The Book of Merton’s

Membaca adalah salah satu hal yang menyenangkan, terutama di negeri yang minat bacanya rendah – Anda mendadak bisa merasakan suatu eksklusivisme semu, di mana Anda bisa tersenyum pada diri Anda sendiri. Saya paling suka menghabiskan waktu luang dengan membaca novel picisan, terutama dari negeri Tiongkok dan Sakura. Tapi waktu yang paling menggembirakan mungkin ketika saya sekadar membuka satu ada dua halaman dari buku-buku tertentu.

Buku-buku tertentu ini tidak banyak yang ada di tangan saya, kebanyakan saya pinjam atau baca dari tempat lain. Dan mereka semua nyaris berbicara hal yang sama, yaitu kehidupan dan filsafat, tapi tidak semua buku tentang kehidupan dan filsafat. Saya biasanya merujuk pada penulis-penulis tertentu, misalnya Jiddu Krishnamurti, Anthony de Mello, dan beberapa di antaranya, yang terakhir saya temukan adalah salah satu karya Thomas Merton, “New Seeds of Contemplation“.

Trappist Fr. Thomas Merton difoto bersama Dalai Lama pada tahun 1968, yang ditemui Merton selama perjalanannya ke Asia. (Pusat CNS / Thomas Merton di Bellarmine University)

Continue reading →

Iklan

Tiada Damai di Antara Kita

Damai merupakan sebuah koin, di satu sisi ada di mana-mana jika kita berkenan melihatnya, di sisi lain begitu mahal sedemikian hingga darah anak manusia mengalir seperti sungai pun kadang tidak cukup untuk menebusnya. Peperangan tercatat dalam lembar sejarah peradaban manusia, sejak sebelum aksara dikenal luas, hingga hari ini.

No Peace in the Name of God

Continue reading →

Menyingsing Semi di Selatang Raung

Telah beberapa minggu terlewati, sering kali melewati jalanan yang sama setiap harinya. Melewati persawahan yang sama, hanya saja berganti dari padi hijau, ke bentangan yang menguning atau genangan lumpur yang menjadi tabir bagi kerbau dan sapi dari sengatan siang. Rasanya dengan ini semi telah datang di Selatan Raung, meski gumpalan senandung mendung sesekali melintas dalam bayang senja.

Gita damai yang dilewati sepanjang hari mungkin jauh dari sentosa, pun racikan cumbu ceria siang yang dibalut angin mengulun pelan dari puncak pegunungan ke dataran yang menghampar perdu nikmat ini – adalah pengganti yang lebih dari santapan termewah sekali pun. Continue reading →

Paradoks Para Pencari Kebenaran

Realita adalah bentangan sederhana di hadapan kita. Apa yang tidak sederhana adalah pemikiran kita, dan bagaimana kita memandang dunia melalui sawar pemikiran yang penuh kompleksitas ini, sehingga kita sering menemukan diri kita berkata bahwa ini dan itu tidak seharusnya demikian. Anda mungkin benar, tapi hei, siapa bilang kebenaran itu absolut.

Paradoks para pencari kebenaran – entahlah, mungkin karena mereka tidak menyukai kebenaran dalam satu atau dua bentuk; mungkin karena mereka merindukan sesuatu yang membebaskan; mungkin karena mereka merasakan ada sesuatu yang keliru dengan kisah-kisah yang dibenarkan selama ini. Continue reading →

Seberapa Mahal Harga Kebahagiaan?

Saya bertanya-tanya, sebagaimana banyak orang di muka bumi ini. Apa kebahagiaan begitu mahal harganya? Sehingga tak cukup manusia berlomba, atau bahkan saling senggol untuk memungut seklumit kepuasan. Ataukah kepuasan dan kebahagian itu setali tiga uang? Apa yang bisa memuaskan diri kita? Apa yang bisa membahagiakan diri kita?

Sayangnya pertanyaan ini akan selalu berputar-putar, karena saya tidak memiliki kemampuan mengukur dunia dengan keterbatasan ketika saya mengukurnya dengan diri saya sendiri. Kriminalitas mulai dari gelapnya jalanan hingga ke kerah terputih menjadi sesuatu yang umum. Berbagai alasan dilontarkan, berbagai argumen dihadapkan, namun kebenaran akan kebahagiaan tetaplah semu. Continue reading →

Kebermaknaan Pendidikan Kesehatan

Salah satu permasalahan yang cukup dirasakan bermakna di lapangan ketika saya melaksanakan tugas sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional, adalah kurangnya kepekaan dan pengetahuan mendasar tentang masalah kesehatan. Sehingga tidak jarang ditemukan ketidaktahuan, kekhawatiran berlebih, depresi, hingga kepanikan akan permasalahan kesehatan yang sebenarnya dapat ditangani secara mandiri oleh penderita dan/atau keluarganya.

Beban negara untuk menyelanggarakan dan menyediakan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat tidaklah ringan saya rasa. Bahkan tidak jarang benturan terjadi pada sistem penganggaran dan penyediaan sarana prasarana yang menunjang kesehatan masyarakat terbentur oleh isu-isu yang tidak bisa dipecahkan secara seketika. Continue reading →

Logika atau Kepercayaan?

Ketika saya mulai mendesain ruang kecil ini, saya memahami bahwa mungkin akan muncul perdebatan ke depannya. Namun bukan itu yang ingin ditampilkan lebih banyak. Dalam ranah masyarakat Hindu, setiap orang bebas menemukan jalan menuju pada kebenaran yang hakiki. Apakah melalui jalan kepercayaan sebagai seorang bhakta, jalan pengetahuan dan kebijaksanaan seorang jnanin, jalan ketulusan seorang karmin, atau kultivasi sang diri seorang yogi. Continue reading →