Hari Nyamuk Sedunia 2017

Setiap tanggal 20 Agustus, kita akan diingatkan dengan Hari Nyamuk Sedunia – tentu saja mungkin tidak semua orang akan ingat. Apalagi di bulan-bulan Agustus sebelum musim penghujan tiba, jumlah kasus demam berdarah dan penyakit lain dengan vektor nyamuk sedang menurun rendah. Namun bukan berarti kita berhenti waspada.

Sejak 112 tahun yang lalu, ketika Ronald Ross dari Inggris pertama kali menemukan bahwa malaria terkait dengan gigitan nyamuk betina, dunia kesehatan menemukan sebuah fakta besar tentang salah satu penyakit yang menyebabkan banyak kematian dan bagaimana membuat pencegahannya.

Lanjutkan membaca “Hari Nyamuk Sedunia 2017”

Tata Laksana Malaria di Layanan Kesehatan Primer

Malaria merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah, dengan gejala demam, menggigil, anemia, dan pembesaran limpa.

No ICPC II : A73 Malaria

No ICD X : B54 Malaria tidak spesifik

Tingkat kemampuan 4A

Pada anamnesis dapat ditemukan keluhan demam yang hilang – timbul, pada saat demam hilang disertai dengan menggigil, dapat disertai dengan nyeri kepala, nyeri otot dan persendian, nafsu makan menurun, sakit perut, mual muntah, dan diare. Lanjutkan membaca “Tata Laksana Malaria di Layanan Kesehatan Primer”

Buku Penuntun Hidup Sehat

Berasal dari naskah asli “Facts for Life“, buku “Penuntun Hidup Sehat” diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui unit Pusat Promosi Kesehatan. Buku ini berisi sejumlah informasi mengenai masalah kesehatan yang kita temui sehari-hari, dan bagaimana untuk bisa hidup dengan lebih sehat menggunakan informasi yang kita dapatkan dari buku ini. Untuk adaptasi edisi keempat, diterbitkan oleh UNICEF, WHO, UNESCO, UNFPA, UNDP, UNAIDS, WFP, the World Bank dan Kementerian Kesehatan. Lanjutkan membaca “Buku Penuntun Hidup Sehat”

Sekilas tentang Malaria

Tanggal 25 April biasanya diperingati sebagai Hari Malaria Sedunia, tahun ini WHO membagikan sejumlah publikasi guna meningkatkan kesadaran mengenai malaria di pelbagai belahan dunia, terutama di negara-negara yang masih memiliki kawasan endemis malaria. Oleh karena malaria adalah penyakit yang mengancam jiwa, dan masih terdapat sejumlah wilayah di Indonesia yang menjadi wilayah endemis malaria, maka tidak ada salahnya jika kita saling belajar sedikit mengenai malaria secara global. Lanjutkan membaca “Sekilas tentang Malaria”

Hari Malaria Sedunia

25 April adalah hari peringatan dari upaya global terpadu untuk memberikan kontrol efektif terhadap malaria di seluruh dunia. Banyak upaya dan ide yang sudah dituangkan, Anda mungkin masih ingat setahun yang lalu ketika saya mengutip tulisan “Sapu Bersih Langit Dari Malaria” yang menyertakan ide revolusioner terhadap senjata-senjata terbaru yang dikembangkan untuk melawan pandemi malaria? Termasuk bagaimana kontribusi Bill Gates pemilik raksasa Microsoft di dalamnya?

Kini upaya ini memasuki momen-momen kritisnya, komunitas malaria internasional memiliki waktu kurang dari setahun untuk memenuhi target 2010 akan penyediaan perlindungan yang efektif dan menjangkau serta terapi bagi semua orang yang berisiko terhadap malaria.

Lanjutkan membaca “Hari Malaria Sedunia”

Pedoman Terapi dan Penyediaan Obat untuk Malaria

Tepat sebulan yang lalu WHO mengumumkan merilis panduan atau pedoman baru untuk terapi malaria, dan merupakan panduan pertama yang menyertakan penyediaan secara aman dan efektif obat-obatan antimalaria.

Dalam tahun-tahun terakhir terapi jenis baru yang disebut terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACTs) telah mengubah banyak hal dalam terapi malaria, namun jika tidak digunakan secara tepat – obat-obatan ini bisa jadi tidak efektif.

Lanjutkan membaca “Pedoman Terapi dan Penyediaan Obat untuk Malaria”

Kromatografi untuk Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Beberapa daerah di Indonesia masih merupakan kantong-kantong malaria. Penegakan diagnosis pada pasien malaria selain melalui penemuan gejala-gejala klinis malaria yang umum melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, juga melalui pemeriksaan penunjang seperti:

1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria: tetesan preparat darah tebal dan tetesan darah tipis. (Gold Standard)

2. Tes antigen: P-F test (Rapid Test dengan metode ICT).

3. Tes serologi.

4. Pemeriksaan PCR.

Permasalahan yang hendak dikaji:

Penegakkan diagnosis malaria dapat dilakukan jika pada tersangka penderita ditemukan parasit malaria. Pemeriksaan ICT (Immunochromatographic test) malaria menggunakan pendeteksian adanya antigen malaria. Seberapakah spesifisitas dan sensitivitas pemeriksaan ICT malaria?

