Jadi Pembicara Dadakan

Awal pekan yang lalu saya menerima tawaran menjadi pembicara dalam sebuah acara bincang-bincang seputar kesehatan, donor darah dan religi yang diadakan oleh adik-adik dari KMHD UGM. Setelah saya pastikan tidak ada jadwal lain yang berbenturan, maka saya pun menyanggupinya. Materi yang saya bagikan mengambil judul, “Donor Darah dalam Pandangan Hindu”, saya usahakan berada dalam tema yang bisa diterima oleh umum.

Jika saya mengingat kembali – zaman mahasiswa tempo dulu, saya mungkin akan menolak tawaran seperti ini. Tapi ketika saya merasa sudah tidak lagi memiliki “kemewahan” seorang mahasiswa, maka saya memilih melawan kemalasan saya untuk tetap bisa berbagi dari sedikit yang saya miliki. Saya sendiri heran, kok bisanya saya duduk tenang di kursi pembicara, padahal narasumber lainnya adalah dosen saya sendiri, seorang guru besar di bidang kedokteran dan obat-obatan herbal. Lanjutkan membaca “Jadi Pembicara Dadakan”

Di Bawah Naungan Langit Gemerlap

Kaki-kaki kecil berjinjit menyusur antara malam dan hiruk pikuk penduduk kota yang masih bertahan dengan pakaian tak begitu tebal, meskipun udara tengah malam telah menusuk jauh sebelum cahaya-cahaya gemerlap menghiasi langit dan meninggalkan asap dengan aroma yang lebih menusuk lagi.

Seluruh jalanan kota ditutup asap putih yang mengambang seakan mengajak penduduk turut menari merayakan pergantian tahun. Dan langit begitu riuh dengan suara-suara letupan hingga ledakan.

Lanjutkan membaca “Di Bawah Naungan Langit Gemerlap”

Menghadiri Mahasabha Pasemetonan Sri Karang Buncing

Pagi ini saya berkesempatan mewakili menghadiri mahasabha (rapat besar) pasemetonan (persaudaraan) Sri Karang Buncing bertempat di Balai Budaya Gianyar. Kali ini yang diangkat sebagai topik utama adalah kepanutan akan tokoh Kebo Iwo (Kebo Mayura) yang berada pada silsilah Karang Buncing. Jika menelusuri kembali dinasti raja-raja Bali kuno, maka Kebo Iwo adalah salah satu tokoh sentral sebagai mahapatih raja Bali pada masa itu. Mahapatih Majapahit pada masa itu, Gadjah Mada, tidak dapat menaklukan Bali sebelum membunuh Kebo Iwo di tanah Jawa dengan siasatnya. Konon Kebo Iwo telah tahu bahwa dirinya akan terbunuh oleh siasat Gadjah Mada sebelum berangkat ke Majapahit, namun untuk kesetiaan pada rajanya, dia tetap berangkat.

Lanjutkan membaca “Menghadiri Mahasabha Pasemetonan Sri Karang Buncing”

Melancong Bersama BaleBengong

Ini adalah undangan melancong bersama BaleBengong, sebuah blog jurnalisme warga masyarakat Bali. Hanya tersedia undangan bagi 20 orang, ada yang tertarik untuk mengikuti?

Melali (melancong) bareng ini akan diadakan pada Minggu, 10 April 2011. Pukul 07.00 – 18.00 WITA di sekitar Danau Batur, Kintamani.

Panitia menyediakan transportasi, makan pagi, makan siang, dan snack. Semuanya gratis! Panitia akan memberikan pilihan spot yang menarik untuk dieksplorasi. Dari sini kamu bisa membuat tulisan, foto, video pendek, karya sastra, dan lainnya…

Lanjutkan membaca “Melancong Bersama BaleBengong”

Beberapa Hal Di Akhir Pekan

Sementara ini saya masih disibukkan dengan menyelesaikan paper saya mengenai endokrinologi pada kehamilan. Dan masih bergumam dengan banyak sekali bahan yang belum bisa saya bagi dengan merata, sehingga saya tidak bisa banyak menulis lagi dan beraktivitas di Internet. Tentu saja ada hal-hal lain yang tidak bisa saya selesaikan dengan segera, padahal sudah dikejar target pada April ini.

