The Promise – Penghubung Avatar Aang dan Korra

Setelah menyaksikan 7 episode awal “The Legend of Korra“, saya merasa ada yang kurang. Rupanya, ada penghubung antara serial animasi “Avatar: The Last Airbender” dan “The Legend of Korra” yang saya lewatkan, yaitu 3 buah buku komik berjudul “The Promise”.

“The Promise” buku kedua sendiri baru terbit akhir bulan ini, dan belum banyak juga yang diungkap pada buku pertama, namun setidaknya ada gambaran apa yang terjadi pasca perang antara Aang dan Raja Phoenix yang hendak menghancurkan Ba Sing Se. Lanjutkan membaca “The Promise – Penghubung Avatar Aang dan Korra”

Legend of Korra Tampak Menjanjikan

Ketika saya menulis “the Legend of Korra” sekitar hampir 2 tahun yang lalu, kini serial animasi lanjutan “Avatar: the Last Airbender” sudah mulai tayang di Nick. Dua serial pertama yang berkualitas HD dan bisa didapatkan di iTunes secara gratis sangat menjanjikan untuk disimak kelanjutannya.

Saya tidak tahu persisnya, namun setidaknya sampai saya menulis ini, sudah ada 7 episode yang ditayangkan – dan mungkin akan mengungkap lebih banyak kisah lagi. Dari 4 episode awal yang saya miliki, baru 2 episode yang saya saksikan. Dan berarti masih ada 24 episode menarik lagi yang akan menunggu. Lanjutkan membaca “Legend of Korra Tampak Menjanjikan”

Ayah yang Melompat

Apakah Anda masih ingat kisah pendek “Lebih Merdu dari Tansen” yang pernah saya ceritakan kembali sebelumnya? Ini adalah kisah lain dari Tansen dan Maharaja Akbar.

Maharaja Akbar seringkali menanyakan hal-hal seputar kepercayaan orang Hindu pada para pejabat istananya. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan umum yang sudah sering ditanyakan berulang kali. Dalam Purana disampaikan bahwa jika dharma di dunia mengalami kemerosotan, maka Tuhan sendiri akan turun ke dunia, mengambil rupa dalam wujud avatar. Lalu mengapa Tuhan mesti turun sendiri, mengapa tidak memerintahkan banyak dewa yang ada di bawah kekuasaan untuk bertindak? Kadang rasanya itu tidak masuk akal bagi mereka yang berkuasa.

Lukisan "Court of Akbar"

Tansen tidak langsung menjawab pertanyaan sang maharaja, namun meminta beberapa waktu sebelum ia memberikan jawabannya. Dan diperkenankan oleh rajanya untuk memberi jawaban dalam waktu satu minggu.

Beberapa hari berselang, keluarga kerajaan mengadakan pelayaran pesiar di sebuah danau. Ketika semua sedang asyik menikmati suasana, tiba-tiba ada suara keras benda yang jatuh ke air, dan di saat bersamaan terdengar teriakan, “O tidak! Pangeran terjatuh ke danau”.

Raja dan yang lain langsung melihat ke arah suara, dan semua kaget saat menyaksikan pangeran yang mulai tenggelam. Sang raja langsung melompat, dan menyelamatkan putranya. Namun begitu semua itu selesai, raja amat marah, karena itu hanya boneka yang dibusanakan mirip pangeran.

Tansen segera menjelaskan untuk meredakan amarah padukanya, bahwa pangeran baik-baik saja, dan dialah yang membuat rekayasa ini – tujuannya hanya satu, untuk menjawab pertanyaan sang raja. Mengapa Tuhan langsung yang datang mengambil wujud kehidupan di dunia ini untuk menyelamatkan dharma, dan bukan memerintah makhluk lain atau para dewa yang ada di bawah kuasanya.

Dharma bisa diibaratkan putra yang amat dikasihi oleh Tuhan. Sepertinya Maharaja Akbar, saat mengetahui putranya tercebur ke dalam danau, ia bisa saja memerintahkan salah satu pengawalnya untuk menyelamatkan putranya – ada banyak pengawal yang sigap yang bisa menyelamatkan putranya dalam sekejap, namun mengapa tidak? Inilah yang disebut kasih, inilah yang dipanggil cinta – demikian besar kasih Ilahi menyaksikan kemerosotan dharma di muka bumi, hingga keterdesakan akan kasih yang maha memahami ini membuat Beliau sendiri yang turun langsung ke dunia.

Diadaptasi dari Chinna Katha III, hal. 63. Gambar dikutip dari Lok Sabha.

Konsep Ketuhanan dalam Hindu

Ada keramaian dan sedikit argumentasi yang agak panas di salah satu milis krama (bahasa lokal untuk istilah warga) Bali. Pasca menelusuri beberapa kiriman sebelumnya, ternyata salah satu pemicunya adalah tulisan salah satu narablog dalam negeri yang diangkat ke dalam milis – beberapa pihak mengatakan bahwa tulisan tersebut “dibuat seenaknya” sehingga tidak sesuai dengan realita, riwayat dan konsep yang sebenarnya dan terkesan ‘melempar’ citra buruk pada Hindu.

Sebenarnya – entah mengapa krama milis tersebut heboh – tulisan-tulisan seperti itu ada cukup banyak di Internet, kalau mereka mau menelusuri tentunya. Ada tulisan-tulisan yang memang menyinggung bagi – tidak hanya satu elemen tertentu, bahkan sindiran-sindiran terbuka pada pelbagai agama pun kerap muncul di Internet. Itu sering terjadi, dan biasanya akan menyulut debat yang berkepanjangan dan justru tidak sehat. Maka lenyap sudah etika berdialog di dunia maya.

Sebagaimana saya utarakan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, saya bukanlah ahli agama, yang bisa memberikan pelbagai penjelasan secara akurat. Ini hanya tulisan pendek, dari sebagian kecil topik-topik yang sering diperdebatkan. Ya, saya sering kali menemukan perdebatan klasik tentang konsep ketuhanan dalam Hindu, namun tentu saja jika ingin diulas seluruhnya, seseorang harus membongkar seluruh Veda untuk itu.

