Hari Yoga Internasional

Sudah cukup lama saya tidak lagi aktif melakukan yoga, sebagian besar karena lebih suka lari di negeri awan yang tersembunyi di balik selimut. Tapi ini adalah 21 Juni, diperingati sebagai Hari Yoga Internasional, mungkin sudah waktunya kembali melakukan yoga?

Banyak orang melakukan yoga untuk meningkatkan atau menjaga kesehatan tubuh. Saya sendiri umumnya melakukan yoga untuk menjaga harmoni tubuh dan batin sejalan dengan harmoni semesta. Hanya ketika saya merasa gangguan besar pada tarian harmoni ini saya biasanya melakukan yoga – sebuah alasan yang penuh kemalasan.

Continue reading →

Iklan

Mengapa Kita Berciuman?

Saya tidak tahu, apakah orang akan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri, mengapa mereka berciuman, ataukah hanya akan melewati bagian itu dan langsung pada intinya? Kadang orang menemukan banyak alasan untuk berciuman, kadang tanpa alasan sama sekali. Kadang karena kebiasaan, atau karena desakan. Continue reading →

Adakah Ketakacuhan Ritual Menggrogoti Keseimbangan Alam?

Ini selalu menjadi pertanyaan saya, dan mungkin karena fakta-fakta itu ada di sekitar saya. Tradisi Hindu di Bali sangat kental dengan pelaksanaan ritual yang begitu beragam, begitu beragamnya – bahkan saya tidak dapat mengingat apa-apa saja bagian dari semua ritualitas tersebut. Ritual dala konsepnya, memiliki tujuan suatu bentuk turut menjaga keseimbangan seluruh unsur kehidupan, manusia, alam, dan spiritualitas. Hanya saja, saya menemukan sebuah pertanyaan yang mendasar yang bisa jadi mempertanyakan semua rangkaian tersebut. Continue reading →

Bolak Balik Serakah

Kadang otak kita sangat sulit untuk berpikir, untuk menemukan makna-makna dalam kehidupan ini; pada-hal di mana-mana, dalam setiap momen tentu mengandung makna. Dalam setiap masalah sekali-gus terkandung jawabannya, namun otak kita yang malas dan dangkal ini tak dapat menemukan, sehingga kita terjebak, stuck dan mumet. Yang terjadi justru sebaliknya; bukan otak ini mampu mencari solusi, tetapi otak ini malahan secara terus menerus membuat masalah-masalah bagi dirinya. Jika masalah ini berkepanjangan….stres jua jadinya.

Semua masalah yang terjadi yang langsung menimpa diri maupun menimpa orang-orang di sekitar kita adalah saling terkait satu sama yang lainnya. Karena senyatanya kita adalah dunia; kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari segala kegiatan dunia ini. Dalam setiap dialog, urun pendapat dalam forum-forum kecil yang bersifat tidak resmi, yang bersifat langsung maupun forum tidak langsung seperti dalam dunia maya ini; tak ada habis-habisnya pembicaraan, dialog-dialog tentang bagaimana atau apa yang mesti dilakukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi baik secara individu maupun sebagai kelompok/berbangsa, bernegara.

Dalam berbagai dialog, berbagai pendapat dikemukakan, saling menyanggah, saling menunjang, dan semua ide-ide, gagasan, pernyataan, kritik, termasuk luapan rasa jengkel dengan keadaan yang terjadi….., semuanya sebatas retorika.

Kita butuh pemimpin yang berkualitas, JUJUR, PINTAR, MEMBELA RAKYAT dll.”….. “ini butuh ratusan tahun untuk mencetak SDM yang bermoral

Sistemnya mesti diperbaiki”…, “biar dibuat sistem yang HUEBAT sekali-pun, jika manusianya tidak menjalankan dengan benar…?”…terus….

Butuh pengawasan yang ketat untuk menjalankan sistemnya”…., “SIAPA?”…, “jika pengawas, KPK-nya, kejagung, kepolisian dapat disuap”…..,? mesti ada apa lagi…..?”

Pembicaraan muter-muter tak ada habisnya…., sampai dunia ini kiamat, artinya masing-masing dari kita telah mampus…; tak jua ada perubahan/perbaikan dalam kehidupan bernegara, berbangsa atau kehidupan sebagai manusia.