Hari-hari belakangan ini dipenuhi dengan cucian yang belum diurus, ban motor yang masih bocor, dan seduhan bergilir antara secangkir kopi hangat pada siang hari & segelas cokelat hangat pada malam hari. Sering kali bangun kesiangan karena sudah teramat lelah pada malam harinya.

Lanjutkan membaca “Beberapa Hal Di Akhir Pekan”

5 Jam Di Belakang Kemudi

Sudah lama juga tidak berada di belakang kemudi (seperti merasa pernah saja), sehingga beberapa hari ini saya diberi kesempatan mencoba mengemudi di beberapa medan yang berbeda. Ternyata mobil yang tidak menggunakan transmisi otomatis sangat beda sekali, padahal saya biasanya selalu pakai transmisi otomatis jika berkeliaran di medan “need for speed” (gyah…, maksa deh), dan tentu saja simulasi dan latihan aslinya berbeda.

Saya tidak bermasalah jika menggunakan sepeda motor, saya bisa dengan kecepatan super rendah hingga menghabiskan semua putaran gas dengan motor tua saya – dan percayalah walau begitu kecepatan bukanlah kecepatan untuk arena balapan. Biasa di jalanan besar hingga ke pematang sawah, dari medan mulus, hingga tracking ke perbukitan terjal. Tapi mobil adalah sesuatu yang berbeda.

Dimensi mobil tidak sama dengan sepeda motor. Jika sepeda motor bisa diperkirakan mengambil ruang seluas jangkauan tangan, maka mobil bisa mengambil ruang seluas jangkauan pandang. Jika motor bisa menghindari rintangan di kiri jalan dengan tetap berada di lajur kiri, maka mobil harus terbiasa menghindar dengan memanfaatkan lajur kanan. Dan belum lagi, sensasi merasa akan menabrak kendaraan di lajur kanan membuat seakan ingin mengelak ke kiri terus menerus (tipe orang preventif).

Dan satu lagi yang disebut “kopling” (sial, kenapa sistem ini harus ada). Yang membuat mobil bertransmisi manual lebih perlu banyak jam terbang untuk dikendalikan dengan baik. Karena orang tidak bisa selalu setengah kopling sepanjang jalan.

Ini adalah sebuah kelas mengemudi singkat selama 5 jam. Beberapa dibagi ke dalam beberapa “challenges”, mengemudi di tengah kota dengan lalu lintas normal, mengemudi di jalanan pedesaan berjalur kecil dan berkelak-kelok, mengemudi di perbukitan dengan tanjakan dan turunan tajam, mengemudi di kepadatan lalu lintas tinggi. Berbekal moto, “trust your instinct”, ini bisa menjadi kelas mengemudi yang berat – ah, untung saja Gianyar memiliki pemandangan alam yang indah, sehingga stres tidak akan hinggap walau ada melintasi medan yang berat bagi orang yang lama tidak berada di belakang kemudi, tentu saja dalam beberapa kesempatan juga hingga menikmati alam di kabupaten tetangga, seperti Klungkung dan Bangli – rasanya seperti kelas mengemudi sambil mencuci mata saja.

Mungkin karena saya sudah ubanan, sehingga insting sudah tidak setajam saat masa muda dulu. Bahkan ketika saya kecil – udah ndak ingat lagi – saya biasa mengendalikan & menunggangi hewan liar, berikut contohnya…

Bahkan, tidak hanya menunggangi hewan liar, waktu kecil saya juga terbiasa mengendarai kendaraan berteknologi tinggi, termasuk menjadi pilot pesawat tempur seperti ini…

Ah…, masih banyak lagi kenangan waktu kecil dengan untuk melenyapkan rasa lelah sehabis mengemudi. Tapi ya sudahlah, halaman ini akan menjadi terlalu panjang jika dicoba dimuat di sini.

