Ketika Narablog Berkomunitas

Mungkin para macan internet sudah banyak yang mengenal sistem jejaring sosial yang satu ini, yaitu blog (yang disingkat dari kata weblog). Ah…, sulit juga apakah bisa dikatakan jejaring sosial? Mungkin karena bisa melakukan interaksi antara pemilik blog dengan pengunjungnya, dan antara pengunjung dengan sesama pengunjung.

Kini jumlah narablog di Indonesia semakin bertambah, walau tidak semuanya aktif menulis. Namun setidaknya perkembangan ini sangat baik, karena mengembangkan minat menulis memang sesuatu yang dibutuhkan masyarakat kita saat ini, khususnya kaum pelajar. Apalagi kehadiran narablog dapat membuka banyak jendela ke sudut-sudut kehidupan yang dulu bahkan mungkin tidak sempat terlintas di benak kita. Seakan batas-batas dunia menjadi sempit dan menipis.

Beberapa narablog kemudian menemukan “rekan seperjuangan” dengan karakteristik yang sama dan membangun suatu komunitas. Mereka tidak hanya bertemu melalui tulisan-tulisan yang terpampang di monitor komputer mereka, namun juga di kehidupan nyata, dalam kegiatan-kegiatan tertentu baik secara terencana maupun isidensial.

Membangun hubungan baik dengan banyak orang saya kira adalah hal yang bermanfaat bagi sesama. Jika bisa keharmonisan ini justru bisa melahirkan banyak hal yang bermanfaat. Walau hanya bersua karena berjodoh di dunia blog, namun mereka bisa berjumpa dan melakukan hal yang luar biasa di masyarakat. Mengingat latar belakang para narablog ini bermacam-macam, dan beragam profesi, serta dengan ide dan wacana yang amat beragam yang mampu disumbangkan.

Saya hanya berharap, sebuah komunitas yang kemudian menjadi besar tetap dapat menghargai adanya banyak perbedaan dan keterbatasan di antara para anggotanya. Mungkin semua berharap hal baik, mungkin berharap bahwa semua juga memberi sumbangsih yang luar biasa bagi komunitas. Namun manusia memiliki keterbatasan, dan narablog juga manusia. Sebuah komunitas yang terdiri dari manusia tak pernah sempurna, namun hal ini yang mampu membuat kita memahami kekurangan masing-masing, dan menghargai kelebihan masing-masing, sehingga kita dapat mengisi secara harmonis.

Ketika narablog berkomunitas, selayaknya sebagaimana ia menulis di halaman dunia mayanya, ia memberikan suara hatinya, namun tidak memaksa mereka yang mendengarkannya itu menjadi seperti apa yang ia suarakan.

Iklan