The Book of Merton’s

Membaca adalah salah satu hal yang menyenangkan, terutama di negeri yang minat bacanya rendah – Anda mendadak bisa merasakan suatu eksklusivisme semu, di mana Anda bisa tersenyum pada diri Anda sendiri. Saya paling suka menghabiskan waktu luang dengan membaca novel picisan, terutama dari negeri Tiongkok dan Sakura. Tapi waktu yang paling menggembirakan mungkin ketika saya sekadar membuka satu ada dua halaman dari buku-buku tertentu.

Buku-buku tertentu ini tidak banyak yang ada di tangan saya, kebanyakan saya pinjam atau baca dari tempat lain. Dan mereka semua nyaris berbicara hal yang sama, yaitu kehidupan dan filsafat, tapi tidak semua buku tentang kehidupan dan filsafat. Saya biasanya merujuk pada penulis-penulis tertentu, misalnya Jiddu Krishnamurti, Anthony de Mello, dan beberapa di antaranya, yang terakhir saya temukan adalah salah satu karya Thomas Merton, “New Seeds of Contemplation“.

Trappist Fr. Thomas Merton difoto bersama Dalai Lama pada tahun 1968, yang ditemui Merton selama perjalanannya ke Asia. (Pusat CNS / Thomas Merton di Bellarmine University)

Lanjutkan membaca “The Book of Merton’s”

Negeri Dadakan

Saya tidak tahu, apa banyak hal di negeri ini merupakan sesuatu yang dadakan? Selama ini saya selalu mendapatkan pemberitahuan untuk pertemuan hampir semuanya selalu bersifat dadakan. Entah itu pemberitahuan dari kantor pemerintahan, ataupun badan publik independen. Bersyukur saja kalau undangan sudah datang 2 x 24 jam sebelum acara, bahkan ada undangan yang datang beberapa jam sebelum acara rapat koordinasi, pertemuan dan sebagainya. Dan ada juga undangan yang datang setelah lewat waktunya.

Lanjutkan membaca “Negeri Dadakan”

Mengunjungi XT Square

Ada sebuah pusat wisata budaya, kuliner dan belanja baru di Yogyakarta (mungkin tidak terlalu baru), yang dibuka pada pertengehan bulan Desember ini; XT Square (belum memiliki situs web resmi, tapi dapat ditemukan di foursquare). Malam ini di antara hujan rintik, saya sempat mengunjunginya setelah menikmati jagung bakar di salah satu sudut Kota Yogyakarta.

Awalnya ragu menuju tempat ini meski sering dilewati, namun setelah meramban di dunia maya, ternyata jam bukanya hingga pukul satu dini hari, jadi mengapa tidak? Meskipun memang terdengar aneh sebuah tempat belanja dan wisata buka dari pukul 13.00 s.d. 01.00. Mungkin ada sedikit konsep pasar malam di sini. Lanjutkan membaca “Mengunjungi XT Square”

Mengunjungi Industri Kerajinan Batik Tatsaka

Nusantara kita kaya akan keragaman hasil seninya, salah satu dari yang cukup terkenal secara mendunia adalah karya seni batik. Hampir setiap wilayah di Indonesia memiliki kerajinan batik yang tersebar di pelbagi sentra industri kerajinan yang bersifat rumah tangga ini. Di Solo, Yogyakarta, Pekalongan dan banyak tempat lainnya. Banyuwangi tempat saya berada saat ini – meskipun tidak begitu begitu dikenal secara luas, namun juga memiliki kerajinan batik khas Banyuwangi.

