Secangkir Kopi di Pagi Hari

Anda mungkin melihat bahwa saya menyematkan ‘kopi’ pada bagian atas setiap halaman blog ini. Entah kenapa, mungkin sebenarnya adalah sebuah ‘kebetulan’ yang benar. Mengapa demikian?

Karena dalam sebulan ini, beberapa hal berubah dalam ‘pola’ aktivitas harian saya. Berangkat pukul tujuh pagi dan kembali di rumah pukul sembilan malam. Saya tidak menyebut ini berat, karena masih banyak orang lain di luar sana yang menjalani keseharian mereka ‘lebih berat’ dibandingkan apa yang saya jalani.

Embed from Getty Images Lanjutkan membaca “Secangkir Kopi di Pagi Hari”

Air Resapan Flora

Populer disebut dengan fruit infused water (kalau di Indonesia cukup “infus water” saja) adalah tren membuat air minum dengan pelbagai cita rasa buah dan bahan flora lainnya. Air resapan flora ini sudah mulai dikenal banyak orang setidaknya sejak setahun atau dua tahun yang lalu, dan belakangan di kantor saya juga ikut marak – di mana para karyawan juga mulai membawa si infus water ini. Lanjutkan membaca “Air Resapan Flora”

Mengurangi Risiko Terkena Kanker

Kita tidak pernah mengetahui apakah tubuh kita memiliki bakat (baca: gen) yang memberikan peningkatan risiko untuk terkena kanker tertentu. Namun seseorang dapat melakukan upaya-upaya pencegahan atau pengurangan munculnya kanker di kemudian hari. Kanker tidak hanya akan menjadi beban kesehatan, namun juga beban finansial dan sosial – tidak hanya bagi penderita, namun juga bagi keluarga.

Memang terdapat bentuk-bentuk kanker yang tidak dapat dihindari, atau tidak diprediksi sebelumnya karena keterbatasan yang ada. Namun sejumlah pola hidup yang baik, maka bentuk-bentuk kanker tertentu dapat dicegah atau dikurangi risiko munculnya di kemudian hari. Hal ini bermakna juga mengurangi kemungkinan beban kesehatan global di tengah masyarakat kita.

Lanjutkan membaca “Mengurangi Risiko Terkena Kanker”

Kanker dan Pola Hidup

Banyak orang yang mungkin bertanya-tanya, dan mungkin khawatir apakah kanker (keganasan) dapat menyerang mereka. Yang lain mungkin tak acuh, atau setidaknya demikian hingga diagnosis yang mengejutkan itu tiba-tiba saja hadir dalam kehidupan mereka.  Namun daripada khawatir berlebih atau tak acuh berlebih, lebih baik kita mawas diri.

Di awal bulan ini saya membaca sekilas tulisan Dr D Max Parkin tentang “The Fraction of Cancer Attributable to Lifestyle and Environmental Factors in the UK in 2010” yang diterbitkan melalui British Journal of Cancer. Tinjauannya mungkin merupakan tinjauan terlengkap tentang hubungan kanker dan gaya hidup yang ada saat ini.

Lanjutkan membaca “Kanker dan Pola Hidup”

Disfungsi Ereksi dan Gaya Hidup

Salah satu cara guna membenahi disfungsi ereksi adalah membuat beberapa perubahan sederhana pada gaya hidup. Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya yang berjudul “Penyebab Fisik Disfungsi Ereksi”, dan saya adaptasikan dari “Erectile Dysfunction: Lifestyle Changes to Improve ED”.

Bagi beberapa laki-laki, mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat, seperti berhenti merokok, berolahraga secara teratur, dan mengurangi stres, mungkin adalah semua yang diperlukan untuk perbaikan. Bagi mereka yang memerlukan terapi lebih intensif, mengadopsi perubahan gaya hidup ini sebagai tambahan terapi lanjut akan memberikan bantuan tersendiri.