Melihat kondisi ini, pembicaraan ini menjadi sangat melelahkan. Kadang timbul rasa bosan dan malas karena seolah-olah tak ada solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan manusia. Sungguhkah tak ada solusinya…? Bagi kebanyakan orang sepertinya tak ada jalan pemecahan, karena masalah ini saling terkait dan saling bergantung dengan keseluruhan struktur kehidupan, baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat, sebagai suku-suku atau bangsa-bangsa.

Bila kita sejenak diam mengamati; maka masing-masing dari kita adalah bagian yang membentuk keluarga, dan keluarga kita membentuk masyarakat selanjutnya Negara dan Dunia ini. Apa-pun yang terjadi/ada saat ini tidak terlepas dari diri kita. Bila terjadi kebusukan, kebobrokan, kekacauan, bagaimana-pun jua, kita ikut andil walau secara tidak langsung. Dapatkah kita melihat bahwa kita adalah bagian tak terpisahkan dari kondisi dunia ini? Bila kita sungguh melihat, maka kita tak’an saling menyalahkan atau melempar kesalahan. Setiap orang mestilah bertanggung-jawab pada dirinya maupun pada keseluruhan kehidupan ini. Maka itu janganlah cepat mengeluh, berputus-asa; bagaimanapun kita mesti berbuat sesuatu untuk kebaikan bersama.

Ambil contoh kecil; dalam dunia pendidikan, ada pernyataan yang mengatakan bahwa, “pendidikan rendah ujung-ujungnya jadi maling, jadi copet” dan “pendidikan tinggi ujung-ujungnya jadi koruptor.” Pernyataan ini tidaklah benar 100%, namun pernyataan ini semata ungkapan rasa jengkel saking kesalnya hati seseorang melihat kebusukan, keserakahan manusia yang semakin menjadi-jadi.

Jangankan dengan pendidikan rendahan, yang berpendidikan tinggi-pun sangat sulit mendapat pekerjaan. Dengan tiada pekerjaan maka tak ada penghasilan; kebutuhan hidup yang terus meningkat memaksa orang menempuh segala cara untuk bertahan hidup….ya jadi maling kecil, copet, penipu, wanita penghibur, pemulung, pengamen, pengemis dan lain-lain. Sedangkan yang telah memperoleh penghasilan sebagai Guru, Pegawai, Karyawan, Pejabat, Menteri, Presiden, Jenderal, Tentara, Polisi dan lain-lain, tidak sedikit yang merasa tidak puas. Dari keserakahan mereka maka tercipta maling-maling atau koruptor-koruptor di dalam tubuh birokrasi. Tak terhitung banyaknya kasus-kasus yang terjadi. Hampir di seluruh lapisan kehidupan terjadi kebobrokan. Di dunia pendidikan yang merupakan landasan sebagai pembentuk moral, karakter justru tidak jarang terjadi penyimpangan dan kebusukan. Praktek-praktek wajib les, wajib beli buku, wajib study tour dan lain-lain telah menjadi contoh buruk bagi para siswa. Masuk perguruan tinggi pada fak-fak yang di-unggulkan akan dikenakan sumbangan resmi dan tidak resmi; sehingga biaya pendidikan sangatlah mahal.

Jadi bolak-balik kita bicara…., INTI PERMASALAHAN terletak pada KESERAKAHAN diri kita.

Dapatkah kita melihat KESERAKAHAN diri kita…, dan menelusuri; kenapa kita menjadi SERAKAH…? Pada hematku, kita mesti mulai menyentuh yaitu menyimak, menyelidik, mempertanyakan secara tuntas, langsung pada sumbernya yaitu KESERAKAHAN yang ada pada diri kita masing-masing. Karena, jika kita hanya menyentuh pada level permukaan, sejenak seolah-olah masalah itu dapat diatasi atau diperbaiki, namun kemudian timbul lagi. Ini ibarat kita mencabuti rumput “teki” yang umbi-akarnya telah menjalar ke mana-mana, tak’an pernah tuntas. Maka itu kita mesti menggali sedalam mungkin pada sumbernya yaitu KESERAKAHAN DIRI dan menyelesaikannya.

