Film Una vita spericolata

Libur memberi saya banyak kesempatan menonton film melalui layar kaca, salah satu yang menarik adalah “Una vita spericolata” atau Reckless Life, sebuah film Itali tahun 2018 yang disutradarai oleh Marco Ponti. Walau saya tidak menyaksikan dari awal, saya menemukan beberapa hal yang menarik pada film ini.

Mengambil tema komedi kriminal, tidak ada banyak yang menarik dari alur cerita yang disajikan, walau tentu saja mengundang gelak tawa. Tapi yang menarik perhatian saya adalah – mungkin sesuatu yang disebut – sinematografi.

Continue reading →

Iklan

Caruso

One of my favorite opera song is Caruso, which was composed by Lucio Dalla. It said that Caruso is a tribute to Enrico Caruso, an Italian opera tenor which which is said to be lived a life that not so happy as how his name was greatly respected as an opera artist.

Caruso – if I may say – is a simple history and love song about someone whose life reached its end and tried to regain back all memories and straighten all hopes that left into a single charming melody.

The song was sold in more than 20 million copies all over the world in many albums, including the version that sung by Luciano Pavarotti, Andrea Bocelli and also Josh Groban. So it is a well known song, that loved by many people around the globe.

Qui dove il mare luccica
e tira forte il vento
su una vecchia terrazza davanti al golfo di Surriento
un uomo abbraccia una ragazza
dopo che aveva pianto
poi si schiarisce la voce e ricomincia il canto:

Te voglio bene assai
ma tanto tanto bene sai
è una catena ormai
che scioglie il sangue dint’e vene sai…

Vide le luci in mezzo al mare
pensò alle notti là in America
ma erano solo le lampare
e la bianca scia di un’elica
sentì il dolore nella musica
si alzò dal pianoforte
ma quando vide la luna uscire da una nuvola
gli sembrò più dolce anche la morte.
Guardò negli occhi la ragazza
quegli occhi verdi come il mare
poi all’improvviso uscì una lacrima
e lui credette di affogare.

Te voglio bene assai
ma tanto tanto bene sai
e’ una catena ormai
e scioglie il sangue dint’e vene sai…

La potenza della lirica
dove ogni dramma e’ un falso
che con un po’ di trucco e con la mimica
puoi diventare un altro
Ma due occhi che ti guardano
così vicini e veri
ti fanno scordare le parole
confondono i pensieri.

Così diventò tutto piccolo
anche le notti là in America
ti volti e vedi la tua vita
come la scia di un’elica.

Ah si, e’ la vita che finisce
ma lui non ci pensò poi tanto
anzi si sentiva felice
e ricominciò il suo canto:

Te voglio bene assai
ma tanto tanto bene sai
e’ una catena ormai
che scioglie il sangue dint’e vene sai…
Te voglio bene assai
ma tanto tanto bene sai
e’ una catena ormai
che scioglie il sangue dint’e vene sai…

And here is the English translation…

and a strong wind blows,
on an old terrace overlooking the gulf of Sorrento,
a man holds a little girl in his arms
after he’s been crying.
He clears his throat and sings the song again.

I love you so much;
so very much, you know.
It’s a bond, now,
you know, that thaws the blood in the veins.

He looked at the lights, out at sea,
and thought about the nights in America.
But they were only the lamps of fishing boats
and the white of wake.
He felt the pain of the music.
He got up from the piano,
but when he saw the moon come out from behind the clouds
death seemed sweeter to him.
He looked into the little girl’s eyes –
those eyes as green as the sea,
then suddenly a tear fell
and he thought he was drowning.

I love you so much;
so very much, you know.
It’s a bond, now,
you know, and it thaws the blood in the veins.

The power of opera!
where every drama is a sham;
where, with a little bit of make-up and mimicry,
you can become someone else.
But two eyes that look at you,
so close and so real,
make you forget the script,
confounding your thoughts.
And so everything became insignificant,
including the nights in America.
You look back and see your life
like the wake [of the boats].
Ah yes! Life is ending,
but he wasn’t worried about it any more.
Instead he felt happy
and began to sing the song again.

I love you so much;
so very much, you know.
It’s a bond, now,
you know, that thaws the blood in the veins.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Sang Permulaan

Mungkin inilah kisah yang mendahului semua tulisan terbaruku setelah masa-masaku meninggalkan dunia sastra yang umum diperbincangkan, seakan mencari sebuah Solitudine fortezza yang kini menjadi bagian dari sebuah asimilasi bentuk yang sama sekali baru dalam ke bentuk sastraku.

Ini sepenggal kisah antara yang menjadi yang awal…,

Pemikiran awal …

Terkadang aku menemukan banyak hal yang sulit dijelaskan oleh batas akalku. Semua hal yang sebenarnya sangat sulit untuk ditarik benang penghubungnya. Apakah hal ini merupakan ketidakmampuanku ataukah memang merupakan sesuatu yang tak mungkin terjawab.

