Menulis dengan Onomatope

Ketika saya mulai menulis, salah satu hal yang paling sulit saya ekspresikan adalah onomatope (dalam bahasa Inggris: onomatopoeia). Kita harus menjadi pengamat yang baik dalam menghasilkan onomatope yang merupakan terjemahan suara di sekitar kita ke dalam bunyi dengan tulisan. Selain itu kita juga harus banyak membaca karya-karya sastra sebelumnya, sehingga tahu apakah ada onomatope yang telah diterima oleh masyarakat secara umum.

Misalnya saja, kita semua tahu bahwa “Kukuruyuk” adalah suara ayam, “Dor” adalah suara tembakan, atau “Plak” yang merupakan suara tamparan. Semua ini adalah onomatope umum. Namun bagaimana misalnya dengan suara “Pika”? Bagi yang tidak pernah menonton atau tentang Pokemon, mereka tidak akan tahu bahwa itu adalah onomatope bagi salah satu tokoh dalam Pokemon, Pikachu.

Continue reading →

Iklan

Menulis Kisah/Novel dalam bahasa Inggris

Selama ini saya mencoba menulis di Arunametta dengan bahasa Indonesia, dan kesulitan yang paling saya alami selain waktu ternyata bukanlah ide, namun kosa kata.  Menempuh beberapa tahun kuliah di mana hampir kebanyakan sumber dan bahan berbahasa asing, saya mengalami penumpulan dalam berbasa Indonesia. Bahkan dengan sembunyi-sembunyi belajar dari para maestro bahasa seperti @ivanlanin, saya masih menemukan bahwa saya memiliki banyak kekurangan yang tidak mungkin diselindungi.

Oleh karena itu, saya iseng saat ini mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris. Bukankah bahasa Inggris jauh lebih sulit dibandingkan menggunakan bahasa Indonesia? Untuk beberapa hal, saya akui itu, namun ada kemudahan yang saya rasakan.

Capture

Salah satu sepuhan saya dalam bahasa Inggris, novel “Eiwa”.

Saya boleh bilang, kemampuan berbahasa saya tidaklah baik, oke, jauh dari baik, apalagi sempurna. Baik itu untuk bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Sering melakukan tipo (salah tik) adalah salah satu habitus yang sulit dihilangkan. Continue reading →

Menyandi Hati Menyirat Sari

Dulu, pernah kubisikkan padamu, sederetan desah nirlanggam dari kalbuku – sebagaimana jua mereka telah terwariskan padaku oleh para pengelana yang telah lama menyusur cakrawala kata adimakna.

Saya lupa kapan diskusi itu berlangsung, karena saya jarang sekali kembali menulis hal yang sama saat ini. Karena puisi itu menyandikan isi hati dan hanya mengungkapkan sedikit sarinya, maka ia tidak dapat diguratkan jika seseorang tak berhati – heartless. Saya sudah lama lupa jika tidak melihat kutipan dari Paul Dirac pagi ini.

Continue reading →

Bahasa dalam Tulisan

Menulis itu tidak mudah, menjadi penulis tidak gampang. Menjadi pembaca apalagi, jauh lebih susah, karena kemampuan menyimak sebuah ide memerlukan wawasan, dan wawasan hanya didapatkan melalui pembelajaran. Satu-satunya penghubungan antara penulis dan pembacanya adalah bahasa, termasuk di dalamnya bahasa lisan yang digunakan.

Saya menjelajahi dunia blog selama 2 –3 tahun belakangan ini, dan menemukan pelbagai bentuk tulisan. Anda mungkin sudah tahu, beberapa jenis penulisan biasanya saya hindari untuk membacanya, misalnya tulisan yang tidak mengikuti konsep ejaan yang disempurnakan, karena saya tidak memiliki cukup kemampuan pengolahan membaca tulisan-tulisan yang dibuat sekenanya.

Continue reading →

Berbahasa dalam Puisi

Semakin banyak saja saya temukan blog-blog yang menulis puisi belakangan ini, rasanya senang saja membaca tulisan-tulisan itu walau tanpa bisa berkata apa-apa. Saya ingat ketika masih jadi anak SMP, seorang guru pernah berkata bahwa biasanya orang mendadak jadi puitis ketika ia sedang jatuh cinta; dan kalau mengingat kata-kata itu sekarang, saya malah bisa menemukan banyak puisi saat ini yang ditulis ketika patah hati – tapi rasanya mungkin karena hati itu masih terselip selaksa rasa cinta di dalamnya.

