KDE Plasma 5.8 LTS

Salah satu hal yang menarik dari KDE bagi saya karena dia memiliki desktop yang cantik dan memikat, fitur unik dan ramah pengguna, serta dukungan komunitas yang besar. Sayangnya saya bukan pengguna KDE, padahal saya cukup tertarik dengan plasma dekstop yang ditawarkannya.

Saat saya melihat iklan untuk KDE Plasma 5.8 seri LTS yang akan memiliki dukungan panjang. Fitur yang ditawarkan memang menggiurkan.

Lanjutkan membaca “KDE Plasma 5.8 LTS”

Rilis KaOS 2014.12

KaOS adalah sistem operasi berbasis Arch yang mengutamakan dekstop KDE. Sehingga bagi penggemar Arch sekaligus menyukai kestabilan desktop KDE. Saya walau belum mencoba, tapi dari beberapa tampilan antarmuka yang dicuplikan selama ini mendapatkan kesan bahwa KaOS memiliki tampilan sederhana yang modern. Lanjutkan membaca “Rilis KaOS 2014.12”

Selamat Datang openSUSE 13.2

Petang ini, lini masa saya dipenuhi oleh pelbagai warna hijau toska dan muda. Sepertinya Slyterin sedang memenangkan house cup dalam serial Harry Potter. Tapi ini bukan tentang itu, para pengguna sedang menyambut kedatangan Green Geeko terbaru, openSUSE 13.2. Anda pengguna Linux pasti tidak akan pernah melewatkan nama salah satu distribusi yang memiliki sejarah panjang ini, dan memiliki banyak penggemar di pelbagai belahan duni, termasuk saya di sini. Lanjutkan membaca “Selamat Datang openSUSE 13.2”

Kombinasi Helium dan Nitrux pada KDE openSUSE

Saya merasa sudah cukup dengan kombinasi warna gelap dan monokromatik yang saya gunakan sebelumnya pada dekstop KDE openSUSE. Sekarang ingin sesuatu yang berwarna lebih cerah; pekerjaan dengan waktu yang meningkat di depan komputer membuat warna-warna cerah bisa membantu membuat betah – setidaknya bagi saya.

Saya mencoba mengeksplorasi sejumlah setelan dan eye candy untuk KDE, sampai akhirnya tiba pada kombinasi antara Helium dan Nitrux yang saya terapkan pada dekstop yang saya gunakan. Lanjutkan membaca “Kombinasi Helium dan Nitrux pada KDE openSUSE”

KDE openSUSE dan Selera Pribadi

Pasca memasang openSUSE 13.1 versi KDE 64-bit, polesan yang dibawa memang sudah apik, seperti “kue yang lembut”; hanya saja saya sendiri memiliki selera pribadi sehingga bisa betah menggunakannya. Saya mengubah beberapa setelan yang sekiranya bisa memenuhi apa yang ingin saya “lihat” sebagai tampilan desktop saya, dan tentu saja ini sangat pribadi sifatnya. Anda dan saya mungkin memiliki selera yang berbeda.

Tema yang saya ambil saat ini lebih pada tema yang “gelap” atau “dark”, karena efek yang baik biasanya lebih mudah tampak jika tema dibuat gelap. Seperti teater, lebih menyenangkan menonton pada kondisi gelap. Hanya saja untuk urusan membaca teks, mengetik dan sebagainya, tentu saja tetap dikerjakan pada ruang putih. Lanjutkan membaca “KDE openSUSE dan Selera Pribadi”

openSUSE 13.1 “Bottle” KDE

Saya mempertahankan Ubuntu cukup lama pada netbook ASUS X201E saya, karena memang pasangan pabrikannya adalah distribusi Linux yang satu itu. Tapi saya sudah malas berkilah dengan Unity, meskipun hal lainnya berjalan seperti yang saya harapkan. Saya berpikir bahwa saat ini saya memerlukan sebuah sistem operasi yang cukup asyik dan berdaya guna untuk membuat saya tetap betah bekerja di bawah bendera Linux.

Saya pun kembali melirik openSUSE yang (dulu) biasa menemani saya, dan kali ini “nekat” mencoba berpasangan dengan KDE yang terkenal boros dengan sumber daya. Tapi setelah memasang openSUSE 13.1 Bottle edisi KDE, saya malah menemukan disto ini cukup ringan pada netbook berdaya pacu Intel Celeron dual-core 1,10GHz dengan 4 GB RAM DDR3. Lanjutkan membaca “openSUSE 13.1 “Bottle” KDE”

Korora 20 Peach Dirilis

Proyek Korora mungkin tidak banyak dikenal di antara pengguna Linux, tapi penjelasannya cukup mudah. Jika Anda membayangkan Linux Mint yang diturunkan dari Ubuntu, maka demikian juga Korora diturunkan dari Fedora. Korora 20 memiliki kode nama Peach, yang diturunkan dari Fedora 20.

Oleh karena itu, apa yang Anda dapatkan di Fedora, juga akan terdapat pada Korora. Apalagi hampir sebagian besar paketnya masih merupakan aliran hilir, dan hanya sekitar 2% yang merupakan milik Korora sendiri. Ya, dia masih merupakan Fedora tentu saja, sehingga bisa katakan merupakan salah satu Fedora Remix. Korora mungkin hanya sedikit didesain agar mudah digunakan oleh pengguna Linux pemula. Lanjutkan membaca “Korora 20 Peach Dirilis”

OpenSUSE 12.3 Dirilis!

Saya tidak tahu mengapa, namun sejak beberapa prarilis yang disebarkan, tampaknya edisi ini cukup memikat saya. Sayangnya saya harus mengakui bahwa mengunduh dalam jumlah besar bukanlah pilihan bagi yang saat ini berada di wilayah pinggiran. Sebenarnya saya ingin sekali mencicipi sistem operasi openSUSE 12.3 ini, tapi untuk saat ini mari saya perkenalkan saja sebagai catatan kecil.

Ada beberapa poin yang menarik pada openSUSE 12.3 (entah apa kode namanya kali ini). Misalnya desktop KDE 4.10 yang merupakan salah satu yang paling cantik saat ini, pun demikian saya masih memilih GNOME jika seandainya memasang nanti. Lalu ada desktop baru E17, seperti apa ini? Saya sendiri juga penasaran. Lanjutkan membaca “OpenSUSE 12.3 Dirilis!”

Rilis Linux IGOS Nusantara 8

Pengguna Linux di tanah air kini boleh bersorak gembira, salah satu distribusi Linux yang diracik kreativitas lokal kini sudah hadir kembali versi teranyar-nya dengan sejumlah sentuhan dan kreativitas yang tak kalah menawan dibandingkan distribusi Linux buatan luar. IGOS Nusantara 8 adalah versi terbaru dari proyek Indonesia Go Open Source oleh LIPI.

Oleh karena IGOS Nusantara 8 adalah racian lokal, maka selera lokal tentu saja mendapat usungan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari kompatibilitas dengan perangkat yang beredar di Indonesia, termasuk modem dan pencetak (printer). Sehingga bagi Anda yang sudah terbiasa menggunakan Linux maupun yang baru pertama kali menggunakan Linux akan dibuat terkesima olehnya. Lanjutkan membaca “Rilis Linux IGOS Nusantara 8”