Batik khas Banyuwangi bermotif “gajah oling” sebagai sentranya, dan terkadang ditambah dengan beberapa motif akseseoris seperti suluran dan manggar. Ada juga kini karena upaya promosi Pantai Penyu Sukamade, motif batik Banyuwangi dihiasi dengan motif tukik. Lanjutkan membaca “Mengunjungi Industri Kerajinan Batik Tatsaka”

Problematika Balang Tamak

Hampir setiap anak yang tumbuh di Bali mengenal Pan Balang Tamak, baik hanya sekadar namanya maupun juga kisahnya. Dia adalah potret kecerdikan dalam banyak sisi, dan di sisi lain adalah dianggap sebagai sebuah bentuk kebobrokan yang selalu lari dari tanggung jawab sosial (baca: adat) di lingkungan tempatnya tinggal. Dalam pola pandang masyarakatnya, ia menjadi sosok yang tidak disuka, namun kecerdikannyalah yang pada akhirnya membuat masyarakat mengalah dan memujanya. Lanjutkan membaca “Problematika Balang Tamak”

Adakah Ketakacuhan Ritual Menggrogoti Keseimbangan Alam?

Ini selalu menjadi pertanyaan saya, dan mungkin karena fakta-fakta itu ada di sekitar saya. Tradisi Hindu di Bali sangat kental dengan pelaksanaan ritual yang begitu beragam, begitu beragamnya – bahkan saya tidak dapat mengingat apa-apa saja bagian dari semua ritualitas tersebut. Ritual dala konsepnya, memiliki tujuan suatu bentuk turut menjaga keseimbangan seluruh unsur kehidupan, manusia, alam, dan spiritualitas. Hanya saja, saya menemukan sebuah pertanyaan yang mendasar yang bisa jadi mempertanyakan semua rangkaian tersebut. Lanjutkan membaca “Adakah Ketakacuhan Ritual Menggrogoti Keseimbangan Alam?”

Logika atau Kepercayaan?

Ketika saya mulai mendesain ruang kecil ini, saya memahami bahwa mungkin akan muncul perdebatan ke depannya. Namun bukan itu yang ingin ditampilkan lebih banyak. Dalam ranah masyarakat Hindu, setiap orang bebas menemukan jalan menuju pada kebenaran yang hakiki. Apakah melalui jalan kepercayaan sebagai seorang bhakta, jalan pengetahuan dan kebijaksanaan seorang jnanin, jalan ketulusan seorang karmin, atau kultivasi sang diri seorang yogi. Lanjutkan membaca “Logika atau Kepercayaan?”

Melasti Dalam Hikayat

Pagi tadi saya mengikuti rangkaian Upacara Melasti bersama warga Desa Beringkit, sudah cukup lama saya tidak mengikuti kegiatan seperti ini. Melasti merupakan salah satu rangkaian Hari Raya Nyepi, di Bali dilakukan biasanya dua hari menjelang Nyepi, namun di tempat lain menyesuaikan, karena biasanya tidak libur khusus untuk kegiatan ini.

Secara ritual, Upacara Melasti melibatkan para umat yang mengiring benda-benda yang disucikan di Pura masing-masing (disebut Pratima) menuju laut (baca: segara) untuk dibersihkan kembali. Namun karena saya tidak terlalu memiliki ketertarikan, jadi detil ritualnya tidak pernah saya ketahui. Lanjutkan membaca “Melasti Dalam Hikayat”

Yang Terwarisi Yang Dicintai

Tidak menyangka memang saya kembali lebih awal ke Jogja, dan ternyata di Jogja hujan sudah mengguyur, namun entah mengapa setelah kedatangan saya tampaknya hujan masih enggan datang kembali. Dan kini Jogja masih tetap panas seperti biasanya, dalam artian sebagaimana bulan-bulan sebelumnya.

Saya sempat menengok Jogja Java Carnival semalam dengan semaraknya, yah lumayanlah meski saya tidak begitu menyukai keramaian. Setidaknya acara tersebut bisa menggugah kesadaran kita akan warisan budaya nusantara. Dan ingat mengetahui tidaklah sama dengan menyadari akan kebudayaan itu sendiri, hal yang sama seperti mengenal pasangan anda tidaklah sama dengan mencintainya.

Lanjutkan membaca “Yang Terwarisi Yang Dicintai”