Patah Hati itu Menyakitkan?

Jika ditolak, tentu saja itu menyakitkan. Setidaknya demikianlah yang ditunjukkan oleh penelitian baru-baru ini bahwa sakit karena kondisi fisik dan sakit karena penolakan bisa jadi “menyakitkan” dengan cara yang serupa.

Para peneliti menemukan bahwa nyeri fisik dan sakit emosional yang mendalam, seperti perasaan penolakan pasca patah hati atau putus hubungan, mengaktifkan jalur pemrosesan “nyeri” yang sama di otak. Ini bisa jadi memberikan ide baru tentang sakit yang dialami ketika mendapatkan penolakan sosial.

Continue reading →

Iklan

Tak Usah Kebencian Disebar

Mungkin saya tidak terlalu memahami, atau mungkin lebih tepatnya saya terlalu cuek, sering kali tak acuh. Ataukah di sisi lain saya hanya sudah terlalu lelah melihat bagian dari masyarakat yang semakin kusut dan muram. Orang bisa menyumpahi, meneriaki, bahkan bisa lebih semena-mena lagi pada orang lain, entah karena dasar emosi, ataukah karena dasar pemikiran yang telah mengakar untuk membenci sesuatu.

Seseorang bisa menemukan pelbagai alasan untuk membenci, apa pun! Bahkan rasa tidak suka sederhana pun ketika tergelincir dapat menjadi sebentuk kebencian yang berakar dalam. Bahkan ketika orang-orang tahu kebencian bukanlah solusi, namun pengetahuan itu telah gagal membuat kebencian itu sendiri berhenti mengakar di dalam dirinya.

Dan ketika kebencian menjadi begitu dalam, seluruh pandangan ke dunia akan terliputi oleh rasa benci ini. Setiap suara akan tersaring ke dalam kebencian. Dan setiap kata-kata serta tindakan, akan terselip rasa yang selalu bisa menyesakkan dada ini.

Itu mungkin mengapa orang bisa dengan mudah mengungkapkan kebenciannya, hingga mengajak orang lain turut serta larut ke dalam lautan kebencian. Dan orang baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, menciptakan potensi pada lingkungannya untuk berakar sebentuk kebencian yang serupa.

Rasa tidak suka akan sangat cepat muncul pada diri seseorang, apalagi ketika dipercikkan oleh orang dekat atau orang yang dipercayai. Saya rasa ini bukanlah sesuatu yang baik yang bisa muncul di masyarakat. Tapi toh kita bisa mendengarkan berita bahwa pertentangan hingga pertikaian tidak hanya individu namun juga kelompok masyarakat tidak jarang terjadi karena faktor dendam dan kebencian – tak peduli apapun alasan yang melandasi.

Saya tahu bagaimana rasanya sebuah kepercayaan disalahgunakan, sebuah ketulusan yang disalahartikan, bahkan beberapa hal yang lebih ekstrem yang tiba-tiba saja dapat mendidihkan sesuatu yang begitu pekat di dalam diri kita bernama rasa tidak suka yang merupakan benih dari kebencian.

Rasa ini bukanlah sesuatu yang bisa dilepaskan begitu saja, ia lekat dan bisa memanas dengan cepat, meledak dalam amarah, bisa jadi sumpah serapah atau bisa jadi bogem mentah. Dan setiap orang bisa merasakannya, dapat mencicipinya dalam kehidupan ini, karena ini bukanlah sesuatu yang mahal yang hanya bisa dijangkau kalangan tertentu saja.

Dan bayangkan bagaimana jika didihan ini menyebar luas dalam kelompok masyarakat, tentu saja semakin banyak luapan panas ini bisa menjadi seperti gunung vulkanik yang siap meletus kapan saja. Kekacauan bisa menjadi pemberhentian berikutnya. Dan ini bukanlah sesuatu yang diinginkan orang-orang sebagai sebuah bagian dari perjalanan hidupnya.

Bahkan ketika saya tahu betapa bahayanya perasaan benci yang hadir dalam diri kita. Saya sendiri tidak pernah berusaha mengontrol, memerangi ataupun menaklukkan kebencian dalam diri saya – itu hanya akan menciptakan bentuk kebencian lain, ketidaksukaan yang lain terhadap rasa yang ada di dalam diri saya. Dan kebencian yang itu dan yang ini tidak berbeda bahayanya.

Ketika saya berjalan dan memanggul sejumlah besar karang yang tidak akan pernah saya gunakan dan hanya membebani diri saya, maka ketika menyadari hal itu, apa yang akan saya lakukan? Ya, tentu saja saya tidak perlu menghujat karang, memeranginya karena menjadi beban hidup saya. Cukup lepaskan saja, buang saja, dan langkah akan menjadi ringan. Dan ini bisa terjadi secara alami, hanya ketika saya bisa menyadari bahwa karang itu hanyalah beban belaka – dan setelah melepaskannya maka langkah saya bisa menjadi lebih ringan.