Saya jelas-jelas bukan orang yang mendalami sastra, lebih jelas lagi bukan seorang sastrawan pun pujangga, saya hanya seseorang dengan antusiasme dalam mengerlip riang menengok jejeran sastra di nusantara.

Kali ini saya hendak berbagi sedikit tentang bahasa dalam sebuah puisi, ah…, tentu saja ini adalah sebuah opini yang empiris dan bukannya kebakuan dalam tata dunia sastra. Pengalaman saya mondar-mandir dan clingak-clinguk di bengkel sastra dulu memberi saya sedikit sudut pandang baru.

Puisi lama memiliki beberapa aturan baku, pengikat makna, sehingga sangat khas dalam ranah zaman itu. Jika kita membaca puisi lama, rasanya akan benar-benar kembali ke masa-masa itu lagi, di saat puisi itu mulai dituliskan.

Sedangkan puisi baru lebih bebas, bentuknya tidak terikat, tidak ada persajakan yang mengatur, bahkan mungkin terkesan seperti vandalisme terhadap gaya puisi lama. Kadang ini membuat para siswa yang menerima pelajaran bahasa Indonesia (karena kita tidak memiliki kurikulum sastra Indonesia yang independen), menganggap bahwa menulis puisi bisa sebebas-bebasnya.

Tentu saja pandangan ini tidak keliru, siapa sih yang melarang menulis puisi secara bebas. Namun dalam pembahasaan puisi tentu saja ada beberapa hal yang ditekankan, seperti penggunaan majas, kreativitas, keefektifan kata, keluwesan makna, serta kekuatan dan keutuhan rangkaian puisi itu sendiri – terdengar rumit, ah, mungkin itu hanya perasaan saja.

Jika demikian, bagaimana dengan sebuah contoh? Misalnya ketika Anda sedang bersedih dan berjalan terseok ke tepi sebuah ngarai dengan sungai jernih membentang di bawahnya, hutan-hutan pinus menghiasi lerengnya. Lalu bagaimana Anda menuangkan apa yang bercampur dalam apa yang Anda lihat & Anda rasakan ke dalam syair puisi?

Kaki berjalan lelah terseret di antara rangkaian pinus
Elok alam menemani hati yang sedang gundah di musim ini
Entah kenapa kesedihan ini masih ada dan begitu dalam
Adakah sungai yang akan menghanyutkannya seperti di dasar ngarai

Satu bait di atas adalah bagaimana kebanyakan puisi ditulis saat ini. Dan tentu saja masih ada yang lebih baik dalam mengungkapkannya. Lalu bagaimana jika tuangkan seperti bait berikut.

Terseret lelah celah-celah pinus pengharapan
Sebuah luka menukikkan air mata ke dasar ngarai
Jiwa melompat menyinggung musim
Terbawa angin pada kecupan sungai, terhanyut

Nah, kedua bait tersebut bisa dibilang sama-sama dibuat sebagai puisi, mengungkapkan hal yang sama. Tapi apa yang disebut puitis itu adalah hal yang sepenuhnya berbeda, jika tidak maka setiap susunan kalimat yang dipenggal baris akan bisa disebut puisi.

Apakah gaya bahasa yang puitis tampak rumit? Mungkin “ya”, dan saya rasa memang begitu bagi banyak orang, sehingga lebih banyak yang suka menulis sesuka hatinya kemudian melabeli bahwa itu adalah sebuah “puisi”.

Puisi yang memang untuk publisitas, saya rasa memang mesti komunikatif, dan dalam bahasa yang mudah dipahami, tapi bukan berarti bisa melunturkan pemahaman akan puisi itu sendiri. Tapi puisi-puisi yang memang berasal dari ledakan sebuah emosi – Anda bisa sebut itu “cinta” – tidaklah mesti komunikatif, kadang abstraktif, dengan majas “tingkat tinggi” bagi kita yang sulit membedahnya.

Mungkin mesti dipahami bahwa puisi merupakan bagian seni sastra yang menekankan pada estetika abstraksi dengan tidak melihat fungsi semantik dan silogisme bahasa secara utuh.