Hindu, mungkin agak rumit dipahami dari kacamata agama-agama Abrahamik (konon demikian menyebutnya), mungkin karena dalam Hindu tidak ada istilah “a single God that commands”. Jadi mungkin tidak ada yang pernah mendengarkan istilah “menjalankan perintah-Nya” dalam budaya Hindu.

Lalu apa fungsi agama jika demikian? Kalau Tuhan tidak memberikan perintah, lalu bagaimana? Apa berarti kitab-kitabnya tidak disusun berdasarkan perintah Tuhan? Atau memang di Hindu tidak ada Tuhan, malah menyembah dewa-dewa, atau bahkan berhala?

Ini kemudian berkembang dalam wacana, apakah Hindu itu menganut paham monoteisme, politeisme, atau malah panteisme atau bahkan ateisme?

Secara singkat mungkin dapat dijawab, bahwa semuanya adalah benar. Jika memang ada sesuatu yang disebut Tuhan dalam Hindu, maka itu dikenal dengan istilah Brahman – alasan dari segenap keberadaan. Jadi ya, jika mesti memaksakan bertanya apa ada konsep monoteisme, ya dalam Hindu itu ada.

Lalu mengapa dalam Hindu ada banyak sekali dewa dan dewi, atau bahkan pelbagai aliran yang menyembah Tuhan yang berbeda? Jadi bukankah agama Hindu itu politeisme? Ini adalah pertanyaan klasik yang lainnya. Biasanya debat akan mulai panas jika ada yang bertahan bahwa Hindu adalah agama monoteisme, dan mengesampingkan fakta-fakta yang ada, yah…, perdebatan akan sangat panjang.

Pertama-tama, Hindu sendiri adalah nama yang diberikan oleh masyarakat dunia pada sebuah kultur religius yang begitu beragam namun harmonis. Menurut sejarah, karena pertama kali dikenal oleh dunia Barat sebagai bagian dari peradaban di lembah sungai Sindu di India. Dan tidak semua masyarakat dalam Hindu itu sendiri, menyebut dirinya sebagai Hindu. Umumnya ini terjadi pada perbedaan ‘sekolah’ atau ‘aliran’ filosofis dalam Hindu itu sendiri.

Ada pertanyaan sederhana yang sering muncul, “so how is God look like?” – Tuhan itu seperti apa? Hal yang paling sederhana untuk mendeskripsikannya dalam Hindu adalah satu kata, yaitu acintya atau atintya – yang bermakna tidak terpikirkan, atau tidak terjangkau oleh imajinasi. Jika di alam semesta ini ada sesuatu yang tak terbatas (infinite), maka itu adalah Brahman, dan jika ada sesuatu yang terbatas, maka itu adalah pikiran manusia. Pikiran manusia yang terbatas ini tidak akan mampu mencapai yang tak terbatas.

Namun manusia selalu diliputi rasa ingin tahu, bagaimanakah Tuhan itu, apa saja yang bisa saya lakukan untuk menuju pada-Nya, bagaimana Ia melihat saya? Karena kata acintya tidak akan memuaskan rasa ingin tahu manusia.

Untuk memandu ke dalam pertanyaan tak terjawab ini, pelbagai Guru menerapkan titik tolak filosofis yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan orang. Sehingga dalam Hindu, bisa ditemukan filsafat-filsafat lebih lanjut yang menjelaskan sifat Brahman. Beberapa menyampaikan bahwa Tuhan itu adalah persona, beberapa transeden, dan lain sebagainya. Beberapa sudut pandang filosofis yang banyak digunakan dalam Hindu untuk menjelaskan hal ini adalah dari Advaita Vedanta, Visishtadvaita, dan Dvaita Vedanta. Pengertian istilah-istilah ini dapat ditelusuri lebih lanjut di pelbagai kepustakaan jika berminat, namun saya rasa tidak perlu menuliskannya di sini.

Ini adalah konsep-konsep tentang bagaimana pelbagai filsafat memandang Tuhan. Indera manusia tidak bisa ‘menangkap’ Tuhan, namun keinginan untuk memahami Tuhan selalu ada. Jika kemudian dilihat ada banyak penjelasan tentang Brahman yang saling bertentangan bagi banyak logika secara umumnya – ya itulah acintya dalam makna sesungguhnya, jika ini terlihat bagi logika sebagai politeisme karena ada banyak wujud Tuhan yang berbeda-beda, ya jangan paksakan itu sebagai monoteisme. Yang membuat kebenaran berbeda, hanyalah sudut pandang manusia.

Ada juga alasan lain mengapa Hindu disebut sebagai agama yang menganut paham politeisme. Karena orang bisa menemukan di Bali – misalnya – tempat-tempat untuk memuja dewa, atau roh leluhur yang didewakan. Tidakkah seharusnya orang Hindu memuja Tuhan yang tunggal, dan bukannya malah memuja dewa dan roh leluhur?

Mungkin akan terdengar aneh dalam pandangan pandangan agama lain, karena sepanjang pengetahuan saya, dalam Hindu tidak ada kewajiban menyembah atau memuja Tuhan, dan tidak ada larangan memuja sesuatu yang lain selain Tuhan. Tentu saja dalam pelbagai filsafat terdapat tata cara pemujaan terhadap berbagai aspek Brahman, tapi tidak pernah ditekankan sebagai kewajiban. Lebih pada pengetahuan, ajakan atau anjuran.

Dalam Hindu ada penekanan terhadap suatu aware consciousness, bagaimana seseorang menyatu dalam kehidupan sepenuhnya. Jika orang hanya memikirkan harta, kemudian menumpuk harta, mencintai harta, dan pada akhirnya memuja harta – maka seluruh kehidupannya jatuh dan melekat pada harta. Jika ada yang menyindir hartanya dia tersinggung, jika ada yang mencuri atau merusak hartanya dia marah, jika hartanya hilang – dia sedih. Tentu saja harta bisa berarti makna yang sesungguhnya atau makna kiasan.

