Manjaro melalui VirtualBox pada Windows 10

Walau sudah lama migrasi ke Microsoft Windows 10, saya masih merasakan kangen pada Linux, terutama antarmuka yang sederhana dan mudah digunakan milik Gnome. Saya memutuskan untuk mencoba kembali memasang salah satu distribusi Linux, bukan untuk bekerja, namun hanya sekadar agar saya tidak tertinggal dari perkembangan dunia Linux. Karena bukan tidak mungkin suatu saat di masa mendatang, saya kembali menggunakan Linux ketika kerja saya tidak lagi menuntut penggunaan Microsoft Windows.

Saya tidak memiliki mesin komputer lain selain sebuah laptop usia menjelang dua tahun. Di dalamnya terpasang Windows 10 yang sudah ditingkatkan dari Home menjadi Profesional. Ada dua pilihan awal saya, memasang menggunakan dual-boot, atau dengan mesin virtualisasi.

Dual-boot? Saya tidak memiliki waktu untuk memelajari lagi. Sementara jika memilih virtualisasi, saya bisa memasangnya dengan lebih cepat. Akhirnya saya memilih virtualisasi, sekaligus saya menghindari risiko kerusakan pemuat boot.

Lanjutkan membaca “Manjaro melalui VirtualBox pada Windows 10”

Migrasi dari Leap 42.1 ke Tumbleweed

Karena sudah rilisnya openSUSE Leap 42.2, saya berminat melakukan peningkatan (upgrade) dari seri 42.1 yang saat ini saya gunakan ke seri 42.2. Namun setelah membaca sejumlah panduan dan pengalaman pengguna, saya tidak memilih meningkatkannya, karena tetap saja untuk keamanan, saya akan memerlukan sebuah DVD instalasi.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba melakukan peningkatan, atau mungkin lebih tepatnya migrasi dari seri Leap 42.1 ke seri Tumbleweed. Dari yang saya baca, Tumbleweed saat ini sudah cukup stabil untuk digunakan harian. Lanjutkan membaca “Migrasi dari Leap 42.1 ke Tumbleweed”

Paket Ikon xenlism wildfire pada openSUSE

Selain Numix, paket ikon yang saya sukai untuk dipajang sebagai pemanis di sebuah desktop adalah xenlism wildfire – yang merupakan proyek open source yang meracik ikon minimalis sekaligus realis. Diinspirasi dari standar grafik pada Nokia Meego dan iOS dari Apple, ikon-ikon xenlism wildfire sangat nyaman dipandang.

Proyek ini telah diuji coba pada desktop berbasis Gnome (gnome shell, unity, mate, cinnamon), namun mungkin saja akan bisa tampil menarik pada dekstop lain seperti KDE dan Xfce misalnya. Cuma untuk mengunduhnya perlu kesabaran, karena besarnya mencapai 200 MB dan mendukung sekitar 700 aplikasi.

Saya sendiri sudah mencobanya pada openSUSE Leap 42.1 dengan menggunakan gnome shell, dan hasilnya sangat menarik.

Lanjutkan membaca “Paket Ikon xenlism wildfire pada openSUSE”

Foxit Reader sebagai Alternatif Evince pada Gnome

Desktop Gnome memiliki pembaca berkas bentuk portabel (PDF – Portabel Data Format) yang dikenal sebagai Evince. Saya suka karena Evince sederhana, namun entah mengapa ada sesuatu yang terasa kurang, misalnya Evince kadang tersendat-sendat. Beberapa mengatakan, Evince memang demikian, tentu saja pembanding mereka biasanya adalah MuPDF yang memang terkenal ringan dan kencang. Lalu apa ada alternatif lain? Saya berpikir mencoba Foxit Reader versi gratis untuk Linux. Lanjutkan membaca “Foxit Reader sebagai Alternatif Evince pada Gnome”

Memasang Shutter pada openSUSE Leap 42.1

Shutter mungkin salah satu perangkat lunak yang sering menemukan galat pemasangan pada openSUSE, terutama karena sejumlah ketergantungannya berada dalam wadah repositori yang berbeda-beda. Terutama pada openSUSE Leap 42.1, Shutter tidak memiliki paket stabil, padahal versi Leap merupakan versi yang mengutamakan stabilitas. Ini berarti jika kita menambahkan sebuah software yang tidak stabil ke dalam versi stabil, maka ada risiko kemapanan stabilitas yang akan kita hadapi. Jika kita bersiap menerima ini, mengapa tidak? Lanjutkan membaca “Memasang Shutter pada openSUSE Leap 42.1”

Stabilitas Bersama openSUSE Leap Gnome

Sudah berapa bulan sejak rilis openSUSE Leap 42.1? Selama ini saya masih cukup betah menggunakan Antergos, meskipun bersifat rolling release, Arch dan turunannya memang sudah membuktikan stabilitas mereka. Namun beberapa hari yang lalu saya mendapatkan wangsit, entah mengapa tiba-tiba ada suara yang membisikkan, “Hei…, mengapa tidak mencoba Leap dan stabilitasnya?” Maka dari sana saya menyapu bersih seluruh isi cakram keras pada notebook Asus saya, dan memasang openSUSE Leap 42.1 dengan fitur otomatis penuhnya – Tancap! Lanjutkan membaca “Stabilitas Bersama openSUSE Leap Gnome”

Enggan ke KDE 5 – Bertahan pada Gnome 3.16

Banyak yang sudah mulai mencoba dan beralih ke Plasma Desktop milik KDE 5, namun saya masih ada di Gnome 3.16 dengan menggunakan Gnome Shell tentu saja – walau kadang melirik Budgie Desktop juga. Juga dengan resminya openSUSE Tumbleweed menggunakan KDE 5 – Plasma Desktop, berarti sebentar lagi pengguna KDE akan melejit lebih banyak lagi, karena tidak bisa dipungkiri banyak pratilik yang tersebar di dunia maya membuat penasaran akan keindahan yang ditampilkan Plasma Desktop. Lanjutkan membaca “Enggan ke KDE 5 – Bertahan pada Gnome 3.16”

Corebird – Klien Twitter yang Lainnya

Sejak penggunaan ponsel cerdas, saya jarang sekali mengakses Twitter melalui klien (desktop client) di komputer. Namun kadang saya memang ingin jauh dari yang namanya telepon genggam, sehingga ingin melirik sejumlah klien twitter kembali yang bisa digunakan untuk Linux. Ada beberapa yang menarik, termasuk yang bisa dipasangkan melalui Pidgin dengan plugin-nya. Tapi saya tertarik pada yang sederhana seperti Corebird. Lanjutkan membaca “Corebird – Klien Twitter yang Lainnya”