Seperti dalam dua contoh di atas, “Adakah sungai yang akan menghanyutkannya…” – baris ini terlalu logis, terlalu semantik, dan tidak estetik abstraktif. Saya sendiri tidak akan menyebutkan sebagai bahasa yang puitis. Bandingkan dengan baris “Terbawa angin pada kecupan sungai…”.

Tentu saja puisi tidak selalu mesti abstraktif, karena sering kali kekuatan puisi ada dalam kesederhanaannya. Namun kesederhanaan tidak berarti bisa menulis puisi secara sembarangan, pun juga dengan kebebasan dalam menulis puisi tidak berarti asal-asalan. Dan saya rasa semua orang bisa sesungguhnya, karena hermeneutika bahasa puisi bukanlah sesuatu yang rumit, serumit abstraksi puisi. Karena jika orang sudah mengerti esensi hermeneutika dalam sastra, maka semiotika sastra akan muncul dengan sendirinya dalam menulis puisi yang indah & sarat makna.

Nah, bagi Anda yang gemar menulis puisi di manapun itu, sudahkah Anda menulis puisi dengan baik?

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Berbahasa Dalam Realita

Pagi ini saya tidak sengaja menonton satu sesi sebuah acara kuis di televisi. Sebuah pertanyaan diajukan pada puluhan peserta kuis, pertanyaan pertama mengenai EYD, manakah yang benar penulisan antara kata ‘nomor’ & ‘nomer’. Tentu saja Anda bisa menduga bahwa sebagian peserta pasti ada yang dikeluarkan karena gagal menjawab dengan benar.

Ejaan yang disempurnakan memang sudah dikenalkan sejak bangku sekolah. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Pun demikian, siapa pun pasti akan menyadari bahwa di negeri dengan latar kebudayaan yang beraneka ragam ini, bahasa Indonesia bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dikuasai, mungkin di beberapa daerah sama sulitnya seperti menguasai bahasa asing dari mancanegara.

Untuk itulah kita belajar dan saya rasa akan selalu belajar tentang bagaimana berbahasa dalam realita. Karena lidah dan pola pikir kita sering terpleset mengikuti arus salah kaprah yang sudah menjadi siklus di negeri ini.

Gambar di atas adalah buku saku yang saya beli ketika masih duduk di SMP dulu. Masih tersimpan di rak buku lama saya walau dalam keadaan lusuh. Seingat saya dulu, belajar bahasa Indonesia itu susah-susah gampang, karena itu membuatnya menyenangkan untuk selalu dipelajari, sampai sekarang pun saya kadang masih suka membuka buku lusuh tersebut, karena terus terang, ingatan saya buruk jika harus berhadapan dengan bank kosakata dan kaidah/tata bahasa.

Saya rasa berbahasa dalam realita adalah pelajaran yang tidak akan pernah habisnya, karena setiap kali – saya selalu saja menemukan sesuatu yang baru dalam bahasa itu sendiri. Tentunya yang baik dan benar sehingga menjadi sebuah standar yang baik dalam komunikasi yang efektif dan efesien.

Dan inilah sebuah negeri yang kaya ragam bahasa dari pelbagai suku dan budaya, disatukan dalam sebuah bahasa bangsanya – bahasa Indonesia.

Bahasa Bunga Mawar

Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa saya bukan tipe orang yang romantis. Tapi setidaknya saya tahu jika seseorang memberikan saya hadiah setangkai atau beberapa tangkai bunga, ada maksud apa di baliknya. Bukan artinya maksud yang terselubung, namun kata-kata apa yang tidak ia bisa sampaikan hingga harus hadir melalui bunga-bunga.

Anda mungkin sering mendengar bahwa mawar adalah perlambang cinta – orang bilang, “said with a rose”. Apa artinya jika seseorang memberikan mawar merah, putih atau hitam? Ataukah mereka hanya asal memberi?

Saya tidak tahu di mana aslinya, namun konon itu berasal dari Persia pada abad ke-15 sebelum menyebar ke Eropa pada abad ke-18 dan menjadi populer ke seluruh dunia setelah abad ke-19.

Sebagai perlambang cinta, mawar paling digemari dari sekian banyak bunga. Mawar merah secara sederhana mengungkapkan “cinta dan penghargaan”, jadi seseorang menghormati dengan segenap cinta – maka ia akan memberikan mawar merah. Juga dapat bermakna persatuan, atau kasih yang mendalam.

