Tentang Jasa Penerjemahan Artikel Kedokteran

Beberapa waktu belakangan ini, saya berinteraksi dengan sejumlah hasil penerjemahan jurnal kesehatan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Beberapa hasil yang saya lihat memiliki kualitas penerjemahan yang sangat baik. Hanya saja ada kekurangannya, yaitu penerjemahan istilah-istilah dunia kesehatan yang umum dipakai oleh tenaga kesehatan, medis seperti para dokter dan perawat kurang dapat diterjemahkan secara baik.

Hal ini saya rasa memang merupakan kelemahan yang tidak dapat dihindari. Pertama-tama, karena banyak sekali istilah dunia kesehatan yang mengalihbahasakan istilah dalam bahasa asing ke dalam padanan bahasa Indonesia yang belum tentu pas ketika dikembalikan ke dalam bahasa mulanya. Atau banyak kata yang alih bahasanya terbatas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Screenshot_2018-09-07-15-39-46-957_com.android.chrome Lanjutkan membaca “Tentang Jasa Penerjemahan Artikel Kedokteran”

Mencoba Mendeley

Menulis itu kadang tidak mudah, apalagi guna menghindari tindak plagiat. Rujukan ke referensi yang digunakan layak dituju secara akurat. Jika tulisannya hanya asal cuap-cuap mungkin tidak masalah, namun tidak demikian halnya dengan tulisan-tulisan yang digunakan sebagai tulisan atau kajian ilmiah.

Saya baru diberitahu oleh istri bahwa terdapat perangkat lunak dan layanan yang bisa digunakan untuk keperluan ini. Layanan tersebut bernama Mendeley. Setelah saya telusuri, rupanya almamater saya dulu – Gadjah Mada, juga mengulas penggunaan Mendeley. Dan saya pun berminat untuk mencobanya.

Lanjutkan membaca “Mencoba Mendeley”

Mengenali Pembedaan Buku, Jurnal, Koran dan Majalah Ilmiah

Bagi tenaga kesehatan profesional, penelitian menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Pun demikian saya tidak bermaksud menyampaikan bahwa yang memisahkan diri dari penelitian secara serta merta menjadi tidak profesional.

Baik ketika Anda bekerja dalam praktik mandiri, di fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit, atau di instansi lembaga kesehatan – Anda selalu bisa membuat sebuah penelitian dan menerbitkannya dalam bentuk buku, jurnal atau majalah. Atau Anda bisa menemukan situasi di mana Anda perlu mencari atau mengutip buku, jurnal dan majalah ilmiah untuk menyelesaikan tugas-tugas Anda. Lanjutkan membaca “Mengenali Pembedaan Buku, Jurnal, Koran dan Majalah Ilmiah”

Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal

Kemarin diperingati sebagai hari AIDS sedunia, dan salah satu target dunia kesehatan di mana pun di belahan bumi ini adalah memutus mata rantai penularan HIV/AIDS ini. Lalu di Indonesia, kementerian kesehatan membuat kampanye kondom yang menjadi pekan kondom nasional. Saya seorang teman mengirim tweet kendaraan kondom yang digunakan untuk kampanye, saya pun cuma bilang “wow”, karena tentu saja untuk kampenye kendaraan itu akan begitu menarik perhatian.

Tapi mari kita kembali, muncul kemudian permasalahan. Gerasakan agresif dari kementerian kesehatan ini pun mengundang banyak pesimisme dan (tentunya) penolakan. Kalau yang menolak kelompok yang sama dari tahun ke tahun, rasanya biasa saja. Tapi jika kemudian banyak kalangan medis ikut menolak, bahkan sampai saya dengar staf kementeriaan sendiri menolak kampanye seperti ini, maka tentu akan membuat saya bertanya-tanya lagi. Lanjutkan membaca “Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal”

Lampu Hemat Energi dan Kesehatan Kulit

Cahaya dalam panjang gelombang tertentu memiliki efek-efek yang berbeda tehadap kesehatan manusia. Anda mungkin pernah mendengarkan saran untuk berjemur rutin di pagi hari untuk mendapatkan sejumlah vitamin D bagi tubuh, atau bagaimana paparan ultraviolet menyebabkan para penduduk di negeri atap dunia lebih rentan terhadap serangan katarak.

