Pro Kontra Imunisasi dan Vaksinasi

Imunisasi dan vaksinasi adalah salah satu metode preventive medicine yang baru berkembang dalam 200 tahun terakhir ini, atau yang bisa kita sebut sebagai upaya pencegahan primer. Teknologi imunisasi dan vaksinasi dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjamin keamanan penggunaan, tapi apakah absolut aman, tentu saja tidak sesempurna itu – sama halnya dengan menyadari tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sehingga hal ini sering kali menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat.

Mungkin imunisasi dan vaksinasi sering diartikan sama, meski ada sedikit perbedaannya. Imunisasi adalah transfer antibodi secara pasif, sedangkan vaksinasi merupakan upaya pemberian antigen (vaksin) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem kekebalan tubuh kita.

Continue reading →

Kadar Maksimal Melamin dalam Makanan

Dalam rilis berita tertanggal 6 Juli 2010 di Geneva, WHO dalam “International experts limit melamine levels in food” menyatakan bahwa jumlah maksimum melamin yang diizinkan dalam susu formula bubuk infan/bayi adalah 1 mg/kg dan jumlah zat kimia yang diizinkan dalam makanan lain dan makanan ternak adalah 2,5 mg/kg.

Hal ini disesuaikan dengan aturan baru dari badan standar pangan Amerika Serikat, Codex Alimentarius Commision.

Melamin adalah suatu zat kimia yang digunakan dalam berbagai proses industri – termasuk manufaktur plastik yang digunakan dalam peralatan rumah tangga, perabotan dapur dan perlengkapan makan serta pelapis kaleng – dan ‘serpihannya’ dapat tercampur ke dalam makanan tanpa bisa dihindari melalui kontak langsung serta tidak menimbulkan masalah kesehatan. Namun substansi ini bersifat toksin/racun dalam kadar yang tinggi.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang melamin silakan kunjungi artikel berikut.

WHO: Questions & Answers on Melamine

Wikipedia: Melamine.

Justified Text dan Hyphenation

Sebagaimana yang mungkin Anda tahu, blog saya (untuk saat ini) sudah “melanggar” setidaknya dua anjuran keterbacaan (readability) untuk sebuah situs web. Pertama adalah penggunaan teks imbangan  (justified text), yang bisa mengganggu pembaca dengan disabilitas/hendaya kognitif sebagaimana yang ditulis secara singkat di “Konten Web Sebaiknya Tidak Menggunakan Justified Text”. Dan yang kedua adalah penggunaan latar gelap untuk sebuah situs web yang bisa mengganggu, bukan hanya untuk mereka dengan disleksi, namun juga pembaca secara umumnya, merujuk kembali pada tulisan “Web Readability on Dark Background” dan sumber-sumber yang disitasikan.

Saya bukannya tidak menyukai teks imbangan dibandingkan dengan standar teks rata kanan yang banyak digunakan dipelbagai situs formal – bahkan juga digunakan dalam penulisan laporan formal. Yang banyak diteliti, jika saya tidak keliru, adalah penggunaan justified text pada latar terang/cerah, bagaimana dengan justified text pada latar gelap? Apakah efek rivers of white yang ada di latar terang/cerah akan menjadi rivers of black? Ah…, apakah bisa dua sisi negatif ini bertemu dan menjadi sisi yang positif seperti dalam perkalian matematika? Entahlah, namun rasanya saya tidak ingin berkompromi atau pun tidak ingin berasumsi tanpa dasar.

Untuk isu dengan teks imbangan, saya mencoba cara lama yang saya gunakan ketika saya masih bergelut bersama mesin tik (mesin ketik/typewriter) di saat saya masih SMP dan SMA dulu. Efek rivers of white terjadi karena ruang/spasi antar kata melebar sesuka hati pada penggunaan teks imbangan di latar terang. Sedangkan pada teks rata kanan, rata kiri dan tengah tidak memiliki efek ini karena relatif spasi antar kata memiliki jarak monoton.

Juga karena saya belum menemukan cara paling akurat untuk menghadirkan jarak monoton pada spasi antar kata, maka saya memutuskan cara klasik penggunaan tanda sambung “ – “ atau yang disebut hyphenation. Beberapa kata diakhir baris yang terlalu panjang akan dipenggal dengan tanda sembung sesuai dengan suku katanya.

Misalnya kata “sambungan” bisa dipenggal menjadi “sam-bungan” penggelan pertama akan berada di akhir baris di mana kata itu aslinya berada, dan penggalan kedua akan berada di awal baris berikutnya. Cara ini mungkin tidak sempurna, namun setidaknya dapat mengurangi lebar spasi antar kata di barisnya.

Hal ini tidak saya lakukan secara manual, karena akan terjadi banyak pemenggalan yang tidak sesuai jika dibaca dengan peramban atau pun sistem yang berbeda, baik di teks asli, peramban ponsel, atau pun di pemasok RSS. Jadi untuk di blog ini, saya menggunakan bantuan pengaya “Wp-Typography” untuk melakukan hyphenation.

Adapun setelan yang saya gunakan untuk penempatan hyphenation adalah tidak memenggal kata yang kurang dari 5 huruf, sediakan setidaknya 3 huruf di awal penggalan atau setidaknya 2 huruf di akhir penggalan dengan mengacu pada ejaan Bahasa Indonesia. Saya tidak melakukan pemenggalan pada eleman <hx>heading</hx>, tidak juga untuk kata (termasuk singkatan) yang menggunakan huruf kapital seluruhnya, walau saya memberikan pemenggalan kata yang diawali huruf kapital.

Saya tidak menjamin hyphenation menyelesaikan permasalahan dengan teks imbangan, namun ini yang sementara dapat saya kerjakan. Jika Anda memiliki masukkan, silakan disampaikan 🙂 – hyphenation juga bisa digunakan pada teks rata kanan ataupun kiri, namun rasanya kurang cocok untuk teks tengah.

Untuk latar gelap saya belum memiliki solusi yang baik. Well, ini masalah selera bukan? Mungkin pembaca bisa menggunakan Safari Reader atau RSS Reader pun RSS Mail untuk membaca blog ini di latar putih, pengguna peramban Firefox dapat memanfaatkan ekstensi Readability untuk fungsi serupa.