Siaran Terakhir BBC Bersama Sanggar Anak Tangguh

Kemarin malam saya mengikuti acara siaran terakhir BBC (Bali Blogger Community) di Radio BaliFM (98,9 FM) berlokasi di lantai dua sebuah ruko di belakang terminal Batubulan – Gianyar. Pada awalnya saya hanya ingin ikut jadi penyemarak saja, maklum karena dari kecil memang tidak suka bicara di depan publik (bukan tipe public speaker), tapi di milis tiba-tiba beberapa hari sebelumnya, ajudan komandan BBC (Mbok Lohde) memberikan “job description” yang notabene ada nama saya di situ. Tentu saja kelabakan, hingga saya hanya bisa menulis kemarin “Internet Sehat Untuk Anak” buat persiapan saja – karena materi ini memang bukan santapan seorang narablog newbie seperti saya.

Lanjutkan membaca “Siaran Terakhir BBC Bersama Sanggar Anak Tangguh”

Another Night’s Faces

Cuaca Yogyakarta sangat panas, saya sering kali susah mendapatkan tidur yang lelap di malam hari, mudah berkeringat di malam hari karena cuaca seperti ini bukanlah hal yang mudah. Kadang saya terbangun lagi setelah tertidur beberapa jam, dan kemudian susah tidur kembali. Tapi kali ini cerita saya bukan masalah susahnya tidur.

Malam beberapa hari yang lalu, saya terbangun dari tidur. Rupanya tetangga saya juga masih asyik menonton pertandingan bola di kamar sebelah. Karena terbangun dengan perut kelaparan dan kehausan, kemudian saya pergi ke burjo tidak jauh dari rumah, kebetulan Arie juga ikut serta setelah tampaknya pertandingan bola masih belum menunjukkan perkembangan yang menarik di lapangan hijau.

Lanjutkan membaca “Another Night’s Faces”

Mencari Palangkiran

Hari Minggu kemarin ketika di tengah-tengah kegiatanku bersih-bersih kamar sebagaimana yang kuceritakan pada “Make Over The Room”, aku menerima telepon dari adik kelas yang baru saja mulai menetap di Yogyakarta gua menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.

Saat kuangkat dia berbicara sopan, menanyakan apakah aku sedang sibuk atau tidak. Sepertinya dia perlu bantuan, jadi kuminta agar dia tidak segan. Kemudian bertanya, apakah aku tahu di mana di Yogya seseorang bisa mendapatkan “Palangkiran”? (Baca pelangkiran, “e” seperti pada kata peta).

Hah…!? Aku pun terhenyak dan kaget, seumur-umur aku di Jogja tidak pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Hah…, maklum kalau atheis jadi ga pedulian dengan detail-detail seperti itu. Aku memintanya segera menunggu dan bertanya pada tetangga sebelahnya. Dia tersentak sama kagetnya, dan bertanya untuk apa mencari yang gituan, aih…aih…, aku lupa ternyata dia tak kalah atheisnya dibandingkan diriku.

Dari pada membuat menunggu, aku bicara kembali pada adik kelas itu. Mungkin aku tahu beberapa tempat, namun tidak yakin apakah bisa ditemukan di tempat-tempat itu. Namun sepertinya adik kelas yang ini, tidak mudah putus asa, dia ingin mencoba mencarinya, namun karena belum tahu arah di Yogya, aku pun diminta tolong untuk mengantarnya. Setelah kusanggupi, ia pun berangkat menuju rumahku (baca: kost). Aku hanya bisa menduga beberapa tempat yang ada.