Pengkajian Masalah:

Pada laporan WHO tentang New Perspectives: Malaria Diagnosis 1999, tes diagnosa cepat (Rapid Diganostic Test – RPD) dalam hal ini termasuk dengan metode ICT harus menyediakan hasil setidaknya seakurat hasil-hasil yang diberikan oleh pemeriksaan mikrokospis yang dilakukan oleh seorang teknisi menengah (rata-rata) dalam kondisi-kondisi lapangan yang umum. Maka dari itu RDT diharuskan mencapai karakteristik teknis yang spesifik sebagai berikut:

1. Sensitivitas:

Sensitivitas merupakan isu yang paling kritikal, oleh karena hasil negatif-palsu dapat menyebabkan tidak adanya medikasi pada sebuah penyakit yang meliki potensi yang fatal. RDT harus dapat mendeteksi keempat spesies parasit malaria yang menginfeksi manusia, dan setidaknya mampu membedakan P. falciparum dari spesies lainnya. Keseluruhan sensitivitas (menggunakan mikroskopi seorang ahli sebagai standar emas) seharusnya di atas 95%. Densitas parasit di atas 100 parasit aseksual per mikroliter darah harus dapat dideteksi secara tepat, dengan sensitivitas mendekati 100%.

2. Spesifitas:

Spesifitas setidaknya 90% bagi semua spesies malaria.

Secara umum ICT memiliki tiga target antigen yang dapat dideteksi, yaitu: (1) parasite lacatate dehydrogenase (pLDH) yang merupakan enzim glikolitik pada Plasmodium sp., yang dihasilkan pada tahap seksual dan aseksual parasit, beberapa tes menyertakan antibodi untuk P. vivax-specific pLDH; (2) histidine rich protein 2 (HRP-2, hanya ditemukan pada P. falciparum) yang merupakan protein larut air yang dihasilkan pada tahap aseksual dan gametosit P. falciparum dan diekspresikan pada membran eritrosit; dan (3) aldolase (antigen pan-malarial, ditemukan pada semua spesies malaria).

Penelusuran kembali oleh Allen Cheng dan David Bell pada presisi RPD untuk malaria melalui 145 studi yang diidentifikasi melalui PubMed, WHO dan review lainnya, menunjukkan bahwa RPD memiliki jenjang sensitivitas yang lebar, mulai dari rendah hingga 100%, sedangkan spesifitas secara umum baik hampir di semua studi. Diakui bahwa terdapat kesulitan dalam membandingkan antara satu studi dan lainnya oleh karena berbagai kemungkinan seperti perbedaan manufaktur peralatan tes, kemungkinan variasi geografis pada antigen malaria, kondisi lingkungan, pembedaan baku emas (PCR atau mikroskopis).

Pada uji diagnostik plasmodium malaria menggunakan metode imunokromatografi diperbandingkan dengan pemeriksaan mikrokospis (Ima Arum, dkk 2005), menunjukkan bahwa ICT memiliki sensitivitas 100%, spesifitas 96,7%, nilai prediksi positif 83,2% dan nilai prediksi negatif sebesar 100%. Disebutkan juga bahwa Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Walkedan Playford6 dengan menggunakan ICT p.f/p.v dan diperoleh sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 97% dan 90%; sedangkan yang menggunakan perangkat alat (kit) OptiMal, Walker mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 85% dan 96%. Humar dkk yang menguji Para sight F menemukan sensitivitas 88% dan spesifisitas 97%. Di Maesod Thailand, Chansuda Wongsrichanalai, Iraeema, Arevalo dkk menggunakan uji Now® ICT pf/pv dan menemukan sensitivitas dan spesifisitas untuk P. falciparum masing-masing 100% dan 96,2%; sensitivitas dan spesifisitas untuk P. vivax adalah 87,3% dan 97,7%. Farces, Zhong dkk menguji Binax Now® ICT dibandingkan dengan PCR dan menemukan sensitivitas 94% untuk P. falciparum dan 84% untuk panmalaria; sedangkan spesifisitas 99% ditemukan untuk P. falciparum maupun panmalaria. Penelitian Tjitra dkk , dengan menggunakan ICT pf dan pv didapatkan sensitivitas 95%, spesifisitas 89,6%, nilai prediksi positif 96,2% dan nilai prediksi negatif 88,1%. Agustini dan Widayanti pada penelitian yang menggunakan NOW® ICT pf/pv diperoleh sensitivitas 97%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif 100% dan nilai prediksi negatif 88,6%.

Simpulan:

Dari berbagai penelitian dapatkan berbagai nilai sensitivitas dan spesifitas yang berbeda pada berbagai produk serta penggunaan metode ICT. Namun secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan ICT meliki sensitivitas dan spesifitas yang dapat memenuhi kriteria teknis yang diharuskan oleh WHO, walau terdapat beberapa ketidaksesuaian pada beberapa penelitian. ICT dapat membantu menegakkan diagnosis malaria secara cepat, dan sangat bermanfaat pada daerah-daerah endemik dimana ketersediaan baku emas masih minim (misal tidak tersedianya petugas lapangan yang ahli dalam pemeriksaan hapusan dari tepi), namun harus tetap diperhatikan cost- effective dari pengadopsian metode ini pada suatu lingkungan kerja.