Pagi ini, koran kesehatan rutin saya menawarkan sebuah abstrak jurnal publikasi “Photochemistry and Photobiology” yang mengambil judul “The Effects of UV Emission from Compact Fluorescent Light Exposure on Human Dermal Fibroblasts and Keratinocytes In Vitro“. Penelitian yang dimaksud berusaha menemukan apakah lampu floresen yang umum kita kenal sebagai lampu hemat energi memiliki dampak pada kesehatan kulit (spesifik pada fibroblas dan keratinosit secara in vitro). Lanjutkan membaca “Lampu Hemat Energi dan Kesehatan Kulit”

Pelajar dan Pendidik

Tatkala saya membaca salah satu tulisan teman narablog pagi ini, saya ingat pengalaman sekitar satu setengah tahun yang lalu. Nah, daripada saya berbaring terus selama istirahat, saya rasa sedikit menggerakkan jari-jari saya ada manfaatnya.

Ketika itu kami (saya & rekan-rekan lainnya) sedang bertugas di salah satu dari empat bagian besar di rumah sakit pendidikan. Kebetulan waktu itu bagian kedatangan guru besar, profesor di salah satu bidang paling pelik di dunia medis, dia juga dosen tamu dari luar negeri di belahan bumi bagian lainnya, dan khusus datang untuk berbagi ilmu dengan kami.

Tapi kisah ini bukan kisah tentang pendidikan yang ada di dalam ranah formal. Suatu ketika saya berkesempatan mengobrol dengan beliau (dan saya langsung menyadari bahwa Bahasa Inggris saya benar-benar pas-pasan), entah bagaimana ketika itu, akhirnya kami sepakat mengunjungi salah satu sahabat beliau di Jogja, yang juga seorang guru besar dan profesor yang paling dihormati di sekolah kedokteran kami.

Sebelum hari yang disepakati tiba, saya baru menyadari satu dua hal. Hmm…, bagaimana saya akan menjemput beliau? Saya berpikir demikian sambil duduk di beranda rumah dan memandang motor butut saya, arghh… saya membayangkan apa yang terjadi jika menjemput dosen luar biasa dan tamu fakultas dengan motor tua itu.

Dan benar dugaan saya, senior saya marah ketika mendengar tentang ini. Dia bersikeras jika saya menjemput beliau sebaiknya dengan mobil. Ha ha…, saya tertawa miris dalam hati, masa mahasiswa akan bangkrut karena menyewakan mobil untuk dosennya.

Saya memandang sesaat langit biru yang luas, dan menarik napas saya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Saya memiliki udara yang cerah, angin yang sejuk, dan kota yang nyaman – jadi mari berangkat dengan apa adanya, karena kita telah memiliki lebih dari apa yang kita perlukan.

Pada hari yang disepakati, saya dengan seorang teman mendatangi tempat beliau menginap/tinggal selama di Jogja, sebuah home stay yang sederhana di kawasan Universitas Gadjah Mada. Kami membawa dua sepeda motor, maklum, karena dua-duanya juga sepeda motor lansia, jadi satunya adalah cadangan jika timbul masalah di jalan pada yang lainnya.

Beliau tidak terlalu kaget melihat mahasiswanya menjemput dengan sepeda motor, bahkan lebih terlihat seperti antusias, apa mungkin karena di negaranya motor termasuk benda langka yang tidak dapat dilihat setiap hari. Dan kami pun berangkat dengan berboncengan. Terus terang saya jadi gugup, biasanya saya bisa tancap gas dengan tenang, tapi kali ini saya mesti benar-benar cermat dan hati-hati jika tidak ingin ada sengketa antar negara nantinya.

