Pelbagai Macam Pasien

Dokter tidak membeda-bedakan pasien, setidaknya demikian selayaknya. Pun demikian dokter harus bisa melakukan penilaian profil pasien atau keluarga pasien dengan cepat, perbedaan karakter dan latar belakang pasien akan sangat menentukan keberhasilan hubungan antara dokter dan pasien, yang pada akhirnya diharapkan mencapai tujuan kedua belah pihak dalam kesehatan.

Di lapangan, saya bisa menemukan banyak sekali jenis pasien; dan masing-masing akan perlu pendekatan komunikasi, informasi dan edukasi yang berbeda-beda. Jenis pasien yang mudah diajak bekerja sama, berpendidikan baik, dan memiliki kesadaran dan kepedulian yang penuh akan kesehatan lebih memudahkan prospek pengobatan; sementara sebaliknya – tentu saja akan bisa sangat berbeda. Continue reading →

Iklan

Penebangan Hutan dan Ancaman Kepunahan Harimau Sumatera

Sudah lama bergulir isu tentang pembalakan hutan secara besar-besaran bahkan oleh perusahaan yang memiliki izin tanpa mengindahkan kesinambungan tatanan ekologi hutan. Kali ini Greenpeace menenggarai APP (Asia Pulp & Paper) sebagai salah satu biang keladinya. Di satu sisi manusia (kita) memerlukan kertas untuk kebutuhan sehari-hari, namun di sisi lain – percayalah! – kita lebih memerlukan hutan daripada kertas secara umum. Umat manusia tidak akan dapat bertahan hidup jika hutan musnah. Hilangnya hutan sama memprihatinkannya dengan ancaman bencana dari Kutub Utara.

Hari ini saya mendapatkan surat/informasi dari Greenpeace tentang investigasi mereka akan masalah ini. Dan sebenarnya berita ini sudah tersebar luas sebelumnya. Continue reading →

Lingkaran Greenpeace

Sekitar seminggu yang lalu saya mendapatkan sebuah telepon dari Jakarta (jika saya tidak salah mengingat kode areanya), alhasil dari percakapan singkat itu, saya memberikan izin guna transaksi auto-debit dari rekening saya sebagai bagian dari persetujuan dan komitmen saya untuk mendukung aktivitas Greenpeace di Indonesia.

Saya mungkin memang belum berpenghasilan, tapi jika menyisihkan sedikit anggaran dan tabungan saya untuk sesuatu yang saya harapkan bisa memberikan arah perubahan pada bumi yang saya tempati, mengapa tidak? Saya tidak berharap banyak, setidaknya untuk langit biru yang masih memiliki udara bersih, dan bumi yang masih mengalirkan air yang jernih.

Continue reading →

Akses Universal dan Hak Asasi

Setiap 1 Desember, warga dunia memperingati Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day). Hanya guna mengingatkan kita bahwa AIDS belumlah merupakan masalah yang terselesaikan di seluruh dunia saat ini. Menurut perkiraan UNAIDS, kini ada sekitar 33,3 juta orang hidup dengan HIV, termasuk 2,5 juta anak-anak. Selama tahun 2009, 2,6 juta orang menjadi penderita yang baru terinfeksi, dan diperkirakan 1,8 juta orang meninggal karena AIDS.

Tema Hari AIDS Sedunia kali ini adalah “Akses Universal dan Hak Asasi” (Universal Access and Human  Rights). Yang bermakna kita harus memberikan kesempatan akses universal terhadap pencegahan, perawatan dan pengobatan universal terhadap penderita HIV dan AIDS sebagai bagian dari pemahaman yang seksama terhadap hak asasi manusia.

Jutaan orang terinfeksi HIV setiap tahunnya, terutama di negara dengan pendapatan per kapita yang rendah hingga menengah, namun kurang dari separuhnya yang mendapatkan akses terhadap terapi antiretroviral misalnya, bahkan kadang akses kesehatan-pun kesulitan.

Perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah hal mendasar yang kita perlukan dalam memerangi epidemi HIV dan AIDS secara global. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia akan menjadi seperti menyiram minyak pada api penyebaran HIV, seperti menyisihkan kelompok masyarakat tertentu, semisal pengguna narkoba suntik dan pekerja seks komersial pada posisi yang lebih rentan terhadap infeksi HIV.

Dengan mempromosikan hak asasi manusia bagi individu, infeksi yang baru dapat dicegah dan orang yang hidup dengan HIV dapat hidup bebas dari diskriminasi.

Untuk mengetahui apa saja yang dapat kita lakukan dalam memberikan dukungan. Silakan kunjungi halaman kampanye World AIDS Day.

Menatap Titik Awal

Entah mengapa saya rasa kehidupan manusia tidak hanya memilih sebuah kisah tunggal, namun terangkai dari pelbagai kisah yang menyatu menjadi sebuah untaian kehidupan. Kisah-kesih kecil ini seperti napas seorang insan, ketika ia mulai ditarik, diresapi kemudian dihembuskan kembali ke alam.

Dari setiap kisah selalu ada titik awal, di mana kisah itu dimulai. Malam kemarin, kolega lama saya datang berkunjung, di sela-sela pembicaraan kami, dia menunjukkan sebuah tulisan di sebuah situs populer dalam negeri. Tulisan itu merupakan ungkapan seorang yang diungkap dengan bebas, judulnya lumayan menyita perhatian saya, “Para Calon Dokter Itu Sombong Sekali”.

Ringkasnya, penulis menyampaikan – maaf – ‘ketidaksukaannya’ pada sikap beberapa dokter muda yang (mungkin) kelakuannya dinilai tidak sesuai etika yang diharapkan ada pada seorang yang menempuh pendidikan kedokteran. Dan lebih mengejutkan saya lagi, yang menjadi objek ‘ketidaksukaan’ penulis adalah dokter muda di rumah sakit pendidikan Dr. Sardjito – yang notabene adalah tempat saya juga menuntut ilmu sebagai dokter muda di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Karena tidak disebutkan elemen waktu yang melingkupi tulisannya, maka ya bisa jadi itu siapa saja yang menjadi dokter muda di FK UGM. Bisa saja saya, atau juga bisa saja bukan saya ada di dalamnya.

Pun demikian saya sebagai pribadi, berterima kasih atas tulisan tersebut. Setidaknya ada yang memerhatikan kami – dokter muda – yang bahkan dalam banyak kesempatan kurang dapat memerhatikan dengan baik apa-apa yang ada di sekitar kami.

Dan memang sudah menjadi paradigmanya bahwa seorang dokter sewajarnya santun dan beperhatian pada orang-orang di sekitarnya, dan masyarakat mengharapkan kesan ini juga tertanam pada mereka yang mengikuti jenjang pendidikan kedokteran.

Tulisan tersebut membuat saya ingin merefleksikan ulang banyak hal. Karena terus terang saja, mungkin tulisan tersebut hanya satu dari sekian banyak lagi kesan tidak baik yang hadir pada seorang dokter muda.

Dan mungkin saja, jika saya menempatkan diri dalam posisi si penulis, bisa jadi saya memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda. Saya harus melihat kembali ke belakang, adakah saya tercermin dalam paradigma yang baik ataukah steorotip yang buruk.

Mungkin saya juga bisa jadi pernah berada dalam situasi yang dikisahkan penulis tersebut. Memasuki jam ke-36 di rumah sakit, dengan kantung mata yang sudah cukup tebal, beberapa kejadian tidak mengenakkan pada malam sebelumnya, beberapa teori yang masih harus disimulasikan di dalam kepala, beberapa target yang masih harus dipenuhi. Jangan heran jika Anda bisa menemukan saya mondir-mandir setengah lunglai padahal matahari belum begitu tinggi, dan jang kaget jika saya bahkan tidak menyadari anda melintas di samping saya hingga Anda menegur saya terlebih dahulu.

