Upgrade SSD pada Laptop Dell

Empat tahun yang lalu, saya berpikir bahwa kapasitas SSD 128GB untuk menjalankan Windows 10 dan pelbagai perangkat lunak pendukung akan cukup. Ternyata saya antara keliru dan tidak. Mengapa demikian?

Laptop Dell Inspiron 14 7860 yang saya miliki memiliki dua kandar penyimpanan, pertama adalah SSD berkapasitas 128 GB untuk kandar C:\ dan sebuah HDD berkapasitas 500 GB untuk kandar D:\. Setelah hampir empat tahun menggunakan, sisa ruang SSD hanya kurang dari 20 GB, dan sisa ruang saat melakukan peningkatan atau pembaruan Windows hanya kurang dari 10 GB.

Saya tidak bisa dengan leluasa melakukan ekspansi untuk menambah aplikasi tertentu yang saya butuhkan. Sementara itu, untuk data dan berkas, saya tidak terlalu mempermasalahkannya, karena terletak di kandar HDD dan disinkronisasi dengan layanan penyimpanan awan OneDrive.

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan peningkatan (upgrade) kapasitas SSD di kandar C:\ yang minimalis tersebut.

Pertimbangan pertama adalah kapasitas, saya tidak memerlukan terlalu banyak. Tapi saya tidak ingin kapasitas hanya 250 GB, siapa tahu suatu saat nanti saya perlu melakukan pengolahan data yang cukup besar. Dan aplikasi tertentu cenderung menyimpan berkas sementara yang besar di kandar C:\, jika saya tidak memanfaatkan Avast Cleanup, mungkin kandar tersebut sudah sesak sejak lama.

Pertimbangan kedua adalah daya hidup. Orang banyak melihat kecepatan baca-tulis suatu produk SSD, dan ini saya rasa cukup penting. Tapi karena laptop saya masih menggunakan SSD tipe M.2 SATA (bukan NVMe), yaitu SanDisk X400 M.2 2880 128GB, maka kecepatan hanya ada di sekitaran itu walau diganti dengan model apapun asal bukan yang jelek-jelek amat. Sehingga daya hidup lebih penting, seberapa lama sebuah SSD bisa digunakan? Bagaimana pengalaman pengguna lain saat mencoba produk itu? Seberapa banyak laporan kegagalan produk dalam setahun awal pemakaian?

Ketiga tentu adalah harga. Sebenarnya lebih tepat adalah anggaran, saya tidak ingin menggarkan lebih tinggi daripada IDR 1.500K.

Akhirnya, pilihan pertama saya ada di antara produk WD dan Samsung, pilihan lini kedua ada di antara Orico dan Adata. Saya sulit menemukan produk SanDisk yang sesuai di pasaran e-niaga. Sejumlah tambahan pertimbangan pribadi dan penawaran, akhirnya saya memutuskan untuk membeli SSD Samsung 860EVO M.2. SATA 500GB.

Saya juga memerlukan penutup (enclosure) untuk SSD tersebut. Dan saya memilih produk Orico yang sesuai, mereka cukup memiliki nama baik di bidang produk ini.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan penyalinan (cloning) kandar C:\ yang berisi Windows 10, Bootloader, dan perangkat lunak lainnya. Saya memilih membuat clone daripada menginstal ulang seluruh Windows 10 yang akan memakan banyak waktu.

Untuk membuat salinan ini, saya memanfaatkan aplikasi EaseUS ToDO BackUp. Aplikasi ini bisa diunduh di situs resminya. Dan saya hanya menggunakan versi uji coba (trial) yang bisa digunakan selama 30 hari sebelum wajib membeli lisensi. Panduan cara membuat clone juga tersedia banyak di Internet. Proses ini memakan waktu kurang dari 10 menit.

