Teluk Hijau – Perjalanan Terakhir

Waktu saya bertugas di Banyuwangi, Jawa Timur sudah usai. Kunjungan terakhir kami sebagai tujuan wisata adalah Teluk Hijau, salah satu pantai yang terpencil di sisi Selatan wilayah Banyuwangi, terletak di sebelah Barat Pantai Rajegwesi yang berada di Baratnya Pantai Pulau Merah. Teluk Hijau bisa dikatakan sebagai surga yang tersembunyi, mungkin secara harfiah memang demikian.

Dari Kota Genteng, kami menuju Kota Jajag di Gambiran, lalu kemudian menuju Pasanggaran di Selatan. Ke arah Barat dari Pasanggaran di sepanjang Jalan Sukamade. Arah Pantai Pulau Merah juga terletak pada jalur utama yang sama, demikian juga Wisata Sukamade yang terkenal dengan pelepasan tukiknya, yang sepertinya tidak akan sempat saya kunjungi. Continue reading →

Iklan

Meninggalkan Puskesmas Sempu

Memang seperti kata orang, waktu berlalu dengan cepat tak terasa. Sudah empat bulan kami berada di Puskesmas Sempu, Kota Kecamatan wilayah Jawa Timur. Selain beberapa tugas akhir yang memang sudah selesai dikerjakan, dan beberapa administrasi formal, maka tidak ada hal lain lagi tersisa kecuali ucapan terima kasih dan selamat tinggal pada kota kecil ini.

Syukur-syukur bisa meninggalkan kesan baik, sisanya membawa pergi banyak kenangan dan ilmu yang bisa diterapkan di tempat-tempat tugas berikutnya. Suka dukanya jadi dokter puskesmas sedikit banyaknya sudah terasakan. Continue reading →

Menyingsing Semi di Selatang Raung

Telah beberapa minggu terlewati, sering kali melewati jalanan yang sama setiap harinya. Melewati persawahan yang sama, hanya saja berganti dari padi hijau, ke bentangan yang menguning atau genangan lumpur yang menjadi tabir bagi kerbau dan sapi dari sengatan siang. Rasanya dengan ini semi telah datang di Selatan Raung, meski gumpalan senandung mendung sesekali melintas dalam bayang senja.

Gita damai yang dilewati sepanjang hari mungkin jauh dari sentosa, pun racikan cumbu ceria siang yang dibalut angin mengulun pelan dari puncak pegunungan ke dataran yang menghampar perdu nikmat ini – adalah pengganti yang lebih dari santapan termewah sekali pun. Continue reading →

Mengunjungi Industri Kerajinan Batik Tatsaka

Nusantara kita kaya akan keragaman hasil seninya, salah satu dari yang cukup terkenal secara mendunia adalah karya seni batik. Hampir setiap wilayah di Indonesia memiliki kerajinan batik yang tersebar di pelbagi sentra industri kerajinan yang bersifat rumah tangga ini. Di Solo, Yogyakarta, Pekalongan dan banyak tempat lainnya. Banyuwangi tempat saya berada saat ini – meskipun tidak begitu begitu dikenal secara luas, namun juga memiliki kerajinan batik khas Banyuwangi.

Batik khas Banyuwangi bermotif “gajah oling” sebagai sentranya, dan terkadang ditambah dengan beberapa motif akseseoris seperti suluran dan manggar. Ada juga kini karena upaya promosi Pantai Penyu Sukamade, motif batik Banyuwangi dihiasi dengan motif tukik. Continue reading →

Seminggu di Genteng

Saya lupa sudah berapa lama tidak menulis di sini, tapi rasanya mungkin sudah ada lebih dari seminggu. Pasca pembekalan di Surabaya akhir bulan yang lalu, kini saya berada di Kota Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Saya akan berada di sini hingga satu tahun ke depan, masa dinas 8 bulan di RSUD Genteng dan 4 bulan sisanya di Puskesmas Sempu.