Yang membuat kami kaget adalah, beliau sempat meminta kami mengantarkannya ke wartel terdekat di sepanjang jalan yang kami lalui. Beliau berkata – jika kemampuan penangkapan kami tidak keliru – hendak menelepon ke rumahnya, dan beliau tidak memiliki ponsel atau sejenisnya.

Kami rasa beliau bukannya lupa membawa ponsel atau tidak mampu membeli ponsel. Apalagi mengingat salah satu ponsel cerdas yang sedang naik daun di negeri ini sekarang berasal dari negara beliau. Tapi saya rasa karena beliau memang tidak memerlukannya, dan dalam perhitungan beliau hal itu tidak perlu.

Dalam pikiran saya, jika tidak karena tugas saat ini dan jauh dari keluarga, mungkin di masa depan saya juga tidak akan memerlukan ponsel lagi.

Saya rasa hidup sebagai manusia berarti kita hidup apa adanya, menggunakan apa yang diperlukan dan hanya benar-benar diperlukan. Namun kita seringkali mengambil sesuatu yang di luar kebutuhan kita, dan hanya menjadi keinginan dan hasrat kita yang tak kenal batas ini sebagai landasannya.

Saya bukannya tidak bisa menyewakan mobil untuk menjemput, atau terlalu pelit sehingga hanya menggunakan sepeda motor. Tapi sepeda motor tua itulah kemampuan transportasi saya yang sebenarnya. Saya tidak malu walau mesti datang dengan motor butut, di sisi lain saya juga tidak bangga akan apapun – inilah saya, dan hanya ini yang saya miliki, sisanya sudah disediakan oleh alam, seperti yang saya telah sampaikan sebelumnya, cuaca cukup cerah sehingga saya tidak khawatir akan kehujanan ketika bepergian.

Untungnya saya memiliki guru besar yang pengertian, dan sebenarnya saya pun banyak belajar dari teladan beliau.

Akhirnya kami pun tiba di rumah salah guru besar yang lainnya, dan mereka sama-sama sederhananya, rumah yang sederhana, dan suasana yang sederhana. Katanya yang namanya guru besar sudah tidak mengejar apapun lagi, sudah tidak mengejar gelar akademis, sudah tidak mengejar jabatan, mereka hanya tinggal dalam kesederhanaan hidup dan membagi ilmunya, dan bagi mereka semua pendidikan itu sama mulianya. Dan mereka memberikan teladan bagi siapa pun di sekitarnya.

Dan saya rasa, seorang murid mesti menjadi cukup sederhana juga untuk menerima teladan itu.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

An Interview Above My Paint of Letters

Akhirnya…, setelah dua hari menunggu, embargo “internet” yang kuhadapi dicabut juga tanpa banyak upaya diplomasi yang bermakna. Jadi hibernasi blog ini dapat dicabut juga. Nah, kugunakan kesempatan ini untuk menulis kembali sebuah perbincangan dengan orang yang telah menulis banyak di blog ini (ah…, kurasa agak aneh juga menulis ini, tapi tak apalah) sekaligus menjawab beberapa pertanyaan yang Mas Dani di tulisanku yang sebelumnya tentang tulisan & perasaan. Lanjutkan membaca “An Interview Above My Paint of Letters”

