Dalam tubuh seseorang yang terserang virus influenza, virus menyebar dengan sangat cepat; meskipun yang berhasil masuk sel hanya satu. Namun ketika virus bereplikasi (memperbanyak diri) dengan melepas RNA-nya ke dalam inti sel tubuh, maka ribuan hingga jutaan virus baru dihasilkan. Lanjutkan membaca “Influenza Menyebar dengan Cepat”

Influenza Menyebar dengan Cepat

Memahami Gejala HIV/AIDS

Infeksi HIV masih merupakan salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan, penyebarannya cukup menyusahkan guna dilacak. Karena nyaris tanpa gejala, penderitanya pun tidak menyadari dan tidak melakukan deteksi dini.

Infeksi HIV dibagi ke dalam tiga tahapan/stadium, tahapan pertama disebut sebagai infeksi akut atau serokonversi, dan biasanya terjadi dua hingga enam minggu pasca paparan atau mulainya infeksi. Ini adalah masa ketika daya tahan tubuh melakukan perlawanan terhadap infeksi. Gejala awal yang dimunculkan begitu mirip dengan infeksi-infeksi virus pada umumnya, sebagai halnya flu, sehingga sulit disadari bahwa itu adalah HIV. Lanjutkan membaca “Memahami Gejala HIV/AIDS”

Bahaya Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi (tekanan darah tinggi) sering tidak diacuhkan oleh penderitanya, atau bahkan sering kali tidak disadari, hingga pada akhirnya menimbulkan keluhan-keluhan ringan, atau kecacatan permanen, hingga kemungkinan serangan jantung yang parah. Hipertensi secara perlahan-lahan dapat menghancurkan tubuh penderitanya, dan pada stadium lanjut menimbulkan kerusakan banyak organ yang tidak dapat dipulihkan kembali, bahkan mengancam jiwa.

Hipertensi

Hipertensi memerlukan manajemen yang baik dan terarah jika tidak ingin dampak buruknya menghampiri si penderita di kemudian hari. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan banyak penderita tidak paham akan komplikasi berat dari hipertensi, dan menjadi cenderung hanya mencari pengobatan ketika kondisi sudah parah. Lanjutkan membaca “Bahaya Tekanan Darah Tinggi”

Kanker dan Pola Hidup

Banyak orang yang mungkin bertanya-tanya, dan mungkin khawatir apakah kanker (keganasan) dapat menyerang mereka. Yang lain mungkin tak acuh, atau setidaknya demikian hingga diagnosis yang mengejutkan itu tiba-tiba saja hadir dalam kehidupan mereka.  Namun daripada khawatir berlebih atau tak acuh berlebih, lebih baik kita mawas diri.

Di awal bulan ini saya membaca sekilas tulisan Dr D Max Parkin tentang “The Fraction of Cancer Attributable to Lifestyle and Environmental Factors in the UK in 2010” yang diterbitkan melalui British Journal of Cancer. Tinjauannya mungkin merupakan tinjauan terlengkap tentang hubungan kanker dan gaya hidup yang ada saat ini.

Lanjutkan membaca “Kanker dan Pola Hidup”

Akses Universal dan Hak Asasi

Setiap 1 Desember, warga dunia memperingati Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day). Hanya guna mengingatkan kita bahwa AIDS belumlah merupakan masalah yang terselesaikan di seluruh dunia saat ini. Menurut perkiraan UNAIDS, kini ada sekitar 33,3 juta orang hidup dengan HIV, termasuk 2,5 juta anak-anak. Selama tahun 2009, 2,6 juta orang menjadi penderita yang baru terinfeksi, dan diperkirakan 1,8 juta orang meninggal karena AIDS.

Tema Hari AIDS Sedunia kali ini adalah “Akses Universal dan Hak Asasi” (Universal Access and Human  Rights). Yang bermakna kita harus memberikan kesempatan akses universal terhadap pencegahan, perawatan dan pengobatan universal terhadap penderita HIV dan AIDS sebagai bagian dari pemahaman yang seksama terhadap hak asasi manusia.

Jutaan orang terinfeksi HIV setiap tahunnya, terutama di negara dengan pendapatan per kapita yang rendah hingga menengah, namun kurang dari separuhnya yang mendapatkan akses terhadap terapi antiretroviral misalnya, bahkan kadang akses kesehatan-pun kesulitan.

Perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah hal mendasar yang kita perlukan dalam memerangi epidemi HIV dan AIDS secara global. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia akan menjadi seperti menyiram minyak pada api penyebaran HIV, seperti menyisihkan kelompok masyarakat tertentu, semisal pengguna narkoba suntik dan pekerja seks komersial pada posisi yang lebih rentan terhadap infeksi HIV.