Jadi pertama-tama adalah melihat KESERAKAHAN yang ada dalam diri. Untuk melihat hal ini kita tidak membutuhkan konsep-konsep, metode, kepercayaan, doktrin, guru, pemimpin atau-pun kitab suci. Yang dibutuhkan hanya kebersediaan diri untuk jujur, melihat apa adanya diri kita. Hal ini tidaklah sulit, bila kita jujur, kita akan melihat KESERAKAHAN ini adalah hal yang tidak baik, bukan…? Adakah agama-agama yang di-anut mengajar Anda untuk menjadi serakah..? Barangkali Anda atau kita semua sepakat bahwa keserakahan ini tidak baik; namun kenapa kita tidak dapat berhenti menjadi serakah? Tahukah Anda…?

Selama ini kita tak pernah mempertanyakan, menyelidik; kita cenderung dan terbiasa percaya dan melakoni saja, walau tindakkan kita terkadang kejam, tak berbelas-kasih. Kita sering berucap bahwa kita adalah orang-orang beriman, bermoral dan bertutur-kata tentang cinta-kasih. Tokoh-tokoh agama, pemuka masyarakat, Negarawan, berpidato tentang hal yang muluk-muluk; kita rajin sembahyang ke-rumah-rumah ibadah, mendengar atau berkhotbah tentang ke-besaran Tuhan, tentang cinta-kasih, tentang doktrin, kaidah-kaidah, tentang etika moral, tentang persaudaraan umat manusia, tentang toleransi, kebersamaan dan sebagainya dan sebagainya….., namun kita tetap saja serakah….; apa maknanya ini? Adakah tindakkan kita bermanfaat?

Pernahkah kita mengamati hal ini. Kita telah melakukan berbagai hal: membangun rumah-rumah ibadah, membangun rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, GOR, pusat-pusat pelatihan, dan sebagainya yang kesemuanya bertujuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan kita…., bukan? Namun semua keberhasilan kita dalam bidang fisik, tidak pernah membebaskan kita dari permasalahan hidup; di mana-mana terjadi kebusukan, kekerasan, penindasan, pemaksaan, kekejaman, persaingan, penipuan, yang semuanya bersumber dari KESERAKAHAN. Inilah wajah dunia kita, wajah kehidupan kita. Kita berada di sini, ikut andil; apakah kita terlibat langsung atau-pun secara tidak langsung. Jika Presiden kita korup, dan kita sebagai rakyat mendiamkan tindakan korup itu, maka secara tidak langsung kita ikut memupuk tindakan korup itu bukan? Ini hanyalah suatu perumpamaan. Demikian juga sama halnya dalam kasus-kasus yang lainnya. Maka dari itu kita mesti secara terus menerus berbuat kebaikan demi kebaikan, memperingati diri kita mau-pun yang lainnya. Hal ini bukanlah gampang, namun demikian kesulitan ini adalah tantangan yang mesti dihadapi. Semangat ini mesti selalu hidup, ibarat si-tukang rakit yang menikmati perjalanan sekaligus memikul tanggung-jawab untuk mengayuh rakitnya ke-hulu menyeberangkan orang-orang.

Apakah yang membuat kita SERAKAH….? Kemelekatan kita pada kemewahan hiduplah yang membuat kita sulit melepas keserakahan, bukan? Apabila kita terjerat gaya hidup mewah, maka kita tak pernah merasa cukup. Dari pakaian mewah…., terus makanan mewah, rumah mewah, mobil mewah, vila mewah, simpanan mewah, jabatan mewah, martabat mewah, kapal mewah…dan mewah-mewah berikutnya yang ngantri tak habis-habisnya dari dalam keinginan-keinginan kita. Walau-pun telah banyak kemewahan-kemewahan yang dinikmati, yang memberi banyak kesenangan dari rasa bangga; namun kegelisahan, kehampaan hidup tetap mencekam diri. Ini terjadi di mana-mana, khususnya dikalang masyarakat kelas atas di negeri mana-pun. Bila Anda kebetulan orang yang bergelimang kemewahan, coba amati…., apa yang terjadi dalam diri Anda?

