Membaca Lantang pada Microsoft Edge

Peramban modern memiliki salah satu fitur aksesibilitas yang penting, yaitu kemampuan untuk membaca dengan lantang (read aloud) pada konten web yang sedang diakses.

Selama ini, Google Chrome dibekali dengan suara natural yang paling baik menurut saya dalam fungsi ini. Tapi setelah mencoba setelan suara alami (natural voice) pada Microsoft Edge, saya memiliki pendapat yang berbeda.

Microsoft Edge menyediakan fitur membaca natural pada perangkat komputer dan perangkat tablet modern. Saya mencoba menggunakan fitur ini pada edisi ponsel cerdas, namun sepertinya tidak menghasilkan fitur suara yang alami, hanya teks ke suara (text to speech) yang normal.

Mengapa fitur ini penting?

Karena kita mungkin tidak ingin membaca dan menatap layar dalam jangka lama untuk teks yang panjang. Dan halam web yang “dibacakan” bisa jadi solusi agar matan tidak lelah.

Atau, bisa jadi seseorang memiliki keterbatasan dalam membaca secara visual, sehingga mendengar bisa menjadi pilihan mereka.

Saya bisa mengatakan bahwa pengembang Edge telah melakukan sesuatu yang bagus untuk peramban ini. Karena tidak semua peramban modern menyediakan fitur pembaca dengan suara yang alami.

Beralih ke Microsoft Edge

Sekitar setahun yang lalu, saya sempat menulis mengenai kemungkinan beralih ke peramban Microsoft Edge. Dan bagaimana setelah satu tahun berlalu? Bisa dibilang Microsoft Edge mengalami evolusi yang cukup baik.

Microsoft tampaknya bersungguh-sungguh hendak mengambil pangsa pasar peramban dari Google Chrome. Ada beberapa hal yang Chrome masih lebih unggul dibandingkan Edge, demikian juga sebaliknya.

Lanjutkan membaca “Beralih ke Microsoft Edge”

Microsoft Editor sebagai Alat Bantu Pemeriksa Ejaan

Kita mengetahui banyak alat pemeriksa ejaan saat kita mengetik di peramban, seperti Google Chrome – misalnya. Google Chrome sendiri memiliki fungsi pemeriksa ejaan yang disempurnakan tertanam pada perambannya, namun tidak banyak memiliki fitur seperti layanan pihak ketiga – misalnya Grammarly dan ProWrittingAid.

Salah satu layanan yang kini ada untuk sejumlah bahasa di dunia adalah dari Microsoft, dengan baru saja meluncurkan produk Microsoft Editor. Mirip seperti Grammarly, Microsoft Editor memiliki fitur menulis dengan kemampuan koreksi terhadap tulisan.

Lanjutkan membaca “Microsoft Editor sebagai Alat Bantu Pemeriksa Ejaan”

OneNote, Tempat untuk Semua Catatan

Ada banyak metode untuk melakukan pencatatan dengan baik, termasuk dalam buku catatan kita. Baik pelajar maupun pekerja, sering kali akan memerlukan catatan. Catatan manual sering kali penuh, rusak atau hilang, sehingga tidak nyaman untuk digunakan. Sedemikian hingga, pilihan saat ini adalah untuk memindahkan catatan ke bentuk digital, tapi aplikasi mana yang akan digunakan?

Ada banyak sekali pilihan, misalnya Evernote, Google Keep, Dropbox Paper, SimpleNote, Joplin dan sebagainya. Tapi setelah mencoba beberapa di antaranya, saya memutuskan menggunakan OneNote.

Capture

OneNote pada Windows 10

Lanjutkan membaca “OneNote, Tempat untuk Semua Catatan”

Otomatis Pakai Microsoft Office 2019

Beberapa hari ini, saya melihat sesuatu yang baru pada Microsoft Office yang saya gunakan. Terutama dari segi menu dan tampilan, saya hanya mengira sebelumnya bahwa ini adalah pembaruan minor, namun ternyata saya keliru, sistem saya telah otomatis ditingkatkan bukan hanya sekadar diperbarui dari standar Microsoft office 2016 menjadi Microsoft Office 2019.

