Memasang VLC pada openSUSE

VLC adalah aplikasi pemutar berkas multimedia multiformat dan multiplatform, sehingga membuatnya menjadi salah satu aplikasi paling diincar oleh pengguna yang menggunakan banyak sistem operasi, misalnya Linux, Windows dan MacOS. Pengguna openSUSE, oleh karena beberapa hal, aplikasi VLC tidak langsung tersedia, tidak seperti distro lain yang didesain out of the box untuk memainkan pelbagai format mutimedia sekaligus. Lanjutkan membaca “Memasang VLC pada openSUSE”

Asus X201E dan Pear OS 7 Corella

Saya baru saja membeli sebuah Notebook PC, yaitu ASUS Notebook PC X201E. Saya termasuk orang yang agak sulit menerima argumentasi kiamat PC, hanya karena penggunaan komputer tablet dan ponsel cerdas meningkat. Karena saya sendiri termasuk orang yang susah bergerak dan bekerja bebas tanpa komputer fisik yang memang mencukupi. Tapi tentu saja saya sudah punya sebuah laptop lawas Acer TravelMate 6293, saya memutuskan untuk mendapatkan satu yang baru.

Belakangan ini saya sering berpindah tugas di daerah publik yang cukup sibuk. Kadang saya tidak bisa mengawasi lokasi saya menaruh laptop. Sehingga saya tidak ingin kehilangan (baca: kecurian) laptop lama saya yang memiliki kemampuan cukup mumpuni itu. Alternatifnya adalah, saya ingin sebuah laptop yang cukup kecil, mudah dipindahkan (ringan), ekonomis, dan elegan – tidak memandang keperluan spesifikasi yang menengah atau tinggi. Dan jika hilang, saya tidak akan terlalu menangis. Lanjutkan membaca “Asus X201E dan Pear OS 7 Corella”

openSUSE Multimedia – Linux untuk Sekolah Tanpa Internet

Pernahkah Anda membayangkan membawa keping CD/DVD instalasi distro Linux ke daerah terpencil tanpa jangkauan koneksi Internet untuk dipasang pada sebuah komputer, baik untuk lembaga ataupun sekolah sehingga bisa digunakan untuk aktivitasnya secara baik. Namun setelah memasang ternyata ada sejumlah fitur yang tidak tersedia, dan perlu diunduh dari Internet, sungguh sayang kan.

Nah, terinspirasi dari pengalamannya di area terpencil Mas Saydul Akram melahirkan openSUSE Multimedia, sebuah distribusi Linux siap pakai bagi siswa dan guru di daerah-daerah terpencil, sekolah yang sama sekali tidak terjangkau oleh kenyamanan Internet. Ini bisa dikatakan distro openSUSE out of the box untuk dunia pendidikan. Lanjutkan membaca “openSUSE Multimedia – Linux untuk Sekolah Tanpa Internet”

Masalah Gambar dari ImageShack

Beberapa waktu yang lalu saya menemukan masalah dengan hosting gambar dari ImageShack.us yang saya gunakan di blog ini. Berbeda jika menggunakan blog gratis di Blogspot, kita mendapatkan jatah mengunggah gambar cuma-cuma di Picasa Web Album sebesar 1 GB; sedangkan pengguna WordPress (versi gratis) mendapatkan jatah hosting multimedia sebesar 3 GB. Namun blog seperti yang saya gunakan ini, hanya memiliki ruang terbatas – bahkan sangat terbatas, sedemikian hingga saya mesti mempertimbangkan untuk menaruh berkas gambar di hosting luar.

Sebenarnya ada banyak pilihan lain untuk hosting multimedia/gambar secara gratis, Picasa Web Album misalnya tetap memberikan 1 GB, ada PhotoBucket yang rasanya juga berkisar sebesar 1 GB, Flickr memiliki ruang tak terbatas (atau sebulan hanya 200 MB) dan hanya menampilkan 200 foto teranyar.