Lanjutkan membaca “Disfungsi Ereksi dan Gaya Hidup”

Fakta Seputar Seks Oral

Zaman mungkin sudah berganti, dan beberapa hal yang dulu menjadi perbincangan tabu kini justru sering melejit ke tengah canda tawa pergaulan sehari-hari. Saya sering membaca bahkan di negeri yang paling terbuka pun saat ini, dulunya masalah-masalah seputar seksualitas dan hubungan suami istri adalah hal-hal yang sangat ditutup rapat. Tentu saja beberapa hal sama sekali tidak layak menjadi konsumsi publik, mengingat kasus video “itu” yang mencuat dua bulan terakhir di negeri ini.

Salah satu yang dikenal juga sebagai seks oral adalah bagian yang paling sering menjadi tanda tanya bagi banyak orang. Menurut survei pusat pengendalian penyakit (CDC) di Amerika tahun 2002, lebih dari separuh populasi remaja dan 90% dewasa (usia 22-44 tahun) pernah melakukan seks oral dengan lawan jenis. Di Indonesia? Entahlah, mungkin seseorang harus melakukan survei terlebih dahulu.

Lanjutkan membaca “Fakta Seputar Seks Oral”

Manuskrip Yang Tak Pernah Usai

Menulis terkadang menjadi tempatku berteduh dari terik kelelahan, dan tempatku bernaung dari kemelut yang membuat setiap jejak kehidupan berkabut. Menulis jika tidak tersisihkan oleh aktivitasku yang lain akan menjadi pendamping bagiku, ketika suka aku menulis, ketika gelisah aku menulis, ya…, walau menulis hal-hal yang sama berulang kali, dalam bahasa-bahasa dan majas yang serupa.

Aku masih teringat, ketika awal itu aku memulai manuskrip yang sampai kini masih kukerjakan, mungkin ada sepuluh atau sebelas tahun yang lalu. Ketika itu teknologi komputer banyak menyentuh kampung dan desa kami yang di pinggiran, kami yang tersentuh oleh kehidupan sastra umumnya hanya sekadar menggores ini itu dalam buku harian yang kumal, dan aku masih ingat buku harian pertama yang kubeli dari sebuah toko kecil di pasar kecamatan. Buku itu tipis, sebagaimana yang anak-anak sekolah dasar miliki saat itu walau dalam sampul yang cukup kokoh. Di sanalah aku mulai menulis, dan itu jauh kembali ke dua belas atau tiga belas tahun yang lalu, ketika jemariku mulai cukup lincah untuk membuat banyak goresan, dan tidak lagi sekadar mencoret-coret dinding rumah dengan pena atau pensil. Aku mulai mengumpulkan ide-ide dengan berbagai kisah yang kudapatkan, beberapa berasimilasi dengan berbagai cerita modern dan dongeng klasik, terkadang waktu pagi ketika bersama para siswa lain menyapu halaman sekolah, aku suka mendapatkan beberapa ide baru, mungkin dari ide-ide dasar itulah aku secara tak sengaja membangun manuskrip yang saat ini tetap kukerjakan. Aku mendapatkan banyak tokoh, namun terlalu banyak rangkaian cerita, terkadang jika kubayangkan kembali saat ini, aku seperti sedang menciptakan dunia-dunia paralel dengan kemungkinan yang tak terbatas. Anak-anak mungkin belum banyak mendapatkan ide-ide dari luar, sehingga ia memiliki lebih dari cukup ruang di dalam dirinya untuk berkreasi tanpa batas, tak seperti mereka yang semakin tumbuh besar, ruang itu telah banyak terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak terlalu bermakna.

