Pembaca ePub di Komputer dan Gawai

Membaca adalah hal yang menyenangkan, ada banyak sekali karya tulis baik fiksi maupun non-fiksi yang siap dilahap bagi mereka yang menyukainya. Literatur ini dapat kita peroleh setidaknya melalui dua bentuk, satu adalah wujud fisik sebagai buku yang kita beli di toko-toko buku, disewa di penyewaan buku, atau dibaca di perpustakaan; lainnya adalah dalam bentuk digital, di mana buku elektronik atau dikenal sebagai ebook dibaca melalui komputer/laptop, atau gawai seperti komputer tablet dan ponsel cerdas pun gawai khusus pembaca buku elektronik.

Membaca buku melalui gawai khusus pembaca buku. Sumber gambar: publishdrive.com.

Continue reading →

Iklan

Padamnya BlackBerry Messenger edisi Konsumen

Sebenarnya hanya menunggu waktu, tapi pada akhirnya pemegang linsensi layanan BBM, yaitu EMTEK memutuskan menutup layanan BlackBerry Messenger per akhri Mei 2019. Sebelumnya, telah banyak orang yang tidak lagi menggunakan BBM sebagai media perpesanan, bahkan tidak mengaktifkannya kembali ketika mereka mengganti telepon cerdas mereka.

Saya sampai saat ini masih mengaktifkan BBM sebagai media komunikasi, walau pun kadang hanya ada satu percakapan setiap tiga bulan. Ini memang menyedihkan, tapi sebagai pemegang perangkat klasik BlackBerry Passport SE, saya cukup senang dengan keberadaan BBM. Continue reading →

Mengapa Memilih Nokia X6?

Bulan lalu, saya memutuskan memberi ponsel cerdas pengganti kepada istri, selain memang sudah sering macet, juga termasuk kesalahan saya saat sebelumnya memilihkan ponsel. Sebelumnya saya memilihkan salah satu produk dari Asus yang kemudian menjadi terlalu banyak aplikasi yang tidak terpakai menyenyaksakan ruang kecil yang tersedia.

Setelah banyak pertimbangan, terutama kebutuhan, harga, dan potensi penggunaan jangka panjang serta dukungan keamanannya. Saya memilihkan ponsel berbasis android, Nokia X6 atau juga disebut Nokia 6.1 Plus.

Continue reading →

Kerja dan Spotify

Dulu saya paling ogah kalau menikmati multimedia secara melalui streaming daring. Jika pun ada, hanya sedikit sekali pilihan saya. Tapi belakangan ini, Spotify sering muter-muter dengan beberapa lagu-lagu lawas favaorit saya.

Ketika saya tidak mengambil posisi sebagai klinisi, saya duduk di meja dan menghadapi banyak kerja dengan alunan musik dari Spotify. Musik dalam latar belakang, bisa membantu memengaruhi suasana hati dalam bekerja. Bisa menjadi rileks atau bersemangat sesuai dengan irama pilihan.

Capture Continue reading →

Mencicipi Google Play Movies & Film

Salah satu layanan Google yang tersambung dengan banyak perangkat adalah Google Play, di dalamnya termasuk Play Movies & Film yang merupakan media aliran daring film-film yang dapat disewa dan dibeli.

Bagi yang memiliki perangkat Android, biasanya aplikasi ini sudah terpasang dengan sendirinya. Dan bisa dipasang pada perangkat lainnya, misal saya memasang aplikasi Google Play Movies & Film di Samsung Smart TV. Saya juga hendak memasangnya pada perangkat Roku, namun entah kenapa belum saya temukan pada kanal resmi, padahal seharusnya ada di situ.

Layanan Google Play Movies & Film bisa didapatkan dengan menyewa atau membeli koleksi film di dalamnya. Baik dalam kualitas standar maupun definisi tinggi. Harganya berbeda-beda, saya sendiri tidak yakin apa yang menjadi pembedanya. Hanya saja film baru atau film populer memiliki harga yang lebih mahal.

Harga sewa/beli untuk kualitas SD & HD juga berbeda. Kualitas HD sedikit lebih mahal. Dan pembayaran dilakukan melalui akun Google dengan menggunakan kartu kredit (belum tahu jika ada metode pembayaran lain).

Untuk menikmati kualitas HD, film dianjurkan ditonton melalui layar kaca, di mana streaming melalui televisi sudah mendukung tayangan HD. Bisa menggunakan aplikasi yang tertanam pada televisi, atau menggunakan Chromecast (perangkat sejenis) pada televisi yang bukan Smart TV. Sedangkan pada ponsel Android, umumnya hanya bisa dinikmati kualitas SD, walau yang dibeli/sewa adalah kualitas HD.

Dari segi harga, bisa dibilang tayangan di sini tidak terlalu mahal. Misalnya saya menyewa film Justice League yang terbit tahun lalu (2017) dengan biaya sewa kualitas HD sebesar Rp 29.000,00. Dibandingkan menonton di bioskop, ini jauh lebih terjangkau. Dan bisa ditonton dengan nyaman di rumah sendiri tanpa perlu mengantri atau berdesakan di bioskop.

Tentunya jika ingin mengoleksi juga bisa membelinya dengan harga bervariasi, tapi biasanya di bawah dua ratus ribu rupiah. Film bisa diputar berulang-ulang tanpa batas, berbeda dengan sewa, hanya satu kali tonton dalam batas waktu tertentu, benar-benar mirip seperti ke bioskop, tidak bisa diputar ulang.