Kemelekatan membutakan seseorang, kemelekatan adalah awal dari konflik di seluruh permukaan bumi, kemelekatan adalah yang melahirkan laut suka-duka dalam dualitas dunia yang berkesinambungan, dalam Hindu disebut sebagai samsara. Inti dalam ajaran Hindu adalah akhir dari samsara ini, terbebas dari segala bentuk kemelekatan, sesuatu yang disebut pembebasan sepenuhnya atau moksha.

Tuhan – saya rasa – tidak perlu turun langsung dan memberikan perintah pada manusia untuk menjauhi kemelekatan, dan berkata bahwa itu bisa membuat dunia jadi gila. Manusia dengan aware consciousness-nya akan mampu melihat bahwa kemelekatan adalah sumber kerusakan dan korupsi dunia ini. Jika mereka tetap memilih kemelekatan, maka samsara adalah kepastian, itu adalah bagaimana alaminya hal itu terjadi pada masing-masing kita, kita mengalami ketakutan berpisah dari kemelekatan kita, kita mengalami kesedihan dan duka yang mendalam ketika kehilangannya, ya – maka itulah samsara, dan itulah bagaimana (hukum) karma berkerja.

Pemujaan pada Tuhan tidak diwajibkan, namun lebih seperti pilihan bagi orang-orang. Seseorang bisa bebas memilih jalan hidupnya, dan demikianlah hukum sebab-akibat akan juga berjalan padanya sesuai dengan pilihan yang diambilnya. Juga tidak ada artinya, jika seseorang dengan berkata bahwa ia mencintai Tuhan, maka demikianlah ia bisa membenci orang lain. Ia bisa membenci, menyakiti hingga membunuh orang lain untuk membela Tuhan. Maka itu bukan cinta sama sekali, ia hanya memuja Tuhan yang diciptakan pikirannya sendiri, dan kemelekatan pikiran itu juga yang dengan sendirinya melahirnya kebencian.

Kembali pada wacana politeisme sebelumnya, Hindu di nusantara mengalami berbagai akulturasi budaya menurut kajian historisnya. Beberapa aspek dalam budaya ini ada perhatian terhadap keselarasan kehidupan manusia dengan alamnya, bukan hanya dengan Tuhan dan dengan manusia semata. Di Bali ini dikenal dengan konsep Tri Hita Karana, dan aplikasi praktis dari konsep ini masih berhubung dengan doktrin tua tentang sistem alam semesta dalam pandangan yang diatur (atau tepatnya dijaga) oleh elemen-elemen tertentu. Sedemikian hingga dalam Hindu dikenal banyak sekali dewa-dewi yang bisa menjadi simbol keselarasan masing-masing elemen. Dalam tradisi Hindu, setidaknya ada lebih dari 300 juta dewa dan dewi dikenal. Inilah yang menjadi dasar ditemukannya pemujaan terhadap dewa dan dewi dalam Hindu, atau dalam istilah di Bali dikenal sebagai bhatara.

Tentunya tetap saja dewa dan dewi ini bukanlah Brahman dalam konsep ketuhanan Hindu. Tidakkah Tuhan marah jika umat justru memuja dewa dan dewi? Ha ha…, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Tuhan datang pada seseorang dan memarahinya karena salah memuja objek yang tepat. Saya tidak begitu paham masalah pemujaan pada dewa dan dewi, namun analogi sederhananya begini….: Jika sebuah negara memerlukan sistem komunikasi yang baik, setidaknya pos harus berjalan lancar. Dan suatu hari seseorang berterima kasih pada tukang pos karena sudah mengantarkan surat padanya sampai daerah terpencil. Lalu, haruskah seorang presiden marah pada rakyat itu, karena bukannya berterima kasih pada pimpinan tertinggi negara itu dan malah berterima kasih pada tukang pos yang jabatannya tidak seberapa? Nah, kurang lebih demikian analoginya, walau saya tidak yakin selalu bisa dianalogikan demikian. Anda harus bertanya pada seseorang yang lebih memahami konsep pemujaan dewa dan dewi untuk penjelasan yang lebih baik.

Pun pemujaan dewa dan dewi ini kemudian dipandang sebagai bentuk politeisme, ya silakan saja. Saya enggan mendebatkan hal-hal semacam ini.

Lalu pertanyaan klasik berikutnya, apakah dalam Hindu itu konsepnya panteisme? Karena sedikit-dikit ada saja terdengar bahwa Tuhan dalam pandangan Hindu ada di mana-mana, dan semuanya adalah Tuhan, sedemikian hingga orang-orang Hindu sering terlihat menyembah batu dan pohon-pohon angker sebagai (aspek) Tuhan.

Saya sendiri pernah mendapatkan pertanyaan ini dengan nada yang begitu polos, sehingga saya hampir tidak bisa menahan tawa (mungkin karena saya tipe orang yang mudah meluapkan emosinya). Sebagian pernyataan dari pertanyaan itu mungkin ada benarnya.

Memang ada konsep bahwa Brahman meresapi segala sesuatu di dunia ini, dalam pemahaman bahwa tiada tempat yang tidak terjangkau oleh-Nya. Tuhan dalam konsep Hindu bukanlah sosok yang tinggal di surga dan memerintah para dewa dan dewi. Jika memang demikian, maka dewa dan dewi dalam banyak kisah Hindu pasti bisa tidak hanya mengenal Tuhan, namun memahami-Nya dengan baik – namun di banyak kisah justru para dewa sering tidak memahami Tuhan, bahkan kesulitan mencerna maksud-maksud yang disampaikan oleh Trimurti (Brahma, Wisnu dan Siwa) yang merupakan aspek terdekat dengan Ilahi.

Saya ingat dalam yagna mantra (doa sebelum makan) yang diambil bait awalnya dari Bhagavad Gita IV.24.

Om Brahmarpanam Brahma havir
Brahmagnau Brahmana Hutam
Brahmaiva Tena Gantavyam
Brahma-Karma-Samadhina

(The whole creation being a gross projection of Brahman, the Cosmic Consciousness itself) so the food too is Brahman, the process of offering it is Brahman, it is being offered to the fire of Brahman. He who thus sees Brahman in action, alone reaches Brahman.