Dengan mempromosikan hak asasi manusia bagi individu, infeksi yang baru dapat dicegah dan orang yang hidup dengan HIV dapat hidup bebas dari diskriminasi.

Untuk mengetahui apa saja yang dapat kita lakukan dalam memberikan dukungan. Silakan kunjungi halaman kampanye World AIDS Day.

Melacak Demam

Demam merupakan salah satu gejala yang paling umum dalam keluhan pasien selain nyeri. Demam secara khas sudah dianggap sebagai salah satu bahwa ada “sesuatu” yang salah dengan tubuh seseorang, karena temperatur tubuh telah meninggi.

Demam bisa jadi merupakan salah satu respons normal tubuh terhadap adanya suatu peradangan. Namun sering kali demam menjadi tidak tepat didefinisikan dalam keseharian, sehingga bisa menimbulkan kebingungan. Demam memang diartikan suhu tubuh yang bertambah di atas normal, namun tentu dengan ambangannya, lebih tinggi dari 37,8° C jika diukur per-oral (via mulut) atau di atas 38,2° C jika diukur per-rektal (via dubur) dengan termometer. Tentu saja untuk mengetahui demam maka temperatur tubuh selayaknya diukur, tidak hanya dengan berkata bahwa sedang merasa agak hangat, merasa dingin atau ketika berkeringat. Lanjutkan membaca “Melacak Demam”

Lemak Ini Buruk Untuk Jantung?

Mungkin Anda sudah pernah dengar tentang trigliserida, dan Anda juga mungkin sudah pernah mendengar bahwa kadar trigliserida dalam darah yang tinggi dapat berdampak buruk.

Tapi apa sebenarnya trigliserida ini? Mengapa dokter anda menggelengkan kepalanya jika hasil pemeriksaan kolesterol anda berkata bahwa kadar trigliserida anda tinggi? Dan apa urusan mereka dengan diabetes dan sekelompok gejala-gejala mengkhawatirkan yang disebut “sindrom metabolik”?

Apa itu trigliserida?

Katakanlah dengan sederhana, trigliserida adalah lemak. Itu dia,  mereka adalah bentuk paling banyak dari cadangan lemak tubuh kita. Jaringan lemak dibentuk dari sel-sel yang diisi dengan trigliserida.

Jadi trigliserida itu buruk kan? Hmm…, mungkin secara umum. Namun faktanya, kita tidak dapat hidup tanpa trigliserida. Dapat dikatakan mereka adalah kecanggihan tubuh manusia dalam menyimpan energi cadangan.

Hingga 100 tahun yang lalu – atau juga sebelumnya, makanan tidaklah berlimpah seperti saat ini, dan manusia lebih banyak membakar kalori dalam kegiatan fisik. Jadi sangat penting untuk memiliki kemampuan menyimpan bahan bakar secara efisien. Untuk satu gramnya, orang bisa mendapatkan energi dua kali lebih banyak dari pencadangan lemak daripada satu atau dua substansi lain (protein & gula) yang dapat kita bakar untuk dijadikan energi.

Namun kini ada banyak makanan di sekeliling kita, kita makan lebih banyak, dan kita tidak melakukan banyak aktivitas fisik sebagaimana orang-orang di era 100 tahun yang lalu atau sebelumnya. Jadi, kebanyakan dari kita, menyimpan lemak dalam jumlah yang signifikan lebih banyak daripada yang kita perlukan – dalam bentuk trigliserida.

Kerusakan dan Diabetes

Apa masalahnya memiliki kadar trigliserida yang tinggi? Jika trigliserida adalah lemak, dan lemak adalah energi, tidakkah kita hanya menumpuk atau menyimpan energi lebih banyak saja? Sayangnya, tubuh kita seringkali tidak mampu menyimpan energi ekstra itu secara efesien – dan kadang sel-sel lemak berlebih itu menarik sel-sel lain yang menyebabkan masalah pada kesehatan anda.

Untuk satu hal, sel-sel lemak cenderung menarik sel-sel peradangan. Dan sel-sel peradangan tertentu, disebut sitokin, mengganggu kemampuan tubuh untuk mengurus gula dan sebagai dampaknya menambah risiko berkembangnya diabetes.

Lemak, dalam bentuk trigliserida, juga cenderung menyusup ke jaringan lainnya, seperti hati dan otot. Ini bisa jadi awal dari jaringan-jaringan tersebut juga turut tidak bisa mengolah gula dengan baik, dan kembali pada peningkatan risiko menjadi diabetes.

