Memahami Gejala HIV/AIDS

Infeksi HIV masih merupakan salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan, penyebarannya cukup menyusahkan guna dilacak. Karena nyaris tanpa gejala, penderitanya pun tidak menyadari dan tidak melakukan deteksi dini.

Infeksi HIV dibagi ke dalam tiga tahapan/stadium, tahapan pertama disebut sebagai infeksi akut atau serokonversi, dan biasanya terjadi dua hingga enam minggu pasca paparan atau mulainya infeksi. Ini adalah masa ketika daya tahan tubuh melakukan perlawanan terhadap infeksi. Gejala awal yang dimunculkan begitu mirip dengan infeksi-infeksi virus pada umumnya, sebagai halnya flu, sehingga sulit disadari bahwa itu adalah HIV. Lanjutkan membaca “Memahami Gejala HIV/AIDS”

Mengapa Kita Berciuman?

Saya tidak tahu, apakah orang akan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri, mengapa mereka berciuman, ataukah hanya akan melewati bagian itu dan langsung pada intinya? Kadang orang menemukan banyak alasan untuk berciuman, kadang tanpa alasan sama sekali. Kadang karena kebiasaan, atau karena desakan. Lanjutkan membaca “Mengapa Kita Berciuman?”

Seputar Vaksin HPV

Ketika saya membeli sebuah buku – bisa dikatakan – katalog obat-obatan yang tersedia di pasaran dalam negeri, saya melihat sebuah iklan tentang vaksin HPV (human papillomavirus) yang sepertinya mulai diminati juga di pelbagai negara lainnya. HPV dikenal sebagai penyebab terbanyak kanker leher rahim (serviks), dan vaksin HPV ditujukan untuk mencegah kanker ini – bisa dikatakan sebagai sebuah metode preventif.

Lalu mengapa vaksin HPV dianggap penting? HPV genitalis merupakan virus yang cukup umum ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak kulit ketika melakukan aktivitas seksual. Kebanyakan orang yang seksual-aktif akan terkena HPV pada suatu ketika, meski kebanyakan dari mereka mungkin tidak akan pernah mengetahuinya. Infeksi ini umum terjadi pada usia belasan akhir atau dua puluhan awal.

Lanjutkan membaca “Seputar Vaksin HPV”

Disfungsi Ereksi dan Gaya Hidup

Salah satu cara guna membenahi disfungsi ereksi adalah membuat beberapa perubahan sederhana pada gaya hidup. Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya yang berjudul “Penyebab Fisik Disfungsi Ereksi”, dan saya adaptasikan dari “Erectile Dysfunction: Lifestyle Changes to Improve ED”.

Bagi beberapa laki-laki, mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat, seperti berhenti merokok, berolahraga secara teratur, dan mengurangi stres, mungkin adalah semua yang diperlukan untuk perbaikan. Bagi mereka yang memerlukan terapi lebih intensif, mengadopsi perubahan gaya hidup ini sebagai tambahan terapi lanjut akan memberikan bantuan tersendiri.

Lanjutkan membaca “Disfungsi Ereksi dan Gaya Hidup”

Penyebab Fisik Disfungsi Ereksi

Konon proses untuk mencapai ereksi sangatlah kompleks/rumit, dan pelbagai permasalahan dapat muncul oleh sebab-sebab yang beragam. Masalahnya bisa jadi dari sisi psikologis, atau dari masalah fisik, bahkan bisa merupakan kombinasi dari keduanya.

Penyebab fisik disfungsi ereksi berhubungan dengan putus atau rusaknya rangkaian peristiwa-peristiwa yang mengarahkan pada kondisi ereksi. Rangkaian ini melibatkan impuls saraf di otak, sumsum tulang belakang, dan penis sebagaimana juga respons lanjutannya pada otot-otot, pelbagai jaringan ikat, vena dan arteri di dalam dan di sekitar badan kavernosa.