Dalam konsep Hindu, Tuhan ada di seluruh semesta, dan dalam setiap bentuk keberadaan. Dalam cahaya matahari, dalam kegelapan malam, dalam bulir padi yang menguning, dalam saya, Anda dan mereka. Dan dalam pengertian dua arah bisa menjadi, cahaya matahari itulah Tuhan, kegelapan malam itulah Tuhan, saya, Anda dan mereka adalah Tuhan.

Jika sekilas dilihat, tentu saja konsep ketuhanan seperti ini tampak sangat angkuh, menyamakan diri seseorang dengan Yang Maha Kuasa. Namun filosofinya tidak terletak di sana. Dalam konsep ketuhanan, ada yang disebut sebagai core of existence – atau intisari keberadaan.

Konon manusia dibentuk oleh berbagai lapisan, badan yang terluar yang tampak dengan kasat mata adalah bagian yang paling mudah dikenali sebagai suatu entitas. Kemudian ada konsep tentang badan yang lebih halus, bisa saja disebut sebagai roh, atau jiwa atau batin – kalau dalam banyak kisah, inilah bagian manusia yang mengalami reinkarnasi, mengalami sorga dan neraka. Ada yang menjadi sumber keberadaan sebuah jiwa, dan itu disebut sebagai ‘self’, sang diri, aku, atau atman.

Dan inilah ‘self’ atau atman yang identik dengan ‘higher self’ atau Brahman itu sendiri. So, while Brahman is the very core of existence, then atman is the core of existence itself. Jadi atman bisa dikatakan sebagai prinsip kehidupan yang universal, pencipta dari setiap bentuk keberadaan. Menurut sumber-sumber tertentu, ini lebih mirip prinsip panenteisme daripada panteisme.

Jadi Brahman dan atman adalah sama pada hakekatnya, namun pembedaan dapat tercipta jika terdapat jarak di antara keduanya. Jarak menciptakan ruang dan waktu yang melahirkan perbedaan (ini mungkin lebih mudah dipahami dengan teori fisika kuantum). Jika sang diri tidak menyadari dirinya sendiri, maka kesadaran akan atman sebagai entitas tidak akan muncul. Jika kesadaran tidak muncul, maka ia akan memandang setiap manusia dan bentuk keberadaan yang lainnya adalah sesuatu yang berbeda-beda pada intinya. Ketidaksadaran ini disebut gelapan, atau kabut kebodohan – avidya. Dan dalam avidya inilah lahir kemelekatan.

Dalam kisah Mahabharata, Arjuna yang kebingungan menolak maju ke medan perang. Sehingga Krishna terpaksa mewejangkan Bhagavad Gita kepada putra Kunti tersebut, sehingga ia memahami hakikat atman dan Brahman.

Tentu saja memahami di sini tidak dalam artian memahami secara konseptual. Jika saya menulis ini, dan membaca ulang, kemudian mengerti isinya, ya itu pemahaman secara konseptual. Namun apa itu dapat membuat saya menyadari atman sebagai sebuah kesejatian?

Pemahaman yang muncul, adalah pemahaman yang aktual, bukan konseptual. Konsepsi tidak berbeda dengan buah pikiran manusia, yang terbatas dan sempit. Jika dalam kesempitan itu manusia berpikir bahwa dirinya adalah atman, yang dalam tanda petik juga acintya dan tak terbatas – ya, kita bisa mengatakan itu keangkuhan, atau lebih tepatnya selaras dengan ketidakacuhan.

Jika seseorang dapat menyadari atman, atau dalam artian “when self realize itself”, itu akan menghadirkan sebuah ledakan batin yang religius. Dalam kesadaran yang baru itu, di sana ada kebebasan yang luar biasa, karena segala kemelekatan telah luluh dengan sendirinya. Ia ‘terlahir kembali’ sesuatu yang sepenuhnya baru dan penuh akan kehidupan, dalam istilah lama di Bali digunakan kata ‘dwijati’.

Kesadaran ini memberikan bukan pemahaman, namun realita bahwa segala sesuatunya memiliki esensi yang sama. Ia akan mampu melihat dirinya juga merupakan pada orang lain, dan orang lain juga adalah dirinya. Karena kesadarannya memandang ‘core of existence’ pada segalanya.

Pada keadaan ini, ia melihat, bahwa segala sesuatu adalah dirinya, dan segala sesuatu itu adalah Brahman jua. Jika ia berkata melihat Tuhan dalam sekuntum bunga, itu bukan berarti bermakna kiasan atau sekadar pemahaman akan ajaran kitab suci, namun itulah realita baginya. Sehingga tidak ada tempat bagi kebencian, atau pun amarah hadir dalam dirinya, karena kemanapun ia memandang, hanya wajah Ilahi yang tampak, apapun yang terdengar hanyalah suara Ilahi.

Ini adalah pemahaman sejati dalam ‘tat tvam asi’ yang dikatakan sebagai salah satu ajaran tertinggi dalam agama Hindu (merujuk Mahavakya pada kisah Uddalaka dalam Chandogya Upanishad 6.8.7 – Sama Veda). Jadi makna “aku adalah kamu, dan kamu adalah aku” – bukanlah mengembangan empati dan toleransi terhadap sesama manusia, namun sebuah bentuk kesadaran bahwa “aku adalah itu” – itu yang merujuk pada keberadaan yang sejati. Karena dalam kesadaran ‘tat tvam asi’, sudah tidak ada lagi ‘aku’ dan ‘kamu’ – karena semuanya adalah satu kesejatian. Hal yang sama juga dimaknai dalam Mahavakya yang lainnya, seperti ‘Aham Brahmasmi’ – “aku adalah Brahman” (Brhadaranyaka Upanishad 1.4.10 – Yajur Veda); ‘Prajnanam Brahma’ – “Kesadaran adalah Brahman” (Aitareya Upanishad 3.3 – Rig Veda); ‘Ayam Atma Brahma’ – “Sang Diri adalah Brahman” (Mandukya Upanishad 1.2 – Atharva Veda).

