stabil, dan berkualitas tinggi.

Hanya saja, aplikasi pada Tizen OS sering tidak mendapatkan perhatian pengembang. Merebaknya Android TV mungkin saja bisa mengubah arah prioritas pengembangan aplikasi streaming dari Tizen OS ke Android OS. Kabar baiknya, banyak produsen TV berkualitas seperti BenQ, Blaupunkt, hingga Sony menyediakan produk Android TV mereka. Atau jika anggaran terbatas, produk Changhong dan Xiaomi siap menjadi solusi Anda.

Kualitas siaran Mi Box S

Saya mencoba menayangkan film Moana dari aplikasi Disney+ di Mi Box S. Film ini hadir dengan format FHD (1080), dan membutuhkan lebar pita 26-27 Mbps untuk membuatnya bisa tayang lancar di Mi Box S.

Apakah hasilnya bagus? Ya, cukup enak untuk ditonton. Saya bilang cukup, karena saya pernah memutar film Moana kualitas FHD (1080) dengan kualitas yang lebih baik dalam ingatan saya. Meskipun Mi Box S membawa kemampuan HDR di dalamnya, saya masih merasakan ada yang kurang.

Hei, tapi siapa saya yang protes. Langganan Disney+ juga karena dapat promo hanya IDR 70-an ribu per tahun. Kalau mau kualitas bagus banget, mungkin mimpi kali ya.

Saya hanya penasaran, kalau saya menggunakan Nvidia Shield atau Nvidia Android TV yang mendukung 4K, apakah pengalaman penggunaannya akan serupa?

Terakhir, saya senang karena pada Mi Box S, saya bisa menggunakan VPN yang tidak bisa saya gunakan pada Tizen OS Samsung Smart TV sebelumnya. Yang saya gunakan adalah langganan saya, avast! SecureLine yang pernah saya ulas sebelumnya.

VPN memungkinkan pengguna mengakses banyak siaran yang bermasalah di Indonesia. Misalnya siaran Netflix pada jaringan Indihome. Saya bisa menonton Netflix dengan lancar menggunakan VPN di Mi Box S pada jaringan Indihome. Tentu saja repotnya, VPN harus dinonaktifkan kembali jika hendak menonton siaran lain, seperti Viu, Iflix, Amazon Prime Video, atau Disney+ Hostar.

Simpulan saya, Mi Box S merupakan alternatif paling terjangkau untuk menikmati siaran daring dari pelbagai penyedia yang tersedia melalui Android TV hingga kualitas 4K. Sayangnya, pengalaman 4K ataupun FHD yang ditawarkan kurang sempurna karena kualitas pengolahan gambar yang kurang mumpuni. Jika menggunakan Tizen OS Smart TV, maka sebaiknya memilih aplikasi bawaan Smart TV jika tersedia untuk pengalaman yang lebih baik, manfaatkan Mi Box S untuk siaran yang tidak bisa diakses atau tidak tersedia pada Tizen OS.

Aplikasi Kesehatan Calon Pengantin

Calon pengantin (catin) biasanya mendapatkan edukasi kesehatan reproduksi di dokter/bidan di puskesmas terdekat sebelum mereka resmi menjadi pengantin. Termasuk juga imunisasi toksoid tetanus yang bermanfaat dalam mencegah kejadian tetanus neonaturum jika melahirkan putra nanti.

Pada masa pandemi COVID-19, hampir semua kegiatan calon pengantin terkendala, termasuk konseling kesehatan reproduksi di tenaga kesehatan yang ditunjuk. Untuk memberikan solusi bagi kendala ini, Direktorat Kesehatan Keluarga menerbitkan sebuah aplikasi Kescatin yang berbasis sistem operasi Android.

Aplikasi ini memberikan dua topik informasi utama, pertama adalah seputar kesehatan reproduksi dan metode kontrasepsi. Dan yang kedua adalah sebuah alat untuk melihat apakah ibu cukup sehat untuk dapat hamil.

Aplikasi Kescatin dapat dianggap sebagai pengganti buku panduan/pedoman kesehatan bagi calon pengantin. Penggunaannya yang sederhana dapat memudahkan akses bagi siapapun yang memerlukannya dengan berbekal ponsel/tablet Android.

Beralih ke Microsoft Edge

Sekitar setahun yang lalu, saya sempat menulis mengenai kemungkinan beralih ke peramban Microsoft Edge. Dan bagaimana setelah satu tahun berlalu? Bisa dibilang Microsoft Edge mengalami evolusi yang cukup baik.

Microsoft tampaknya bersungguh-sungguh hendak mengambil pangsa pasar peramban dari Google Chrome. Ada beberapa hal yang Chrome masih lebih unggul dibandingkan Edge, demikian juga sebaliknya.

Lanjutkan membaca “Beralih ke Microsoft Edge”

Siilo – Aplikasi Perpesanan untuk Tenaga Kesehatan dan Organisasi Kesehatan

Era komunikasi digital memberikan kita banyak kemudahan dalam melakukan pekerjaan, bagaimana kita berinteraksi satu sama lainnya melalui media perpesanan yang mudah diakses melalui gawai kita. Apalagi di era “work from home“, komunikasi menjadi lebih berperan erat lagi.

