Pembaca ePub di Komputer dan Gawai

Membaca adalah hal yang menyenangkan, ada banyak sekali karya tulis baik fiksi maupun non-fiksi yang siap dilahap bagi mereka yang menyukainya. Literatur ini dapat kita peroleh setidaknya melalui dua bentuk, satu adalah wujud fisik sebagai buku yang kita beli di toko-toko buku, disewa di penyewaan buku, atau dibaca di perpustakaan; lainnya adalah dalam bentuk digital, di mana buku elektronik atau dikenal sebagai ebook dibaca melalui komputer/laptop, atau gawai seperti komputer tablet dan ponsel cerdas pun gawai khusus pembaca buku elektronik.

Membaca buku melalui gawai khusus pembaca buku. Sumber gambar: publishdrive.com.

Continue reading →

Iklan

Mengapa iPad Mini 5?

Kisahnya cukup panjang jika harus diruntun ke belakang. Saya tidak memiliki banyak riwayat dalam menggunakan gawai tablet. Setidaknya saya pernah menulis yang pernah saya miliki, misalnya HP Stream 8 yang menggunakan Windows 8, lalu kemudian saya juga menggunakan Huawei MediaPad X1 yang lawas berbasis Android 4 Jelly Bean. Yang terbaik yang saya rasakan adalah MediaPad X1, karena pilihan itu saya buat mengingat memang kemampuan Huawei dalam menghasilkan produk-produknya.

Semuanya berjalan dengan baik, hingga tiba-tiba Microsoft berkata bahwa versi Office baru tidak lagi didukung pada Windows 8. Bak jatuh lalu tertimpa tangga, Google dan banyak perusahaan Amerika melakukan larangan pada Huawei. Saya hanya bisa melongo sebagai konsumen. Continue reading →

Mengapa Memilih Nokia X6?

Bulan lalu, saya memutuskan memberi ponsel cerdas pengganti kepada istri, selain memang sudah sering macet, juga termasuk kesalahan saya saat sebelumnya memilihkan ponsel. Sebelumnya saya memilihkan salah satu produk dari Asus yang kemudian menjadi terlalu banyak aplikasi yang tidak terpakai menyenyaksakan ruang kecil yang tersedia.

Setelah banyak pertimbangan, terutama kebutuhan, harga, dan potensi penggunaan jangka panjang serta dukungan keamanannya. Saya memilihkan ponsel berbasis android, Nokia X6 atau juga disebut Nokia 6.1 Plus.

Continue reading →

MediaPad X1 Sebagai Alternatif Kindle

Dulu saya menggunakan tablet HP Stream 8 untuk melakukan aktivitas membaca dan menulis. Walau pun hanya dengan 1 GB RAM, tablet berbasis Windows 8 tersebut dapat memenuhi kebutuhan keduanya dengan baik. Tapi sejak saya memiliki Dell Inspiron, saya lebih banyak menulis di notebook. Lalu, dukungan terhadap Windows 8 juga sudah berakhir, dan sejumlah masalah teknis yang mulai bermunculan pada HP Stream 8. Saya memutuskan untuk mencari media pembaca yang anyar dan terjangkau.

Pada awalnya, karena saya memiliki akun Amazon dan memiliki sejumlah koleksi buku di Kindle, saya mencoba untuk mempertimbangkan mendapatkan Kindle atau Kindle Paperwhite yang cukup dinikmati dengan harga terjangkau. Namun kembali, anggaran untuk mendapatkan Kindle Paperwhite masih cukup tinggi menurut saya, dan saya perlu alternatif lainnya.

Sehingga pilihan itu kemudian jatuh pada Huawei MediaPad X1.

IMG_20180211_095231 Continue reading →

Mengapa Memilih Redmi Note 4?

Dengan pembatasan aplikasi perpesanan WhatsApp yang tidak akan didukung lagi pada BlackBerry OS 10 per 30 Juni 2017 mendatang, saya dipaksa untuk memilih salah satu ponsel murah yang masih mendukung perpesanan WhatsApp.

Pilihan ini jatuh pada sebuah ponsel Android pabrikan asal negeri Tiongkok. Xiaomi seri Redmi Note 4. Ponsel ini resmi masuk ke Indonesia dengan kisaran harga dua hingga dua setengah juta rupiah. Dan saya tentunya memilih harga yang paling murah.

Alasan saya memilih Redmi adalah memberikan harga yang sangat terjangkau dengan kualitas perangkat keras yang tidak mengecewakan. Mungkin layarnya tidak seindah Amoled, tapi masih sangat nyaman digunakan.