Apabila kita melihat kemewahan ini memupuk KESERAKAHAN, dan secara tidak langsung menimbulkan beraneka permasalahan dalam kehidupan kita, baik sebagai individu maupun kehidupan berbangsa, apakah tindakkan kita selanjutnya…? Jika kita sungguh melihat, sungguh menginsyafi, maka akan ada tindakan spontan dari ke-insyafan-diri. Ini bagaikan kita tiba-tiba berhadapan dengan seekor king-cobra (keserakahan) yang siap mematuk, maka secara otomatis kita melompat menjauhinya.

Gerakan melompat ini mengantar kita pada kesederhanaan.

Dapatkah kita menjadi sederhana secara lahir dan batin….? Anda tak bisa berlatih untuk menjadi sederhana. Anda tak dapat menginginkan kesederhanaan itu; namun bila Anda melihat, memahami KESERAKAHAN dalam diri secara detail, maka tanpa disadari kuntum kesederhanaan itu bersemi. Apabila Anda berada di dalam kesederhanaan, maka semua permasalahan hidup sirna.

Hati terasa ringan tanpa khayalan.
Hati hening tanpa tradisi.
Hati damai tanpa kenangan.
Hati indah tanpa kepercayaan.
Di tanah ini akan tumbuh kuntum kesederhanaan batin.

Tulisan asli bisa ditemukan di “Bolak-Balik Serakah”, jika hendak berdiskusi, silakan pada tulisan asli langsung.

Tak Usah Kebencian Disebar

Mungkin saya tidak terlalu memahami, atau mungkin lebih tepatnya saya terlalu cuek, sering kali tak acuh. Ataukah di sisi lain saya hanya sudah terlalu lelah melihat bagian dari masyarakat yang semakin kusut dan muram. Orang bisa menyumpahi, meneriaki, bahkan bisa lebih semena-mena lagi pada orang lain, entah karena dasar emosi, ataukah karena dasar pemikiran yang telah mengakar untuk membenci sesuatu.

Seseorang bisa menemukan pelbagai alasan untuk membenci, apa pun! Bahkan rasa tidak suka sederhana pun ketika tergelincir dapat menjadi sebentuk kebencian yang berakar dalam. Bahkan ketika orang-orang tahu kebencian bukanlah solusi, namun pengetahuan itu telah gagal membuat kebencian itu sendiri berhenti mengakar di dalam dirinya.

Dan ketika kebencian menjadi begitu dalam, seluruh pandangan ke dunia akan terliputi oleh rasa benci ini. Setiap suara akan tersaring ke dalam kebencian. Dan setiap kata-kata serta tindakan, akan terselip rasa yang selalu bisa menyesakkan dada ini.

Itu mungkin mengapa orang bisa dengan mudah mengungkapkan kebenciannya, hingga mengajak orang lain turut serta larut ke dalam lautan kebencian. Dan orang baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, menciptakan potensi pada lingkungannya untuk berakar sebentuk kebencian yang serupa.

Rasa tidak suka akan sangat cepat muncul pada diri seseorang, apalagi ketika dipercikkan oleh orang dekat atau orang yang dipercayai. Saya rasa ini bukanlah sesuatu yang baik yang bisa muncul di masyarakat. Tapi toh kita bisa mendengarkan berita bahwa pertentangan hingga pertikaian tidak hanya individu namun juga kelompok masyarakat tidak jarang terjadi karena faktor dendam dan kebencian – tak peduli apapun alasan yang melandasi.

Saya tahu bagaimana rasanya sebuah kepercayaan disalahgunakan, sebuah ketulusan yang disalahartikan, bahkan beberapa hal yang lebih ekstrem yang tiba-tiba saja dapat mendidihkan sesuatu yang begitu pekat di dalam diri kita bernama rasa tidak suka yang merupakan benih dari kebencian.

Rasa ini bukanlah sesuatu yang bisa dilepaskan begitu saja, ia lekat dan bisa memanas dengan cepat, meledak dalam amarah, bisa jadi sumpah serapah atau bisa jadi bogem mentah. Dan setiap orang bisa merasakannya, dapat mencicipinya dalam kehidupan ini, karena ini bukanlah sesuatu yang mahal yang hanya bisa dijangkau kalangan tertentu saja.

