Face shield tanpa masker?

Kita melihat banyak fenomena orang menggunakan face shield (pelindung wajah), namun tidak menggunakan masker. Bagaimana isu keselamatannya?

Masker sangat penting dalam mengurangi penyebaran COVID-19. Walau sering kali terasa tidak nyaman digunakan, oleh karena itu orang mencari alternatif lain, seperti beralih ke menggunakan face shield.

Pertanyaan besarnya tentu saja, apakah hanya dengan menggunakan face shield bisa mengurangi penyebaran COVID-19, atau Anda masih perlu menggunakan masker dengan face shield?

Jawaban cepatnya adalah: Anda masih perlu menggunakan masker walaupun telah mengenakan face shield.

Mengenakan face shield membuat orang merasa lebih nyaman dibandingkan mengenakan masker, dan membuat orang bisa memperlihatkan wajahnya atau melihat wajah orang lain, dan bisa lebih berguna bagi mereka yang berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir. Sayangnya, pelindung wajah ini tidak memberikan perlindungan yang sama dengan masker.

Face shield tidak menyerap droplet dari napas Anda sebaik masker. Yang terjadi adalah droplet saluran napas ditepis dan diarahkan jatuh ke bawah. Karena desainnya yang “berlubang” di bagian bawah, kemungkinan ada kuman pada napas seseorang yang lolos ke udara, yang merupakan cara penularan SARS-CoV-2. Itulah mengapa menggunakan face shield sebagai pengganti masker tidak dianjurkan.

Di sisi lain, face shield dapat melindungi mata Anda dari paparan partikel virus dan mencegah Anda menyentuh wajah Anda sendiri. Dan jika Anda berada di lingkungan tinggi potensi penularan, seperti merawat orang yang sakit COVID-19, menggunakan face shield bersama dengan masker memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi mulut dan hidung.

Jika Anda memutuskan menggunakan face shield, pastikan Anda juga mengenakan masker. Dan cuci face shield setiap kali setelah penggunaan untuk membersihkan kuman yang menempel pada permukaan plastinya.

Periksa Swab Antigen SARS-CoV-2 di Bantul

Bulan ini adalah permulaan saya untuk memulai penugasan residensi di salah satu rumah sakit di Bantul. Salah satu syaratnya adalah melalukan swab (hapusan) nasofaring untuk pemeriksan antigen SARS-CoV-2 untuk melihat potensi infeksi COVID-19. Orang-orang seperti saya bekerja di bidang kesehatan termasuk yang paling rentan terkena COVID-19, oleh karena berhadapan langsung dengan mereka yang sakit ‘bergejala’ COVID-19. Apalagi, tidak semua orang yang kita hadapai sehari-hari bisa taat dengan protokol kesehatan.

Saya melaluikan pemeriksaan swab antigen di RSU PKU Muhammadiyah Bantul, setelah janjian, saya datang pada waktu yang ditentukan. Saat itu pemeriksaan dikenakan biaya IDR 250K, dan saya membayar sebagai pasien umum.

Saya kemudian menuju ke area pengambilan sampel, setelah menunggu beberapa saat, petugas mengambil sampel dari ruang khusus yang disediakan. Walau pun saya pernah menjalani pemeriksaan ini sebelumnya, saya masih tetap merasa tidak nyaman, dan mungkin memang tidak akan pernah nyaman.

Hasilnya jadi dalam dua jam, namun karena saya tidak memerlukan bentuk fisiknya, saya meminta tolong petugas untuk mengirimkan saya hasil pemeriksaannya dalam bentuk digital.

Hasil pemeriksaan keluar sebagai negatif. Tentu saja, negatif di sini tidak bermakna pasti bebas COVID-19. Bisa jadi memang tidak terinfeksi SARS-CoV-2, atau bisa jadi jumlah virus terlalu sedikit pada sampel dari kemampuan deteksi minimal alat.

Oleh karena itu, saya tidak mengendurkan protokol kesehatan. Apalagi saat ini kasus COVID-19 di Bantul melonjak tinggi. Kasus yang bagi banyak orang dulu jauh, kini bisa ditemukan di sekitar mereka.