By the mean of etiquette, that would be all my bad. Saya tidak bisa melakukan pembelaan, saya tidak membuat stamina saya cukup baik, saya tidak membuat fokus saya cukup terjaga, dan saya tidak membuat diri saya cukup terlatih untuk semua kondisi tersebut.

Kadang pada beberapa kondisi yang fortuitously terbentuk, dokter muda ingin melepas emosi dari apa-apa yang dilalui dalam beberapa jam atau hari sebelumnya, dokter muda perlu seseorang yang bisa mendengarkan, dan mungkin ini adalah sebentuk intuisi, bahwa yang paling tepat memahami adalah mereka yang juga melalui hal yang sama.

Dokter muda, termasuk petugas kesehatan lain tentunya. Menyaksikan sesuatu yang tidak banyak orang saksikan secara langsung setiap harinya. Di dunia kedokteran ada pemandangan mereka yang khawatir, mereka yang menderita, mereka yang takut, mereka yang ragu, mereka yang putus asa. Dokter muda lebih sering dalam segi kuantitas melihat luka setiap harinya, baik fisik maupun psikologis.

Dokter muda dapat menjumpai situasi, di mana banyak orang berharap, namun situasi akhirnya justru berubah menjadi tangis dan air mata kesedihan. Pun demikian, seorang dokter dengan empati-pun memiliki paradigma yang tidak mencampuradukkan emosi personal dalam profesi, karena masih ada hal-hal lain yang menantikan – bahkan ketika emosi yang sama juga mengalir dalam setiap tarikan napasnya.

Jadi dalam kondisi yang fortuitously tersebut, kadang ada perasaan sesuatu yang ingin terlontarkan ke luar diri, emosi-emosi bisa saja lepas begitu saja saat bertemu dengan rekan-rekan sejawatnya. Merekalah yang saling mengerti dan memahami satu sama lainnya, walau bukan selalu bermakna memahami dalam ranah logika. Kami menghibur rekan yang tertekan, dan memberi semangat pada mereka yang lunglai – saya rasa di mana-mana, hal-hal serupa juga terwujud dalam dunia kerja.

Sesuatu yang tadinya terbentung dapat mengalir dalam pelbagai bentuk. Kami dapat tersenyum bersama, melihat kembali ke belakang, saling mengingatkan bahwa ada hal-hal baik yang bisa ditemukan, bahwa bukan hanya hal-hal yang muram saja, tapi juga ada harapan, ada kebahagian, ada ungkapan suka cita, ada ungkapan terima kasih, ada sesuatu yang begitu bernilai yang membuat kami akan terus tetap melangkah. Dan mereka yang murung pun dapat tersenyum kembali.

Pun demikian, kadang kala ada situasi yang tidak pas. Kondisi yang fortuitously ini bisa saja terjadi tidak jauh dari pengamatan seorang pasien yang sedang begitu menderita, dan para dokter muda tampak tersenyum-senyum di antara kelompoknya sendiri tanpa memberikan perhatian padanya. Seperti pemandangan eksklusivitas tanpa kepedulian.

Saya memahami bahwa kepedulian memerlukan kedewasaan yang bersungguh-sungguh. Pendidikan adalah salah satu proses menuju kedewasaan. Kadang tanpa sengaja, kami lepas dari jalur tersebut, dan beberapa orang dengan baik mengingatkan kami.

Apakah Anda tahu bahwa rerata mahasiswa kedokteran memiliki selera humor yang cukup bagus. Dari yang saya kenal, mahasiswa kedokteran bisa cukup tertawa lepas dengan baik. Mungkin tanpa disengaja adalah bentuk adaptasi atau koping stres dari tekanan yang dihadapi sehari-harinya.

