Kekesalan dan Pesan Singkat

Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan negeri ini, mungkin karena saya tipe orang yang old fashioned – jadi tidak dapat menyerap perkembangan zaman dengan baik. Sekarang makin banyak saja pengiriman pesan singkat (sms) yang semakin disingkat, dipenggal dan dipendekkan seenaknya.

Apa orang begitu sibuknya sampai harus menyingkat nyaris semua katanya dalam layanan pesan singkat? Atau tidak ingin buang-buang waktu dengan menulis panjang lebar, dan biarkan saja yang membaca menyelesaikan pembacaan lanjutannya?

Saya bukan penerjemah yang baik, yang bukan ahli membuka enkripsi sebuah pesan. Jadi jika semua kata disingkat dan dipadatkan, jangan harap saya akan membaca pesan itu, bisa-bisa saya hapus langsung dari ponsel saya, peduli amat isinya penting atau tidak.

Setiap orang harus belajar menulis pesan secara terang/jelas, padat, dan informatif. Bukannya memendekkan dan menyingkat kata seenak hati, tapi isinya melebar kemana-mana tidak karuan. Jika tidak sanggup, tulislah surat atau karangan bebas saja jika mau berkirim kabar pada saya!

Saya seperti penyandang disabilitas untuk membaca semua kata-kata yang dibuat menjadi asing itu. Jika orang tidak peduli pada kesulitan saya untuk membacanya, mengapa saya harus peduli untuk mengacuhkan pesan itu?

Apalagi kalau suasana hati saya sedang tidak enak, bisa-bisa saya labrak balik mereka yang mengirim pesan seperti itu.

Iklan

Bahasa Indonesia untuk Indonesia

Sebagai sebuah bangsa yang memiliki bahasa sendiri, Indonesia mungkin cukup beruntung karena tidak perlu meniru bahasa lain untuk dijadikan bahasa bangsanya. Dulu katanya, bahasa adalah pemersatu bangsa – karena dengan bahasa Indonesia kita bisa berkomunikasi dengan baik dan efektif serta estetis dengan segenap lapisan masyarakat Indonesia yang juga memahami bahasa bangsanya.

Namun belakangan ini, bahasa Indonesia semakin agak ‘tersingkirkan’ dari banyak sisi kehidupan. Bahasa Indonesia, sepertinya dipandang sebagai bahasa yang formal, hanya tepat diberlakukan dalam situasi formal seperti menulis surat lamaran kerja, pidato kenegaraan, menulis karya ilmiah, dan lain sebagainya. Mungkin karena persepsi banyak generasi muda – di tengah era globalisasi – membuat bahasa Indonesia seperti sesuatu yang usang, tidak sesuai zaman, dan tidak cukup gaul.

Continue reading →

Terjemahan Blog Salah Kaprah?

Pernak-pernik dunia blog kini semakin marak, walau dulunya juga sudah marak sih. Ada banyak fitur menarik yang bisa ditambahkan ke dalam blog dan menjadikannya tampak lebih cantik dan lebih menarik di mata para pengunjungnya. Tak bisa dipungkiri jika para narablog senang sekali mencoba hal-hal baru pada blognya.

Jika Anda ingat tulisan saya sebelumnya tentang Budaya Bahasa Sebuah Blog, maka apa yang saya sajikan kali ini mungkin tidak berbeda terlalu jauh. Ada salah satu pernik menarik yang suka ditambahkan pada beberapa blog oleh pemiliknya adalah adanya fitur penerjemahan blog ke ragam bahasa lainnya.

Continue reading →

Budaya Bahasa Sebuah Blog

Saya sering mendengar bahwa bangsa kita adalah bangsa yang santun dalam bertutur kata, sedemikian hingga sejak zaman kerajaan dulu, negeri ini gemar dikunjungi berbagai pedagang dari berbagai belahan bumi melalui jalur laut yang menghubungkan setiap daratan di muka bumi.

Keramah-tamahan kita dikenal dengan baik – demikian katanya. Namun entah mengapa kini rasanya itu merupakan sesuatu yang teramat langka dijumpai. Dalam kehidupan serba modern, orang terbiasa dengan segala hal yang serba instan atau cepat saji. Mungkin adalah pengaruh budaya asing, hingga ke dalam bahasa pun kini segalanya menjadi serba instan. Memang mungkin tuntutan zaman, bahwa segalanya sesuatu mesti ringkas, padat dan jelas.

Continue reading →