Namun dengan penyebab satu dan lain hal, tidak semua orang berada dalam kesadaran ini. Maka para Guru umumnya memberikan bimbingan yang lebih ringan, membuat manusia menghargai alam sekitarnya, baik dalam bentuk kehidupan maupun unsur alam lainnya. Menanamkan rasa kepedulian terhadap segala sesuatu yang ada di alam ini. Bagi mereka yang berada dalam dualitas, maka menghargai kehidupan dan keberadaannya di dunia adalah adalah pilihan yang dapat diberikan. Namun bukan berarti itu menyembah dan mendewa-dewakan segala sesuatunya. Jika dalam ranah ritual praktis, ya, kembalikan lagi pada budaya yang melingkupi – dan kembali saya bukanlah orang yang tepat untuk menjelaskan hal tersebut.

Dan untuk pertanyaan klasik yang terakhir, apakah dalam Hindu juga ada ateisme? Bukankah bertentangan sekali konsep teisme dan ateisme itu?

Saya tidak tahu apa hal-hal yang sering dipertanyakan itu bisa digolongkan ke dalam ateisme, yah…, kalau dipaksakan sedikit mungkin juga bisa.

Pertanyaan umumnya selalu dikaitkan dengan tokoh Siddhartha Gautama, atau Sang Buddha. Saya sebenarnya tidak jelas benar dari mana akar permasalahannya, namun tampaknya ada beberapa argumentasi yang menyatakan bahwa Buddha menyebarkan ajaran yang bersifat ateisme. Dan tentu saja setelah disangkutpautkan terhadap konsep avatar dalam Hindu, sehingga Hindu menjadi mengajarkan ateisme.

Dalam tradisi Veda, ketika dunia dilanda kekacauan, ketika adharma merajalela dan mereka yang hidup sesuai dharma mengalami penindasan, maka kesadaran Ilahi akan turun ke dunia dan mengambil bentuk kehidupan tertentu guna menyelamatkan dharma. Dan persona Ilahi yang turun ke dunia disebut sebagai avatar. Bisa dikatakan ketika kekuatan kesadaran Ilahi mengambil wujud di dunia, maka itu adalah avatar.

Avatar biasanya bersumber dari Trimurti (menurut Purana seperti Garuda Purana, Shiva Purana dan Bhagavata Purana), dan juga Paramadewa Ganesha (Ganesha Purana). Biasanya Shiva dan Vishnu turun ke dunia sebagai kesadaran Ilahi yang saling membantu dan menyeimbangkan, karena konon jika Mahavishnu sendiri yang turun ke dunia maka kekuatannya dapat meluluhlantahkan dunia, sebagaimana dikisahkan dalam dalam avatar Shiva – Virabhadra atau Sharabha yang muncul pada masa munculnya avatar Vishnu – Narasimha.

Tentu saja ada avatar-avatar yang lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas. Dalam kisah Ramayana, di sana ada Rama sebagai avatar Vishnu yang turun ketika dharma disalahgunakan oleh Raja Rahwana, dan situ ada Hanoman – avatar Shiva yang membantu Rama. Hanoman juga hadir dalam kisah Mahabharata, membantu Pandawa dalam perang keluarga Bharata, dan tentu saja ada Krishna – avatar Vishnu.

Dan avatar terakhir yang cukup dikenal adalah Buddha – avatar Vishnu, dalam tradisi Veda (Garuda Purana), Buddha merupakan avatar Vishnu kesembilan. Dan kini masih banyak filosofi dan sekolah-sekolah Hindu yang mengakui keberadaan Buddha sebagai persona Ilahi.

Mungkin debat tentang hal ini sudah dimulai sejak zaman Buddha itu sendiri. Kehadiran Buddha Gautama yang tercerahkan, membuat efek yang luar biasa di tanah India, nyaris-nyaris agama Hindu lenyap dari sana saking kuatnya pengaruh Buddhisme.

Konon Buddha mengkritisi keras praktik tradisi Veda yang melakukan pelbagai korban persembahan untuk upacara keagamaan. Di zaman itu konon ada banyak kaum brahmana menyalahgunakan wewenangnya, dan membuat pelbagai upacara keagamaan yang tidak pada tempatnya. Tradisi Veda ketika itu mengalami zaman kegelapannya, dan untuk menyelamatkan dharma, maka Vishnu turun ke dunia sebagai Buddha.

Setelah melalui pencerahan, Sang Buddha berkeliling negeri menyampaikan tentang kehidupan, tentang dukha, tentang ketidakabadian, dan tentang berakhirnya dukha. Ajarannya tentang cinta kasih dan ahimsa, menjadi pukulan keras bagi praktik tradisi Veda ketika itu yang menggunakan banyak hewan persembahan pada Tuhan dan para dewa.

Buddha menekankan bahwa kesadaran akan kehidupan jauh lebih bernilai daripada praktik yang kejam dan semena-mena. Ajaran Buddha pada tecermin pada Buddhisme dan Zen. Konon, Buddha sama sekali tidak menitikberatkan tentang pemujaan atau ketuhanan, Buddha memperkenalkan apa yang disebut sebagai jalan tengah. Adalah sebuah jalan untuk ‘menemukan’ self realization.

Lalu sebenarnya apakah ada Tuhan dalam Buddhisme? Saya tidak begitu memahami dengan benar, beberapa doktrin tua – dalam Buddhisme terdapat esensi supreme being, sekarang tergantung sudut pandangnya, apakah dengan doktrin Theravada atau dengan doktrin Mahayana dan Vajrayana.

Pun demikian, tampaknya pada era Buddha, memang sama sekali tidak menyentuh tentang ketuhanan, bahkan Buddha sering dikatakan mempertanyakan tentang ketuhanan itu sendiri. Dalam pelbagai Nikaya, sosok Buddha lebih ditangkap sebagai anti-spekulatif daripada ateistik.