Sindrom Metabolik

Trigliserida yang tinggi seringkali dihubungkan dengan sekelompok  kondisi lainnya yang bersama-sama disebut “sindrom metabolik” – sekelompok faktor-faktor risiko bagi penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Termasuk di dalamnya:

  • Obesitas, khususnya jaringan lemak berlebihan di dalam dan di sekitar abdomen/perut.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Peningkatan kadar gula darah (pre-diabetes atau disebut toleransi glukosa terganggu/impaired glucose tolerance).
  • Kadar tinggi protein-protein peradangan di dalam darah.

Trigliserida yang tinggi juga dapat berarti rendahnya kadar high-density lipoprotein (HDL) – si kolesterol baik. Dan pada waktu yang sama, trigliserida dapat membentuk sejenis “paket kombinasi” dengan low-density lipoprotein (LDL) – si kolesterol jahat, mengarah pada lebih banyak pembentukan plak dalam pembuluh arteri jantung anda dan lebih menambah risiko penyakit jantung.

Kenali Kadar Anda

Sebaiknya berapa kadar trigliserida seharusnya? Trigliserida normal berada pada kadar 150 atau di bawahnya. Jika kadarnya melebihi itu, maka dipertimbangkan sebagai suatu masalah:

  • Batas atas tinggi: 150 – 199;
  • Tinggi: 200 – 499;
  • Sangat tinggi: 500.

Apa yang bisa kita lakukan jika kadar trigliserida mencapai batas tingginya? Sebuah jawaban yang amat sederhana dan, bagi banyak orang, amatlah sangat susah: mengurangi berat badan melalui diet dan olahraga.

Jika seseorang berkurangnya 10% berat badannya dan mulai berolahraga setidaknya setengah jam, tiga atau empat kali seminggu, itu sudah bisa mengatasi setengah dari permasalahan. Walau mungkin memang ada predisposisi genetik terlibat di dalamnya, namun tetap saja berat badan berlebih menambah masalah menjadi lebih buruk lagi.

Juga mungkin ada pertanyaan, apa yang sebaiknya dikonsumsi/dimakan? Sebenarnya tidak masalah apa pun yang dimakan atau seberapa banyak pun, yang jadi masalah adalah ketika seseorang makan lebih banyak daripada yang dibakar sebagai energi.

Tapi karena kecenderungan pola konsumsi manusia, maka diet rendah lemak jenuh, kolesterol, dan karbohidrat sederhana disarankan ketika mencoba mengurangi trigliserida yang tinggi. Jika Anda tidak yakin apa yang dimaksud dengan karbohidrat sederhana, maka coba pikirkan makanan yang memiliki kesan “putih”, seperti nasih putih, roti tawar putih, kentang biasa. Makanan ini dicerna dan diubah menjadi gula dengan begitu cepatnya seperti ketika Anda minum soda.

Apa yang Anda perlukan adalah sesuatu yang perlu sedikit lebih banyak waktu untuk dicerna – yang berarti lebih banyak serat. Seperti misalnya brown rice atau di Indonesia disebut beras pecah kulit (beras yang hanya dipecah bagian gabahnya dan masih menyisakan kulit ari beras, berwarna kecoklatan, dan bukan putih bersih).

Jika kadar kolesterol dan trigliserida sangat tinggi, dokter mungkin juga meresepkan obat-obatan untuk menurunkannya. Pada level yang sangat tinggi, trigliserida bisa jadi begitu buruk di mana seseorang bisa jadi mengalami masalah-masalah kesehatan lainnya seperti pankreatitis, dan obat-obatan sangatlah bermanfaat dalam situasi seperti ini.

Guna mencegah diabetes dan sindrom metabolik, maka kontrol asupan kalori sangat diharapkan. Sebaiknya memang kita tidak mengonsumsi sumber kalori lebih banyak daripada yang akan kita bakar untuk aktivitas sehari-hari.

Diadaptasi dari “The Trouble with Triglycerides

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Kapan Menghindari Olahraga

Orang-orang pasti sudah tahu bahwa olahraga baik untuk kesehatan tubuh, namun dalam beberapa situasi & kondisi itu mungkin bukanlah selalu merupakan ide yang baik. Beberapa rasa pegal dan nyeri bisa jadi membuat ide berolahraga ditolak mentah-mentah. Mengetahui kapan sebaiknya berolahraga dan kapan menundanya untuk mendapat kesempatan yang lebih baik bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Kuncinya adalah mampu mendengarkan tubuh anda sendiri, dan kadang tubuh anda bisa memberikan isyarat kapan waktu yang tepat untuk berolahraga.

