Materi Komunikasi Risiko COVID-19 untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Bagaimana melakukan komunikasi kepada pasien, masyarakat, dan sesama staf di fasilitas pelayanan kesehatan seperti praktik dokter/bidan/perawat pribadi, klinik, rumah sakit dan lain sebagainya mengenai risiko COVID-19 dan bagaimana menghindari risiko tersebut?

WHO telah menerbitkan sebuah panduan melalui buku elektronik yang kemudian diterjemakan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini adalah Materi Komunikasi Risiko COVID-19 untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Buku ini berisi, bagaimana melakukan penapisan, bagaimana mengelola triase, APD apa yang diperlukan pada pelbagai tingkat penanganan kasus kecurigaan COVID-19.

Unduh buku ini di situs resmi pemerintah atau pada tautan berikut:

Masker dan Coronavirus

Salah satu fenomena yang muncul dari wabah Wuhan Coronavirus atau COVID-19 adalah berkurangnya stok masker di pasar. Kabar mengenai harga masker melonjak tinggi dapat kita saksikan melalui pelbagai media massa dan sosial. Masyarakat mencari masker untuk melindungi diri dari ancaman wabah coronavirus.

Pertanyaannya, seberapa banyak masker dapat membantu mencegah wabah? Ataukah justru masker meningkatkan risiko penyebaran wabah?

Continue reading →

Coronavirus ‘baru’ dari Wuhan, Tiongkok

Infeksi virus corona jenis baru dari Wuhan, Tiongkok membuat khawatir banyak pihak, baik para profesional dari dunia kesehatan maupun masyarakat awam. Kematian akibat infeksi virus ini telah dilaporkan, dan terus bertambah sejak hari pertama infeksi ini dipublikasikan ke masyarakat global.

Belum banyak yang diketahui mengenai virus ini, dan dunia kesehatan sedang berusaha untuk mengakhiri outbreak kasus coronavirus ini.

Continue reading →

Cacar Monyet – Selayang Pandang

Bulan Mei yang lalu, terjadi kasus impor infeksi virus monkeypox di Singapura1, kasus yang terjadi di luar daerah endemis penyakit ini, dan cukup mengambil perhatian banyak orang termasuk di Indonesia. WHO pun telah menerima laporan tersebut, dan memberikan masukan, serta tidak memberikan rekomendasi larangan perjalanan2.

Monkeypox sempat mengkhawatirkan, dan sempat menimbulkan kerisuhan akibat sejumlah berita bohong (hoaks) yang beredar. Pun demikian, Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah menepis isu tentang monkeypox tersebut3, dan tetap meminta Dinas Kesehatan serta UPT untuk bersiaga4.

Ilustrasi Infeksi Monkeypox. Sumber gambar: independent.co.uk.

Continue reading →

Virus Zika – Sebuah Pengantar

Virus Zika belakangan ini menjadi topik perbincangan yang hangat di dunia kesehatan Internasional terkait dengan ancaman pandemi yang mungkin dimunculkannya [1. Lucey DR, Gostin LO. The Emerging Zika Pandemic: Enhancing Preparedness. JAMA. Published online January 27, 2016. doi:10.1001/jama.2016.0904.]. Dan Indonesia bisa menjadi wilayah yang menjadi ancaman dari penyebaran virus Zika ini. Virus Zika atau sering disingkat sebagai ZIKV, merupakan flavivirus yang masih berhubungan dekat dengan virus-virus lain seperti Dengue, Demam Kuning (Yellow Fever), dan Ensefalitis Jepang. Mengapa bernama virus Zika? Mungkin karena pada awalnya di temukan di Hutan Zika, Uganda, Afrika. Kemudian menjadi Pandemi di wilayah Amerika Selatan [2. Anthony S. Fauci, M.D., and David M. Morens, M.D. Zika Virus in the Americas — Yet Another Arbovirus Threat. Published online January 13, 2016. DOI: 10.1056/NEJMp1600297], dan meledak kejadiannya di Brazil pada pertengahan 2015. Continue reading →

Tata Laksana Varisela di Layanan Kesehatan Primer

Varisela (Varicella / Cacar Air, ICPC II: A72 Chickenpox, ICD-X: B01.9 Varicella without complication or Varicella NOS) merupakan penyakit kulit yang umum. Infeksi akut primer disebabkan oleh virus Varicellazoster yang menyerang kulit dan mukosa. Secara klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit polimorfisme, terutama berlokasi di bagian sentra tubuh. Masa inkubasi 14 – 21 hari.

Penularan terjadi melalui udara (air-borne) dan kontak langsung dengan penderita. Continue reading →

Permenkes Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Hepatitis Virus

Hepatitis Virus merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat, yang berpengaruh terhadap angka kesakitan, angka kematian, status kesehatan masyarakat, angka harapan hidup, dan dampak sosial ekonomi lainnya. Besaran masalah Hepatitis Virus di Indonesia dapat diketahui dari berbagai hasil studi, kajian, maupun kegiatan pengamatan penyakit. Menurut Riskesdas tahun 2007, didapatkan hasil prevalensi HBsAg sebesar 9,4% dan prevalensi Hepatitis C 2,08%, sehingga apabila diestimasi secara kasar maka saat ini terdapat 28 juta orang terinfeksi Hepatitis B dan/atau Hepatitis C. Dari jumlah tersebut 50% akan menjadi kronis (14 juta), dan 10% dari jumlah yang kronis tersebut berpotensi untuk menjadi sirosis hati dan kanker hati primer (1,4juta).

Sedangkan untuk Hepatitis A dan Hepatitis E, besaran masalah tidak diketahui dengan pasti. Namun mengingat kondisi sanitasi lingkungan, higiene dan sanitasi pangan, serta perilaku hidup bersih dan sehat yang belum optimal, maka masyarakat Indonesia merupakan kelompok berisiko untuk tertular Hepatitis A dan Hepatitis E. Laporan yang diterima oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa setiap tahun selalu terjadi KLB Hepatitis A, sedangkan untuk Hepatitis E jarang dilaporkan di Indonesia.

Continue reading →