Tuhan merupakan salah satu objek pencarian bagi orang-orang yang katanya religius, di sana-sini ada perdebatan tentang bagaimana Tuhan itu. Bahkan dalam Hindu, sejak dulu ada perdebatan antara kaum Advaita dan Dvaita yang tidak ada habisnya – sesuatu seperti memperbincangkan yang mana ada lebih dahulu “telur atau ayam”. Tuhan menjadi hanya sekadar spekulasi pikiran manusia, dan Tuhan yang hadir dari spekulasi itulah yang sering kali menjadi kemelekatan atau keterikatan bagi manusia. Jika ada yang memuja Tuhan-nya, dia akan senang sekali, jika ada yang berbicara buruk tentang Tuhan-nya dia benci sekali, jika ada yang mengheni Tuhan-nya dia bahkan siap mengangkat senjata, jika pimpinan kelompoknya mengatakan bahwa Tuhan-nya perlu ini dan itu, maka ia segera menyiapkannya tak peduli berapa hewan harus dikorbankan dan berapa hutan harus dibabat. Inilah lautan sukha – dukha kehidupan, inilah samsara.

Memupus dukha dan mengakhiri samsara adalah apa yang disampaikan oleh Buddha, bahkan jika itu berarti mengakhiri kemelekatan terhadap Tuhan sendiri. Saya rasa mungkin ini adalah yang menyebabkan pembicaraan tentang Tuhan menjadi tidak esensial dalam Buddhisme, karena ketika kebanyakan orang berbicara Tuhan dalam tataran konsepsi, maka Buddha telah menyampaikan fakta riil tentang kehidupan.

Mencapai pembebasan sepenuhnya, maka Buddha tidak terikat dengan tradisi atau konsep apapun. Kondisi bebas dari pelbagai belenggu ini tercapai dalam nirvana atau nibbana yang secara harfiah bermakna ‘padam’ – yaitu padamnya sang diri yang menciptakan belenggu dan melahirkan samsara. Kata yang serupa dalam tradisi Veda tentang moksha atau mukti, yang secara harfiah bermakna ‘lepas’ – lepasnya sang diri dari belenggu samsara.

Demikianlah, banyak orang suci dalam Hindu sendiri menghormati sosok Buddha, Dia yang sudah tercerahkan – Dia yang membimbing orang-orang menuju pembebasan sejati.

Ketika manusia terperangkap dalam dualitas – ia cenderung melahirkan pelbagai konflik di dunia, ia berada dalam samsara. Dalam Hindu, Veda termasuk segala tradisi dan filosofi ketuhanan di dalamnya hanya sebagai alat untuk menyeberangi lautan samsara, dan melahirkan kebebasan yang sejati. Ketika seseorang sudah terbebaskan, maka ia tidak akan memerlukan lagi semua alat itu, semua konsep, tradisi dan filosofi itu.

Selama berada dalam dualitas, manusia hanya melihat hitam, putih dan abu-abu dalam pikirannya, Tuhan bukan sesuatu yang dapat dijangkau oleh pikiran yang terbatas dan terbelenggu. Kebenaran hanya menjadi sebatas nalar, pemikiran, warisan, tradisi, argumentasi, budaya, atau agama. Karena kebenaran itu adalah hasil pikiran manusia yang terbatas, maka ia memiliki sisi-sisi yang dapat bersinggungan dengan kebenaran-kebenaran lainnya, sehingga setiap gesekan potensial menghadirkan konflik. Konflik menghadirkan dukha dan samsara.

Berakhirnya dualitas adalah pembebasan dari semua belenggu, apa yang ada setelah itu, tidak bisa disampaikan dengan kata-kata. Karena kata-kata hanya akan melahirkan pemikiran yang lainnya, dan kata-kata bukanlah ‘itu’ – apa yang ada ketika berakhirnya dualitas. Kata-kata hanya menyebut ‘itu’ sebagai kebebesan, kesejatian, kebenaran, Tuhan, atau bahkan ‘itu’ adalah kamu dan juga aku.

Ini bukanlah sesuatu yang dapat ditangkap pikiran manusia, karenanya, jauh-jauh sebelum masuk ke dalam konsep ketuhanan, tradisi Veda mengingatkan, bahwa ‘itu’ adalah acintya – tak terjamah oleh pikiran. Karena jika seseorang berusaha menjamah ‘itu’ dengan pikiran, maka ia akan terperangkap dalam belenggu, dan ini adalah sebentuk ketidacuhannya, ini berbahaya, maka sering juga disebutkan sebagai avidya – sesuatu yang sangat ditakuti oleh Veda itu sendiri. Seluruh cara pencapaian ‘itu’ terangkum dalam intisari Veda, yang disebut Vedanta – secara harfiah berarti berakhirnya seluruh Veda. Ketika dualitas berakhir, maka ‘itu’ ada dan nyata baginya – bukan sekadar konsep dan kepercayaan, dan secara sendirinya Veda akan runtuh, karena ia tak lagi diperlukan, karena ia hanyalah kumpulan konsep dan tradisi, ia hanya menggambarkan ‘itu; dan menunjukkan jalan menuju ‘itu’ – namun dia bukanlah ‘itu’.

Konsep ketuhanan dalam Veda bisa ditemukan dalam lebih banyak lagi sumber yang valid, tulisan ini saya buat bukan sebagai seorang yang ahli dalam agama Hindu. Saya sama sekali tidak memahami apa-apa tentang agama Hindu, saya hanya seorang pejalan yang pandangan matanya terlalu sempit untuk memandang dunia yang luas.

Saya hanya tidak menyukai perdebatan yang terlalu panjang, bahkan entah di mana ujung pangkalnya. Jika ada yang bertanya lagi pada saya, “bagaimana sih Tuhan-nya orang Hindu itu?” – ya semoga tulisan pendek ini bisa memberikan gambaran ringkas secara konseptual sederhana, tapi secara faktual, saya akan angkat bendera putih – well, I never sightseeing to heaven and meet the Lord itself while saying ‘Hi’, so I can’t describe how is God look like.

