Suka Duka Belajar Daring

Belajar/sekolah/kuliah daring (online learning/study) menjadi tren di tengah pandemi COVID-19. Termasuk bagi saya yang sedang mengambil program pascasarjana. Aktivitas kampus dikurangi, dan hanya diperuntukan bagi praktikum yang tidak bisa diadakan secara daring.

Sudah sejak awal kasus pertama di Yogyakarta, kampus memutuskan untuk melakukan belajar online. Selama belajar jarak jauh ini, ada beberapa suka dan duka yang saya rasakan.

Belajar jarak jauh berarti berkomunikasi dengan teman kuliah dan para pengajar juga dari jarak jauh. Kuliah kebanyakan menggunakan fasilitas telekonferensi, dan tugas-tugas diunggah secara daring juga. Lanjutkan membaca “Suka Duka Belajar Daring”

DoudouLinux – Sistem Operasi Linux untuk Anak-Anak

Saya melihat ada banyak aplikasi menyerupai komputer yang ada di luar sana, dijual di banyak sudut kota seperti di toko-toko buku besar. Mereka akan menawarkan komputer ataupun mini laptop yang menarik bagi anak-anak dan bermanfaat bagi pengembangan kecerdasan mereka. Tapi bagaimana jika semua itu bisa didapatkan secara gratis dengan hanya memanfaatkan sebuah komputer tua?

DoudouLinux mudah diinstal di komputer, karena basisnya berasal dari Linux Mint yang memang sudah lama dikenal ramah pada para penggunanya. Dan memang bisa dipasang di komputer yang memiliki resolusi lebih rendah dari 800×600 seperti yang ada pada komputer era dulu. Lanjutkan membaca “DoudouLinux – Sistem Operasi Linux untuk Anak-Anak”

Belajar Fotografi dari Buku

Fotografi menjadi sebuah hobi yang belakangan ini semakin menjamur oleh karena semakin mudahnya akses ke dunia fotografi itu sendiri. Mulai dari kamera SLR yang mahal dengan set/kit-nya yang bisa bikin bangkrut pemula, hingga ponsel cerdas kelas atas ke ponsel cerdas kelas menengah – semuanya menawarkan pintu ke dimensi baru yang bernama fotografi.

Layanan berbagi di jejering sosial seperti Flickr, Tumblr, dan Instagram misalnya, membuat demam fotografi semakin menyebar ke pelosok negeri. Anda mungkin salah satu yang sedang atau berminat dengan dunia fotografi? Lanjutkan membaca “Belajar Fotografi dari Buku”

Wingspan – openSUSE Linux untuk Si Kecil

Apakah di rumah Anda ada anak kecil berusia 4 hingga 12 tahun? Anda mungkin ingin mengenalkan si buah hati pada komputer (ingat, bukan mengajari lho). Dan Anda mungkin tidak akan ingin menghabiskan beberapa juta hingga belasan juta rupiah untuk komputer dan peranti lunak (software) asli yang berisi sejumlah permainan dan program pendidikan bagi si kecil.

Kini ada Wingspan Project, sebuah distribusi Linux yang berbasis openSUSE 12.1 32-bit x86 yang siap membantu Anda untuk isu ini. Dipublikasikan dan dipaketkan oleh Sam Tornton melalui SUSE Galery, sistem operasi terbuka ini memberikan suguhan aplikasi pendidikan dan permainan populer dari Linux untuk anak-anak yang mulai mengenal dunianya, dan tertarik belajar hal-hal baru. Lanjutkan membaca “Wingspan – openSUSE Linux untuk Si Kecil”

Pemikiran Awal Membangun Pembelajaran Berbasis Web

Saat ini sejumlah lembaga pendidikan sudah merambah dunia pendidikan berbasis web (web-based learning) yang disebut juga pembelajaran digital (e-learning). Dua hari belakangan ini saya sedang memikiran menciptakan konsep bagaimana membangun sebuah pembelajaran berbasis web (Internet). Lalu dari mana saya memulai? Sederhana, saya memulai dari titik nol.