Venezia, 3 Juni 1996

Hari ini aku mengunjungi salah seorang sahabat yang cukup dekat … walau sesungguhnya rumah kami berjauhan. Mohan masih merupakan saudara (super) jauh bagiku, dia adalah keponakan kakak kedua dari istri pamanku..??!!?. Walau begitu aku pun tidak terlalu mempersalahkan masalah itu.

Kepentinganku hanyalah untuk mengambil titipan yang ada padanya. Kami berjanji bertemu di pelataran depan Gereja Santa Maria dei Mirocali distrik Venetto. Hembusan kehangatan udara mediterania pun tampaknya turut singgah kehadapan tempat indah ini.

Kulihat sahabatku menunggu sambil berbincang dengan seorang biarawan muda. Tentunya tak sopan jika aku tak menyapanya juga.

Fratello, è questo l’uomo che Lei che aspetta per?” Biarawan muda itu menanyakanku secara sopan pada kawanku.

Oh… sì. Questo è il mio amico Cahya.” Mohan setengah memerkenalkanku padanya.

Benvenuto alla casa del nostro Dio mio fratello.” … Selamat datang di rumah Tuhan saudaraku, sapa biarawan muda itu padaku. ” Io migliorerei in… c’è molto che io ho bisogno di ancora fare.” Dia mohon pamit pada kami, tampaknya di dalam gereja sedang ada persiapan … aku tak tahu.

Mohan menatapku, “Ada apa …?” Seolah dia tak tahu maksud kedatanganku.

“Aku tidak akan memperpanjang visaku untuk sesuatu yang tak pasti kawan.” Jawabku ketus.

I’m just kidding my brother … tentu aku tahu untuk apa kamu datang.” Dia menoleh sejenak ke balik pintu utama. “Tentunya kamu tidak terburu-buru … ayo kita masuk, ada sesuatu yang pasti tak ingin kau lewatkan.”

Kupikir tak ada salahnya memasuki ruangan yang penuh tempat duduk itu. Ruangan gereja kuno yang sangat megah dan indah, namun agak sepi … hanya beberapa orang biarawan yang hilir mudik … sedang menyiapkan beberapa fondasi dari balok-balok kayu oak.

Tutto pronto. Ci permetta di cominciare.” Suara serak datang dari ujung ruangan.

Ketika semua pandangan mengarah ke pusat, aku pun juga terbawa melihat ke arah yang sama dengan tarikan suara merdu yang tak terduga. Seorang gadis dengan busana gaya lama, mengumandangkan sebuah lagu pujaan di bawah salib yang agung. Kesannya begitu mendalam, ia terlihat seperti sosok Appleton yang anggun dan menyejukkan.

Namun ada satu yang menarik perhatianku …

... Nella luce della divinità

noi non siamo mai diversi a tutti…

… Di dalam keagungan sinar-Nya, kita (manusia) tak pernah berbeda selamanya …

Dua baris kata yang begitu menyentuh hatiku, aku seakan terbawa kembali ke dalam titik di mana waktu berhenti sejenak untuk memperlihatkan kebenaran yang sejati. Sebenarnya apakah kita (manusia) di hadapannya, hanya pikiran kitalah yang memberi warna berbeda … dan telah menumbuhkan perbedaan itu di hadapan mata hati kita (manusia) sehingga kita tak dapat melihat sesederhana apa adanya.

Lamunanku terhenti sejenak, ternyata kor tunggal itu telah terhenti. Dan sang Appleton pun telah berdiri di hadapanku.

You must be Cahya, Mohan said you would coming today.” Dia berusaha memperbaiki dialek Italia yang indah itu.

Did he says something?” Tanyaku … walau pikiranku masih berputar sejak kapan dia di hadapanku … dan ke mana perginya Mohan itu.

Not much … Hem?” Dia meneliti pandang padaku.

C’è qualche cosa sbagliato, Signorina…?” Tanyaku keheranan.

Oh … You could speak Italian well.”

Never better since last year … When I starting it.”

Kami berbincang tentang banyak hal, pikirannya yang cukup terbuka membuat segalanya menjadi nyaman. Seandainya dunia dapat diberikan sedikit kesempatan yang sama pikirku.

Namun hari itu berakhir dengan kepulanganku kembali ke negaraku. Walau sekejap namun pengalaman itu tak akan pernah terlupakan. Apa yang sebenarnya manusia cari …? Bahkan sang Appleton pun tak mampu memberi jawaban hingga hari ini. Karena manusia sendiri tak pernah sadar akan apa yang ia cari.

Yah … begitulah manusia.

©Cahya 2005

The Beginning

Mungkin inilah kisah yang mendahului semua tulisan terbaruku setelah masa-masaku meninggalkan dunia sastra yang umum diperbincangkan, seakan mencari sebuah Solitudine fortezza yang kini menjadi bagian dari sebuah asimilasi bentuk yang sama sekali baru dalam ke bentuk sastraku.

