Face shield tanpa masker?

Kita melihat banyak fenomena orang menggunakan face shield (pelindung wajah), namun tidak menggunakan masker. Bagaimana isu keselamatannya?

Masker sangat penting dalam mengurangi penyebaran COVID-19. Walau sering kali terasa tidak nyaman digunakan, oleh karena itu orang mencari alternatif lain, seperti beralih ke menggunakan face shield.

Pertanyaan besarnya tentu saja, apakah hanya dengan menggunakan face shield bisa mengurangi penyebaran COVID-19, atau Anda masih perlu menggunakan masker dengan face shield?

Jawaban cepatnya adalah: Anda masih perlu menggunakan masker walaupun telah mengenakan face shield.

Mengenakan face shield membuat orang merasa lebih nyaman dibandingkan mengenakan masker, dan membuat orang bisa memperlihatkan wajahnya atau melihat wajah orang lain, dan bisa lebih berguna bagi mereka yang berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir. Sayangnya, pelindung wajah ini tidak memberikan perlindungan yang sama dengan masker.

Face shield tidak menyerap droplet dari napas Anda sebaik masker. Yang terjadi adalah droplet saluran napas ditepis dan diarahkan jatuh ke bawah. Karena desainnya yang “berlubang” di bagian bawah, kemungkinan ada kuman pada napas seseorang yang lolos ke udara, yang merupakan cara penularan SARS-CoV-2. Itulah mengapa menggunakan face shield sebagai pengganti masker tidak dianjurkan.

Di sisi lain, face shield dapat melindungi mata Anda dari paparan partikel virus dan mencegah Anda menyentuh wajah Anda sendiri. Dan jika Anda berada di lingkungan tinggi potensi penularan, seperti merawat orang yang sakit COVID-19, menggunakan face shield bersama dengan masker memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi mulut dan hidung.

Jika Anda memutuskan menggunakan face shield, pastikan Anda juga mengenakan masker. Dan cuci face shield setiap kali setelah penggunaan untuk membersihkan kuman yang menempel pada permukaan plastinya.

Save LIVES – Sebuah Pendekatan Keselamatan Berlalu Lintas

WHO – Organisasi Kesehatan Dunia baru-baru ini merilis sebuah paket pendekatan guna meningkatkan keselamatan berlalu lintas yang dikampanyekan sebagai “Save LIVES”. Terdiri dari 6 strategi dan 22 intervensi.

Setiap tahun, 1,25 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas dan sebanyak 50 juta orang terluka. Mereka adalah penyebab utama kematian di kalangan orang berusia 15-29 tahun. Hampir setengah (49%) orang-orang yang meninggal di jalanan dunia adalah pejalan kaki, pengendara sepeda dan pengendara sepeda motor. Selain kesedihan dan penderitaan yang mereka timbulkan, kecelakaan lalu lintas merupakan masalah kesehatan dan pembangunan publik yang penting dengan biaya kesehatan dan sosioekonomi yang signifikan. Banyak yang telah diketahui tentang mencegah kematian lalu lintas dan luka-luka. Berdasarkan pengetahuan ini, paket teknis keselamatan jalan telah dikembangkan untuk mendukung para pengambil keputusan dan praktisi dalam upaya mengurangi kematian dan cedera lalu lintas lalu lintas dan mencapai Sasaran Pembangunan Berkelanjutan yang ditargetkan 3.6 dan 11.2.

Lanjutkan membaca “Save LIVES – Sebuah Pendekatan Keselamatan Berlalu Lintas”