Lanjutkan membaca “Penyebab Fisik Disfungsi Ereksi”

Fakta Seputar Seks Oral

Zaman mungkin sudah berganti, dan beberapa hal yang dulu menjadi perbincangan tabu kini justru sering melejit ke tengah canda tawa pergaulan sehari-hari. Saya sering membaca bahkan di negeri yang paling terbuka pun saat ini, dulunya masalah-masalah seputar seksualitas dan hubungan suami istri adalah hal-hal yang sangat ditutup rapat. Tentu saja beberapa hal sama sekali tidak layak menjadi konsumsi publik, mengingat kasus video “itu” yang mencuat dua bulan terakhir di negeri ini.

Salah satu yang dikenal juga sebagai seks oral adalah bagian yang paling sering menjadi tanda tanya bagi banyak orang. Menurut survei pusat pengendalian penyakit (CDC) di Amerika tahun 2002, lebih dari separuh populasi remaja dan 90% dewasa (usia 22-44 tahun) pernah melakukan seks oral dengan lawan jenis. Di Indonesia? Entahlah, mungkin seseorang harus melakukan survei terlebih dahulu.

Lanjutkan membaca “Fakta Seputar Seks Oral”

Mitos dan Kesalahpahaman Seputar HIV dan AIDS

Sudah hampir selama 30 tahun HIV dan AIDS telah dikelilingi oleh banyak mitos dan kesalahpahaman. Pada beberapa kasus, ide-ide yang datang dari pengertian yang keliru ini kadang malah membuat orang semakin rawan menjadi HIV positif. Meski ada banyak pertanyaan belum terjawab seputar HIV, namun para peneliti kita telah belajar banyak hal akan penyakit yang satu ini.

Walau tidak semua mitos ini ada di setiap negara, namun kita bisa menjumpainya di berbagai belahan dunia. Jadi jangan terkejut jika Anda mungkin pernah mendengar salah satu dari mitos berikut. Lanjutkan membaca “Mitos dan Kesalahpahaman Seputar HIV dan AIDS”

Panduan Anda Guna Masturbasi

Belakangan ini saya bosan sekali berkunjung ke forum kesehatan Yahoo! Answer for Health. Walau forum di forum itu orang-orang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, tetap saja topiknya itu-itu saja. Masa harus memberi jawaban yang itu-itu saja berkali-kali, padahal pertanyaan serupa sudah menumpuk sebelumnya. Dan mereka sama sekali tidak melihat ke belakang, dengan berbagai sumber dan relevansi yang sudah tersedia sebanyak gunung.

Namun saya memperhatikan suatu hal dari pertanyaan serupa itu – lha, wong forum kesehatan yang saya kadang kunjungi sebagian besar topiknya tentang seksologi, bahkan terkadang nyleneh tidak jelas – dan itu menunjukkan bahwa di era informasi terbuka ketertarikan para penanya yang umumnya dari kaum remaja begitu tinggi.

Saya jadi tidak habis pikir, apakah keterbukaan itu begitu perlu? Namun semua ahli hampir sepakat mengenai pendidikan kesehatan seksual semenjak dini. Dengan cara-cara yang tepat dan santun, saya rasa ini akan memberikan dampak jauh lebih baik pada pemahaman tentang kesehatan seksual itu sendiri.

Mari kita melihat, bagaimana pandangan kesehatan tentang salah satu aktivitas seksual yang mengundang banyak pertanyaan di berbagai tempat dan situasi. Yaitu mengenai masturbasi.

Masturbasi adalah stimulasi diri pada (organ) genital guna mencapai kesenangan dan kenikmatan seksual, biasanya hingga ke poin yang dikenal dengan orgasme (puncak seksualitas). Biasanya dilakukan dengan menyentuh, memijat area penis atau klitoris hingga orgasme dicapai.