Dan memang sudah lama saya tidak menyentuh kegiatan klinisi, sehingga perlu cukup banyak beradaptasi kembali. Belum lagi karena perbedaan beberapa terminologi yang memang mesti dibiasakan mencercapnya. Namun perlahan-lahan akan terbiasa juga, setidaknya demikian harapan untuk saat ini. Continue reading →

Mengunjungi Gua Maria Sendangsono

Mungkin ini adalah perjalanan panjang kedua kami pasca mengunjungi Pantai Ngobaran dua tahu yang lalu. Gua Maria “Lourdes” Sendangsono adalah lokasi ziarah yang telah ada sejak awal abad ke-20, dan yang menarik juga pada lampau digunakan sebagai tempat persinggahan para bhiku dari Borodur (Magelang) saat hendak ke Boro (Kulon Progo).

Saya belum pernah menjelajahi daerah Kalibawang, di mana Sendangsono terletak. Sehingga untuk mencapainya, saya menggunakan bantuan GPS dan pemetaan yang saya siapkan sebelum. Perlu sekitar sejam dengan sepeda motor untuk mencapai lokasinya di Desa Banjaroyo dari Yogyakarta melalui jalur Godean.

Continue reading →

Galungan dalam Perjalanan

Kebetulan setelah menyelesaikan semua pemeriksaan kesehatan, saya masih berada di Bali untuk melihat perayaan Galungan sebelum saya kembali ke Yogyakarta beberapa hari lagi. Saya dan adik berada di kampung di rumah keluarga ibu, di mana ibu dulu dibesarkan, dan saya juga besar di sini.

Ketika masyarakat banyak yang sibuk pergi ke Pura untuk bersembahyang, saya tinggal di rumah – jika pernah membaca tulisan saya yang berjudul “Mengapa Saya Tidak Ke Pura” mungkin akan lebih jelas – dan kebetulan anak-anak generasi saya (yang berarti saya, adik dan adik-adik sepupu) berencana berjalan-jalan.

Singkat cerita kami tiba di Alas Kedaton, yang berlokasi di Desa Kukuh, Kecamatan Marga (mungkin mengingatkan tentang pertempuran Puputan Margarana dulu), sekitar 4 kilometer dari Kota Tabanan. Alas Kedaton sebenarnya sebuah Pura Dalem Kahyangan yang terletak di tepian hutan yang dihuni oleh banyak sekali kera. Ah ya, tentu saja pada akhirnya saya datang ke sebuah Pura untuk menikmati suasana alamnya.

Kera di sini tidaklah jinak, namun juga tidak amat ganas. Kami membeli beberapa bungkus kacang untuk diberikan pada kera-kera tersebut, mereka akan mengambilnya dari tangan kita jika kita menyerahkannya dengan baik-baik. Tapi hati-hati, jangan perlihatkan semua bungkus kacang, atau mereka akan mengambilnya seketika.

Ada jalan setapak yang membelah hutan sehingga pengunjung dapat menyisip masuk di bawah kanopi hutan yang indah dan teduh. Tapi jika musim hujan, setapak ini akan licin karena tumbuhnya pelbagai jenis lumut. Jika merasa lelah berjalan, maka ada balai-balai kecil tempat peristirahatan di sana.

Jika membawa barang-barang kecil, usahakan di simpan di tempat yang aman, perkakas elektronik yang ingin sering digunakan (ponsel dan kamera) sebaiknya menggunakan tali pengaman ke pergelangan tangan. Dan jangan selalu diperlihatkan agar tidak menarik perhatian kera yang selalu ingin tahu. Jika ponsel anda diambil oleh salah seekor kera, silakan melapor ke petugas, jika berjodoh kembali, pendeta Pura Alas Kedaton akan melakukan ritual kecil untuk memanggil kembali kera yang mengambil ponsel anda untuk dikembalikan.

Setelah dari Alas Kedaton, kunjungan berikutnya adalah ke Carang Sari – yang sebetulnya tidak memiliki tempat tujuan wisata. Tapi di sini ada ‘rumah’ almarhum Bapak Suwendha yang memiliki CV Bali Balance. Beliau dan keluargalah yang sudah turut menyokong pendidikan saya selama ini di Yogyakarta.