Saya memang masih melihat kecenderungan tidak sedikit masyarakat yang masih menyepelekan kondisi pandemi ini. Atau mereka mungkin peduli, tapi antisipasinya kadang tidak berdampak positif pada perbaikan situasi pandemi. Hal ini memang disayangkan, karena masyarakat adalah moda penyebaran COVID-19 itu sendiri, tanpa disiplin, sebaik apapun regulasi yang dihadirkan, maka laju pandemi akan sulit dikendalikan, sampai ada metode kendali yang lebih baik.

Tenaga Kesehatan, Sudahkah Anda terdaftar untuk Mendapatkan Vaksin COVID-19?

Pemerintah merencanakan pengizinan penggunaan vaksin COVID-19 dalam situasi kedaruratan wabah COVID-19. Sebagai tenaga kesehatan, saya menyetujui langkah ini, dengan catatan bahwa seluruh kewaiban dalam menelurkan suatu EUA (emergency use authorization) sudah terpenuhi.

Perbandingan pengembangan vaksin di era tradisonal dan pandemi.

Bagi tenaga kesehatan yang bekerja di garda depan dan belakang situasi pandemi, perlindungan sangat penting bagi kita. Dampak COVID-19 bukan sekadar berbicara pada mortalitas (kematian), namun juga morbiditas (kecacatan) yang belum banyak digali dan dikaji.

Tidak ada cara yang lebih manjur mengakhiri suatu pandemi dibandingkan dengan vaksinasi (kecuali karantina penuh wilayah dan orang di seluruh planet ini). Oleh karenanya, penting sekali kita mendukung proses vaksinasi ini.

Peduli Lindungi.

Tenaga kesehatan akan menerima vaksin secara gratis yang disediakan oleh pemerintah. Dan untuk mengetahui hal ini, tenaga kesehatan dapat memeriksa langsung apakah dia terdaftar dalam penerima vaksin gratis melalui website: pedulilindungi.id.

Apakah vaksin efektif?

Kita berharap vaksin cukup efektif untuk menghentikan atau menekan laju pandemi. Sebagaimana banyak vaksin sebelumnya dalam sejarah kita.

Sejarah efektivitas (kemanjuran) vaksin dalam menghadapi wabah.

Hanya saja, setelah vaksinasi, bukan berarti kita bisa santai dan bebas begitu saja dan melupakan prosedur perlindungan lainnya. Karena vaksinasi hanya salah satu perlindungan, dan perlindungan lain masih tetap diperlukan untuk menjaga kita dan orang-orang di sekitar kita.

Kita mungkin memerlukan lebih dari satu kali vaksinasi untuk mencapai target imunitas yang diharapkan, dan mungkin saja suatu saat nanti kita juga perlu penguat (booster) lagi.

Semoga dengan vaksinasi (bersama dengan protokol kesehatan lainnya), pandemi COVID-19 dapat dikendalikan dan dieleminasi dari negeri kita.

Rapid Test Antibodi untuk COVID-19

Sejak muncul dan menyebarnya COVID-19 di Indonesia, kita semua pasti pernah mendengar tentang rapid test, atau panjangnya rapid diagnostic test (RDT) untuk mendeteksi COVID-19. Sayangnya, mendengar belum tentu bermakna paham, sehingga banyak kebijakan keliru yang muncul seputar pemeriksaan cepat ini.

RDT COVID-19 merupakan pemeriksaan antibodi terhadap SARS-CoV-2 pada sampel darah yang biasanya diambil dari ujung jari yang dapat dilakukan seketika itu juga di tempat pemeriksaan, sehingga sering disebut sebagai pemeriksaan di tempat atau point-of-care (POC).

Sebagaimana RDT pada umumnya, RDT COVID-19 mendeteksi setidaknya dua jenis antibodi terhadap SARS-CoV-2, yaitu IgM dan IgG SARS-CoV-2.

https://www.ibl-international.com/media/wysiwyg/products/db52181/SARS-CoV-2-RNA-Antigens-and-Antibody-Levels-graphic.png
Ilustrasi pembentukan antibodi sebagai respons terhadap infeksi. Sumber: IBL International.