Jika Anda Demam

Tinggalah di rumah dan beristirahat. Demam bisa jadi sebuah tanda bahwa sistem pertahanan/imunitas tubuh sedang berperang melawan suatu infeksi – dan tubuh tidak perlu ditambah bebannya dengan stres dan kelelahan dari berolahraga. Namun jika Anda memaksakan diri untuk sedikit meregangkan otot-otot anda, waspadailah temperatur tubuh yang meninggi dan dehidrasi, oleh karena volume cairan tubuh berkurang ketika Anda demam.

Anda juga mungkin tidak bisa mendapatkan hasil olahraga secara optimal. Karena demam membuat detak jantung anda saat istirahat menjadi lebih cepat dibandingkan dalam kondisi normal, ini membuat olahraga menjadi tidak efektif.

Anda sedang pilek

Jika tubuh anda menggigil kedinginan (meriang) dan pilek tidak berhenti, Anda bisa merasa menderita sekali, namun bukan berarti boleh olahraga sepenuhnya. Jika Anda mengalami pilek ringan atau masuk angin, tidak masalah untuk berolahraga ringan. Jika Anda berolahraga ke pusat kebugaran, jangan lupa bawa hand sanitizer (cairan antikuman) untuk mengelap semua permukaan alat yang Anda sentuh sehingga pilek (yang bisa disebabkan oleh kuman) tidak menular pada orang lain di pusat kebugaran.

Anda terserang flu

Pergilah ke ranjang dan rebahan, lupakan berolahraga. Tunda semua olahraga anda hingga tubuh anda pulih seperti sedia kala. Ketika flu juga mendatangkan demam, maka istirahat itu mutlak diperlukan.

Anda baru saja mendapat serangan asma

Flare-up (serangan) asma bisa disebabkan oleh infeksi pada saluran napas, tunda olahraga anda selama beberapa hari, dan kunjungi dokter jika gejala menetap. Namun jika dokter berkata bahwa olahraga aman bagi anda, dan asma anda terkontrol dengan baik, mungkin ada baiknya mulai berolahraga. Pastikan Anda memulai dengan pelan-pelan dengan pemanasan awal selama 10 menit. Dengan intensitas rendah hingga sedang, olahraga yang berselang-seling, atau renang indoor (gedung tertutup) bisa jadi pilihan yang baik jika Anda memilik asma yang dipicu oleh olehraga.

Selama berolahraga, hentikan kegiatan jika Anda merasa mulai kehabisan napas atau merasa lelah dan lemah. Selalu siapkan obat-obatan, artinya membawa serta obat asma anda ke tempat anda berolahraga, atau bahkan menggunakannya sebelum berolahraga sesuai dengan saran dokter.

Anda baru mengalami konkusio

Jangan sesekali berolahraga atau berpartisipasi dalam kegiatan fisik menyerupai olahraga hingga dokter anda berkata bahwa itu aman – meskipun Anda sudah merasa baikan. Konkusio adalah sebuah cedera otak yang tarumatis, dan otak anda perlu sembuh secara baik. Jika ada cedera kepala lain yang terjadi sebelum konkusio sembuh secara total, maka otak menderita potensi pembengkakan dan kerusakan yang mengerikan.

Cedera lama yang mengganggu

Tunda atau lewati jadwal olahraga anda dan segera kunjungi dokter. Ini biasanya bukanlah pertanda yang baik, khususnya jika Anda merasa nyeri ketika beraktivitas. Nyeri yang muncul tiba-tiba memerlukan perhatian medis segera.

Bangun pagi dengan lemas setelah susah tidur

Biasanya orang setelah tidak tidur dengan pulas pada malamnya, maka saat bangun pagi ia merasa lemas dan enggan untuk bergerak. Lupakan itu, segera tendang selimut anda dan mulailah bergerak.

Sedikit olahraga pagi bisa jadi apa yang Anda perlukan setelah tidur yang tidak lelap untuk memicu tingkat energi anda dan menyiapkan anda untuk hari yang baru – aktivitas sepanjang hari. Namun jika Anda selalu kelelahan – bukan hanya sekadar agak merasa lelah & enggan bergerak, namun hingga ke titik di mana Anda tidak bisa bergerak – tinggalkan olahraga dan segera kunjungi dokter. Kekelahan yang ekstrem atau menetap bisa jadi merupakan tanda penyakit.

Nyeri tajam saat terakhir kali Anda berolahraga

Hindari dulu berolahraga hingga dokter bisa menemukan penyebab nyeri tersebut. Jika Anda bersikeras untuk berolahraga, Anda bisa membuat cedera yang lebih parah. Meski sering diharapkan merasa pegal-pegal pasca olahraga, namun tidak pernah bagus untuk mendapatkan nyeri.