Kisah Tragis Koas Narsis

Ini adalah si Adjie, mari kuceritakan kembali hari-hari terakhir stase mata di RSUD Cilacap seminggu yang lalu. Walau hari itu hari pendek, seperti biasa kami ikut dalam apel pagi sekitar jam 7.20 pagi, dan ini apel terakhir yang kami ikuti, kami tidak tahu kalau hari Sabtu ternyata apel pagi dimulai pukul 07.00. Selesai apel pagi, ternyata poliklinik sudah lumayan ada beberapa pasien yang mengantre lengkap dengan rekam medisnya. Kami memutuskan menunda sarapan dan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, sehingga nanti bisa langsung diteruskan pada staf (yang pada saat itu dr. Sutama Sp.M). Hmm…, ternyata pasien bertambah banyak, akhirnya berlanjut bersama kegiatan poliklinik hingga selesai sekitar tengah hari. Kemudian kami bercakap-cakap dengan para perawat senior yang memang belum meninggalkan poliklinik karena mereka harus menyelesaikan administrasi terkait kegiatan poliklinik hari tersebut. Mereka berbincang tentang berbagai karakter dokter muda yang pernah bertugas di RSUD Cilacap sebelumnya, tentu beberapa aku kenal di antara mereka, seperti si Inu yang unik. Kemudian kulihat si Adjie sedang membuka-buka komputer di meja kerja, kuperhatikan ia sedang membuka Google Earth dan mencari-cari sesuatu di dalam peta kota Cilacap. Aku tahu yang ia cari adalah sebuah rumah mewah menyerupai Capitol House di negeri paman sam sana. Mungkin ia dengar dari si Niar tentang lokasi aneh itu, sehingga ia menjadi begitu antusias melihatnya, hah…, namun aku yang ga begitu pedulian sih nyantai saja. Karena saking lelahnya, aku tidak berpikir lagi untuk pergi makan siang, aku pulang ke “paviliun” yang disediakan dan dengan begitu cepatnya sudah…

Tiba-tiba ada suara memanggilku, dan mengajakku jalan keluar mencari makan. Aku terbangun dan melihat jam di arlojiku, wah sudah jam 6 sore lebih. Sepertinya daerah sekitar pun sudah gelap. Bergegas mandi karena hari sudah larut, dalam pikiranku aku merasa lebih baik karena tidak makan semenjak pagi dan setelah istirahat, mungkin sudah terjadi detoksifikasi dalam tubuhku, makanan di sini terlalu yang kebanyakan lauk membuatku agak “korosi”, walau aku tak tahu pasti bagaimana hal itu terjadi. Sejam kemudian, kami berdua meninggalkan rumah, tampaknya dokter muda yang sedang stase bedah belum juga pulang. Kami memutuskan untuk makan kakap saus tiram di warung Pak Evi di depan seberang rumah sakit, mungkin satu kakap akan cukup untuk berdua (ini juga menghemat dana karena harganya yang mahal). Gila…! kami menunggu 45 menit dan pesanan kami belum juga datang, padahal hanya memasak satu ekor kakap, wah… lelah juga nih menunggu, kalau begini aku sih ingin pindah tempat makan saja, ini lebih baik, pemilik warung juga tidak memberitahu apapun, entah dia lupa atau bagaimana, sementara tamu juga tidak begitu banyak, selain kami ada 6 orang lagi, itu pun sudah hampir selesai dengan santap malam mereka. Si Adjie sudah tampak sangat kesal. Dia kuminta mengecek ke dapur, dan kembali dengan mengatakan bahwa menu kami baru saja disiapkan… (ha..ha.., dalam pikirku terus hampir sejam dari tadi ngapain saja?) Anehnya si Adjie juga ga membatalkan pesanan, kalau aku sih sudah kubatalkan. Aku tidak bisa berkompromi menghadapi hal-hal yang tidak becus macam ini, tidak peduli jika rumah makan memiliki menu yang lezat, namun pelayanan tamu sungguh sangat mengecewakan. Saat kuprotes pun mereka tidak menunjukkan wajah bersalah atau menyesal atau pun meminta maaf, wah-wah, ini benar-benar sisi lain yang buruk dari orang-orang Cilacap kupikir. Jika kuberikan rating warung makan seafood Pak Evi di depan RSUD Cilacap mendapat nilai E minus.