Segera setelah itu aku menuju kamar senior-ku di bangunan seberang, sudah dua kali dia menetap di Yogya, setidaknya tidak mungkin tahu. Aku pun bertanya padanya. Dia pun kaget mendengar aku menanyakannya, koq tumbennya aku mengurus hal-hal seperti itu, dia bilang membawa Palangkiran sendiri dari Bali, dan tidak tahu harus mencari ke mana.

Hah…, namun sepertinya aku tahu harus bertanya ke mana. Aku pun menelepon salah satu kolegaku yang ada di Bali. Kini gilirannya yang terkaget, seperti sebuah syok, mungkin aku adalah orang terakhir di planet yang mungkin meneleponnya dan menanyakan di mana bisa mencari Palangkiran. Dia bilang mengapa tidak menggunakan yang ia tinggalkan di kamarnya, wah…! Kini giliranku yang kaget, ngapain dia meninggalkan benda itu di kamarnya saat sudah tidak ditempati lagi, tanyaku padanya.

Namun dia memberiku beberapa refrensi seperti Warung Bu Komang dan Warung Dewata yang kebetulan memang tidak jauh dari Pura di Bangutapan. Lha, tapi itu semua kan nama rumah makan, ga salah apa. Ya, tapi dia bilang coba saja untuk ditemukan. Weleh-weleh, itu kan separuh mengitari Yogya, satu di lingkar Utara yang lain di lingkar Selatan.

Setelah adik kelas pada datang, aku mengantarnya ke Warung Bali di dekat Fakultas Kedokteran Gigi UGM, karena di sanalah tebakan pertama-ku tempat yang paling dekat yang mungkin ada. Ada angin baik berhembus, mereka sepertinya juga mendapatkan refrensi yang sama.

Kami pun menuju Warung Bali, seperti tidak aneh mereka tidak dapat menemukan lokasinya sendiri walau sudah mendapatkan refrensinya, bagaimana tidak, di depannya cukup sering menjadi tempat mojok bus-bus kota milik pemilik warung (begitulah yang kudengar).

Untungnya di sana ada dua buah yang tersisa, dan mereka pun mengambil keduanya. Pas sekali, aku sendiri lega tidak perlu berputar jauh untuk menemani mencari, karena kamarku menunggu untuk dibereskan.

Saat membayar mereka bertanya padaku, “Bli kalau mencari banten di mana ya?”
Gubrag…, sekali lagi aku syok berat. Di mana ya orang mencari banten? Aku tidak pernah berususan dengan yang kaya gituan. Dengan jujur aku minta maaf, aku tidak tahu hal yang seperti itu, biasanya kalau pun ada, dibuatkan oleh temen-temen yang lain (padahal itu pun jumlahnya masih bisa dihitung jari sebelah tangan selama enam tahun di Yogya).

Mereka terlihat kaget, kemudian menunjuk ke motorku, “Itu motor yang dari Bali kan Bli?”, aku mengiyakannya, “Kalau gitu ga pernah dibantenin…”
Gubrag lagi…, tiga kali syok dalam sehari. Ha ha, aku pun menjawab paling hanya kucuci saja. Ternyata sehari sebelumnya adalah Tumpek Landep, pantas saja mereka mencoba mencari banten untuk motor baru mereka.

Kemudian mereka bertanya padaku lagi, mungkin mereka sudah curiga, “Jangan-jangan Bli jarang ke Pura ya?”
Ziiinggg…., lengkap sudah catur panyupatan suksma hari ini pikirku, aku tertawa sembari menjawab, “Bukan jarang tapi memang tidak pernah.”

Mereka hanya senyum-senyum saja. Akhirnya selesai juga membantu orang mencari Palangkiran, ha ha, ada-ada saja hari ini. Saat aku pulang kuceritakan pada tetanggaku, dia pun tertawa terbahak-bahak.

Tag Technorati: {grup-tag}Palangkiran,Yogyakarta,Tumpek Landep,Warung.