Kapan ICD-11 Berlaku?

Klasifikasi Internasional untuk Penyakit atau ICD revisi kesebelas atau ICD-11 akan menggantikan ICD-10 yang kini banyak digunakan termasuk di Indonesia. Tapi kapan ICD-11 mulai berlaku?

Sebenarnya ICD-11 versi alfa sudah ditayangkan ke publik pada Mei 2011, dan pada Juni 2011 komentar publik dibuka sebagai bahan masukan. Draf beta sudah dibuka bagi publik pada Mei 2012.

Pada Juni 2018, versi yang siap diterapkan sudah dibagikan pada negara angota WHO, termasuk proses penerjemahannya.

Rencananya pada Mei 2019, saat Pertemuan Badan Kesehatan Dunia ke ke-72, ICD-11 akan dipresentasikan, dan dikuatkan bagi negara-negara anggota WHO untuk mulai menerapkannya.

Pada Januari 2022, negara-negara anggota WHO mulai melaporkan data kesehatan dengan menggunakan ICD-11. Continue reading →

Iklan

Tata Laksana Lepra

Lepra adalah penyakit menular, menahun dan disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraselular obligat. Penularan kemungkinan terjadi melalui saluran pernapasan atas dan kontak kulit pasien lebih dari 1 bulan terus menerus. Masa inkubasi rata-rata 2,5 tahun, namun dapat juga bertahun-tahun.

No. ICPC II : A78 Infectious disease other/NOS
No. ICD X : A30 Leprosy [Hansen disease]


Continue reading →

Campak

Penyakit campak merupakan salah satu penyakit yang cukup umum, terutama jika cakupan imunisasi campak belum melindungi sebagian besar mereka yang rawan terkena campak, terutama anak-anak. Penyakit ini memang begitu menganggu, namun anak-anak biasanya pulih dengan baik, namun sebagai catatan ada kasus yang bisa berkembang menjadi komplikasi yang serius. Mari kita lihat sedikit mengenai penyakit campak ini. Continue reading →

Panduan Praktik Klinis Dokter

Peraturan Menteri Kesehatan no. 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer memberikan kejelasan mengenai bagaimana seorang dokter sesuai dengan komptensinya melakukan pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas, praktik pribadi, klinik pratama atau utama dan balai pengobatan misalnya.

Jika seorang dokter pernah membaca Panduan Pengobatan di Puskesmas edisi tahun 2007, maka ini bisa dikatakan sebagai pengembangannya. Banyak kondisi kelainan dan penyakit yang bisa ditangani (jika teliti) di fasilitas pelayanan kesehatan primer, sehingga dokter tidak perlu merujuk pasien hingga ke rumah sakit yang tidak jarang terkendala jarak dan waktu bagi pasien.

Continue reading →

Mengakses ICD-10 CM/PCS dan IDC-9 Daring

Era BPJS Kesehatan dengan sistem INA-CBGs sebagai bagian terintegrasi dari sistem pelayanan kesehatan nasional saat ini. Semua klaim rumah sakit ke pihak BPJS Kesehatan akan berdasarkan INA-CBGs yang dikelompokan ke dalam diagnosis-diagnosis berbasis pada ICD-1o CM/PCS.

Saya melihat di lapangan, pihak rekam medis masih menggunakan ICD-10 keluaran WHO edisi 2010. Sementara ICD-10 CM/PCS baru resmi digunakan Oktober 2013, sehingga seringkali diagnosis yang terdapat dalam program INA-CBGs, tidak pas dengan diagnosis ICD-10 yang dipegang oleh pihak rumah sakit. Continue reading →

Informasi Kesehatan Diri Anda Begitu Berharga

Pada era yang serba modern ini tetap saja informasi merupakan sesuatu yang sangat bermakna, kelengkapan dan ketersediaan informasi menentukan banyak hal mulai dari hal-hal mendasar hingga hal-hal yang penting. Demikian juga di dalam dunia kesehatan dan kedokteran, informasi kesehatan seseorang menentukan langkah-langkah dan pertimbangan medis selanjutnya.

Siapa penyedia informasi kesehatan yang paling penting dalam hal ini? Tentu saja Anda sebagai pasien. Anda mungkin berpikir bahwa dokter akan menyediakan semua informasi tentang penyakit atau gangguan kesehatan apa yang sedang Anda derita saat ini. Namun faktanya, bantuan terbesar untuk mengetahui informasi tersebut sesungguhnya datang dari Anda sendiri. Continue reading →

Second Opinion Sebagai Hak Pasien

Banyak pasien atau keluarga pasien yang menjalani perawatan oleh tenaga atau instalasi medis belum mengetahui bahwa mereka berhak atas pendapat kedua atau second opinion. Namun tidak sedikit juga yang saya temukan terang-terangan datang untuk meminta pendapat kedua setelah mereka sebelumnya bertemu atau berkonsultasi dengan dokter lainnya.

Mencari pendapat kedua bisa dikatakan sebagai upaya penemuan sudut pandang lain dari dokter kedua setelah pasien mengunjungi atau berkonsultasi dengan dokter pertama. Second opinion hanyalah istilah, karena dalam realitanya di lapangan, kadang pasien bisa jadi menemui lebih dari dua dokter untuk dimintakan pendapat medisnya. Continue reading →