Jujur saja, saya tidak memiliki pendidikan formal menyusun sebuah kerangka pendidikan berbasis web – yang bermakna sebuah potensi melakukan transformasi parsial yang bisa berfungsi sebagai substitusi sistem pendidikan klasik saat ini. Saya mulai bertanya kanan dan kiri, pada teman-teman yang memang sudah pernah menyentuh sistem seperti ini, membaca tesis tentang pengembangan sistem seperti ini, hingga mencoba sejumlah CMS open source yang dapat membantu. Lanjutkan membaca “Pemikiran Awal Membangun Pembelajaran Berbasis Web”

Seperti Dulu–Belajar dari Dasar

Hari-hari saya berada di Yogyakarta semakin pendek, jadi beberapa pekan terakhir saya menghabiskan lumayan banyak waktu dengan bernostalgia ke pelbagai tempat lama, yang dulu sering saya kunjungi. Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan waktu hingga agak larut malam di tempat salah seorang teman, katakanlah kami sama-sama memiliki antusiasme di bidang teknologi informasi, dan saya banyak belajar ilmu komputer darinya sejak pertama kali datang ke Yogyakarta – di mana komputer adalah sesuatu yang asing bagi saya.

Di tengah perbincangan kami, datanglah seorang anak muda dengan tergopoh-gopoh – dan ini bukan berarti bahwa kami sudah tua, meski memang rambut saya telah beruban di mana-mana – , dia datang sembari memanggil nama teman saya ini.

Lanjutkan membaca “Seperti Dulu–Belajar dari Dasar”

Bermain dengan Shutter Speed

Perbincangan sore hari saya di antara hujan bersama narablog Dani Iswara, membuat saya sedikit kecipratan tentang bagaimana memanfaatkan fitur shutter speed yang ada pada sebuah kamera. Apa saya paham? Nah, itu belum tentu. Tapi setidaknya ada beberapa bagian sudah masuk dalam logika saya yang cukup dangkal.  Jika mengambil gambar dengan shutter speed yang lebih cepat, maka kemungkinan menangkap gerak statis objek akan lebih detil, sedangkan jika lebih lambat maka gerak dinamis objek akan lebih terikuti. Ah, kecuali analoginya dibalik dan bukan objek yang bergerak.

Lanjutkan membaca “Bermain dengan Shutter Speed”

Apakah Anda terlalu Sensitif?

Apa pernah Anda mendengar kata anak muda zaman sekarang, mungkin seperti, “sensi banget sih loe?” – Kadang ada orang yang membawa masalah ke dalam ranah yang lebih dalam, lebih terselubung. Kadang menimbulkan salah sangka, karena orang memproses segala input yang ditangkap sistem sensorisnya dalam ranah yang berbeda sebagai orang kebanyakan.

Orang-orang seperti ini memiliki kepekaan psikologis yang tinggi, karena ia bisa jadi memproses data-data sensori secara lebih mendalam dan menyeluruh dibandingkan populasi normal oleh karena adanya perbedaan dalam sistem saraf mereka. Ini disebut sebagai HSP (highly sensitive person) yang di masa lalu sering diduga sebagai masalah kecemasan sosial hingga ke fobia sosial.

Lanjutkan membaca “Apakah Anda terlalu Sensitif?”

Migrasi Segera Ke Linux

Kita tidak dapat serta merta – saya rasa – untuk pindah sistem operasi begitu saja. Tidak bisa instan, karena semuanya perlu belajar, tapi memang tidak susah – mungkin diibaratkan seperti bertukar merek ponsel. Jika terbiasa dengan Symbian maka belum tentu terbiasa dengan Androids, tapi bukan berarti tidak bisa kan.

Pengguna Windows sebenarnya tidak susah migrasi ke Linux, yah pengalaman saya berkata demikian. Tapi sebenarnya saya sendiri tidak menyampaikan ini sebagai migrasi total, namun parsial. Semua yang dikerjakan sebagai fungsi dasar di Windows bisa ditemukan di Linux. Mengetik dokumen, mengolah gambar, memainkan multimedia, hingga berselancar – jika hanya sekadar menggunakan, maka sama sekali tidak masalah dan tidak sulit.

Lanjutkan membaca “Migrasi Segera Ke Linux”

CSS Hooks untuk Pre-Tags

Pasca berdiskusi dengan pencipta tema “The Erudite” yang ramah, saya mengetahui bahwa pre-tags pada tema ini tidak dibungkus (wrap) secara otomatis, berikut yang disampaikannya pada saya…

Code inside a <pre> element will not wrap. <pre> preserves whitespace and will not wrap until you enter an explicit return in the text inside. You can override this behaviour with the white-space:pre-wrap; CSS declaration, but not all browsers support it.

Jadi dengan demikian maka kuputuskan untuk membuat deklarasi CSS sendiri untuk tag yang satu ini. Namun seperti biasa, sebelumnya saya minta nasihat dulu pada para sepuh, kali ini yang kena todong adalah Mas Ganda Manurung.

Lanjutkan membaca “CSS Hooks untuk Pre-Tags”