Kamudian, jam 21.30, selesai makan malam, si Adjie masih terlihat kesal. Ia mau jalan-jalan katanya, karena aku merasa tidak enak hati (he he sudah menyarankan tempat makan yang tidak berkualitas), oke…, aku pun mau menemaninya jalan-jalan. Namun sudah malam, kota kecil Cilacap tidak tampak berbeda dengan Yogyakarta di malam hari, namun entah mengapa aku merasakan kehidupan yang “mati” di kota ini. Aku bertanya pada si Adjie ia hendak ke mana, kemudian ia mengeluarkan handphone barunya.  Aku melihat sebuah map kecil, oh…, rupanya ia menggunakan GPS untuk jalan-jalan malam (wong edan). Aku membuntutinya dari belakang, ia senang sekali karena sudah masukkan koordinat bujur dan lintang rumah mewah yang mau ia kunjungi dari GoogleEarth. Sesekali ia memastikan sambil tersenyum-senyum kecil ke dalam GPS di mana posisi kami sekarang (wuih…), akhirnya setelah dua puluh menitan berjalan kaki di negeri yang asing, kami berbelok di Jalan Sawo, belokan terakhir (sebenarnya aku lebih menduga itu sebuah gang – kok maksa sekali ya dibilang jalan – seperti Gang Kinanti dan Sitisonya di daerah Barek – Kampus UGM). Si Adjie sudah mulai tanpa sadar langkah kakinya menjinjit kesenangan, ia melihat bangunan besar yang megah (walau dalam kegelapan cuma hitam legam), ia akhirnya dapat mewujudkan mimpinya berfoto di depan rumah yang mewah itu, ia segera melirik ke handphone canggihnya, heh…, dia tampaknya terperanjat, rupanya benda yang sudah terseok-seok karena menggunakan GPS dari tadi sudah kehabisan baterainya…, dengan wajah lesu ia beranjak… akhirnya ia tak bisa memperoleh foto dirinya di depan Capitol House versi kecil, he he…, malangnya nasibmu. Seharusnya foto itu menjadi seperti ini jika ia berhasil. Yup, berkuranglah satu kesempatannya menambah foto yang bisa dipandanginya di hadapan monitor komputer.

Pemburu Batu Pulasan Laut

Liburan yang lalu saya ketika mengantar ibu untuk melihat kegiatan posyandu terpadu (dalam hal ini melibatkan kesehatan ibu hamil, anak dan manula), mungkin acara itu berakhir dengan baik, saya juga sempat “tanpa sengaja” mendengar bahwa pemda tidak sedikit memberikan anggaran agar acara ini dapat terselenggara dengan baik. Ada acara balita sehat, pemeriksaan rutin ibu hamil, dan senam manula, serta pengadaan makanan bergizi yang dilakukan pihak puskesmas dibantu oleh ibu-ibu anggota PKK. Lokasinya berada di Desa Cukcukan, yang merupakan salah satu desa tepian pantai di Kecamatan Gianyar. Yang aneh, mungkin karena tidak terbiasa mendengar, adalah sebuah celetuk yang tak sengaja tertangkap oleh pendengaran saya. Karena acara ini merupakan rangkaian penutupan, para manula tampak tertawa senang ketika salah satu dari mereka berkata, “Yah…, sekarang bisa mencari batu lagi”.

Saat itu saya belum memahami, apakah yang mereka perbincangkan, hingga hari di mana saya mengantarkan ibu ke acara perpisahan akhir tahun Dinkes Kab. Gianyar di Pantai Masceti, bersebelahan dengan lokasi desa yang saya sampaikan sebelumnya. Pagi itu antara pukul 8 dan 9, saya bersiap dengan Kodak EasyShare di tangan, sesuai dengan instruksi untuk mengambil setiap momen yang unik dan menarik. Langkah kaki saya tak sengaja membawa menuju pinggiran pantai yang lebih rendah dari batasan yang telah ditinggikan dengan bentangan tembok beton (abrasi di daerah ini juga cukup terkenal ganas). Aku cukup terkejut melihat jejeran manusia usia setengah baya ke atas saling tumpang tindih bayangannya di hantam mentari pagi, sepanjang pantai yang tak cukup panjang itu, puluhan dari mereka berjongkok seakan seperti anak-anak yang sedang asyik bermain-main dengan pasir.