Perlu sekitar tiga hingga empat tahun, sebelum aku mendapat sebuah mesin tik yang kecil di meja belajarku. Dan di sanalah aku memulai menulis manuskripku, yang terjaring dari ide-ide yang telah kutuangkan dalam buku kecilku. Aku ingat betapa riangnya hatiku, saat mulai mengetik kata demi kata, kalimat dan dialog yang silih berganti, paragraf demi paragraf, aku sangat menikmatinya, terkadang tersenyum sendiri melihat kekocakan yang ada, atau tertegun dalam kesedihan cerita yang kususun sendiri. Menulis seperti tentang membagi sebagian rasa dan kehidupan dalam lembaran yang bisu, sehingga ia bisa bersuara dan menyampaikan apa yang mungkin tak mampu kusampaikan. Siang sepulang sekolah aku pun langsung berada di hadapan mesin tik kecilku, aku tak ingin memupus cerita yang berkesinambungan, terkadang mengerjakannya hingga larut malam. Dan dalam waktu kurang dari empat bulan, aku telah menyelesaikan manuskrip itu ~ walau dalam bentuk yang kasar ~ setebal kurang lebih tujuh puluh halaman, aku senang sekali, hingga membacanya berulang kali menilik kembali adakah yang kurang atau salah pengejaannya. Ah… seandainya saja beberapa kopiannya masih ada yang tersisa, entahlah…, terakhir aku ingat membawanya ke kota ini, di mana aku tinggal sekarang, kurasa aku telah menitipkannya pada salah seorang anggota bengkel sastra di kota ini, ah iya… aku ingat, Si Maria Zaitun … ha… ha…, aku ingat sekali karena saat bengkel sastra di wilayahku dulu… aku mendapat peran sebagai Yesus… dalam sebuah drama yang diambil dari karya sastra WS. Rendra.

Kini dengan bantuan teknologi yang diperbaharui, aku menyusun ulang kembali manuskrip lamaku yang tercecer dalam pasang surut ingatanku. Kurasa mungkin akan ada sembilan bagian, dan yang baru dapat kukumpulkan kembali ada tiga bagian. Ya, ini akan berlanjut terus, karena manuskrip ini akan selalu ditulis hingga kisahnya berakhir, walau seorang penulis telah memperkirakan akhir kisahnya, tetap saja sang penulis tak akan pernah tahu akhir kisah si manuskrip, itulah mengapa sebuah manuskrip sesungguhnya tak pernah usai.

Catz du Amour

Bagi mereka yang memiliki hewan peliharaan pastilah terdapat kegemarannya masing-masing. Hobi setiap orang berbeda dan beragam. Mulai dari koleksi ikan hias, burung yang berkicau, hewan-hewan eksotis yang diburu para kolektor. Kita menyukainya setidaknya karena satu hal, mereka menarik bagi kita.

Namun demikian, aku bukanlah salah satu pendukung pembudidayaan hewan hias, binatang peliharaan, atau pun perburuan spesies langka. Walau pun bukan juga aktivitas perlindungan hak-hak hewan, namun aku lebih suka melihat yang berada tidak dalam penangkaran (baca: penyangkaran). Akibat hobi tangkar menyangkar ini, hewan-hewan telah diburu, dan diambil paksa dari habitat aslinya, di mana mereka hidup bebas, sehingga kita juga bertanggung jawab atas kepunahan dan penurunan drastis populasi binatang-binatang unik ini di alam bebas. Jangan lupa, seluruh kehidupan di muka bumi terkait dalam sebuah rantai yang saling terhubung, memerlukan, dan menyeimbangkan, karena itulah kita belajar mengenai jaring-jaring kehidupan saat di sekolah. Keegoisan kita untuk memiliki akan membuat rantai itu rusak, keropos atau bahkan putus, sehingga akan mengganggu keseimbangan yang ada di alam, sebuah keseimbangan yang dibangun dalam waktu jutaan tahun, a beautiful balance. Pun demikian, aku sama sekali tidak menentang domestisasi (bener ga ya nulisnya) hewan-hewan yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, kepentingan kehidupan tentunya. Masyarakat sedari dulu melakukannya dengan tanpa merusak alam, seperti kerbau yang digunakan untuk menggarap sawah, merpati guna mengirimkan pesan, dan sebagainya, namun aku katakan tidak pada hal-hal yang tidak termasuk dalam kode etik domestisasi, misalnya jangkrik atau ayam untuk aduan.