The Last Airbender

Kali ini saya akan menulis sedikit tentang film ‘The Last Airbender’ yang sudah rilis sejak minggu lalu di Indonesia. Sebenarnya sih Bhyllabus sedang dalam masa hibernasi saat ini, namun karena tulisan ini sudah ‘ditodong’ oleh salah satu kolega saya yang sudah baik hati mentraktir nonton film ini sehari yang lalu, jadi saya pun akan memberikan sedikit ulasan amatiran saya seperti biasanya.

Kita semua pastinya sudah tahu bahwa film ‘The Last Airbender’ ini adalah karya sutradara & penulis naskah M. Night Shyamalan yang diadaptasi dari serial animasi ‘Avatar: The Last Airbender’ (juga dikenal sebagai ‘Avatar: The Legend of Aang’) yang diciptakan oleh Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzo – salah satu dari film animasi anak terlaris di dunia.

Sebagai penulis naskah & Sutradara, Shyamalan sudah menghasilkan beberapa karya lainnya yang mungkin Anda kenal seperti The Happening (2008), Lady in the Water (2006), dan Stuart Little (1999). Saya berharap sentuhan Shyamalan kali ini dalam ‘The Last Airbender’ akan cukup bagus, mengingat karya-karyanya yang sebelumnya.

Namun terus terang saja, saya harus menahan sedikit rasa kecewa di dalam diri saya – kekecewaan yang serupa (atau lebih parah) ketika saya menonton film ‘Avatar’ karya James Cameron, atau film ‘2010’ yang penuh kontroversial itu. Tapi tentunya film ini tetap menarik disimak oleh anak-anak, yang akan melihat beberapa sudut berbeda dari cerita yang dulu mereka hanya lihat dalam dunia animasi.

Coba saya lihat ulang beberapa alasan kekecewaan saya, walau mungkin itu bisa menjadi alasan yang baik untuk tidak kecewa. Pertama, karakter dalam serial animas ‘Avatar: The Last Airbender’ termasuk karakter yang unik, perpaduannya memang sulit ditemukan dalam sehari-hari, karena banyak membawa nilai moral dari budaya Timur. Dalam film ‘The Last Airbender’ – saya khawatir – karakter-karakter ini tidak dapat dihidupkan dengan baik. Jadi ketika pergi ke bioskop hanya menonton orang-orang baru dengan nama peran yang sama, sama sekali tidak menghidupkan peran tokoh-tokohnya. Jadi rasanya menonton kisah dari dunia pararel, serupa tapi tak sama. Jika Anda ingin sesuatu yang bisa menghidupkan animasinya di layar lebar, mungkin Anda akan kecewa, tapi jika Anda menginginkan sesuatu yang baru dan segar, mungkin film ini akan menghibur.

Kedua, alur & latar cerita. Salah satu bagian yang menguatkan animasi ‘Avatar: The Last Airbender’ adalah jalan cerita yang tidak monoton, lumayan sulit diterka, dan memang memiliki daya tariknya, sedemikian hingga banyak orang yang menonton berkali-kali pun tidak akan merasa bosan. Namun dalam film ‘The Last Airbender’, alur & latar cerita nyaris berbeda sepenuhnya, jika seseorang tidak pernah menonton serial animasinya mereka bisa jadi kebingungan dengan kisah ini. Setidaknya begitulah yang saya temukan di tempat parkir ketika seseorang berusaha keras menjelaskan pada temannya (yang mungkin belum pernah menonton animasinya) yang bingung dengan jalan cerita yang baru saja mereka tonton.

Film ini hanya dimulai dan diakhiri di lokasi yang sama dengan serial animasinya, lalu apa yang terjadi di antara dua lokasinya dan bagaimana perjalanannya sama sekali berbeda. Di film ini Anda tidak akan menemukan para pejuang Kyoshi, tidak ada pertemuan dengan Raja Bumi – padahal Raja Bumi adalah salah satu bagian dari pimpinan Ordo Lotus Putih yang mengarahkan Aang guna menemukan guru pengendalian buminya, tidak ada pertempuran aerial melawan armada laut negara api ketika Aang mencoba menemui Avatar Roku. Namun sebaliknya Aang dan rekan-rekannya bergerilya membebaskan berbagai desa kerajaan bumi dari jajahan negara bumi, dan akhirnya bertemu roh naga yang menuntunnya pergi ke suku air Utara untuk menahan serangan negara api. Berbeda sekali dengan serial animasinya yang memang sengaja dari awal mengisahkan Aang dan rekan-rekannya yang ingin mencari guru pengendalian air di suku air Utara.

Dalam film ini, Aang ternyata tidak lebih berbakat daripada Katara dalam pengendalian air, padahal di serial animasinya kita sudah melihat yang sebaliknya. Tentu saja pembalikan fakta ini memiliki tujuan untuk memotong alur cerita sehingga bisa diperpendek untuk tayangan sebuah film yang berdurasi sekitar dua jam ini (ah, saya lupa menghitung waktunya).

Film ini hanya memuat buku pertama, ‘Water’ dari tiga buku yang menjadi seluruh serial animasi Avatar, jadi belum termasuk buku kedua (‘Earth’) dan buku ketiga (‘Fire’). Oleh karenanya film ini lebih banyak pada pengenalan tokoh dan tentu saja tentang pengendalian elemen air. Jika melihat dari gerakan yang diperagakan, mungkin teknik yang digunakan diambil dari seni Taijikuan (dikenal juga sebagai tai chi chuan), dan jika Anda pernah membaca komik Kenji di era akhir 80-an atau sekitar tahun 90-an, maka tentu saja akan familir dengan gerakan-gerakan yang ada di film ini. Tentu saja gerakan dalam tokoh-tokohnya tidak begitu matang, kita tidak bisa menguasai tai chi dalam satu atau dua tahun saja kemudian jadi mahir (kecuali mungkin secara ajaib dididik langsung oleh Zhang Sanfeng), namun tentu saja lebih baik daripada saya tidak bisa sama sekali. Saya berharap yang jadi tokoh Guru Pakku misalnya adalah aktor laga Jet Li, karena kita tahu gerakan tai chi-nya sangat bagus ketika ia berperan dalam film ‘Tai Chi Master’ dulu. Namun Francis Guinan yang memerankan Guru Pakku kali ini sudah cukup baik menurut saya, apalagi perannya di film ini hanya terkesan sebagai figuran belaka.