Oleh karena antibodi (sederhananya: daya tahan tubuh spesifik) perlu waktu terbentuk dari pertama kali antigen (sederhananya: virus) masuk ke dalam tubuh. Maka RDT tidak bisa mengetahui apakah seseorang sudah terkena COVID-19 atau belum secara pasti. Bisa jadi memang tidak, bisa jadi iya, namun karena orang tersebut baru saja terinfeksi SARS-CoV-2, maka antibodi spesifiknya belum terbentuk.

https://www.quimigen.com/upload/rapid-tests-nab2yc.jpg
Luaran RDT COVID-19. Sumber: Natatravel 2020.

Pemeriksaan RDT COVID-19 biasanya menunjukkan empat luaran (baca: hasil) seperti gambar di atas.

C adalah Kontrol (jika positif, maka akan berwarna seperti kontrol); G adalah IgG, dan M adalah IgM.

C akan selalu menunjukkan garis, jika tidak, berarti ada yang keliru dengan perangkat tes yang digunakan. Hasil sebaiknya tidak diinterpretasi.

  1. C (+), G (-), M (-), bermakna tidak ada antibodi spesifik (IgM & IgG) terdeteksi dalam sampel darah. Interpretasinya: (A) Belum terinfeksi COVID-19; ATAU (B) Sudah terinfeksi COVID-19, tapi belum terbentuk IgM & IgG.
  2. C (+), IgG (+), IgM (-), bermakna ditemukan antibodi IgG tanpa IgM dalam sampel darah. Interpretasi: Sudah pernah terinfeksi COVID-19, dan telah melewati fase akut.
  3. C (+), IgG (-), IgM (+), bermakna ditemukan antibodi IgM tanpa IgG dalam sampel darah. Interpretasi: Sedang terjadi infeksi akut COVID-19.
  4. C (+), IgG (+), IgM (+) bermakna ditemukan antibodi IgG dan IgM dalam sampel darah. Interpretasi: (A) Sedang terjadi infeksi akut COVID-19 atau (B) Sedang terjadi infeksi ulang (reinfeksi) SARS-CoV-2.

RDT yang baik selayaknya memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga hasilnya dapat dipercaya. Pada kondisi akut, konfirmasi dengan pemeriksaan RT-PCR dari beberapa sampel dianjurkan. Setelah melewati fase akut, RT-PCR tidak diyakini dapat terlalu bermanfaat, karena kemungkinan proses infeksi sudah selesai.

Apa maknanya? Seseorang yang menunjukkan RDT reaktif bisa jadi sudah melewati fase akut, atau sudah sembuh dari COVID-19 dan sudah memiliki kekebalan (antibodi) spesifik terhadap COVID-19. Sehingga pemeriksaan RT-PCR tidak akan menunjukkan hasil positif, karena pasien sudah sembuh.

Demikian juga, jika RDT non-reaktif, bisa jadi pemeriksaan RT-PCR menunjukkan hasil positif, dan pasien memang positif COVID-19. Hal ini terjadi karena jejak RNA virus yang baru saja masuk ke dalam tubuh ditemukan melalui sampel RT-PCR, dan tubuh belum menghasilkan antibodi spesifik IgM & IgG, sehingga RDT tidak bisa mendeteksinya.

Hal ini juga yang menjadi pertimbangan, mengapa orang yang bepergian melalui transportasi umum, seperti pesawat, kereta dan bus jarak jauh diperiksa RT-PCR sampel apusan (swab). Karena ini menentukan apakah seseorang positif COVID-19 dan berpotensi menularkan ke penumpang lainnya. Pemeriksaan lain yang tersedia adalah Rapid Antigen, mirip dengan RT-PCR namun dengan akurasi yang tidak sebaik RT-PCR mendeteksi keberadaan protein antigen.

Saat ini juga tersedia pemeriksaan memanfaatkan kecerdasan buatan, GeNose, yang dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada. Metode ini dikatakan memiliki akurasi yang tinggi tanpa tindakan invasif. Metode ini mulai diterapkan di sejumlah lokasi publik di Indonesia.