Dalam perjalanan saya melihat banyak hal yang sudah begitu berbeda dari masa belasan hingga dua puluh tahun lalu di Bali. Di salah satu pinggir jalan saya lihat ada sekelompok pemuda bergerumul dengan pakaian adat yang necis (bukan rapi) di pinggiran trotoar, spanduk selamat Hari Raya Galungan terpampang di belakang belakang, sementara musik-musik klub keras berdentuman di belakang mereka, bahkan bisa saya rasakan kaca mobil bergetar halus. Dan sudah jadi rahasia umum kebanyakan acara kumpul-kumpul seperti ini selalu ditemani oleh arak atau tuak – minuman beralkohol tradisional (mungkin juga dengan oplosan?). Beberapa di antaranya berdiri di tepi trotoar sambil berjoged seakan di kafe malam atau diskotik saja.

Mungkinkah hantaman globalisasi terlalu kuat? Ataukah revolusi budaya sudah menghilangkan gambaran Bali era dulu? Kebijaksanaan tua seakan perlahan namun pasti memudar dari pulau ini, hanya tertinggal banyak ritual dalam kekosongan.

Sudah sering terdengar bahwa orang Bali menjual warisannya, tanah leluhurnya, hanya untuk hidup bergengsi, membuat upacara adat yang bisa dipandang oleh orang lain, atau hanya sekadar untuk bisa membuka jalan belakang menuju kursi pegawai negeri yang mungkin memberi keamanan ke depannya. Tanah hijau berubah menjadi lahan beton, saya selalu melihat pembangunan ada di mana-mana, namun tidak pernah melihat bangunan dihancurkan untuk jadi lahan hijau. Inilah yang berarti juga, ruang bernapas di Bali menjadi semakin sempit. Bahkan kini Bali sudah melalui dilanda kemacetan ala metropolitan, terutama di jalur utama dan kota-kota besar.

Lamunan saya tiba-tiba tersela dengan suara raungan motor, sekelompok pemuda – kembali dengan busana adat – melaju sepeda motornya dengan bergerombol ala pendukung klub sepak bola yang baru saja merayakan kemenangan timnya. Apakah begini sekarang pemuda Bali merayakan Galungan, yang notabene dianggap sebagai perayaan kemenangan Dharma? Dan kembali kurasakan gegap gempita darah muda yang meraung di jalanan semakin mengusir sunyi yang menyelipkan kebijaksanaan tua.

Jika saya mengingat semua perjalanan terdahulu, entah sudah berapa perayaan yang telah dilewati. Banyak yang dapat diingat saat-saat semua itu kembali dalam sebuah renungan. Saat masih kecil, saya diajak oleh keluarga untuk mendatangi pura-pura saat perayaan, sebagai anak kecil yang belum banyak memahami hal ini, tentu mata dan pikiran ini selalu melirik ke arah yang lebih ‘menyenangkan’ seperti mainan dan berbagai kerumunan yang menarik perhatian.

Dan beberapa waktu-pun kemudian berlalu, saat masa-masa bersekolah dimulai, berbagai pemahaman mengenai perayaan ini telah disampaikan pada mata pelajaran agama, saya pun mengenal bahwa perayaan ini adalah apa yang dikenal sebagai Hari Raya Galungan. Saya cukup puas pada saat itu tentang penjelasan kemenangan Dharma melawan adharma sebagai hikmah Galungan. Itulah masa remaja saat saya datang ke Pura pada Galungan dan Galungan lainnya setiap enam bulan, tidak lagi melirik ke arah hal-hal yang saya anggap menyenangkan pada masa kanak-kanak, terkecuali hal-hal itu memang ada pada lapang di mana saya memandang. Saat itu saya datang dengan ‘kesenangan’ yang berbeda, saya datang menemui Tuhan. Walau mata dan telinga ini tidak dapat menangkap kehadiran-Nya, ‘kesenangan’ itu tidak berkurang.