Jika ada seorang dokter muda yang tanpa sengaja meledak tawanya di koridor rumah sakit yang sepi saat sedang berjalan sambil bergurau dengan rekannya, mungkin ia tidak menyadari bahwa di balik tembok terbaring seseorang yang begitu menderita menghadapi sakitnya. Belum lagi keluarga pasien yang menunggu mungkin sedang merasa tertekan dengan banyak hal, bayangkan kesan yang timbul dari ledakan tawa pendek yang tidak disengaja itu jika diketahui oleh keluarga pasien bahwa sumbernya adalah dua dokter muda yang sedang asyik bercengkrama. Atau bayangkan juga kesan yang timbul jika ternyata sumbernya adalah pengunjung biasa.

Saya tidak akan memberikan pembenaran pada apapun.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul, “Making Decision to Study Medicine” ada beberapa poin yang selayaknya dijawab jika seseorang ingin memulai memasuki dunia kedokteran. Dan poin yang pertama adalah, “Apakah saya peduli terhadap orang lain, permasalahan mereka, dan rasa sakit yang mereka hadapi?”

Kepedulian adalah awal atau pendorong seseorang memasuki dunia kedokteran. Pun demikian ternyata pada perjalanan pendidikan itu, masih ada banyak unsur kepedulian yang mesti ditanamkan – karena rasa kepedulian saja mungkin pada awalnya tidak dapat berkata banyak.

Apa yang saya temukan hari ini, membuat saya menatap titik awal kembali. Dan entahlah…, ada perasaan aneh yang mengalir dalam diri saya. Dan melalui tulisan ini saya harap dapat melepaskan perasaan itu, walau rasanya bukan sesuatu cukup tepat terungkapkan.

Jika Anda pernah mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dengan dokter muda (atau pun dokter dan petugas kesehatan secara umum), Anda dapat turut menyampaikannya di sini. Mungkin saya bisa menjadikannya masukan dan titik renungan yang berarti bagi saya.

Dikalahkan Lebah

Siapa yang tidak kenal serangga kecil yang satu ini, bisa kita jumpai di mana-mana, terutama saat musim berbunga. Mulai dari sengatannya yang menyakitkan hingga madu manis yang dihasilkannya, membuat lebah begitu dekat dengan kehidupan manusia.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah acara menarik di salah satu stasiun televisi swasta, sebuah acara kuis yang melibatkan anak-anak kelas 5 SD yang membantu orang dewasa untuk menjawab berbagai pertanyaan yang biasa diajukan pada anak-anak kelas 1 hingga 5 SD. Pertanyaan yang terdiri dari berbagai macam pelajaran itu kadang bisa membuatku melonjak kaget. Bagaimana tidak, seperti pas zaman sekolah di SD dulu, tidak ada pertanyaan seperti itu. Bagaimana bisa zaman sekarang anak-anak sudah memiliki kemampuan jauh seperti itu.

Saya mungkin dulu hanya bersekolah di pedesaan, di mana asal bisa berhitung menambah dan mengurangi saja sudah cukup untuk sekadar hidup. Belum lagi dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, bahkan menyedihkan mungkin. Jantung ini selalu berdegup kencang ketika pulang sekolah. Karena setiap kali pulang, guru wali kelas kami selalu memberikan dikte soal matematika, jika belum bisa menjawab soal itu makan seorang murid belum boleh pulang. Ya, rasanya seperti menderita sekali waktu itu. Namun mengingat itu kembali kini membuatku dapat tersenyum lebar.

Kembali ke acar televisi tadi. Pembaca acara memberikan pertanyaan berikutnya pada peserta, “Apa nama alat pernapasan lebah?”, dia pun langsung bengong, walau anak SD di dampingnya tersenyum geli, yah…, mereka selalu tersenyum geli seolah bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Walau bukan istilah yang asing, karena pasti mereka yang dulu gemar pelajaran IPA atau Biologi akan sangat tahu dan ingat bagaimana sistem trakea pada serangga.