Tampak tangan-tangan yang telah cekatan mengambil batu-batu hitam oval mengkilap dengan cepat dan memasukkannya ke ember-ember sedang, bergerak perlahan dalam hembusan angin yang tak kenal henti, membawa serta bulir air yang telah pecah oleh ombak yang menghempaskannya ke pinggiran pantai. Tampaknya mereka mengumpulkan batu-batu itu untuk dijual, karena batu-batu yang telah rapi itu oleh penghalusan secara alami di antara arus ombak dan pasir bisa berarti tambahan ekonomi bagi keluarga. Aku melihat tampaknya mereka begitu tenggelam tidak oleh lautan, namun oleh apa yang diberikan lautan sehingga mereka dapat hidup, bukan dari apa yang hidup di lautan, namun bentuk kehidupan yang lebih diam dan lebih terbentuklah yang diberikan.

Hmm…, aku berpikir…, mungkin daripada senam setiap pagi, aku kini mengerti jika mereka lebih menyukai mencari batu pulasan laut ini, karena mereka dapat hidup olehnya.

Home Sweet Home

Mari kucoba untuk kuhitung-hitung kembali…, Hamm…, nampaknya sudah lebih dari satu tahun aku tidak kembali ke rumah…. Entahlah, pendidikanku sudah lebih dari lima tahun membuatku sangat jarang berada di rumah dan halaman yang menjadi tempatku bermain semenjak kecil. Dan itu waktu yang cukup untuk membuat baik interior maupun eksterior suatu tempat tinggal untuk berubah, sayangnya bukan hal-hal yang besar namun kecil ini yang akan menyentuh dalam setiap jejak kenangan yang membawa sebuah pikiran dan ingatan dengan segala keterbatasannya, untuk dalam sebuah kata yang dibuat oleh segenap kekurangan si manusia, akan apa yang kita sebut “rumah”.

Bentuknya mungkin berubah, perasaan yang menyertainya mungkin juga ikut berubah, namun manusia memiliki sebuah sudut lemah yang teramat kuat, yang dikenal sebagai “ikatan”, bak seuntai benang tipis yang akan bergetar ketika ujungnya tersentuh. Getaran ini mungkin begitu familiar, namun di sisi lain juga begitu asing, ia mungkin bagian dari ingatan yang tak kentara atau ia bukan dari apa yang dapat kita persepsikan. Namun jelas, bagi mereka yang juga pernah mengalaminya sehingga begitu saja menempatkan mereka ke dalam kata sederhana seperti de’javu, hmm…, sayangnya kata-kata apa pun itu, hanya akan menenggelamkan getaran ini.

Bukan rerumputan atau pepohonan yang menghijau, bukan lapukan dari langit-langit atau tembok yang tua, bukan oleh buramnya kaca-kaca jendela yang terhiasi oleh banyak goresan kecil, seperti aku mungkin engkau tak dapat memandang detail ini satu per satu, namun seketika…, ya, seketika, saat itu jua, ketika semua indera bereaksi menangkap getaran kecil ini, seolah sang jiwa sedikit tersentak, dan barulah si perhatian mulai diberikan pada detail-detail …, walau hanya dalam pandangan, sentuhan atau pun pengecapan, pembauan…. dan engkau akan tersenyum…, karena yang manis ini bukan madu kehidupan, yang merdu ini bukan kidung keagungan, yang lembut ini bukan terpaan kemesraan, ia sungguh bukan apa-apa dalam kesederhanaan, namun ialah segalanya.

Dan kini …, aku kembali ke rumahku…, setidaknya itulah dalam kenangku.