Langkah kedua adalah mengganti SSD lama dengan SSD baru yang sudah selesai menjadi salinannya. Setiap laptop memiliki cara tersendiri dalam mengganti SSD, saya mengikuti salah satu tutorial di YouTube. Dan bongkar pasang juga tidak memerlukan waktu lebih dari 10 menit. Karena saya sudah cukup sering melakukan bongkar pasang, mungkin saya tidak menemukan kesulitan berarti.

Langkah ketiga menyalakan kembali laptop dalam kondisi terhubung dengan sumber daya listrik. Dan saya memastikan ulang lewat BIOS, ternyata urutan boot sudah sesuai menuju ke SSD baru, di mana Windows 10 loader terletak di dalamnya. Setelah konfirmasi dan dinyalakan ulang (restart), Windows 10 kembali menyala seperti biasa.

Saya melakukan pemindaian dengan Avast Ultimate untuk melihat apakah ada masalah dengan sistem dan SSD yang baru. Tentu saja ini bisa dilakukan dengan aplikasi lain. Hasilnya memuaskan, dan saya tidak menemukan masalah.

Langkah keempat adalah menghapus isi SSD lawas. Dan ini sangat penting, karena di SSD ini tersimpan tidak hanya sistem operasi Windows 10 yang saya gunakan, tapi juga kredensial (seperti data nama pengguna, kata sandi, nomor rekening, nomor kartu kredit dan lain sebagainya) yang sangat bahaya jika lepas dari kendali saya. Ini juga yang menjadi alasan untuk tidak pernah menjual laptop lama tanpa membersihkan datanya terlebih dahulu.

Saya menggunakan algoritma DOD (Department of Defense) 5220.22-M yang merupakan salah satu algoritma pemusnahan data (data shredder) di departemen pertahanan AS. Saya tidak memilih menggunakan algoritma Gutmann yang memiliki hasil lebih bagus, karena saya malas menunggu terlalu lama. Setelah data dihapus, SSD lawas dapat diformat kembali untuk digunakan.

Terakhir, saya membungkus SSD SanDisk lawas dengan enclosure Orico baru itu, dan menjadikannya SSD eksternal 128GB. Saya pasang di Tokopedia untuk dijual, dan langsung ada yang membeli.

Yang menjadi tantangan dalam proses ini bagi saya adalah memilih SSD dan memilih enclosur-nya. Porses cloning, bongkar pasang laptop, hingga menghancurkan data lawas tidak terlalu rumit. Dell termasuk laptop yang enak dibongkar pasang. Lalu untuk proses penyalinan dan penghancuran data, asalkan memiliki perangkat lunak yang sesuai, maka prosesnya dijamin tidak sulit.

Akhir Tahun, Ganti Baterai Laptop Sendiri

Orang biasanya jalan-jalan pas akhir tahun. Saya malah harus membongkar dan mengganti baterai laptop saya sendiri. Sudah lebih dari dua tahun menggunakan laptop Dell Inspiron 14 7460 – ini kedua kalinya laptop ini meminta pergantian baterai. Pertama dulu ketika seminggu pasca pembelian, baterainya drop, sama sekali tidak bisa diisi daya ulang. Untung pada saat itu masih garansi, jadi pergantian baterai dan servis-nya gratis (ditanggung garansi).

Beberapa bulan ini, masalah sama terjadi kembali. Padahal ketika dulu saya menggunakan Acer TravelMate 6293, masalah baterai seperti ini tidak pernah terjadi dari tahun 2008, hingga terakhir 2017 saya menggantikannya dengan Dell. Oke, performa baterai mungkin turun wajar dari 4 jam hingga menjadi hanya 30 menit, dalam waktu nyaris sepuluh tahun penggunaan laptop, saya rasa itu wajar. Tapi saya tak pernah mengalami kasus kegagalan daya, di mana ketika daya luar (arus listrik) putus, maka saya punya waktu kurang dari semenit sebelum laptop masuk mode tidur dengan sendirinya. Lanjutkan membaca “Akhir Tahun, Ganti Baterai Laptop Sendiri”

Servis Laptop Dell di Jogja

Lebih dari sepekan yang lalu, laptop baru saya, Dell Inspiron 7460 mengalami masalah kegagalan baterai. Saya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, namun pada awalnya laptop mulai menunjukkan bahwa baterai tidak bisa diisi, kemudian baterai tidak ditemukan (walau masih bisa digunakan) dan dalam beberapa hari menjadi baterai sama sekali ‘lenyap’.