Oh tunggu, dulu, jangan memberi sembarangan mawar merah, atau yang Anda berikan bisa jadi salah tangkap. Jenis amaranth red, atau yang memiliki warna merah menyerupai amaranth, berarti kasih yang sudah ada sejak lama. Warna merah amaranth begitu pekat, artinya mungkin si pemberi sudah menantikan sejak lama untuk menyampaikan ungkapan hatinya ini. Cardinal red, atau warna merah kardinal berarti hasrat yang terpendam, biasanya diberikan oleh seseorang yang memiliki perasaan suka, namun tidak pernah menunjukkannya – dan kali ini dia berniat mengungkapkannya.

Di sisi lain, carmine red atau warna merah karmin menunjukkan hasrat yang palsu. Saya tidak begitu paham di mana bahasa ini akan digunakan, apakah untuk memberitahukan bahwa perasaannya selama ini adalah perasaan yang palsu? Sebagai permintaan maaf yang tidak bisa terucap? Entahlah, namun yang pasti sebaiknya Anda tidak memberikan mawar warna merah karmin pada pasangan anda, atau mungkin Anda akan mendapatkan tamparan. Pun bagi Anda yang menerima mawar merah karmin, jangan tersenyum tersipu malu, atau mungkin akan menyesel kemudian karena melewatkan sesuatu sebelumnya.

Mawar hitam seringkali kita saksikan pada upacara-upacara pemakaman. Ini melambangkan kematian, kebencian dan ucapan selamat tinggal. Jika Anda memiliki sahabat dekat atau kekasih yang akan pergi jauh dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi, setangkai mawar hitam adalah tanda bahwa Anda telah melepasnya pergi.

Mawar warna oranye atau menyerupai koral laut berarti menandakan hasrat atau perasaan suka yang sedang tumbuh. Walau tidak berarti sepenuhnya itu adalah cinta, namun setidaknya jelas ungkapannya adalah ada perasaan suka yang sedang tumbuh di dalam hatinya.

Mawar ungu atau lavender mengungkapkan kasih, kelembutan, keeleganan, dan keutuhan/kesempurnaan. Ini adalah mawar dari buah pikiran yang penuh kehangatan dan keindahan, kadang dengan sedikit hiasan akan menjadi tanda kesejahteraan, kemewahan atau kekuasaan yang bisa menyediakan semuanya itu. Warna lavender kadang dapat disubstitusi dengan warna biru.

Mawar dengan warna peach pucat memberikan tanda persahabatan dan hubungan sosial. Kadang warna peach pucat sering disampaikan sebagai mawar warna merah muda (pink). Jika seseorang menawarkan pilihan antara mawar merah atau merah muda, maka pilihan bisa jadi jawaban akan hubungan yang selanjutnya, apakah akan menjadi sahabat atau berlanjut ke hubungan asmara.

Namun ada beberapa marah dengan warna merah mudah yang lebih cerah dan lebih lembut. Biasanya mawar ini diberikan untuk menyatakan bahwa Anda memahami sesuatu yang sedang berlangsung, atau Anda bersimpati pada seseorang yang sedang sakit.

Tidak hanya warna, rangkaian mawar juga memiliki bahasa yang tersindiri. Campuran merah putih atau kumpulan mawar putih dibatasi oleh lingkaran mawar merah bermakna persatuan, ini bisa digunakan untuk merayakan suatu bentuk persatuan, misalnya peringatan hari jadian atau pernikahan. Dan tentu saja bisa menjadi bagian dari perayaan dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia.

Mawar merah dan kuning bersama-sama menyampaikan persaan suka cita, bahagia, dan pelbagai perasaan positif lainnya, seakan-akan menjadi hasrat yang bersinar dari dalam hati seseorang.

Mawar oranye dan kuning bersama-sama bisa bermakna antusiasme, hasrat dan hal-hal yang memberikan semangat pada sebuah hubungan. Sedangkan warna putih dan warna koral terangkai bersama biasanya sama dengan ucapan, “engkaulah bidadariku, dan aku ingin menjadi pendampingmu hingga akhir napasku.”