Walau ada sedikit referensi yang unik dari wikipedia yang mendefinisikan sebagai berikut:

Masturbation refers to sexual stimulation, especially of one’s own genitals (self masturbation), often to the point of orgasm. The stimulation can be performed manually, by other types of bodily contact (short of sexual intercourse), by use of objects or tools, or by some combination of these methods. Masturbation is a common form of autoeroticism, and the two words are often used as synonyms, although masturbation with a partner (mutual masturbation) is also common. Animal masturbation has been observed in many species, both in the wild and in captivity.

Siapa saja yang melakukan masturbasi?

Hampir semua orang. Masturbasi adalah pola laku (kebiasaan?) yang paling umum, bahkan di antara mereka yang telah memiliki hubungan seksual dengan pasangannya. Pada studi setingkat nasional di Amerika, 95% laki-laki dan 89% perempuan menyatakan mereka telah melakukan masturbasi. Masturbasi adalah tindakan seksual pertama yang dialami kebanyakan laki-laki dan perempuan. Pada anak-anak muda, masturbasi adalah suatu bagian wajar akan eksplorasi pertumbuhan anak pada tubuhnya. Kebanyakan orang masih melanjutkan masturbasi hingga dewasa, dan banyak juga yang tetap melakukannya seumur hidup.

Mengapa Orang Melakukan Masturbasi?

Sebagai tambahan kenikmatan, masturbasi adalah cara yang baik untuk melepaskan tekanan/stres seksual yang dapat menumpuk dari waktu ke waktu, khususnya bagi mereka yang tidak memiliki pasangan atau bagi mereka yang pasangannya tidak bersedia atau tidak dapat melakukan aktivitas seksual. Masturbasi juga merupakan alternatif seksual yang aman bagi orang-orang yang hendak menghindari kehamilan dan bahaya penyakit menular seksual. Juga penting bagi laki-laki yang harus memberikan contoh semen-nya untuk uji kesuburan atau untuk donasi sperma. Ketika ada disfungsi seksual pada seorang dewasa, masturbasi bisa diresepkan oleh seorang terapis seks agar orang dapat mengalami orgasme (sering pada perempuan) atau menunda “kedatangan” (biasanya pada laki-laki).

Apakah Masturbasi Normal?

Dulu pernah dipandang sebagai suatu penyimpangan atau sebuah tanda masalah mental, kini masturbasi dipandang sebagai suatu yang wajar, aktivitas seksual yang menyenangkan, memenuhi kebutuhan, dapat diterima dan aman. Merupakan cara yang baik guna mengalami kesenangan seksual dan dapat dilakukan sepanjang hayat.

Masturbasi hanya dipandang sebagai suatu masalah ketika ia menghambat aktivitas seksual dengan pasangan, dilakukan di muka umum, atau menyebabkan tekanan yang signifikan pada seseorang. Bisa menyebabkan tertekan jika dilakukan secara berlebihan dan/atau mengganggu aktivitas dan kehidupan sehari-hari.

Apakah Masturbasi Berbahaya?

Secara umum, komunitas medis mempertimbangkan masturbasi sebagai ekspresi yang alami dan tidak berbahaya baik bagi laki-laki maupun perempuan. Tidak menyebabkan perlukaan fisik atau membahayakan tubuh, dan bisa dilakukan dalam tingkat sedang sepanjang hidup seseorang sebagai bagian dari pola laku seksual yang wajar (normal). Beberapa budaya dan agama menentang kebiasaan masturbasi atau bahkan menyatakannya sebagai suatu dosa. Hal ini bisa mengarah pada rasa bersalah atau malu akan kelakuannya.

Beberapa ahli menganjurkan masturbasi dapat secara nyata meningkatkan kesehatan seksual dan hubungan seksual. Dengan menjelajahi tubuh anda sendiri melalui masturbasi, Anda dapat menentukan apa kesenangan yang secara erotis sesuai untuk Anda, dan dapat saling berbagi hal ini dengan pasangan. Beberapa pasangan menggunakan masturbasi mutualisme untuk menemukan teknik-teknik untuk hubungan seksual yang lebih memuaskan dan menambah nilai pada keintiman seksual mereka.

Artikel asli di WebMD.