Dan bayangkan bagaimana jika didihan ini menyebar luas dalam kelompok masyarakat, tentu saja semakin banyak luapan panas ini bisa menjadi seperti gunung vulkanik yang siap meletus kapan saja. Kekacauan bisa menjadi pemberhentian berikutnya. Dan ini bukanlah sesuatu yang diinginkan orang-orang sebagai sebuah bagian dari perjalanan hidupnya.

Bahkan ketika saya tahu betapa bahayanya perasaan benci yang hadir dalam diri kita. Saya sendiri tidak pernah berusaha mengontrol, memerangi ataupun menaklukkan kebencian dalam diri saya – itu hanya akan menciptakan bentuk kebencian lain, ketidaksukaan yang lain terhadap rasa yang ada di dalam diri saya. Dan kebencian yang itu dan yang ini tidak berbeda bahayanya.

Ketika saya berjalan dan memanggul sejumlah besar karang yang tidak akan pernah saya gunakan dan hanya membebani diri saya, maka ketika menyadari hal itu, apa yang akan saya lakukan? Ya, tentu saja saya tidak perlu menghujat karang, memeranginya karena menjadi beban hidup saya. Cukup lepaskan saja, buang saja, dan langkah akan menjadi ringan. Dan ini bisa terjadi secara alami, hanya ketika saya bisa menyadari bahwa karang itu hanyalah beban belaka – dan setelah melepaskannya maka langkah saya bisa menjadi lebih ringan.

Demikian pula rasa benci, saya tidak punya waktu untuk mengontrol kebencian, tidak ada waktu juga untuk mengontrolnya, mengapa saya mesti melakukannya jika saya bisa melepasnya langsung tanpa perlu basa-basi yang sia-sia. Kecuali saya tidak mampu melihat betapa esensialnya berjalan tanpa beban, dan betapa beban kebenciannya adalah sesuatu yang sia-sia, maka saya mungkin akan melekat selamanya pada kebencian itu. Tapi hanya ketika kesadaran akan betapa sia-sianya kebencian itu hadir, maka secara alaminya kebencian akan luntur dengan sendirinya, dan secara alaminya kebencian tidak akan memiliki kesempatan menjangkiti lingkungan di sekitar saya.

Kadang orang setengah tidak percaya dan bertanya, “Apa kamu tidak membencinya, rasanya tidak mungkin kamu tidak membencinya?”, dan sebenarnya jawaban untuk itu sederhana, “Ya ya…, mungkin saya pernah membencinya, dan mungkin saya akan membencinya di kemudian waktu, tapi tidak sekarang, saya hanya tidak sempat membenci saat ini dan saya tidak perlu, jika ada kebencian saat ini, saya tidak akan sempat menghidangkannya secangkir teh atau kopi yang akan membuatnya betah bersama saya, jadi toh dia akan pergi dengan sendirinya.”

Kebencian mungkin akan datang pada seseorang, tidak ada manusia yang bisa mengetahui masa depan. Namun jangan tambah kekhawatiran akan kebencian itu hadir.

Sebagai admin blog, saya juga kadang mendapatkan tanggapan bernada kebencian pada pihak-pihak tertentu atau golongan tertentu. Saya tentu saja tidak bisa membiarkan tanggapan seperti itu ada. Dan saya akan menghapusnya. Saya tidak percaya tanggapan seperti itu bisa menyelesaikan isu nyata yang dilontarkannya, sementara ia sendiri tidak dapat menyelesaikan isu nyata di dalam dirinya sendiri – yaitu kebencian!

Manusia selayaknya hidup dalam kebebasan, yang bermakna juga bebas dari kebencian. Jika Anda sulit menemukan sesuatu yang bisa Anda pegang di saat badai kebencian melanda, mungkin Anda perlu mengenal mengalah. Walau itu bisa jadi pada akhirnya tidak memberikan bantuan apa-apa selama esensi kebencian itu tidak tampak.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Membangun Mimpi

Saya tidak memiliki mimpi tertentu, tapi tentu saja pernah diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan dari sejak kecil mungkin, tapi sebenarnya apa yang menjadi mimpi seseorang itu?