Demikian pula rasa benci, saya tidak punya waktu untuk mengontrol kebencian, tidak ada waktu juga untuk mengontrolnya, mengapa saya mesti melakukannya jika saya bisa melepasnya langsung tanpa perlu basa-basi yang sia-sia. Kecuali saya tidak mampu melihat betapa esensialnya berjalan tanpa beban, dan betapa beban kebenciannya adalah sesuatu yang sia-sia, maka saya mungkin akan melekat selamanya pada kebencian itu. Tapi hanya ketika kesadaran akan betapa sia-sianya kebencian itu hadir, maka secara alaminya kebencian akan luntur dengan sendirinya, dan secara alaminya kebencian tidak akan memiliki kesempatan menjangkiti lingkungan di sekitar saya.

Kadang orang setengah tidak percaya dan bertanya, “Apa kamu tidak membencinya, rasanya tidak mungkin kamu tidak membencinya?”, dan sebenarnya jawaban untuk itu sederhana, “Ya ya…, mungkin saya pernah membencinya, dan mungkin saya akan membencinya di kemudian waktu, tapi tidak sekarang, saya hanya tidak sempat membenci saat ini dan saya tidak perlu, jika ada kebencian saat ini, saya tidak akan sempat menghidangkannya secangkir teh atau kopi yang akan membuatnya betah bersama saya, jadi toh dia akan pergi dengan sendirinya.”

Kebencian mungkin akan datang pada seseorang, tidak ada manusia yang bisa mengetahui masa depan. Namun jangan tambah kekhawatiran akan kebencian itu hadir.

Sebagai admin blog, saya juga kadang mendapatkan tanggapan bernada kebencian pada pihak-pihak tertentu atau golongan tertentu. Saya tentu saja tidak bisa membiarkan tanggapan seperti itu ada. Dan saya akan menghapusnya. Saya tidak percaya tanggapan seperti itu bisa menyelesaikan isu nyata yang dilontarkannya, sementara ia sendiri tidak dapat menyelesaikan isu nyata di dalam dirinya sendiri – yaitu kebencian!

Manusia selayaknya hidup dalam kebebasan, yang bermakna juga bebas dari kebencian. Jika Anda sulit menemukan sesuatu yang bisa Anda pegang di saat badai kebencian melanda, mungkin Anda perlu mengenal mengalah. Walau itu bisa jadi pada akhirnya tidak memberikan bantuan apa-apa selama esensi kebencian itu tidak tampak.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Sad Ripu adalah si enam musuh?

Membaca artikel “Six Inside Enemies” oleh narablog TuSuda, membuat saya berjalan lagi melalui jalur ingatan ke masa bangku sekolah dengan buku-buku agama terbuka lebar. Saya termasuk orang yang sering “protes” saat pelajaran agama, dan paling rendah nilai ulangan hariannya – ah…, itu akan membuat saya tersenyum-senyum kembali.

Mengenai Sad Ripu, saya selalu bertanya-tanya mengapa selalu dikatakan sebagai enam musuh, si keinginan, si emosi, si tamak, si mabuk, si bingung, dan si dengki iri hati? Apakah mereka benar-benar musuh? Hmm…, tidak pernah bertanya demikian? Itulah mengapa saya mengkritisi mengapa agama wajib dipercaya tanpa perlu dipertanyakan ulang. Dan kenapa juga orang perlu repot mengkritisi? Jika Anda – kebetulan – tidak tertarik dengan hal-hal mempertanyakan tentang agama, mungkin uraian saya tidak akan banyak berjodoh dengan anda.

Continue reading →

Bagaimana Amarah Memberikan Rasa Sakit di Dada

Jika Anda tahu bahwa amarah yang berulang atau sering dirasakan bisa meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan, akankah Anda tetap meluapkan emosi anda dengan berteriak dan menghantam atau membanting barang-barang ketika Anda beradu argumentasi atau mendapati peralatan kantor macet di saat-saat genting atau hari-hari yang membuat stres?

Sudah waktunya yang berkepala panas untuk didinginkan. Para peneliti dan dokter jantung memiliki kekhawatiran yang serupa pada tipe-tipe karakter semakin mudah marah, negatif, mudah tersinggung, mudah mengamuk. Dan ini adalah tentang orang-orang dengan amarah yang tinggi dan kerap kali muncul.

Continue reading →

Sebuah Dialog Dengan Sang Diri

Malam ini seorang sahabat baik meminta saya mengirimkan terjemahan “A Dialogue with Oneself” oleh Jiddu Krishnamurti. Mungkin juga sudah cukup lama saya tidak lagi membuka lembar-lembar karya Jiddu Krishnamurti, namun saya menyimpannya dengan baik dalam beberapa map berkas khusus, sehingga saya dengan cepat dapat menemukannya kembali. Saya pun sudah mengirimkannya via surat elektronik.

Tulisan ini kembali dapat direnungkan dengan baik, lagi pula di daerah saya sedang dalam suasana Siwaratri, walau tidak begitu berhubungan mungkin, namun tulisan ini tetaplah inspiratif.

Continue reading →