Hanya menggunakan surat keterangan sehat dari dokter, atau dengan tambahan keterangan pemeriksaan RDT Antibodi saja justru bisa “menipu” dan memberikan “rasa aman palsu” dan membantu melonjakkan laju pandemi COVID-19. Karena kedua keterangan medis tersebut, tidak membuktikan bahwa orang yang tidak menderita COVID-19 atau OTG sedang berada di antara orang sehat dalam waktu beberapa puluh menit atau jam ke depan dalam sebuah ruangan tertutup.

Di Amerika, FDA sendiri baru mengizinkan satu jenis produk RDT COVID-19 untuk pemeriksaan pasien pada situasi darurat dengan banyak persyaratan yang harus dipenuhi.

FDA dan Produk RDT untuk situasi klinis. Sumber: FDA.

Mengapa ketat, karena ada setidaknya beberapa hal yang perlu dingat dan dicatat sehingga tidak muncul kekeliruan.

  1. RDT COVID-19 tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis infeksi COVID-19 aktif.
  2. Hasil RDT COVID-19 tidak bisa digunakan untuk menyatakan bahwa orang yang diperiksa kebal atau memiliki tingkat kekebalan (imunitas) tertentu terhadap COVID-19.

Sedemikian hingga, sebagai masukkan dari saya. Bagi Anda yang hendak bepergian atau berkumpul dalam bersama banyak orang, namun penyedia jasa atau pemberi undangan hanya menyarankan surat keterangan dokter dan/atau surat RDT-COVID-19 non-reaktif sebagai syarat boleh “ikut.” Maka saya sarankan, pertimbangkan kembali atau tunda, atau cari penyedia jasa lain.

Karena jika Anda bersikeras bepergian dengan situasi di atas, maka Anda dapat jadi bepergian dengan penderita COVID-19 dan tertular darinya. Atau Anda sendiri adalah penderita COVID-19 yang berpotensi menularkan ke orang lain.

Pandemi & Pilkada

Langkah eksekutif dan legislatif melenggangkan pesta demokrasi daerah atau PILKDA tampaknya tidak terbendung. Bagaimana pendapat pribadi saya sebagai praktisi kesehatan mengenai keterkaitan pandemi dan pilkada pada akhir tahun ini?

Saya bisa membaca di sejumlah tulisan daring, bahwa pemerintah tengah menyiapkan kemungkinan vaksinasi pada akhir tahun ini. Ya, vaksinasi adalah senjata terbaik yang bisa kita harapkan untuk memerangi pandemi saat ini. Tapi apakah ini realistis? Secara pribadi, saya rasa itu lebih pada sebuah keajaiban dibandingkan realita. Laporan perkembangan kemajuan uji coba pelbagai calon vaksin COVID-19 dapat diunduh dari situs resmi WHO. Jadi sebenarnya cukup sederhana untuk bisa membandingkan sejumlah pernyataan yang kita dengar atau baca dari media, dengan perkembangan menurut laporan resmi yang asli.

Jika pada akhir tahun belum ada vaksin, apakah pilkada tetap akan aman?

https://cbsnews3.cbsistatic.com/hub/i/r/2020/04/06/f8f0037e-8101-4a69-bc00-ad1e58d81bcc/thumbnail/640x519/1563ae2d8d2552ff122559ad1d39761b/thesacramentobee11061918-highlighted-1.jpg
Sebuah kliping acak mengenai potongan situasi pemilihan umum dan pandemi influenza seabad yang lalu.

Dalam situasi pandemi, semua kegiatan berkumpul adalah risiko bagi percepatan laju pandemi.

Kita harus memahami bahwa risiko percepatan laju pandemi selalu terkait dengan aktivitas manusia. Mengapa? Karena SARS-CoV-2 yang menjadi biang kerok Pandemi COVID-19 ini menular dari orang ke orang. Jika seseorang tidak pernah kontak dengan mereka yang sakit, bagaimana mungkin mereka bisa tertular?

Kita harus paham dengan yang namanya rantai penularan.

