Migrasi dari Leap 42.1 ke Tumbleweed

Karena sudah rilisnya openSUSE Leap 42.2, saya berminat melakukan peningkatan (upgrade) dari seri 42.1 yang saat ini saya gunakan ke seri 42.2. Namun setelah membaca sejumlah panduan dan pengalaman pengguna, saya tidak memilih meningkatkannya, karena tetap saja untuk keamanan, saya akan memerlukan sebuah DVD instalasi.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba melakukan peningkatan, atau mungkin lebih tepatnya migrasi dari seri Leap 42.1 ke seri Tumbleweed. Dari yang saya baca, Tumbleweed saat ini sudah cukup stabil untuk digunakan harian. Lanjutkan membaca “Migrasi dari Leap 42.1 ke Tumbleweed”

Keluarga Asus Zenfone 3

Sepertinya baru saja kemarin melihat keluarnya keluarga Zenfone 2, kini ternyata Asus sudah mengeluarkan keluarga Zenfone 3 – termasuk seri Deluxe dan Ultra yang memiliki kapasitas penyimpanan hingga 128 GB, dan memori hingga 6 GBRAM. Saya tidak heran jika smartphone era ini juga sudah memiliki kemampuan menangkap gambar hingga FullHD, sangat berbeda dengan telepon genggam jadul.

Lanjutkan membaca “Keluarga Asus Zenfone 3”

Asus VivoPC ROG GR8

Saya iseng jalan-jalan melihat mini PC, karena berusaha mencari komputer yang jika bisa hemat daya dan energi. Dan mini PC adalah pilihan yang baik dengan konsumsi listrik yang hemat. Tapi setelah melihat produk yang satu ini, Asus VivoPC ROG GR8, saya malah kaget jika ada mini PC yang memiliki performa sebaik ini (secara teori, karena belum mencoba langsung), kalau tulisan di atas kertas, maka performanya bisa dikatakan menyamai desktop gaming yang banyak disuka anak muda untuk memainkan video game kelas berat. Lanjutkan membaca “Asus VivoPC ROG GR8”

LXLE Sesuai Selera

Saya mungkin sudah pernah memberikan kredit pada Linux yang satu ini saat bisa menjalankan komputer lawas kami. Kini saya akan menceritakan sedikit kisah tentang bagaimana saya membuat LXLE tampil sesuai selera saya, yang bermakna bekerja seperti apa yang saya inginkan juga. Paragraf kedua berikut menceritakan latar belakang mengapa saya memilih LXLE, bagi yang tidak berminat, silakan langsung melompat ke paragraf ke-3. Lanjutkan membaca “LXLE Sesuai Selera”

Berjabat dengan Raring Ringtail

Menunggu Luna (generasi selanjutnya dari Elementary OS) terasa begitu lama, saya pun mencoba sesuatu yang belum resmi dirilis yaitu Ubuntu 13.04 Raring Ringtail. Korbannya tentu sama, yaitu Asus Notebook X201E yang sebelumnya saya tanamkan Pear OS 7. Ubuntu 13.04 baru akan dirilis resmi akhir April mendatang, sehingga yang saya gunakan adalah edisi daily-build yang tersedia di repositori mereka.

Metode pemasangan yang sama dengan menggunakan Pendrive saya terapkan untuk edisi 64-bit Raring Ringtail. Kali ini, metode instalasi mengenali UEFI pada notebook saya, meskipun tentu saja tidak dalam keadaan aktif. Edisi Live tampaknya sangat menggiurkan, sudah lama tidak melihat Ubuntu semenarik ini setelah edisi 11.10 dulu. Dan jauh dari edisi 12.10, edisi 13.04 lebih terkesan mantap dan ringan. Lanjutkan membaca “Berjabat dengan Raring Ringtail”

Asus X201E dan Pear OS 7 Corella

Saya baru saja membeli sebuah Notebook PC, yaitu ASUS Notebook PC X201E. Saya termasuk orang yang agak sulit menerima argumentasi kiamat PC, hanya karena penggunaan komputer tablet dan ponsel cerdas meningkat. Karena saya sendiri termasuk orang yang susah bergerak dan bekerja bebas tanpa komputer fisik yang memang mencukupi. Tapi tentu saja saya sudah punya sebuah laptop lawas Acer TravelMate 6293, saya memutuskan untuk mendapatkan satu yang baru.

Belakangan ini saya sering berpindah tugas di daerah publik yang cukup sibuk. Kadang saya tidak bisa mengawasi lokasi saya menaruh laptop. Sehingga saya tidak ingin kehilangan (baca: kecurian) laptop lama saya yang memiliki kemampuan cukup mumpuni itu. Alternatifnya adalah, saya ingin sebuah laptop yang cukup kecil, mudah dipindahkan (ringan), ekonomis, dan elegan – tidak memandang keperluan spesifikasi yang menengah atau tinggi. Dan jika hilang, saya tidak akan terlalu menangis. Lanjutkan membaca “Asus X201E dan Pear OS 7 Corella”