Punggung anda sakit

Kurangi intensitas olahraga anda, lakukan dengan lebih santai untuk beberapa hari ke depan, dan jangan memaksakan diri. Lihatlah apakah nyeri punggung anda berkurang. Perhatikan apa yang kira-kira membuat nyeri punggung anda berkurang/membaik atau bertambah/memburuk. Apakah membungkuk atau memutar badan membuat Anda mengernyit kesakaitan atau mengatakan “aduh!”? Coba hindari gerakan yang memicu nyeri untuk mempercepat kesembuhan. Jika nyeri anda berlanjut atau mengganggu aktivitas harian anda, kunjungilah dokter.

Otot anda pegal

Anda masih bisa pergi ke pusat kebugaran, namun kerjakanlah olahraga yang memiliki intensitas ringan, seperti memilih berjalan daripada berlari. Cukup baik untuk melewatkan olahraga jika nyeri di otot terasa cukup parah. Dan jika otot-otot anda terasa begitu nyeri karena Anda memaksakan diri saat olahraga sebelumnya, kurangi dulu aktivitas olahraga anda, buatlah semua pandangan bahwa olahraga yang anda lakukan cukup masuk akal.

Anda sedang hamil

Tanyakan pada dokter anda tentang olahraga yang aman bagi kehamilan anda. Yoga, berenang, berjalan, dan olahraga rendah risiko lainnya bisa jadi bermanfaat selama kehamilan. Pastikan untuk tetap menjaga hidrasi, mengambil jeda/istirahat, dan hindari merasa kepanasan. Hindari olahraga yang membuat punggung dan perut anda meregang kencang. Olahraga yang tidak dianjurkan saat kehamilan meliputi, bermain ski termasuk ski air, bersepeda, atau berkuda, oleh karena ada risiko terjatuh dan cedera abdominal (perut).

Secara umum berolahraga tidak perlu terburu-buru. Karena efek kebugaran dan kesehatan didapatkan dari keteraturan dan pola olahraga yang benar, tidak ada efek instan olahraga bagi kesehatan. Anda perlu membiasakan diri secara tepat.

Jika Anda tidak terbiasa berolahraga sebelumnya, lakukanlah dulu olahraga ringan dengan pemanasan selama 15 hingga 30 menit, Jika tubuh anda merasa cukup fit untuk melakukan olahraga lanjutannya, lakukanlah olahraga lanjutkan ke tingkat sedang. Andalah yang paling memahami kondisi tubuh anda, jangan sampai berolahraga berlebih atau pada saat/situasi yang kurang tepat malah mengganggu kesehatan anda.

Diadaptasi dari “When not to exercise“.

Menatap Titik Awal

Entah mengapa saya rasa kehidupan manusia tidak hanya memilih sebuah kisah tunggal, namun terangkai dari pelbagai kisah yang menyatu menjadi sebuah untaian kehidupan. Kisah-kesih kecil ini seperti napas seorang insan, ketika ia mulai ditarik, diresapi kemudian dihembuskan kembali ke alam.

Dari setiap kisah selalu ada titik awal, di mana kisah itu dimulai. Malam kemarin, kolega lama saya datang berkunjung, di sela-sela pembicaraan kami, dia menunjukkan sebuah tulisan di sebuah situs populer dalam negeri. Tulisan itu merupakan ungkapan seorang yang diungkap dengan bebas, judulnya lumayan menyita perhatian saya, “Para Calon Dokter Itu Sombong Sekali”.

Ringkasnya, penulis menyampaikan – maaf – ‘ketidaksukaannya’ pada sikap beberapa dokter muda yang (mungkin) kelakuannya dinilai tidak sesuai etika yang diharapkan ada pada seorang yang menempuh pendidikan kedokteran. Dan lebih mengejutkan saya lagi, yang menjadi objek ‘ketidaksukaan’ penulis adalah dokter muda di rumah sakit pendidikan Dr. Sardjito – yang notabene adalah tempat saya juga menuntut ilmu sebagai dokter muda di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Karena tidak disebutkan elemen waktu yang melingkupi tulisannya, maka ya bisa jadi itu siapa saja yang menjadi dokter muda di FK UGM. Bisa saja saya, atau juga bisa saja bukan saya ada di dalamnya.

Pun demikian saya sebagai pribadi, berterima kasih atas tulisan tersebut. Setidaknya ada yang memerhatikan kami – dokter muda – yang bahkan dalam banyak kesempatan kurang dapat memerhatikan dengan baik apa-apa yang ada di sekitar kami.