Sebenarnya warna kuning (mawar kuning) itu sendiri adalah simbol kehangatan dan persahabatan. Namun pada zaman Ratu Viktoria dulu (jika saya tidak salah ingat), mawar kuning dianggap sebagai tanda kecemburuan. Konon dalam kisah klasik Muslim (koreksi jika saya keliru), mawar kuning merupakan tanda penipuan dan pengkhianatan, dan beberapa hal tanda tabu. Di Meksiko, mawar ini adalah tanda kematian. Di Prancis menjadi lambang para kaum bidah. Karena banyak riwayat yang memberikan kesan tidak baik pada bahasa mawar kuning, maka kini walau bermakna kebebesaan, kebahagiaan dan persahabatan, mawar kuning juga tetap jarang digunakan.

Jika saya sendiri menyukai mawar putih, merupakan ungkapan bahasa dari kesucian dan kemurnian, beberapa menyampaikannya sebagai tanda kerendahan hati. Dalam tradisi Nasrani lama (kembali koreksi saya jika keliru), Bunda Maria juga dipresentasikan sebagai mawar putih, simbol kemurniannya. Dalam budaya Amerika lama, mawar putih adalah lambang kebahagiaan dan keamaanan, dan digunakan dalam pelbagai acara pernikahan. Pun dikenal juga sebagai nama “bunga cahaya” – the flower of light.

Di Skotlandia, jika sekuntum mawar putih merekah pada musim gugur, maka katanya itu adalah tanda pernikahan yang lebih awal. Di Wales (Inggris), mawar putih melambangkan sesuatu yang tidak berdosa dan keheningan, biasanya diletakkan pada makam seorang anak kecil.

Tidak hanya warna dan rangkaian saja, jumlah mawar juga menandakan sebuah bahasa yang berbeda-beda.

Setangkai bunga mawar mengucapkan kesederhanaan. Dua tangkai bunga mawar mengucapkan rasa terima kasih. Dua tangkai bungan mawar yang dirangkai satu menandakan pertunangan atau pernikahan yang sudah dekat.

Rangkaian 12 bunga mawar menandakan deklarasi/pernyataan cinta yang tidak terbantahkan (ultimate declaration of love). Sementara 25 tangkai bunga mawar disampaikan saat memberikan ucapan selamat, namun 50 tangkai bungan mawar berarti mengungkapkan cinta yang tak bersyarat (unconditional love).

Satu kuntum mawar yang merekah secara sempurna bermakna “aku mencintaimu” – jadi jangan memberikan mawar yang setengah mekar ketika mengungkapkan cinta karena itu berarti cinta yang tidak pasti. Walau beberapa wanita lebih menyukai mawar yang belum mekar sepenuhnya, sehingga mereka bisa melihatnya mekar. Saya tidak tahu apakah ini insting mereka untuk melihat cinta padanya tumbuh dan menjadi penuh sejalan berlalunya waktu, atau hanya kesukaan saja.

Jika Anda menerima satu mawar yang mekar penuh dirangkai dengan dua kuncup mawar yang belum mekar, itu bermakna cinta yang dirahasiakan. Sedangkan menerima mawar yang telah dihilangkan durinya berarti “cinta pada pandangan pertama”.

Pun jika Anda hanya menerima daun mawar dan bukan bunga mawar, itu adalah simbol harapan. Seseorang memberikan Anda harapan, sekarang tinggal apakah Anda akan merawat harapan itu dengan baik.

Pola pemberian juga mengandung arti, misal dilengkungkan ke kanan atau ke kiri, simpul pita pengikat ada di kanan atau di kiri. Di terima dengan tangan kanan atau tangan kiri. Disisipkan di dada kiri, di rambut atau di beberapa bagian tubuh lain memiliki bahasa tersendiri. Mawar dari jenis yang berbeda juga memberikan makna berbeda, carolina rose – cinta itu berbahaya, China rose – keindahan itu selalu baru, coral rose – sampaikan keindahanmu, Japanese rose – ilusi, tea rose – aku akan selalu mengenangmu, wild rose – kesederhanaan yang memesona, dan masih banyak lagi makna lainnya. Nah, saya tidak mungkin membeberkan semua di sini, tidak menarik lagi jika begitu.

Mawar adalah sebuah bunga yang memiliki sejuta bahasa, sebanyak ungkapan hati manusia. Apakah Anda termasuk orang yang suka mengungkapkan perasaan dengan mawar?