Serangga adalah hewan yang selalu ada di sekitar kita, mereka berkeliaran di lingkungan dan sekitar rumah kita tanpa terlalu sering kita sadari. Mungkin karena kita jaring “bersentuhan” dengan alam, karena kesibukan kita, kita tak sempat acuh untuk memandang mereka sejenak dan bertanya-tanya, bagaimana mereka hidup?

Ada ungkapan yang berkata jika tak kenal maka tak sayang, namun pada suatu ketika ungkapan ini dapat berbalik bagi kita sendiri karena jika tak sayang maka tak kenal. Jika kita tidak cukup menyayangi alam sekitar kita, maka kita tak akan cukup mengenalnya – since love bring about care.

If you do not love the bee, be sure Mr. Bee will sting you hard, Honey…

Semoga kita tidak terlalu sibuk dengan aktivitas kita sehari-hari, berkutat dengan banyak pekerjaan dan laporan, sedemikian hingga kita lupa untuk acuh pada lingkungan. Apa yang diberikan pada kita hari ini, semoga kita tidak melewatkannya begitu saja, atau alam yang indah ini esok bisa hilang tanpa kita sadari.

Go ‘Vege’ & Save The Earth

Hari ini baru memasuki tugas baru di bagian ICCU, dan akan berlangsung selama seminggu, ah… entah karena apa walau sudah berbekal berbagai hal tetap saja kami sekolompok merasa kurang, mungkin beginilah pola hidup deselerasi (saat semua orang sedang sibuk dengan kampanye akselerasi). Aku sempat bingung karena aku belum sempat memperbaiki stetoskop-ku yang masih rusak, karet sekat diafragma-nya putus. Tapi sepertinya aku belum menemukan toko yang memiliki stok untuk karet sekap bagi Littmann Classic II yang sudah sekitar 5 tahun menemaniku, sebagian besar dokter muda menggunakan sebuah stetoskop untuk sekali dan seumur hidup, tentunya jika itu tidak hilang atau rusak secara mengenaskan, bahkan tidak sedikit juga yang menggunakan stetoskop yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yah…, setidaknya begitulah pemandangan di sekitarku, tidak tahu jika di institusi yang lain.

Walau demikian bukan itu yang ingin kubahas untuk kali ini, bukan yang ingin kutuangkan di lembaran ini. Beberapa waktu yang lalu, dari sebuah milis langgananku, seorang rekan mempublikasikan artikel yang diambil dari sebuah blog, dan artikel atau tulisan ini kami sepakati sebagai suatu yang menarik. Artikel ini dapat dibaca di Dee’s Idea.

Tulisan ini memuat tentang data-data baru tanda alarm (peringatan) akan semakin cepatnya laju Global Warming (pemanasan global) dengan berbagai tanda-tanda alam (ini dapat juga dilihat pada widget Diary of A Planet di halaman blogger ini). Disampaikan bahwa bumi saat ini telah melewati kulminasi (titik balik) kemampuan mengolah gas karbon di atmosfer, itu berarti kita lebih dari separuh jalan mendekati kepunahan masal sebagaimana yang terjadi pada berjuta tahun lalu menurut berbagai penelitian. Namun sayangnya separuh jalan ini bukanlah separuh waktu lagi menuju kepunahan, namun sebuah laju/akselerasi yang tak seorang pun dapat bayangkan (nah buat lengkapnya, silakan lihat lansung ke sumber yang dirujuk). Mungkin kita yang beriklim tropis masih santai saja, padahal kita sendiri sudah merasakan kenaikan suhu bumi yang tidak wajar beberapa tahun belakangan ini. Namun tidak demikian halnya di negara-negara yang sudah dilanda serangan panas, saat begitu banyaknya (dan semakin bertambah) orang-orang yang dilarikan ke rumah sakit karena hal ini dan tidak tertolong lagi, mungkinkah kita sudah diambang batas toleransi dan daya adaptasi terhadap kenaikan suhu bumi? Dapatkah kita membayangkan jika suhu bumi menjadi dua kali saat ini? Ah… aku juga tidak, tapi bukan itu masalah kita, karena kita tak tahu dampak berikut dari pemanasan global secara nyata kecuali sederetan angka-angka dan hipotesa.