Karena notebook ini baru saja hanya saya pegang sebulan sejak tiba di tangan saya, maka saya membawanya ke pusat servis resmi Dell di Jogja (Jl. Kol. Sugiyono No.63, Keparakan, Mergangsan, Kota Yogyakarta). Tidak sulit menemukan tempat servis ini karena bersebelahan dengan kantor tempo, dan tidak jauh dari RS Pratama yang baru-baru ini mulai beroperasi. Lanjutkan membaca “Servis Laptop Dell di Jogja”

Memilih Dell Inspiron 7460

Ini adalah kedua kalinya saya memilih sebuah laptop kasta (baca: kelas) medium bawah. Sebelumnya, tepatnya sekitar sembilan tahun yang lalu, saya memilih Acer TravelMate 6293 sebagai long-life companion dalam bekerja. Ketika saya memilih laptop/notebook utama untuk bekerja, saya memastikan bahwa teknologi ini nyaman dan dapat bertahan dalam waktu lama, setidaknya lebih dari tujuh tahun, bahkan jika bisa adalah sepuluh tahun – itu sebuah angan-angan.

TravelMate 6293 saya mulai menunjukkan penurunan performa signifikan ketika abu vulkanik Merapi menyelimuti wilayah Yogyakarta. Menjadi lebih cepat panas adalah keluhan umum. Hingga akhirnya terjadi bencana kecolongan di kos, di mana HDD dan salah satu RAM diembat orang (baca: maling). Alhasil, operasi (baca: bongkar pasang) selanjutnya tidak membenahi kondisinya.

Di saat yang sama, saya juga ditemani oleh Asus X201E yang saya jalankan Linux di dalamnya. Bisa dibilang netbook berkecukupan, kalau seperti rumah termasuk kategori RSS – rumah sangat sederhana.

Kemarin, Asus X201E sudah saya jual dengan harga ‘pertemanan’. Sementara Acer TravelMate 6293 masih teronggok di salah satu rak di rumah – masih bisa beroperasi dengan baik, namun hanya koneksi VGA sedikit bermasalah, sehingga layar tidak serta merta menyala. Baterai mainboard juga sudah kedaluwarsa, sehingga selalu muncul peringatan bios ketika komputer dimulai.

Dan kini saya memiliki notebook baru yang saya gunakan, yaitu Dell Inspiron 7460. Dan ini sebuah notebook yang memuaskan menurut saya.

Ada sejumlah kriteria yang saya gunakan dengan memilih produk laptop, di antaranya adalah:

  1. Medium-lower class: merupakan golongan laptop menengah bawah, tidak wah berlebihan, namun tidak juga melarat. Performanya oke untuk multi-tasking ringan hingga sedang.
  2. Budget logic: ada harga ada rupa, namun saya memiliki anggaran yang ketat dalam memilih laptop, di luar rentang anggaran berarti tidak. Anggaran yang sama dengan nilai ketika saya membeli laptop pada kelas yang sama sebelumnya.
  3. High mobility: laptop tidak berukuran besar, di atas 13 inchi adalah tidak, saya tidak ingin menggendong 3 kilogram atau lebih di punggung saya.
  4. Simple design: harus tampak sederhana, tidak rumit, tidak terlalu banyak tonjolan, bebas dari pandangan yang ‘aneh’. Mungkin tampak seperti unibody.
  5. New-tech: jika bisa, selayaknya dibekali dengan teknologi paling anyar, karena akan dipakai untuk jangka panjang.

Lalu apakah Dell Inspiron 7460 memenuhi kriteria tersebut? Lanjutkan membaca “Memilih Dell Inspiron 7460”