Mengunjungi XT Square

Ada sebuah pusat wisata budaya, kuliner dan belanja baru di Yogyakarta (mungkin tidak terlalu baru), yang dibuka pada pertengehan bulan Desember ini; XT Square (belum memiliki situs web resmi, tapi dapat ditemukan di foursquare). Malam ini di antara hujan rintik, saya sempat mengunjunginya setelah menikmati jagung bakar di salah satu sudut Kota Yogyakarta.

Awalnya ragu menuju tempat ini meski sering dilewati, namun setelah meramban di dunia maya, ternyata jam bukanya hingga pukul satu dini hari, jadi mengapa tidak? Meskipun memang terdengar aneh sebuah tempat belanja dan wisata buka dari pukul 13.00 s.d. 01.00. Mungkin ada sedikit konsep pasar malam di sini. Lanjutkan membaca “Mengunjungi XT Square”

Sebelumnya, Saya Tidak Percaya UFO Ada

Mungkin Anda sebagaimana saya juga adalah penggemar novel fantasi ilmiah tentang penjelajahan angkasa luar, bertemu mahluk dari ektreterestrial dan sebagainya, termasuk kendaraan antar galaksi mereka yang dikenal luas sebagai UFO, atau mungkin umum disebut “the flying saucer” – si piring terbang.

Meskipun laporan tentang keberadaan si UFO sudah ada sejak milenium yang lalu, termasuk hingga kasus Roswell yang terkenal itu, atau sebuah petisi yang memaksa gedung putih mengeluarkan pernyataan tentang pengetahuan pemerintah Amerika tentang UFO dan mahluk asing pada November tahun lalu. Bahkan jangan lupa rilis dokumentasi FBI tentang UFO pada tahun lalu di situs resminya sempat mengejutkan, meskipun banyak yang berpandangan bahwa itu adalah hoax. Lanjutkan membaca “Sebelumnya, Saya Tidak Percaya UFO Ada”

Sekadar Menengok Jogja Java Carnival

Malam ini saya iseng menengok Jogja Java Carnival. Hanya sekadar ingin tahu seperti apa, karena tahun depan mungkin saya tidak bisa melihatnya lagi.

Ternyata lumayan seru juga, mengingatkan saya pada karnival Rio de Jenairo di Brazil, bahkan musiknya pun agak mirip dengan bernada samba itu. Ini karnival yang menyenangkan, hanya saja memang susah mendapatkan tempat menonton yang bagus, apalagi jalanan Malioboro yang sempit itu.

Meski tentu saja pemilik tiket VIP bisa mendapatkan lokasi menonton yang baik.

Saya tidak membawa kamera saya, hanya sekadar jepretan kasar ponsel yang berkualitas rendah.

Bernostalgia Dengan Rembulan Raksasa

Yogyakarta semenjak kemarin sore diguyur hujan lebat dengan puluhan rangkaian petir di langit, semuanya gelap, dan saya merebahkan diri di dalam kamar yang gelap. Saya merasa ide saya untuk melihat bulan malam ini akan sia-sia. Entah berapa lama sore itu saya terlelap, dan terbangun cukup malam karena lambung saya mulai merintih. Seperti hewan nokturnal yang berburu makan di malam hari, langkah kaki saya terseok di antara jalanan pedusunan yang masih cukup basah, sementara langit masih begitu gelap dan pekat, meski saya dapat melihat bayang-bayang rembulan di antara awan-awan yang tampak tak bercelah. Lanjutkan membaca “Bernostalgia Dengan Rembulan Raksasa”

Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan

Kakiku menapak kembali saat malam berhembus hangat
Pandangku mengabur tertutup selaksa keraguan
Adakah napas juga telah berpaut dengan ketidakberdayaan
Sehingga gita malam tak lagi hinggap hingga ke sudut perhatianku

Awan tipis tergopoh riang
Tak acuh akan akan ego-ego rendah di bawah yang tak mampu menyentuh hatinya
Membawa selapis tipis penghilang dahaga
Yang dikumpulkan bagi segenap semesta

Lanjutkan membaca “Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan”

Siulan Malam

Jangan mencari karena kutakkan mendera
Jangan sembunyi karena kutakkan melirik
Jangan berlari karena kutakkan memikul
Jangan terlelap karena kutakkan tak sekejap

Aku suara di antara setiap duka, mengapa juga engkau tetap cari
Aku tangis dari setiap rintihan penyesalan, jangan dengar detak jantungku
Aku muram yang menjelma kelabu, maka langit tak lagi peduli pada kita
Aku kalpa yang tak mungkin kau lewati, maka janganlah mendekat

Lanjutkan membaca “Siulan Malam”