Mungkin ini keuntungan menggunakan Microsoft Office 365, sehingga semuanya otomatis diperbarui. Saya senang dengan perubahan tampilan yang segar dan fitur-fitur baru, terutama kesan yang lebih retro yang ditampilkannya.

Lanjutkan membaca “Otomatis Pakai Microsoft Office 2019”

Windows 10 untuk Komputer Lawas

Bisakah Windows 10 dipasang pada komputer/laptop/notebook lawas? Jawabannya ternyata bisa. Karena saya sendiri baru meningkatkan (upgrade) dari Windows 7 ke Windows 8 ke Windows 8.1 dan terakhir ke Windows 10 pada Laptop Acer TravelMate 6293 lawas saya yang dibeli sekitar September 2008 (berusia kira-kira 7 tahun lebih dikit). Seluruh proses memerlukan waktu sekitar 8 jam, dimulai dari pukul 07.00 berakhir pada pukul 15.00. Untungnya saya bisa tinggal bekerja dan seluruh proses berjalan lancar. Lanjutkan membaca “Windows 10 untuk Komputer Lawas”

Memasang Ms Office 2010 pada Linux

Meskipun LibreOffice memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan Microsoft Office, namun selalu ada yang menghendaki produk yang asalinya berjalan di Microsoft Windows ini juga berjalan pada Linux. Saya mencoba melihat bagaimana Microsoft Office dapat berjalan pada Linux, dan membaginya melalui tulisan ini.

Yang saya gunakan kali ini adalah LXLE 14.04 yang berbasis Ubuntu dengan sistem 64-bit, distribusi Linux lainnya dapat menyesuaikan. Dan saya memilih Microsoft Office 2010, karena itu yang masih bisa dibeli dengan harga terjangkau (home and student edition misalnya), dan masih bisa ditemukan yang menjual. Microsoft Office 2007 sudah lama hilang dari pasaran, sedangkan Microsoft Office 2013 walau dikatakan bisa berjalan di Linux, namun fungsinya tidak sebaik Office 2010 dan tentu saja harganya yang selangit. Lanjutkan membaca “Memasang Ms Office 2010 pada Linux”

Setelah sekian lama berkutat dengan Windows 8 dan 8.1, akhirnya Windows 9 dirilis sebagai Windows 10. Entah apa yang ada di dalam pikiran orang-orang Microsoft. Tapi kalau saya bisa lihat, mungkin ini adalah lompatan besar dari Windows 8 (bayangkan, melompat dua seri sekaligus).

Salah satu fitur yang cukup menarik minat saya pada Windows edisi teranyar ini adalah perpaduan yang cukup elegan antara penggunaan Windows di tablet dan sebagai laptop. Sehingga jarak antara dua gawai yang populer tersebut semakin tipis, saya mengatakan continuum ini akan cukup bermanfaat bagi mereka yang senang menggunakan dua jenis gawai ini. Lanjutkan membaca “Continuum ala Windows 10”

Continuum ala Windows 10

Skype 4.3 untuk Linux

Perkembangan Skype untuk Linux memang lambat, tapi bukan berarti tidak ada. Baru saja seri baru dirilis, yaitu Skype 4.3 untuk Linux, dan saya mencobanya pada dekstop openSUSE KDE 64-bit, kelihatannya cukup bagus. Hanya saja, untuk Skype 4.3 memang masih belum saya lihat versi barunya yang mendukung 64-bit, karena saat saya memilih untuk distrubusi openSUSE hanya tersedia untuk versi openSUSE 12.1 32-bit. Lanjutkan membaca “Skype 4.3 untuk Linux”