Rantai penularan infeksi. Sumber: Badan Kesehatan Masyarakat Ottawa.

Di mana pun kelima rantai ini bisa muncul, maka rantai infeksi akan mulai berputar. Untuk COVID-19, rantai ini pendek, hanya dari orang ke orang. Kumpulkan seratus orang dengan salah satunya COVID-19, kita bisa mendapatkan satu atau dua orang positif tambahan dalam beberapa hari ke depan.

Oleh karena itu, area publik merupakan wilayah yang paling mendukung rantai infeksi terbentuk dengan baik.

Tentu saja, manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat bertahan hidup sendiri. Kita saling ketergantungan satu sama lain. Dan proses pemenuhan hubungan saling ketergantungan ini menjadi oli penggerak laju pandemi. Di mana ada orang ketemu orang, di sana ada risiko penularan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperlambat laju pandemi (sementara ini kita katakan memperlambat, bukan menghentikan) adalah mengurangi faktor risiko terbentuknya rantai infeksi yang efektif.

Hindari kontak langsung dari orang ke orang. Selalu menggunakan sawar pada portal of exit and portal of entry, intinya semua orang menggunakan masker standar (jika bisa masker bedah) yang menutupi lubang hidung dan mulut, serta google untuk pelindung mata.

Pernyataan di atas merupakan secuil mitigasi pandemi yang bisa dilakukan oleh hampir semua orang. Hampir semua orang karena ada mereka dengan hendaya fisik dan kongnitif yang mungkin tidak dapat melakukan mitigasi tersebut secara mandiri.

Dan hampir semua masyarakat kita tahu akan situasi pandemi dan mitigasi sederhana di atas. Tapi apa kenyataannya di lapangan? Anda dan saya tahu, kita tidak usah membahasnya kembali.

Tanpa kesadaran dan komitmen setiap anggota masyarakat, maka menghentikan percepatan penyebaran pandemi adalah hal yang mustahil.

Saya tidak dapat membayangkan seperti apa jadinya ketika pilkada berlangsung. Karena pilkada bukan semata-mata datang ke tempat pemungutan suara (TPS), namun juga dimulai dari kampanye dan pelbagai pertemuan yang terjadi dalam prosesnya.

Mungkinkah masyarakat tidak peka? Mereka mungkin peka terhadap bencana yang terjadi mendadak, seperti gempa bumi dan tsunami yang dampaknya langsung ada di depan mata. Tapi pada bencana yang kini sudah merengut lebih dari selaksha nyawa korbannya, dan itu pun masih belum merupakan ledakan puncak bencana jika tidak dibendung, – mungkin orang tidak terlalu peduli.

Bukannya saya berkata bahwa pemilihan yang sukses di tengah pandemi itu tidak ada, tapi sulit (baca: Elections in a Pandemic: Lessons From Asia). Ada banyak pertimbangan teknis melakukan pemilihan dalam situasi pandemi, termasuk pemilihan melalui pos (baca: Pemilu & COVID-19).

Saya sendiri berharap, pemilihan seperti Pemilu dan Pilkada dapat dilakukan melalui internet. Sayangnya di tahun 2020 ini, hal tersebut masih tidak dimungkinkan.

Lalu apa pilkada harus ditunda? Pada situasi seperti ini, dan pada kesadaran dan komitmen masyarakat dan pemerintah kita dalam “taraf” seperti saat ini. Ya, saya sepakat bahwa pemilihan selayaknya ditunda.

COVID-19

Sebagian besar orang sudah tahu, apa itu COVID-19. Tapi mari kita buat menjadi sederhana, padat dan jelas.

Penyakit Coronavirus (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus korona yang baru ditemukan.

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus COVID-19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Orang tua, dan mereka yang memiliki masalah medis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker lebih mungkin mengalami perkembangan ke arah penyakit atau kondisi yang lebih serius.

Photo by Miguel u00c1. Padriu00f1u00e1n on Pexels.com

Cara terbaik untuk mencegah dan memperlambat penularan adalah dengan mengetahui dengan baik tentang virus COVID-19, penyakit yang disebabkannya, dan bagaimana penyebarannya. Lindungi diri Anda dan orang lain dari infeksi dengan mencuci tangan atau menggunakan gosok berbasis alkohol sesering mungkin dan tidak menyentuh wajah Anda.