Dan memang sudah menjadi paradigmanya bahwa seorang dokter sewajarnya santun dan beperhatian pada orang-orang di sekitarnya, dan masyarakat mengharapkan kesan ini juga tertanam pada mereka yang mengikuti jenjang pendidikan kedokteran.

Tulisan tersebut membuat saya ingin merefleksikan ulang banyak hal. Karena terus terang saja, mungkin tulisan tersebut hanya satu dari sekian banyak lagi kesan tidak baik yang hadir pada seorang dokter muda.

Dan mungkin saja, jika saya menempatkan diri dalam posisi si penulis, bisa jadi saya memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda. Saya harus melihat kembali ke belakang, adakah saya tercermin dalam paradigma yang baik ataukah steorotip yang buruk.

Mungkin saya juga bisa jadi pernah berada dalam situasi yang dikisahkan penulis tersebut. Memasuki jam ke-36 di rumah sakit, dengan kantung mata yang sudah cukup tebal, beberapa kejadian tidak mengenakkan pada malam sebelumnya, beberapa teori yang masih harus disimulasikan di dalam kepala, beberapa target yang masih harus dipenuhi. Jangan heran jika Anda bisa menemukan saya mondir-mandir setengah lunglai padahal matahari belum begitu tinggi, dan jang kaget jika saya bahkan tidak menyadari anda melintas di samping saya hingga Anda menegur saya terlebih dahulu.

By the mean of etiquette, that would be all my bad. Saya tidak bisa melakukan pembelaan, saya tidak membuat stamina saya cukup baik, saya tidak membuat fokus saya cukup terjaga, dan saya tidak membuat diri saya cukup terlatih untuk semua kondisi tersebut.

Kadang pada beberapa kondisi yang fortuitously terbentuk, dokter muda ingin melepas emosi dari apa-apa yang dilalui dalam beberapa jam atau hari sebelumnya, dokter muda perlu seseorang yang bisa mendengarkan, dan mungkin ini adalah sebentuk intuisi, bahwa yang paling tepat memahami adalah mereka yang juga melalui hal yang sama.

Dokter muda, termasuk petugas kesehatan lain tentunya. Menyaksikan sesuatu yang tidak banyak orang saksikan secara langsung setiap harinya. Di dunia kedokteran ada pemandangan mereka yang khawatir, mereka yang menderita, mereka yang takut, mereka yang ragu, mereka yang putus asa. Dokter muda lebih sering dalam segi kuantitas melihat luka setiap harinya, baik fisik maupun psikologis.

Dokter muda dapat menjumpai situasi, di mana banyak orang berharap, namun situasi akhirnya justru berubah menjadi tangis dan air mata kesedihan. Pun demikian, seorang dokter dengan empati-pun memiliki paradigma yang tidak mencampuradukkan emosi personal dalam profesi, karena masih ada hal-hal lain yang menantikan – bahkan ketika emosi yang sama juga mengalir dalam setiap tarikan napasnya.

Jadi dalam kondisi yang fortuitously tersebut, kadang ada perasaan sesuatu yang ingin terlontarkan ke luar diri, emosi-emosi bisa saja lepas begitu saja saat bertemu dengan rekan-rekan sejawatnya. Merekalah yang saling mengerti dan memahami satu sama lainnya, walau bukan selalu bermakna memahami dalam ranah logika. Kami menghibur rekan yang tertekan, dan memberi semangat pada mereka yang lunglai – saya rasa di mana-mana, hal-hal serupa juga terwujud dalam dunia kerja.

Sesuatu yang tadinya terbentung dapat mengalir dalam pelbagai bentuk. Kami dapat tersenyum bersama, melihat kembali ke belakang, saling mengingatkan bahwa ada hal-hal baik yang bisa ditemukan, bahwa bukan hanya hal-hal yang muram saja, tapi juga ada harapan, ada kebahagian, ada ungkapan suka cita, ada ungkapan terima kasih, ada sesuatu yang begitu bernilai yang membuat kami akan terus tetap melangkah. Dan mereka yang murung pun dapat tersenyum kembali.

Pun demikian, kadang kala ada situasi yang tidak pas. Kondisi yang fortuitously ini bisa saja terjadi tidak jauh dari pengamatan seorang pasien yang sedang begitu menderita, dan para dokter muda tampak tersenyum-senyum di antara kelompoknya sendiri tanpa memberikan perhatian padanya. Seperti pemandangan eksklusivitas tanpa kepedulian.

Saya memahami bahwa kepedulian memerlukan kedewasaan yang bersungguh-sungguh. Pendidikan adalah salah satu proses menuju kedewasaan. Kadang tanpa sengaja, kami lepas dari jalur tersebut, dan beberapa orang dengan baik mengingatkan kami.

