Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi

Ada banyak kebijakan dan kegiatan dalam peningkatan gizi masyarakat yang harus kita kejar keberhasilan, atau juga ada banyak tujuan pembenahan status gizi masyarakat yang ingin kita capai – pemberantasan stunting misalnya. Namun untuk bisa melakukan semua itu, salah satu pilar yang harus bisa tegak dengan baik adalah surveilans gizi. Seluruh pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan perbaikan gizi berpatokan pada hasil surveilans gizi.

Tapi bagaimana melakukan surveilans gizi? Sudahkah tenaga kesehatan terkait mampu melakukannya dengan baik?

Misalnya, apa saja indikator masalah gizi di masyarakat? Bagaimana kita bisa melihat bahwa indikator kinerja program gizi kita telah baik? Lalu bagiamana surveilans gizi yang sesuai standar, baik itu di Posyandu, Puskesmas, maupun Rumah Sakit? Lanjutkan membaca “Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi”

Stunting

Saya melihat masih ada orang-orang yang belum memahami stunting dengan baik, atau kadang menyamakan stunting dengan kerdil. Karena mungkin memang stunting sampai saat ini – setahu saya – belum mendapatkan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.

Stunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh secara linier pada anak balita yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis 1.

Bisa dikatakan stunting sebagai suatu sindrom, karena banyak perubahan yang didapati, yang dihubungkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Menurunnya kapasitas/ukuran fisik, sistem saraf (yang berpotensi menurunkan produktivitas) dan potensi penurunan daya saing ekonomi, serta adanya peningkatan risiko penyakit metabolis pada usia dewasa 2.

Siklus Stunting. Sumber: Concern Worldwide, Grafik oleh: Aeri Wittenbourgh.

Stunting adalah proses siklus, karena wanita yang mengalami stunting pada masa kanak-kanak cenderung memiliki keturunan yang juga stunting, menciptakan siklus kemiskinan antar generasi dan mengurangi kapita manusia yang sulit untuk dihancurkan 2. Lanjutkan membaca “Stunting”

Buku Penuntun Hidup Sehat

Berasal dari naskah asli “Facts for Life“, buku “Penuntun Hidup Sehat” diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui unit Pusat Promosi Kesehatan. Buku ini berisi sejumlah informasi mengenai masalah kesehatan yang kita temui sehari-hari, dan bagaimana untuk bisa hidup dengan lebih sehat menggunakan informasi yang kita dapatkan dari buku ini. Untuk adaptasi edisi keempat, diterbitkan oleh UNICEF, WHO, UNESCO, UNFPA, UNDP, UNAIDS, WFP, the World Bank dan Kementerian Kesehatan. Lanjutkan membaca “Buku Penuntun Hidup Sehat”

Ayo! Menjadi Keluarga Sadar Gizi

Hari ini saya menemukan sebuah pamflet menarik yang berjudul “Ayo! Menjadi Keluarga Sadar Gizi – Agar Sehat & Cerdas”. Oleh karena saya tidak sesuatu yang lain untuk dituliskan, mari saya bagi sedikit isi pamflet tersebut.

Apa itu Kadarzi?

Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) adalah keluarga yang mampu mengenali dan mengatasi masalah gizi serta menerapkan perilaku gizi yang baik untuk seluruh anggota keluarganya.

Perilaku gizi yang baik adalah pengetahuan, sikap dan praktek keluarga untuk mewujudkan keadaan gizi yang baik meliputi menimbang berat badan secara teratur, mengonsumsi makanan seimbang dan berperilaku hidup sehat.

Makanan seimbang adalah susunan makanan yang terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayur dan  buah yang aman sesuai kebutuhan masing-masing anggota keluarga.

Beberapa Norma Keluarga Sadar Gizi

  1. Menimbang berat badan secara teratur.
  2. Makan aneka ragam makanan setiap hari.
  3. Menggunakan garam beryodium.
  4. Memberikan hanya ASI saja kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan.
  5. Mengonsumsi suplemen gizi sesuai anjuran.

Anggota keluarga perlu menimbang berat badan secara teratur karena berat badan merupakan petunjuk yang baik akan keadaan gizi dan kesehatan. Perubahan berat badan menunjukkan perubahan konsumsi makanan dan/atau gangguan kesehatan. Menimbang berat badan tidaklah sulit, dan bisa dilakukan di mana saja, di pusat pelayanan kesehatan atau di rumah sendiri.

Makanan beragam sangatlah penting, karena tidak ada satu jenis bahan makanan pun yang bisa memenuhi semua kebutuhan zat gizi. Sehingga keanekaragaman bahan makanan menyediakan zat gizi yang beraneka guna memenuhi kebutuhan zat gizi bagi tubuh. Untuk bisa menemuhi semua kebutuhan zat gizi, makanan sehari-hari terdiri dari makanan pokok (sumber karbohidrat), lauk-pauk (sumber protein), sayuran dan buah (sumber vitamin, mineral, serat), serta cukup mengonsumsi cairan/air.

Zat yodium diperlukan tubuh setiap harinya, sedangkan bahan makanan mentah sehari-harinya secara umum miskin akan zat yodium. Kekurangan zat yodium bisa menimbulkan penurunan kecerdasan dan tumbuh kembang yang dikenal sebagai Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).

Bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan hanya diberikan ASI saja, karena ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, bersih dan sehat. ASI saja cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan untuk tumbuh kembang normal. ASI juga praktis dan murah serta dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi, pun bisa menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi. Ini mengingatkan saya pada tulisan lama saya tentang “Mengingat Kembali Makna ASI/Laktasi”.

Karena kebutuhan zat gizi pada kelompok bayi, balita, ibu hamil dan ibu menyusui meningkat dan seringkali tidak bisa dipenuhi dari makanan sehari-hari, maka perlu mengonsumsi suplemen gizi sesuai anjuran. Suplemen zat gizi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi.

Kebutuhan suplemen gizi adalah:

Kapsul vitamin A untuk bayi dan balita 2 kali setahun (setiap 6 bulan);

Kapsul vitamin A untuk ibu nifas 1 kali selama masa nifas;

Tablet Fe (zat besi) untuk ibu hamil – 1 tablet setiap hari selama 90 hari.

Bagaimana menilai keluarga sudah Sadar Gizi?

  • Seluruh anggota keluarga berstatus gizi baik.
  • Tidak ada lagi bayi berat lahir rendah ( < 2500 gram).
  • Keluarga telah menggunakan garam beryodium.
  • Semua bayi 0-6 bulan hanya diberi ASI saja.
  • Semua balita naik berat badannya.
  • Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gizi lebih.

Ayo! Menjadi Keluarga Sadar Gizi