Virus COVID-19 menyebar terutama melalui tetesan air liur atau cairan dari hidung saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin, jadi Anda juga harus mempraktikkan etika pernapasan (misalnya, dengan batuk ke siku yang tertekuk).

Saat ini, belum ada vaksin atau perawatan khusus untuk COVID-19. Namun, ada banyak uji klinis yang sedang berlangsung yang mengevaluasi pengobatan potensial.

Bagaimana kita bisa mencegahnya? Untuk mencegah infeksi dan memperlambat penularan COVID-19, lakukan hal berikut:

  • Cuci tangan Anda secara teratur dengan sabun dan air, atau bersihkan dengan antiseptik berbasis alkohol.
  • Jaga jarak setidaknya 1 meter antara Anda dan orang yang batuk atau bersin.
  • Hindari menyentuh wajah Anda.
  • Tutupi mulut dan hidung Anda saat batuk atau bersin.
  • Tetap di rumah jika Anda merasa tidak enak badan.
  • Menahan diri dari merokok dan aktivitas lain yang melemahkan paru-paru.
  • Berlatihlah menjaga jarak secara fisik dengan menghindari perjalanan yang tidak perlu dan menjauh dari sekelompok besar orang.

Sampai vaksin ditemukan, langkah-langkah di atas adalah cara terbaik dalam mencegah COVID-19. Jika Anda membaca atau mendengar metode lain selain langkah-langkah di atas, konsultasikan dengan ahli kesehatan atau dokter keluarga Anda, karena informasi tersebut bisa jadi keliru.

Tenaga kesehatan dan petugas terkait penanganan COVID-19 akan memiliki protokol yang berbeda dalam mencegah infeksi COVID-19 pada diri mereka, sesuai dengan protokol yang diterbitkan oleh instansi masing-masing.

Bagaimana dengan penggunaan masker? Penggunaan masker tidak mengganti langkah-langkah di atas. Penggunaan masker mencegah penularan dari orang yang sakit atau terinfeksi SARS-CoV-2 ke orang yang belum terinfeksi. Sehingga terdapat banyak faktor yang memengaruhi efektivitas masker dalam memperlambat laju pandemi/epidemi di dalam populasi. Seperti misalnya, kesadaran masyarakat, penularan dari penderita tak bergejala, pengurangan jumlah kontak langsung, dan peran anak-anak.

Poin terakhir bisa jadi berpotensi diabaikan oleh banyak orang. Anak-anak bisa terdampak COVID-19 sama seperti orang dewasa. Anak-anak yang tidak bergejala dapat berperan dalam penyebaran COVID-19 di dalam populasi. Pengumpulan anak-anak di suatu lokasi, seperti sekolah, berpotensi memicu penyebaran COVID-19 yang lebih cepat di populasi.

Bagaimana kita bisa mengenali bahwa itu COVID-19?

COVID-19 memengaruhi orang yang berbeda dengan cara yang berbeda. Kebanyakan orang yang terinfeksi akan mengembangkan penyakit ringan hingga sedang dan pulih tanpa dirawat di rumah sakit.

Gejala paling umum:

  • demam.
  • batuk kering.
  • kelelahan.

Gejala yang kurang umum:

  • sakit dan nyeri.
  • sakit tenggorokan.
  • diare.
  • konjungtivitis.
  • sakit kepala.
  • kehilangan pengindraan rasa atau bau.
  • ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau kaki.

Gejala serius:

  • kesulitan bernapas atau sesak napas.
  • nyeri atau tekanan dada.
  • kehilangan bicara atau gerakan.

Cari pertolongan medis segera jika Anda mengalami gejala serius. Selalu hubungi sebelum mengunjungi dokter atau fasilitas kesehatan Anda.

Orang dengan gejala ringan yang sebenarnya sehat harus mengelola gejalanya di rumah. Orang dapat merawat dirinya sendiri apabila gejala cukup ringan, dengan tetap melakukan langkah-langkah di atas untuk menghindari penularan kepada anggota keluarga lain di rumah.