Saya datang dengan berbagai pertanyaan dan permintaan, Beliau memang tidak pernah menjawab setiap pertanyaan, namun selalu mengabulkan setiap permohonan, well … it is complicated.

Masa-masa sekolah yang memberikan kurikulum pemahaman Galungan-pun akhirnya berlalu. Perjalanan kemudian berlanjut dengan lebih banyak pertanyaan – mungkin karena semua permohonan dapat dikabulkan – jadi hanya pertanyaan yang belum terjawablah yang masih menumpuk.

I have come to you with so much wishes and question My Lord, You already have granted all my wishes, but non of my questions has been solve. I do not need to believe in You neither do trust in You, cause I know You are here, thats more then whole believe and trust I could get. So would You grand one more of wish of mine … shall let me in my journey to reveal the essential truth beyond all my questions ….” Kemudian saya pun tersenyum “You’re welcome“.

Kini Galungan datang kembali, gaungan kemenangan Dharma masih tidak surut selayaknya dulu. Antusias masyarakat terus bertambah, selayaknya memang kemenangan Dharma memang dirayakan. Menjadikan isnpirasi bagi kita semua untuk tetap memegang teguh Dharma.

Hmm …. jauh di dalam kesunyian ini, pertanyaan-pertanyaan telah mengalir dan berlalu dalam kekosongan.

Saya telah melihat selama ini dalam pikiran saya, saya telah membuat pemisahan antara Dharma dan diri saya, antara Adharma dan diri saya. Terselubung jauh oleh pengetahuan dan ingatan yang menjadikan kabut ketidaktahuan makin pekat, saya telah melupakan bagaimana batin ini membentuk kedua hal tersebut. Bagaimana pengetahuan akan kemenangan Dharma dan buruknya adharma telah mengkondisikan saya, saya telah bertindak sebagaimana yang telah didogmatisasi oleh pengetahuan ini.

Saya telah melihat bagaimana hal-hal itu telah memberikan ‘kesenangan’ pada batin saya, namun ia tidak pernah bisa memberikan kebebasan yang mutlak. Melampaui Dharma dan adharma itu sendiri.

Saya telah melihat ‘kesenangan’ ini mengikat saya, saya senang Dharma telah dikatakan menang (dan mungkin akan sebaliknya jika ceritanya berbeda), saya menjadi senang orang-orang memiliki pemahaman yang sama bahwa Dharma adalah jalan hidup, dan orang seharusnya menghargainya – namun menjadi sebaliknya jika tidak, saya menjadi tidak menyukai hal-hal yang berbau adharma.

Dan lihatlah ini, betapa konsep Dharma dan Adharma telah mengikat saya dalam lingkaran suka dan duka, dalam gerak pikiran yang teramat terbatas.

Batin yang telah melahirkan konsep ini terperangkap dalam labirin yang ia buat sendiri.

Namun saat saya melihat bahwa semua hal ini bermula dari diri saya, maka saya dapat melihat semuanya berakhir begitu saja. Memahami bagaimana diri saya telah menciptakan ilusi pengetahuan ini, sebuah rantai suka dan duka terputus jua.

I see to observe one self … one begin to understand … that is the begining of wisdom … the begining of the true Dharma.

Dikutip dari “Galungan & Kuningan”.

Tiba di Carang Sari, ada kesejukan alam yang mengikat, karena jauh dari perkotaan dan pemukiman, banyak dari kawasan di sini masih asri. Perbukitan yang seakan memanggil untuk dijelajahi lebih jauh. Di awali dengan melihat beberapa hewan yang ada di sana seperti Merak, Kijang, ataupun Kanguru. Jika lelah berjalan, di sini juga ada beberapa mata air alam yang bisa di minum langsung, beberapa sudah dialirkan ke keran-keran di pinggir jalan setapak yang dibangun.

Beberapa balai peristirahatan juga di bangun di sepanjang jalan naik turun di perbukitan.

Karena daerah ini adalah milik pribadi, jadi lebih leluasa untuk menjelajahinya. Karena luas, jadi bisa meregangkan kaki dengan bebas.