Apakah Anda tahu bahwa rerata mahasiswa kedokteran memiliki selera humor yang cukup bagus. Dari yang saya kenal, mahasiswa kedokteran bisa cukup tertawa lepas dengan baik. Mungkin tanpa disengaja adalah bentuk adaptasi atau koping stres dari tekanan yang dihadapi sehari-harinya.

Jika ada seorang dokter muda yang tanpa sengaja meledak tawanya di koridor rumah sakit yang sepi saat sedang berjalan sambil bergurau dengan rekannya, mungkin ia tidak menyadari bahwa di balik tembok terbaring seseorang yang begitu menderita menghadapi sakitnya. Belum lagi keluarga pasien yang menunggu mungkin sedang merasa tertekan dengan banyak hal, bayangkan kesan yang timbul dari ledakan tawa pendek yang tidak disengaja itu jika diketahui oleh keluarga pasien bahwa sumbernya adalah dua dokter muda yang sedang asyik bercengkrama. Atau bayangkan juga kesan yang timbul jika ternyata sumbernya adalah pengunjung biasa.

Saya tidak akan memberikan pembenaran pada apapun.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul, “Making Decision to Study Medicine” ada beberapa poin yang selayaknya dijawab jika seseorang ingin memulai memasuki dunia kedokteran. Dan poin yang pertama adalah, “Apakah saya peduli terhadap orang lain, permasalahan mereka, dan rasa sakit yang mereka hadapi?”

Kepedulian adalah awal atau pendorong seseorang memasuki dunia kedokteran. Pun demikian ternyata pada perjalanan pendidikan itu, masih ada banyak unsur kepedulian yang mesti ditanamkan – karena rasa kepedulian saja mungkin pada awalnya tidak dapat berkata banyak.

Apa yang saya temukan hari ini, membuat saya menatap titik awal kembali. Dan entahlah…, ada perasaan aneh yang mengalir dalam diri saya. Dan melalui tulisan ini saya harap dapat melepaskan perasaan itu, walau rasanya bukan sesuatu cukup tepat terungkapkan.

Jika Anda pernah mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dengan dokter muda (atau pun dokter dan petugas kesehatan secara umum), Anda dapat turut menyampaikannya di sini. Mungkin saya bisa menjadikannya masukan dan titik renungan yang berarti bagi saya.

Peduli Osteopenia

Osteopenia adalah sebuah terminologi yang digunakan untuk menggambarkan kepadatan (densitas) tulang yang sedemikian hingga bisa dikatakan kurang pada dari pada tulang normal namun tidak terlalu rendah nilainya untuk didiagnosis sebagai osteoporosis. Tentu saja Anda mungkin sudah tahu bahwa osteoporosis adalah sebuah kondisi di mana kepadatan tulang menjadi rendah dan akibatnya tulang menjadi rapuh sehingga mereka rentan terhadap fraktur (patah, retak, dan sebagainya) dengan mudahnya. Seseorang dengan osteopenia memiliki risiko berkembang menjadi osteoporosis, dan sebaiknya melakukan tindakan untuk memperkuat kembali tulang.

Bagaimana osteopenia timbul?

Umumnya pada usia 30 tahun, tulang akan mencapai titik kepadatannya yang paling tinggi, artinya itu saat di mana umumnya tulang akan jadi paling keras yang pernah ia capai. Setelah itu, tulang akan menipis kembali bersama dengan berjalannya usia. Wanita lebih cenderung mengalami osteopenia dibandingkan laki-laki, karena tulang mereka pada mulanya memang tidak sepadat tulang laki-laki. Perubahan hormonal pada masa monopause mempercepat laju penipisan tulang.

Bergantung pada pengukuran densitas tulang dan faktor lainnya – seperti adanya riwayat fraktur, kesehatan yang buruk, dan kurang bergerak – wanita dengan osteopenia memiliki risiko yang sama untuk patah tulang sebagaimana wanita dengan osteoporosis. Wanita yang memiliki risiko fraktur tulang memerlukan terapi untuk membantu memperlambat laju kehilangan kepadatan tulang atau membantu pembentukan tulang yang baru.

Kebiasaan hidup sehat dan terapi untuk osteopenia berikut bisa membantu memperkuat tulang dan mengurangi risiko fraktur tulang.

Gaya hidup sehat

Pengobatan yang terbaik untuk osteopenia adalah gaya hidup sehat yang selayaknya diadopsi oleh setiap orang. Jika Anda memiliki tulang yang kuat, gaya hidup sehat dapat membantu tulang-tulang anda tetap kuat. Jika Anda sudah mengalami osteopenia, maka gaya hidup ini bisa membantu menurunkan risiko berkembang menjadi osteoporosis.