Tulisan itu juga memuat tentang sebuah langkah konkrit yang bisa dilakukan setiap orang untuk memperlambat laju pemanasan global. [# mengapa memperlambat? Dalam sepengetahuanku, ekh hmm… ^_^, pemanasan global dan kemudian zaman es (ice age) adalah siklus alami dari bumi ini… jadi kita tak secara teori tak bisa menghentikannya… alias hanya bisa memperlambat (walau sekarang kita mempercepatnya), zaman es berakhir, kehidupan mulai berkembang, spesies mulai beraneka ragam, hutan-hutan berkembang, kemudian mahluk hidup yang semakin kompleks, mulai bertambah jumlahnya, akhirnya jumlah karbon di atmosfer bertambah, dan mulailah pemanasan global, puncaknya adalah kepunahan masal hampir semua spesies di bumi #] Sebuah langkah yang bisa dilakukan oleh setiap orang, yaitu mengurangi bahkan secara dramatis menghentikan pola konsumsi daging, mengapa? Nah… lihat kembali blog yang dirujuk, di sana ada alasan yang panjang lebar, dan bisa berdiskusi juga dengan banyak orang yang berminat.

Wow…, sebenarnya bagiku sih ga masalah, aku tahu tubuhku lebih segar dengan pola makanan vegetarian, nutrisinya juga lengkap, tapi itu sulit diterapkan, bagaimana tidak, sayuran bagi anak kost-kostan adalah barang langka, apalagi menjelang malam, semua menu adalah masakan dari bahan hewani dan hanya secuil nabati, kecuali tempe dan tahu, ah… itu pun digoreng dengan ekstra kolesterol, pola hidup yang bikin sedih L. Kalau masyarakat desa mah ga usah ditanya, mereka makanannya memang 80% lebih berbahan nabati. Namun tetap, kusampaikan, walau ajakan ini telah didengungkan sejak begitu lama, vegetarian tidak akan pernah bisa diterapkan, karena dunia dihuni oleh pernak-pernik warna yang berbeda, jika seseorang mampu melihat bahwa ia makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan, maka mungkin ia bisa melihat keindahan di balik pola hidup vegetarian (dibalik pro dan kontra penggunaan terminologi vegetarian itu sendiri tentunya). Lagi pula banyak koq yang menerapkan pola hidup ini, bahkan juga para selebritis top dunia. Bahkan walau tidak semua terkadang beberapa daging yang kita konsumsi di rumah makan telah melalui berbagai kekejaman sebelum terhidang dalam baris menu, lalu bagaimana dengan ikan? Apakah anda berpikir ikan sepenuhnya ‘nyaman’ karena laut atau perairan memproduksi mereka secara berkelanjutan, sayangnya kini planet ini juga terancam kehilangan sebagian besar spesies yang menghuni perairan akibat eksploitasi manusia, mungkin sebuah situs bisa membantu anda mempertimbangkan, cobalah tengok fishinghurts. Well, adakah Anda seorang vegetarian diantara deretan nama para vegan seperti Pythagoras, Socrates, Dalai Lama, Paramahansa Yogananda, Konfusius, Lao Tzu, St. Francis of Assisi, Leo Nikolayevich, Zoroaster, Leonardo da Vinci, Voltaire, Albert Einstein, Steve Jobs, Henry Ford, Charles Darwin, Thomas Edison atau Sir Isaac Newton? Pesannya hanya satu cinta kasih, dan mungkin kita akan menyelematkan bumi… rumah kita ini.