Saya sendiri kemudian tidak memanfaatkan MIUI setelah mencoba beberapa hari, karena sama sekali tidak cocok dengan selera saya dan bagaimana saya memanfaatkan antarmuka suatu ponsel cerdas. Antar muka BlackBerry OS 10 menurut saya masih yang paling ramah bagi saya untuk digunakan. Untuk Android OS, saya memilih menggunakan salah satu antarmuka rancangan Microsoft karena saya bekerja dengan sistem penyimpanan awan OneDrive.

Sedikit yang membuat saya terkejut, ternyata jumlah bloatware di Redmi ini sangat sedikit, dan bisa disingkirkan dengan mudah. Bagi orang lain mungkin tidak begitu penting, tapi keberadaan bloatware bisa menguras RAM hingga kering dan menurunkan performa ponsel hingga jadi cukup mengganggu.

Pemilihan antara Swift dan Google Keyboard membuat saya cukup senang. Keyboard besutan Google hingga saat ini saya rasakan pas untuk Android.

Kejutan lain adalah fitur keamanan sidik jari. Ini mempermudah saya membuka ponsel yang terkunci dan mengamankan aplikasi serta data di ponsel. Fitur pembaca dengan pencahayaan khusus bisa diterapkan pada sejumlah aplikasi, dan bagi saya yang suka membawa melalui Opera Mini, ini memberikan kenyamanan tersendiri. Kebergunaan saya rasa dirancang cukup memuaskan pada ponsel ini.

Saya memang tidak meminta banyak dengan anggaran terbatas, namun saya justru mendapatkan lebih banyak dari yang saya harapkan pada ponsel Redmi Note 4. Kecuali untuk kualitas fotografi yang lebih rendah dari harapan saya, lain-lainnya terasa amat memuaskan.

Melirik Samsung Galaxy S8

Mungkin sudah hampir menjelang lima tahun saya menggunakan ponsel Samsung Note 2 sebelum kemarin beralih ke BlackBerry Passport Dallas. Perkembangan teknologi ponsel semakin menjanjikan sebuah bukaan akan masa depan yang lebih praktis.

Saya hanya sekadar melihat iklan Samsung Galaxy S8 dan melihat apa yang menjadi tren pada ponsel pintar saat ini. Dan tentu saja mereka tidak menunjukkan kemampuan mengirim SMS atau menerima telepon, tapi lebih pada kemampuan ekstra.

Ada beberapa hal yang menjadi standar baru walau sudah dimulai sejak lama. Misalnya infinity display, intelligent voice assistance, virtual reality support, water resistant, improved overal user experience. Dan semua itu datang dengan harga yang ‘pantas’.

Tentu saja kemudian saya bisa menyimpulkan bahwa fitur ini hanya bisa diakses oleh mereka yang beranggaran lebih untuk menikmatinya. Saya sendiri pada akhirnya cukup puas dengan BlackBerry, karena berlawanan dengan tren saat ini, saya memilih apa yang saya butuhkan dibandingkan apa yang saya inginkan dari sebuah tren.

Dan Samsung memang menyenangkan digunakan (khusus untuk ponsel berbandrol di atas lima juta rupiah), untuk investasi jangka panjang, saya rasa masih tetap sangat layak.

BlackBerry ‘Mercury’ Sepertinya Menarik

Ponsel ‘pintar’ Samsung Galaxy Note II yang saya pegang tahun ini akan berusia 5 tahun, dan mulai menunjukkan penurunan performa yang terasa mengganggu penggunaannya secara nyata. Saya masih belum berpikir untuk menggantinya, tapi melihat beberapa pengganti alternatif tentunya tidak masalah bukan?

Salah satu yang menarik adalah BlackBerry Mercury yang baru terintip di CES 2017. Sayangnya belum ada keterangan mengenai teknologi di baliknya, atau pun bocoran harga di pasaran. Tapi wajahnya sudah terpampang di sejumlah media.

Saya tidak memerlukan ponsel untuk bermain video game, tapi menjalankan sejumlah aplikasi kalkulasi, mengetik dan sebagainya adalah yang sebagian besar saya habiskan di ponsel. Selain meramban sejumlah halaman Web tentunya. Dan tentunya semua itu bisa berjalan dengan lancar.

BlackBerry Mercury memiliki keypad fisik dan berbasis Android. Saya tidak memiliki masalah dengan sistem operasi. Namun saya tertarik pada keypad fisik. Karena memberikan sensasi yang lebih nyata ketika mengetik di ponsel.

Yang membuat saya ragu dengan BlackBerry umumnya adalah layanan purna jual. Jika terjadi kerusakan, di mana dapat memperbaikinya. Tidak seperti Samsung atau Asus yang memiliki tempat servis resmi di kota kota besar di Indonesia. BlackBerry sejak era RIM tidak memiliki tempat servis resmi setahu saya, hanya perwakilan dari distributor saja. Ini benar-benar tidak mengenakan.

Android dengan keypad fisik? Jika nanti ternyata menarik, mungkin saya akan mempertimbangkan untuk memilikinya.