Untuk kolektor film, membeli mungkin adalah pilihan. Tapi sekadar bagi penggemar film seperti saya, menyewa adalah pilihan. Jauh lebih murah dibandingkan membeli, dan juga sangat jarang berminat menonton ulang film yang sudah pernah ditonton. Dan dengan menyewa film tidak dikenakan pajak tambahan, sebagaimana halnya dengan membeli film.

Tapi apakah sewanya hanya itu. Bagi saya yang tidak memiliki layanan ISP berlangganan, dan menggunakan data dari kuota kartu GSM. Maka, kuota Internet perlu dipersiapkan. Sekitar satu hingga tiga gigabit untuk menikmati satu film Hollywood kualitas HD. Tentunya sinyal juga menentukan kenikmatan. Jika sinyal ngadat di tengah jalan, maka kualitas film turun dari HD menjadi SD, ini sungguh tidak mengenakan. Kadang jika ingin hemat dan lancar, mungkin bisa jadi metode pilihan kuota bagi kalong bisa dipertimbangkan.

Sedemikian hingga masing-masing orang bisa sama-sama mengeluarkan dana yang sama untuk sewa film, namun kualitas tayangan yang dihadirkan sangat tergantung dengan teknologi multimedia yang digunakan untuk menikmati film tersebut.

Kualitas HD yang ditampilkan di layar kaca oleh Google Play Movies Film sudah lumayan memuaskan mata. Saya tidak akan membandingkan dengan kualitas 4K dari media tertentu pastinya. Karena bagi hiburan umum kualitas HD sudah lebih dari cukup.

Ada beberapa hal yang memang mungkin kurang memuaskan. Misalnya untuk film tertentu, seperti film baru populer, tidak bisa disewa, hanya bisa dibeli. Itupun belum tentu ada teks terjemahan berbahasa Indonesia. Jika ingin menyewa, mungkin harus menunggu lama. Tapi film populer baru cepat tersedia di sini.

Tidak semua film tersedia di sini. Misalnya ketika saya ingin menonton Film “Your Name” atau “Kimi No Nawa”, film tersebut ada di database, namun tidak tersedia untuk wilayah Indonesia. Dan tidak tahu, apakah akan ada atau tidak. Sehingga penggemar Anime mungkin akan lebih suka berlangganan crunchyroll dan ditayangkan sesuai permintaan melalui Roku atau berlangganan Netflix untuk mendapatkan anime besutan mereka, atau berlangganan Iflix untuk mendapatkan tayangan Aniplus on-demand.

Sementara hal lain yang kurang menyenangkan adalah, ketika saya menyewa film, dan tayang melalui aplikasi Smart TV, tidak ada tombol untuk pause. Kebayang rasanya kebelet di tengah tayangan. Tata letak teks subtitle juga diberi latar hitam, kadang terkesan agak mengganggu, sehingga lebih banyak tanpa teks. Tapi kan tidak semua orang paham dengan bahasa asing.

Bagi penikmat film yang malas berdesakan atau mengantre di Bioskop. Rasanya layanan Google Play Movies & Film adalah pilihan menarik. Ya, tentu saja di Indonesia adalah pilihan lain, HOOQ misalnya, punya penyewaan serupa dengan harga yang relatif lebih miring. Hanya saja saya belum mencobanya, nanti akan saya coba melalui Roku.

MediaPad X1 Sebagai Alternatif Kindle

Dulu saya menggunakan tablet HP Stream 8 untuk melakukan aktivitas membaca dan menulis. Walau pun hanya dengan 1 GB RAM, tablet berbasis Windows 8 tersebut dapat memenuhi kebutuhan keduanya dengan baik. Tapi sejak saya memiliki Dell Inspiron, saya lebih banyak menulis di notebook. Lalu, dukungan terhadap Windows 8 juga sudah berakhir, dan sejumlah masalah teknis yang mulai bermunculan pada HP Stream 8. Saya memutuskan untuk mencari media pembaca yang anyar dan terjangkau.

Pada awalnya, karena saya memiliki akun Amazon dan memiliki sejumlah koleksi buku di Kindle, saya mencoba untuk mempertimbangkan mendapatkan Kindle atau Kindle Paperwhite yang cukup dinikmati dengan harga terjangkau. Namun kembali, anggaran untuk mendapatkan Kindle Paperwhite masih cukup tinggi menurut saya, dan saya perlu alternatif lainnya.

Sehingga pilihan itu kemudian jatuh pada Huawei MediaPad X1.

IMG_20180211_095231 Continue reading →

Bergelut dengan Pengisian Paket Data Indosat

Jika bukan karena malas berganti nomor, saya mungkin sudah melepaskan nomor ponsel Indosat IM3 yang saya gunakan. Bergelut dengan mekanisme pembaruan paket data pra bayar Indosat adalah sesuatu yang tidak mengenakan. Ya, walau saya akui dalam banyak masalah layanan pelanggan mereka bisa menyelesaikan dengan baik dan memuaskan, namun masalah tersebut, entah kenapa rasanya tidak harus ada sejak awal.

Kita menjadi lebih banyak menyelesaikan masalah daripada mencegah masalah terjadi. Sudah lama nomor telepon seluler saya tidak memiliki pulsa untuk SMS ataupun menelepon. Saya memang tidak menyediakannya, karena biasanya pulsa ini akan terpotong pada saat pengalihan paket data.

Continue reading →