Ini sepenggal kisah antara yang menjadi yang awal…,

Pemikiran awal …

Terkadang aku menemukan banyak hal yang sulit dijelaskan oleh batas akalku. Semua hal yang sebenarnya sangat sulit untuk ditarik benang penghubungnya. Apakah hal ini merupakan ketidakmampuanku ataukah memang merupakan sesuatu yang tak mungkin terjawab.

Captured from Italian Wedding Site

An evening there

Venezia, 3 Juni 1996

Hari ini aku mengunjungi salah seorang sahabat yang cukup dekat … walau sesungguhnya rumah kami berjauhan. Mohan masih merupakan saudara (super) jauh bagiku, dia adalah keponakan kakak kedua dari istri pamanku..??!!?. Walau begitu aku pun tidak terlalu mempersalahkan masalah itu.

Kepentinganku hanyalah untuk mengambil titipan yang ada padanya. Kami berjanji bertemu di pelataran depan Gereja Santa Maria dei Mirocali distrik Venetto. Hembusan kehangatan udara mediterania pun tampaknya turut singgah kehadapan tempat indah ini.

Kulihat sahabatku menunggu sambil berbincang dengan seorang biarawan muda. Tentunya tak sopan jika aku tak menyapanya juga.

Fratello, è questo l’uomo che Lei che aspetta per?” Biarawan muda itu menanyakanku secara sopan pada kawanku.

Oh… sì. Questo è il mio amico Cahya.” Mohan setengah memerkenalkanku padanya.

Benvenuto alla casa del nostro Dio mio fratello.” … Selamat datang di rumah Tuhan saudaraku, sapa biarawan muda itu padaku. ” Io migliorerei in… c’è molto che io ho bisogno di ancora fare.” Dia mohon pamit pada kami, tampaknya di dalam gereja sedang ada persiapan … aku tak tahu.

Mohan menatapku, “Ada apa …?” Seolah dia tak tahu maksud kedatanganku.

“Aku tidak akan memperpanjang visaku untuk sesuatu yang tak pasti kawan.” Jawabku ketus.

I’m just kidding my brother … tentu aku tahu untuk apa kamu datang.” Dia menoleh sejenak ke balik pintu utama. “Tentunya kamu tidak terburu-buru … ayo kita masuk, ada sesuatu yang pasti tak ingin kau lewatkan.”

Kupikir tak ada salahnya memasuki ruangan yang penuh tempat duduk itu. Ruangan gereja kuno yang sangat megah dan indah, namun agak sepi … hanya beberapa orang biarawan yang hilir mudik … sedang menyiapkan beberapa fondasi dari balok-balok kayu oak.

Tutto pronto. Ci permetta di cominciare.” Suara serak datang dari ujung ruangan.

Ketika semua pandangan mengarah ke pusat, aku pun juga terbawa melihat ke arah yang sama dengan tarikan suara merdu yang tak terduga. Seorang gadis dengan busana gaya lama, mengumandangkan sebuah lagu pujaan di bawah salib yang agung. Kesannya begitu mendalam, ia terlihat seperti sosok Appleton yang anggun dan menyejukkan.

Namun ada satu yang menarik perhatianku …

... Nella luce della divinità

noi non siamo mai diversi a tutti…

… Di dalam keagungan sinar-Nya, kita (manusia) tak pernah berbeda selamanya …

Dua baris kata yang begitu menyentuh hatiku, aku seakan terbawa kembali ke dalam titik di mana waktu berhenti sejenak untuk memperlihatkan kebenaran yang sejati. Sebenarnya apakah kita (manusia) di hadapannya, hanya pikiran kitalah yang memberi warna berbeda … dan telah menumbuhkan perbedaan itu di hadapan mata hati kita (manusia) sehingga kita tak dapat melihat sesederhana apa adanya.

Lamunanku terhenti sejenak, ternyata kor tunggal itu telah terhenti. Dan sang Appleton pun telah berdiri di hadapanku.

You must be Cahya, Mohan said you would coming today.” Dia berusaha memperbaiki dialek Italia yang indah itu.

Did he says something?” Tanyaku … walau pikiranku masih berputar sejak kapan dia di hadapanku … dan ke mana perginya Mohan itu.

Not much … Hem?” Dia meneliti pandang padaku.

C’è qualche cosa sbagliato, Signorina…?” Tanyaku keheranan.

Oh … You could speak Italian well.”

Never better since last year … When I starting it.”

Kami berbincang tentang banyak hal, pikirannya yang cukup terbuka membuat segalanya menjadi nyaman. Seandainya dunia dapat diberikan sedikit kesempatan yang sama pikirku.

Namun hari itu berakhir dengan kepulanganku kembali ke negaraku. Walau sekejap namun pengalaman itu tak akan pernah terlupakan. Apa yang sebenarnya manusia cari …? Bahkan sang Appleton pun tak mampu memberi jawaban hingga hari ini. Karena manusia sendiri tak pernah sadar akan apa yang ia cari.

Yah … begitulah manusia.

©Cahya 2005

Picture taken from Italian Wedding’s Site