Daftar Pustaka

Harijanto, P.N. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Sub Tropik Infeksi – Sub Malaria. Pusat Penerbitan, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 1754 s.d. 1766.

WHO. 1999. New Perspectives: Malaria Diagnosis. Report of A Joint WHO/ USAID Informal Consultantion 25-27 October 1999. World Health Organization. Geneva.

Ima Arum L, dkk. 2005. Uji Diagnostik Plasmodium Malaria Menggunakan Metode Imunokromatografi Diperbandingkan Dengan Pemeriksaan Mikroskopis. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 3, July 2006: 118-122.

Allen Cheng, David Bell. 2006. What is The Precision of Rapid Diagnostic Tests for Malaria. International Child Health Review Collaboration.

Sapu Bersih Langit dari Malaria

Pada konfrensi TED (Technology, Entertainment, Design) yang diadakan pada Februari lalu di California, Bill Gates berbicara mengenai permasalahan malaria pada hadirin dari kalangan echelon atas dari bidang teknologi, eksekutif bisnis, perancang, entertainer dan ilmuwan. Menurut pusat kontrol dan pencegahan penyakit (CDC), hingga 350 juta orang “menandatangani kontrak” (baca: terjangkiti) malaria setiap tahun, dan lebih dari satu juta dari mereka meninggal akibat penyakit ini, kebanyakan adalah anak-anak di daerah sub-sahara, Afrika.

Guna menggarisbawahi perlunya memikirkan penyakit ini sebagai suatu perhatian segera – bukan semata-mata permasalahan orang-orang di Afrika, di mana malaria paling banyak (prevalensinya) – Gates membuka sebuah guci berisi sejumlah besar nyamuk, membuat mereka terlepas ke auditorium.

Tidak ada selebriti yang “tersakiti” – mereka adalah serangga yang bebas malaria.

Meskipun intinya adalah agar membuat orang-orang berpikir mengenai malaria dan nyamuk-nyamuk yang membawanya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar sebuah masalah kaum miskin, ia bahkan mungkin akan memperoleh lebih banyak perhatian jika ia menggunakan peralatan baru di bawah bidangnya dan meledakkan para hama di udara dengan suatu laser.

Pada LLC Gabungan Intelektual (Intellectual Ventures) di Bellevue, Wash., peneliti menyelesaikan pengembangan “senjata pemusnah nyamuk” berbasis laser, sebagaimana itulah nama tak resmi yang mereka berikan. Disokong oleh donor-donor seperti Gates, perusahaan secara aktif bekerja sebagai penyaring teknologi. Ko-kreator “Intellectual Ventures”, Nathan Myhrvold, diminta oleh Gates, mantan bosnya, untuk menggunakan sumber daya firma guna mencari cara-cara baru guna memerangi penyebaran malaria. Segera setelahnya, firma menyewa seorang astrofisika, Jordin Kare, sebelumnya di Lawrence Livermore National Laboratory, dan Lowell Wood, yang sekali kesempatan bekerja di Strategic Defense Initiative, atau program “Star Wars”.

Dipimpin oleh Kare dan Wood, para ilmuwan menggunakan ide kunci Star Wars – melumpuhkan misil dengan menembakkan sinar berenergi tinggi – pada skala yang jauh lebih kecil. Sebuah permasalahan kunci, bagaimana pun juga, adalah ukuran si nyamuk, yang membuat menjadikannya target sulit. Mereka mengatasi masalah ini tidak dengan mengintai si serangga – dengan kamera-kamera beresolusi tinggi, sebagai contohnya – namun dengan mendengarkannya. Sebuah sensor mendengarkan dengungan kepakan sayap nyamuk, melacak keberadaan mahluk itu, lalu meledakkannya dengan tembakan sinar laser. Sistem ini cukup sensitif sedemikian hingga hanya melacak nyamuk, bukan yang lain, atau serangga-serangga yang bermanfaat. Ia bahkan bisa membedakan antara nyamuk-nyamuk jantan dan betina, yang bisa sangat menolong karena hanya betina yang menghisap (konsumsi) darah, yang karenanya, menyebarkan penyakit.

“Intellectual Ventures” meramalkan kemungkinan menggunakan sistemnya guna menerapkan pelindung bebas nyamuk di sekitaran sebuah desa atau mengintegrasikannya dengan sebuah pesawat “lebah” tanpa pilot untuk berpatroli di udara guna mencari target-target nyamuk baru.

100_4043

Artikel asli “Sweeping The Skies Clear of Malaria” oleh, Lynn Savage; dimuat di PostScripts Biophotonics Edisi April 2009.

Komentar Cahya,

Hmm…, apa ini berarti era obat nyamuk sudah akan berakhir ya? Jadi ingin melihat bagaimana implementasinya di tahun-tahun mendatang.

Tag Technorati: {grup-tag}Nyamuk,Malaria,Teknologi,Laser,Bill Gates