Jika kita bercerita mengenai bagaimana berkomunikasi dalam dunia kesehatan, maka kita akan mengenal beberapa prinsip komunikasi, terutama antara staf medis, dan antar tenaga kesehatan lainnya. Beberapa prinsip tersebut mengikat terhadap kerahasiaan medis hingga pada privasi pasien.

Bagaimana suatu aplikasi perpesanan bisa membantu tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya dalam tetap berkomunikasi namun menjaga prinsip-prinsip ini? Bagaimana suatu aplikasi bisa membantu tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya terhindar dari tuntutan hukum terhadap bocornya data rahasia medis atau privasi kesehatan ke ranah publik melalui aplikasi perpesanan yang dipakainya? Lanjutkan membaca “Siilo – Aplikasi Perpesanan untuk Tenaga Kesehatan dan Organisasi Kesehatan”

Kesan Menggunakan Realme XT

Kurang dari tiga hari, saya mengganti ponsel lama saya dengan ponsel baru-bekas, Realme XT. Bisa dibilang sebuah proses tukar tambah, dari Xiaomi Note 4 dan BlackBerry Passport dengan ponsel second-hand Realme XT. Pada awalnya, saya juga sempat mempertimbangkan iPhone 7, namun waktu hidupnya tidak lama lagi, sekitar dua tahunan, jadi saya mengurungkannya. Xiaomi Note 4 yang saya pegang awalnya, sebenarnya masih punya dua hingga empat tahun waktu hidup lagi, hanya saja saya terkendala dengan ruang (ROM) internal yang berkapasitas 32 GB yang makin sesak, dan tidak memiliki tambahan celah untuk bergerak. Saya kehilangan beberapa pesan penting di ponsel ini karena ketidakmampuannya melakukan pencadangan secara segera.

Realme XT yang saya gunakan saat ini adalah sebuah ponsel bekas yang saya dapatkan dari toko daring. Sehingga, pengalaman saya menggunakannya, mungkin tidak akan sama dengan yang menggunakan ponsel barunya, dan saya tidak dikabari juga alasan mengapa ponsel ini dijual, apakah karena kerusakan, atau sebagainya.

Lanjutkan membaca “Kesan Menggunakan Realme XT”

Pembaca ePub di Komputer dan Gawai

Membaca adalah hal yang menyenangkan, ada banyak sekali karya tulis baik fiksi maupun non-fiksi yang siap dilahap bagi mereka yang menyukainya. Literatur ini dapat kita peroleh setidaknya melalui dua bentuk, satu adalah wujud fisik sebagai buku yang kita beli di toko-toko buku, disewa di penyewaan buku, atau dibaca di perpustakaan; lainnya adalah dalam bentuk digital, di mana buku elektronik atau dikenal sebagai ebook dibaca melalui komputer/laptop, atau gawai seperti komputer tablet dan ponsel cerdas pun gawai khusus pembaca buku elektronik.

Membaca buku melalui gawai khusus pembaca buku. Sumber gambar: publishdrive.com.

Lanjutkan membaca “Pembaca ePub di Komputer dan Gawai”

Padamnya BlackBerry Messenger edisi Konsumen

Sebenarnya hanya menunggu waktu, tapi pada akhirnya pemegang linsensi layanan BBM, yaitu EMTEK memutuskan menutup layanan BlackBerry Messenger per akhri Mei 2019. Sebelumnya, telah banyak orang yang tidak lagi menggunakan BBM sebagai media perpesanan, bahkan tidak mengaktifkannya kembali ketika mereka mengganti telepon cerdas mereka.

Saya sampai saat ini masih mengaktifkan BBM sebagai media komunikasi, walau pun kadang hanya ada satu percakapan setiap tiga bulan. Ini memang menyedihkan, tapi sebagai pemegang perangkat klasik BlackBerry Passport SE, saya cukup senang dengan keberadaan BBM. Lanjutkan membaca “Padamnya BlackBerry Messenger edisi Konsumen”

Mengapa Memilih Nokia X6?

Bulan lalu, saya memutuskan memberi ponsel cerdas pengganti kepada istri, selain memang sudah sering macet, juga termasuk kesalahan saya saat sebelumnya memilihkan ponsel. Sebelumnya saya memilihkan salah satu produk dari Asus yang kemudian menjadi terlalu banyak aplikasi yang tidak terpakai menyenyaksakan ruang kecil yang tersedia.

Setelah banyak pertimbangan, terutama kebutuhan, harga, dan potensi penggunaan jangka panjang serta dukungan keamanannya. Saya memilihkan ponsel berbasis android, Nokia X6 atau juga disebut Nokia 6.1 Plus.

Lanjutkan membaca “Mengapa Memilih Nokia X6?”

Kerja dan Spotify

Dulu saya paling ogah kalau menikmati multimedia secara melalui streaming daring. Jika pun ada, hanya sedikit sekali pilihan saya. Tapi belakangan ini, Spotify sering muter-muter dengan beberapa lagu-lagu lawas favaorit saya.

Ketika saya tidak mengambil posisi sebagai klinisi, saya duduk di meja dan menghadapi banyak kerja dengan alunan musik dari Spotify. Musik dalam latar belakang, bisa membantu memengaruhi suasana hati dalam bekerja. Bisa menjadi rileks atau bersemangat sesuai dengan irama pilihan.

Capture Lanjutkan membaca “Kerja dan Spotify”