Misal saat kecil saya sering ditanya, apa yang menjadi mimpi saya. Ketika masih berlari dengan kaki mungil ini, dengan napas yang memburu & tidak lebih tinggi untuk mampu menghempas pucuk-pucuk ilalang, maka angan kecil itu ingin segera melompat ke tempat yang tak terjamah oleh imajinasinya. Saya ingin jadi seorang astronom (atau astronot ya), kaki kecil saya ingin berlari di angkasa luas.

Setelah usia bertambah, dan imajinasimu menjadi sedikit lebih logis, maka saya tahu, bahwa berlari di angkasa lepas tidaklah sebebas berlari di permukaan bumi. Dan tidak ada alang-alang yang bisa disentuh sambil berlari.

Kemudian saya melihat bahwa ada sesuatu yang bisa membawa kaki yang berjalan ke tempat-tempat yang lebih liar dari imajinasi ini. Sesuatu yang penuh misteri dan menantang, tentu dengan alang-alang di mana-mana. Saya pun berkata, bahwa saya ingin menjadi arkeolog ketika ditanya apa mimpi saya.

Lihatlah, satu mimpi lahir setelah mimpi lainnya padam. Namun bukan berarti hidup berakhir dengan keterpurukan. Pada akhirnya saya pun tidak menjadi seorang arkeolog, tapi itu tidak berarti menghilangkan hobi saya berburu kulit kerang jika saya sempat mengunjungi pantai.

Saya bukan orang yang memiliki kemampuan membangun mimpi, namun saya orang yang memiliki kealamian dalam melahirkan mimpi. Saya tidak pernah mempertahankan mimpi saya, namun saya melihatnya berjalan bersama kehidupan di sisi saya, jika memang sudah saatnya padam, maka ia akan padam. Seperti kumpulan kunang-kunang di tepian savana pada malam hari, kita bisa melihat kelap-kelipnya silih berganti, mimpi walau hanya ilusi namun menghiasi kehidupan manusia yang penuh kegelapan.

I never build my dream, they just exist while I breath away.

Sebuah Hidup akan Kesempurnaan

Adakah di sini sebuah jalan di mana kita dapat mengakhiri konflik dan penderitaan tanpa menghancurkan kecerdasan yang kreatif dan keutuhan yang sempurna? Dapatkah bisa hadir kehidupan yang nir pilihan, itu dia, dapatkah di sini ada sebuah aksi tanpa keinginan penyangkalan atau agresif?

Dapatkah hadir tindakan yang begitu spontan dan semuanya itu bebas dari konflik yang saling bertentangan? Dapatkah hadir sebuah hidup akan kesempurnaan tanpa proses yang menghancurkan dari disiplin, penyangkalan, ketakutan, dan keputusasaan?

Apakah keadaan pemahaman yang mendalam ini dapat dimungkinkan? Saya bertanya-tanya, berapa banyak dari Anda semua yang amat sadar akan konflik ini dalam medan perang batin.

Sebuah kehidupan sempurna, sebuah kehidupan dalam tindakan tanpa pemilihan, sebuah kehidupan yang bebas dari proses-proses menghancurkan dari penghilangan dan penggantian, adalah sesuatu yang mungkin.

Bagaimana kondisi ini direalisasikan? Sistem-sistem serta metode-metode tidak dapat menghasilkan tingkat kebahagiaan batin ini. Kondisi kehidupan nir pilihan ini haruslah hadir secara alami, secara sendirinya, ia tidak dapat ditemukan. Ia tidak untuk dipahami atau direalisasikan pun dicapai melalui sebentuk disiplin, melalui sebuah sistem.

Orang dapat mengondisikan batin melalui latihan, disiplin dan paksaan, namun kondisi seperti itu tidak dapat menghidupkan pikiran ataupun membangkitkan kecerdasan yang mendalam. Sebuah batin yang terlatih seperti itu merupakan sebuah tanah yang gersang.

Diadaptasi dari: Collected Works. Vol. III Ommen Camp, Holland, 1st August, 1936.