Rata-rata dibutuhkan waktu 5–6 hari sejak seseorang terinfeksi virus untuk menunjukkan gejala, namun dapat memakan waktu hingga 14 hari.

Apabila Anda curiga mengalami tanda dan gejala COVID-19, Anda bisa menghubungi petugas kesehatan terdekat, seperti klinik atau puskesmas terdekat.

Klorokuin, obat COVID-19 yang tertunda?

Beberapa hari yang lalu, berdasarkan salah satu penelitian dari Lancet mengenai efikasi (kemanjuran) obat hidroksiklorokuin atau klorokuin1, WHO memutuskan untuk menghentikan sementara uji coba hidroksiklorokuin pada “Solidarity Trial” sementara data yang ada diulas ulang oleh Badan Pemantauan Keamanan Data.

Keputusan ini juga diunggah melalui cuitan di akun Twitter resmi @WHO pada tanggal 25 Mei yang lalu.

Hal ini mengundang banyak sekali debat di kalangan masyarakat awam. Oh ya, tentu saja yang berdebat adalah masyarakat awam, kalangan medis jarang berdebat tentang sebuah penelitian yang menggunakan analisis daftar multibahasa atau ulasan sistematis, kecuali dia bisa membantah atau menyatakan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian tersebut cacat secara keilmuan. Sementara masyarakat awam akan berdebat mengenai apa yang mereka tahu dan percaya, bukan berdasarkan keilmuan. Lanjutkan membaca “Klorokuin, obat COVID-19 yang tertunda?”

Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri

Pemerintah melalui “Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi” memberikan pelaku dunia usaha bagaimana mereka bisa mempersiapkan diri dalam membuka kembali usaha di tengah badai pandemi.

Tentu saja ketentuan ini rumit, dan banyak sekali bagian yang harus dipatuhi oleh pelaku usaha dan pekerja guna mencapai proses yang diharapkan terwujud. Jangankan pelaku usaha, bahkan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan saja yang sejak lama dijejali oleh konsep pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) belum tentu dapat melakukannya dengan baik. Lanjutkan membaca “Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri”

Suka Duka Belajar Daring

Belajar/sekolah/kuliah daring (online learning/study) menjadi tren di tengah pandemi COVID-19. Termasuk bagi saya yang sedang mengambil program pascasarjana. Aktivitas kampus dikurangi, dan hanya diperuntukan bagi praktikum yang tidak bisa diadakan secara daring.

Sudah sejak awal kasus pertama di Yogyakarta, kampus memutuskan untuk melakukan belajar online. Selama belajar jarak jauh ini, ada beberapa suka dan duka yang saya rasakan.

Belajar jarak jauh berarti berkomunikasi dengan teman kuliah dan para pengajar juga dari jarak jauh. Kuliah kebanyakan menggunakan fasilitas telekonferensi, dan tugas-tugas diunggah secara daring juga. Lanjutkan membaca “Suka Duka Belajar Daring”

Uji Diagnostik untuk SARS-CoV-2

Pemeriksaan untuk COVID-19 dilakukan melalui pelbagai cara, mulai dari penapisan (screening) dengan menggunakan RDT (rapid diagnostic test), hingga menggunakan RT-PCR (reverse transcriptase–polymerase chain reaction), serta melacak menggunakan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) IgM dan IgG SARS-CoV-2.

Sejauh ini, tes yang paling umum digunakan dan dapat diandalkan untuk diagnosis COVID-19 adalah tes RT-PCR yang dilakukan menggunakan penyeka nasofaring atau spesimen saluran pernapasan atas lainnya, termasuk usap tenggorokan atau, baru-baru ini, dari sampel air liur. Pelbagai target gen RNA digunakan oleh produsen yang berbeda, dengan sebagian besar tes menargetkan 1 atau lebih dari amplop (env), nukleokapsid (N), spike (S), RNA yang bergantung pada polimerase (RdRp) RNA, dan gen ORF1.

Lanjutkan membaca “Uji Diagnostik untuk SARS-CoV-2”