Tentunya juga ada domestisasi yang dikenal sebagai felix domesticus, itulah salah satu yang paling kusukai. We are cat lover. Sayangnya aku sama sekali tidak memelihara kucing, hal ini sederhana jika kukatakan tidak akan mengambil sesuatu yang tak bisa kujaga, mana ada mahasiswa yang sempat hidup dalam kos-kosan sempat-sempatnya memelihara kucing (walau sebenarnya sih ada bagi yang memiliki sokongan moneter cukup, atau bagi yang dengan senang hati meluangkan waktunya untuk hewan-hewan manis ini). Terkadang kami hanya membiarkan mereka berlalu lalang di sekitar hunian, memberikannya makan jika sempat, tempat berteduh, tapi setelah itu akan melenggang pergi. Tentu saja jika bisa meluangkan waktu bersama spesies yang memiliki banyak legenda ini adalah hal yang menyenangkan, dan tentu saja bukan berarti kita tak memperhatikan bahwa apa yang disebut masyarakat sebagai wild cat (~ kucing liar), acap kali menjadi reservoir alias perantara bahkan inang dari berbagai kuman penyakit, anggap saja yang paling trend adalah toxoplasma, yang jika menginfeksi pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian janin. Aware with the consequences we can share something precious. Walau pun demikian tidak semua orang menyukai kucing (ini termasuk sebagian dari kebebasan beraspirasi dan menyatakan pendapat), seperti ketika seorang sahabat yang menegur tetangga saat membeli seekor Persian, “Ya… ampun, kucing koq wajahnya jelek banget”, tentu saja ia akan mendapat jawaban, “Iya lah, yang jelek itu bikin mahal”. Aku hanya bisa tertawa dalam hati, soal penyayang binatang boleh sama, tapi selera hmmm…, masing-masing orang mungkin memiliki pilihannya.

  Copyright secured by Digiprove © 2010

Go ‘Vege’ & Save The Earth

Hari ini baru memasuki tugas baru di bagian ICCU, dan akan berlangsung selama seminggu, ah… entah karena apa walau sudah berbekal berbagai hal tetap saja kami sekolompok merasa kurang, mungkin beginilah pola hidup deselerasi (saat semua orang sedang sibuk dengan kampanye akselerasi). Aku sempat bingung karena aku belum sempat memperbaiki stetoskop-ku yang masih rusak, karet sekat diafragma-nya putus. Tapi sepertinya aku belum menemukan toko yang memiliki stok untuk karet sekap bagi Littmann Classic II yang sudah sekitar 5 tahun menemaniku, sebagian besar dokter muda menggunakan sebuah stetoskop untuk sekali dan seumur hidup, tentunya jika itu tidak hilang atau rusak secara mengenaskan, bahkan tidak sedikit juga yang menggunakan stetoskop yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yah…, setidaknya begitulah pemandangan di sekitarku, tidak tahu jika di institusi yang lain.

Walau demikian bukan itu yang ingin kubahas untuk kali ini, bukan yang ingin kutuangkan di lembaran ini. Beberapa waktu yang lalu, dari sebuah milis langgananku, seorang rekan mempublikasikan artikel yang diambil dari sebuah blog, dan artikel atau tulisan ini kami sepakati sebagai suatu yang menarik. Artikel ini dapat dibaca di Dee’s Idea.

Tulisan ini memuat tentang data-data baru tanda alarm (peringatan) akan semakin cepatnya laju Global Warming (pemanasan global) dengan berbagai tanda-tanda alam (ini dapat juga dilihat pada widget Diary of A Planet di halaman blogger ini). Disampaikan bahwa bumi saat ini telah melewati kulminasi (titik balik) kemampuan mengolah gas karbon di atmosfer, itu berarti kita lebih dari separuh jalan mendekati kepunahan masal sebagaimana yang terjadi pada berjuta tahun lalu menurut berbagai penelitian. Namun sayangnya separuh jalan ini bukanlah separuh waktu lagi menuju kepunahan, namun sebuah laju/akselerasi yang tak seorang pun dapat bayangkan (nah buat lengkapnya, silakan lihat lansung ke sumber yang dirujuk). Mungkin kita yang beriklim tropis masih santai saja, padahal kita sendiri sudah merasakan kenaikan suhu bumi yang tidak wajar beberapa tahun belakangan ini. Namun tidak demikian halnya di negara-negara yang sudah dilanda serangan panas, saat begitu banyaknya (dan semakin bertambah) orang-orang yang dilarikan ke rumah sakit karena hal ini dan tidak tertolong lagi, mungkinkah kita sudah diambang batas toleransi dan daya adaptasi terhadap kenaikan suhu bumi? Dapatkah kita membayangkan jika suhu bumi menjadi dua kali saat ini? Ah… aku juga tidak, tapi bukan itu masalah kita, karena kita tak tahu dampak berikut dari pemanasan global secara nyata kecuali sederetan angka-angka dan hipotesa.