Olahraga. Seperti halnya otot, maka tulang juga bertambah kuat jika berolahraga. Latihan yang paling bagus untuk tulang adalah adalah latihan dengan tambahan beban yang membuat tubuh anda bekerja melawan gravitasi. Tipe kegiatan seperti ini meliputi berjalan, menaiki tangga, menari, dan saat berolahraga untuk menurutkan berat badan.

Diet. Untuk tulang yang kuat, Anda memerlukan diet yang kaya kalsium dan vitamin D. Makanan kaya kalsium meliputi:

  • Produk olahan sapi, seperti keju, es krim, susu rendah lemak, dan yogurt.
  • Sayuran hijau, seperti brokoli dan collard greens.
  • Ikan sarden (sardines) dan salmon, atau ikan laut lain dengan tulangnya.
  • Tahu

Tubuh anda membuat sendiri vitamin D ketika kulit anda terpapar sinar matahari. Jika Anda cukup terpapar sinar matahari pagi, Anda mungkin mendapatkan vitamin D yang cukup banyak untuk keperluan anda. Namun jika Anda kekurangan vitamin D, maka beberapa sumber vitamin D tersedia secara alami dalam makanan. Sedangkan produk kacang-kacangan dan susu biasanya diperkaya dengan vitamin D. Beberapa di antaranya adalah:

  • Ikan, termasuk tuna, salmon dan ikan kembung.
  • Minyak hati ikan.
  • Hati sapi.
  • Keju.
  • Kuning telur.

Rokok & minuman beralkohol. Jika Anda perokok, maka sangat penting untung berhenti. Penelitian-penelitian telah menunjukkan hubungan langsung antara merokok dan penurunan densitas tulang. Berhenti merokok dapat membantu membatasi kehilangan tulang karena merokok.

Jika Anda seorang peminum, coba kurangi (tidak lebih dari satu gelas kecil untuk per hari untuk perempuan, dan dua gelas kecil untuk laki-laki). Terlalu banyak alkohol dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh dan mempengaruhi produksi hormon dan vitamin yang berperang penting dalam menjaga kesehatan tulang. Juga bisa meningkatkan risiko terjatuh, yang bisa menyebabkan Anda patah tulang.

Kurangi garam & kafein. Baik kafein maupun garam dapat menjadi faktor hilangnya kalsium dan kepadatan tulang. Guna meningkatkan kesehatan tulang, coba beralih ke minuman bebas kafein. Untuk garam, jangan lupa periksa label makanan dari kandungan sodium (natrium), hindari jika bisa, dan kurangi pemakaian garam pada masakan sehari-hari.

Obat-obatan

Obat-obatan untuk oseteopenia hanya diberikan pada kondisi tertentu, semisal pada penderita osteopenia yang sudah mengalami fraktur tulang, di mana dokter mungkin meresepkan obat untuk mengurangi risiko berkembang menjadi osteoporosis dan fraktur lebih banyak lagi.

Beberapa jenis obat seperti bisphosphonate, calcitonin, hingga penggunaan terapi hormonal seperti terapi penggantian hormon, dan terapi hormon paratiroid bisa diterapkan. Silakan berkonsultasi pada dokter anda untuk keterangan lebih lengkap dan detil.

Pemeriksaan

Untuk mengetahui ada tidaknya osteopenia bisa dilakukan dengan pemeriksaan bone mineral density (BMD). Berikut saya kutipkan dari artikel “Kenali Osteopenia dan Osteoporosis Segera” oleh litbang depkes.

Jika anda pernah mengikuti tes tulang atau yang disebut juga Bone Mineral Density (BMD), anda tentunya tidak asing lagi dengan T-Score atau nilai T. Nilai T adalah nilai selisih standar BMD seseorang, apakah lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan nilai standard normalnya. Perhitungan BMD ini mengacu kepada standard penilaian yang telah ditetapkan dari World Health Organization (WHO).

Bila dari hasil tes diperoleh nilai T= -1 atau lebih tinggi, artinya adalah BMD anda masih normal. Bila nilai T = -2.5 atau kurang, artinya anda menderita Osteoporosis. Namun bila nilai T anda berada di antara -2.5 sampai -1, artinya anda telah mengalami Osteopenia.

Jika Anda memiliki beberapa faktor risiko atau gaya hidup yang mungkin mengarahkan Anda pada kondisi osteopenia, maka Anda mungkin bisa mempertimbangkan konsultasi ahli untuk pemeriksaan kepadatan tulang.

Tulisan diadaptasi dari “Osteopenia Treatments”.