Ketiga, efek khusus. Saya rasa kalau film ini sepenuhnya menggunakan CGI mungkin masih bisa menyerupai animasinya, namun efek khusus kali ini masih ada beberapa kekurangannya. Terutama ketika pertempuran antara pengendali air dan pengendali api, jika dua-dua menggunakan efek khusus maka kekurangannya nyaris tidak tampak, namun ketika ada penggunaan elemen statis, misalnya api yang memang itu nyala biasa (bukan virtualisasi) akan tampak aneh jika bersanding dengan elemen air yang divirtualisasi – bayangkan saja, api kecil tidak padam saat ada banyak air tersiram ke atasnya.

Keempat, antara trailer dan movie. Ternyata tidak semua yang ada di trailer-nya tayang dalam film-nya – wah, apa itu berarti pembohongan publik? Entahlah, saya tidak mau ikut campur. Yang jelas, karena dari awal sudah merasa tidak pas, jadi sulit juga memberi nilai bagus pada film ini. Dan mungkin hanya memberi nilai 2,5 dari 5 bintang yang mungkin bisa diberikan.

Dan terakhir, walau film ini secara unik ‘menghancurkan’ nyaris seluruh kesan hebat yang ada dalam animasinya, tapi juga tidak buruk, karena ada banyak detil kecil yang saya sukai. Atau jika Anda suka, mungkin sebagai hiburan menunggu lanjutan animasinya? ‘Avatar: Legend of Korra’?

Avatar: Legend of Korra

Saat ini publik sedang menunggu karya sinematografi “The Last Airbender” yang diadaptasi dari serial animasi “Avatar Aang”, maka saat ini sedang digarap kelanjutan serial animasinya oleh Nickelodeon yang diberi rencana judul “Avatar: Legend of Korra”.

Menurut kisi-kisi yang tersamar di dunia maya, Korra adalah reinkarnasi dari siklus avatar selanjutnya pasca Aang. Kisah ini mengambil seting 70 tahun pasca kisah utama saat pertarungan terakhir Avatar Aang. Korra adalah gadis remaja dari Suku Air Selatan (Southern Water Tribe) – sebagaimana mungkin Katara dalam kisah Avatar Aang. Dia mirip dengan Katara dalam sisi keras kepala dan kemandiriannya.

Dikisi-kisikan bahwa Korra sudah menguasai tiga elemen: air, api dan tanah – namun ia masih harus menguasai elemen udara. Ini seperti benar-benar kebalikan dari kisah Avatar: The Last Airbender. Untuk tujuan ini, Korra mesti menuju pusat peradaban dalam kisah dunia avatar baru ini, sebuah kota yang disebut sebagai “Republic City” – metropolis dengan  teknologi mesin uap bisa ditemukan di mana-mana. Sebuah kota yang dihuni oleh orang-orang dari berbagai bangsa, tidak seperti pada kisah Avatar Aang, di mana suku air (water tribe), kerajaan bumi (earth kingdom), pengembara udara (air nomad), negara api (fire nation) hidup di daerah yang terpisah-pisah atau membentuk koloni-koloni tersendiri.

Korra dikisahkan akan belajar pengendalian udara dari Tenzin – putra Aang & Katara (mungkin akan ada kisah-kisah Avatar Aang yang terungkap di sini). Walau ada banyak rumor yang membisikan bahwa dalam serial kali ini akan ada banyak cerita balik mengenai bagaimana tokoh-tokoh di kisah sebelumnya berlanjut, semisal Zuko yang mencari ibunya, dan lain sebagainya.

Avatar: Legend of Korra

Korra sedang memandang Republic City - perhatikan latar pegunungan, sungai dan pencakar langitnya, mirip dengan suasan kota masa revolusi industri.

Karena kisah ini terjadi 70 tahun pasca pertempuran besar, banyak yang bertanya-tanya apakah para tokoh utama di kisah awal yang kebanyakan adalah remaja belasan tahun masih hidup di sini – setidaknya mereka mungkin akan berusia di atas 80-an tahun.

Jika pada serial “Avatar: The Last Airbender” topik utamanya adalah usaha Aang untuk menguasai keempat elemen – mencari jati diri untuk mengalahkan raja api dan mengakhiri peperangan selama ratusan tahun, maka apa yang menjadi tulang belakang untuk kisah “Avatar: Legend of Korra” kali ini?

Korra yang datang ke Republic City tidak menyangkan – mungkin – bahwa kota itu jatuh dalam kegelapan yang membuatnya semakin terpuruk. Munculnya revolusi anti pengendalian elemen mengancam kedamaian yang ada selama ini. Apakah revolusi ini begitu kuat, ataukah lebih mengerikan daripada yang dibayangkan oleh Korra…? Kita nantikan saja kisahnya ketika diluncurukan tahun 2011 mendatang.

Update:

Karena terjadi penambahan episode, sehingga totalnya menjadi 26 episode, peluncuran serial Legend of Korra tertunda dan baru direncanakan tayang pada pertengahan 2012 dengan mengusung tema yang lebih gelap dan dewasa serta sedikit banyak bumbu cinta remaja. Semoga tidak ditunda lagi hingga tahun mendatang.

Ini adalah rilis video pratampil serial Legend of Korra dari YouTube.

 

Film Avatar – Just A Movie

Beberapa waktu yang lalu saya ditraktir nonton film Avatar oleh seorang senior yang baik. Katanya sih ini termasuk film terbaik di akhir tahun 2009 yang akan diputar di sepanjang bioskop di Indonesia – mungkin mengalahkan film lokal Sang Pemimpi yang sedang diunggulkan. Film Avatar adalah film semi animasi, sebagaimana film Transformer 2 yang sempat memadatkan bioskop beberapa bulan yang lalu. Ya, karena dapat nonton gratis – apa boleh buat, ini tidak boleh disia-siakan.

Lanjutkan membaca “Film Avatar – Just A Movie”