Tulisan itu juga memuat tentang sebuah langkah konkrit yang bisa dilakukan setiap orang untuk memperlambat laju pemanasan global. [# mengapa memperlambat? Dalam sepengetahuanku, ekh hmm… ^_^, pemanasan global dan kemudian zaman es (ice age) adalah siklus alami dari bumi ini… jadi kita tak secara teori tak bisa menghentikannya… alias hanya bisa memperlambat (walau sekarang kita mempercepatnya), zaman es berakhir, kehidupan mulai berkembang, spesies mulai beraneka ragam, hutan-hutan berkembang, kemudian mahluk hidup yang semakin kompleks, mulai bertambah jumlahnya, akhirnya jumlah karbon di atmosfer bertambah, dan mulailah pemanasan global, puncaknya adalah kepunahan masal hampir semua spesies di bumi #] Sebuah langkah yang bisa dilakukan oleh setiap orang, yaitu mengurangi bahkan secara dramatis menghentikan pola konsumsi daging, mengapa? Nah… lihat kembali blog yang dirujuk, di sana ada alasan yang panjang lebar, dan bisa berdiskusi juga dengan banyak orang yang berminat.

Wow…, sebenarnya bagiku sih ga masalah, aku tahu tubuhku lebih segar dengan pola makanan vegetarian, nutrisinya juga lengkap, tapi itu sulit diterapkan, bagaimana tidak, sayuran bagi anak kost-kostan adalah barang langka, apalagi menjelang malam, semua menu adalah masakan dari bahan hewani dan hanya secuil nabati, kecuali tempe dan tahu, ah… itu pun digoreng dengan ekstra kolesterol, pola hidup yang bikin sedih L. Kalau masyarakat desa mah ga usah ditanya, mereka makanannya memang 80% lebih berbahan nabati. Namun tetap, kusampaikan, walau ajakan ini telah didengungkan sejak begitu lama, vegetarian tidak akan pernah bisa diterapkan, karena dunia dihuni oleh pernak-pernik warna yang berbeda, jika seseorang mampu melihat bahwa ia makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan, maka mungkin ia bisa melihat keindahan di balik pola hidup vegetarian (dibalik pro dan kontra penggunaan terminologi vegetarian itu sendiri tentunya). Lagi pula banyak koq yang menerapkan pola hidup ini, bahkan juga para selebritis top dunia. Bahkan walau tidak semua terkadang beberapa daging yang kita konsumsi di rumah makan telah melalui berbagai kekejaman sebelum terhidang dalam baris menu, lalu bagaimana dengan ikan? Apakah anda berpikir ikan sepenuhnya ‘nyaman’ karena laut atau perairan memproduksi mereka secara berkelanjutan, sayangnya kini planet ini juga terancam kehilangan sebagian besar spesies yang menghuni perairan akibat eksploitasi manusia, mungkin sebuah situs bisa membantu anda mempertimbangkan, cobalah tengok fishinghurts. Well, adakah Anda seorang vegetarian diantara deretan nama para vegan seperti Pythagoras, Socrates, Dalai Lama, Paramahansa Yogananda, Konfusius, Lao Tzu, St. Francis of Assisi, Leo Nikolayevich, Zoroaster, Leonardo da Vinci, Voltaire, Albert Einstein, Steve Jobs, Henry Ford, Charles Darwin, Thomas Edison atau Sir Isaac Newton? Pesannya hanya satu cinta kasih, dan mungkin kita akan menyelematkan bumi… rumah kita ini.