Lanjutkan membaca “Masalah Gambar dari ImageShack”

Multimedia Codecs OpenSUSE 11.3

Untuk menjalankan beberapa berkas multimedia yang tidak didukung secara default oleh Linux OpenSUSE 11.3 maka saya perlu memasang codecs tambahan. Secara aslinya, OpenSUSE hanya mendukung formta-format bebas, non-paten, terbuka sepert Ogg Theora, Ogg Vorbis dan Flac karena alasan hukum legal (DMCA & Paten Peranti Lunak Amerika).

Sedangkan beberapa multimedia lain seperti MP3, DVD, AVI dan lain sebagainya akan memerlukan dukungan codecs tambahan. Berkas tambahan akan diunduh dari vendor ‘Packman’ dan mengganti vendor asli ‘OpenSUSE’.

Menurut Unofficial Guite to OpenSUSE 11.3: Multimedia Codecs, ada 3 cara dalam memasang codecs ini di sistem operasi OpenSUSE 11.3. Menggunakan ‘1-click install’, pemasangan manual atau menggunakan baris perintah (command line), tergantung tipe mana yang lebih pas untuk kita.

1- Click Install

Pemasangan ini adalah metode yang paling sederhana, cukup klik tombol/gambar di bawah untuk memasangnya, dan Anda akan dibawa langsung menuju instalasi multimedia codecs.

Multimedia Codecs 1-Click Install

Berkas yang akan dipasang akan menghabiskan ruang sekitar 178 MB, Anda mungkin memerlukan internet akses yang cukup bagus untuk mulai memasangnya, karena jika tidak beberapa pemasangan bisa terhenti di tengah jalan.

Jika Anda mendapat jendela peringatan untuk mengubah vendor dari ‘OpenSUSE’ ke ‘Packman’, tinggal pilih opsi paling atas dan coba lagi dengan memilih ‘OK – try again!’.

Pemasangan Manual

Jika Anda ingin memasang secara manual, jangan lupa memasang ‘repository packman’ terlebih dahulu. Jika Anda tidak begitu paham tentang konsep ‘paket manajer’ & ‘repositori’, silakan melihat panduan tentang  ‘Memasang Peranti Lunak’ dan ‘Repositori Peranti Lunak’ – dalam bahasa Inggris.

Lalu pasanglah paket-paket berikut secara manual:

  • libxine1-codecs
  • w32codec-all
  • k3b-codecs
  • ffmpeg
  • lame

Untuk video dalam format DVD, karena bentuknya terenkripsi, maka guna memainkannya (misal dengan Kaffeine), perlu dipasang terlebih dahulu libdvdcss. Tambahan repositori secara manual: http://opensuse-guide.org/repo/11.3/ ke YaST dan pasang paket libdvdcss.

Pemasangan dengan Terminal

Untuk memasang codecs via terminal, lakukan langkah berikut (ingat untuk menyalin-tempel kode di bawah, saat menempel gunakan klik kanan tetikus dan pilih ‘paste’ atau gunakan papan ketik: Ctrl+Shift+V).

Pertama tambahkan respositori yang diperlukan:

zypper ar -f http://ftp.gwdg.de/pub/linux/packman/suse/11.3 packman
zypper ar -f http://opensuse-guide.org/repo/11.3 dvd

Lalu pasang paket yang diperlukan:

zypper in libxine1-codecs k3b-codecs ffmpeg lame libdvdcss w32codec-all

Anda akan diminta apakah akan mengizinkan perubahan vendor atau tidak – izinkan saja. Dan pemasangan akan selesai.

Better Media Player

Belakangan ini sangat banyak sekali media player yang bermunculan untuk dijalankan di sistem operasi Windows, selain tentunya MP bawaan Windows sendiri: Windows Media Player (WMP) yang sudah tersohor. Selain itu juga ada nama-nama besar seperti Winamp, Quicktime, Real Player, dan masih banyak lagi. Semua MP ini bersaing dalam pemasarannya, masing-masing memiliki versi freeware dan versi shareware-nya. Banyak keunggulan yang ditawarkan, mulai dari kompatibilitas, desain yang semakin anggun dengan makin banyak themes dan skin yang disertakan, kemudahan penggunaan alias user friendly, serta berbagai plug-in yang bisa menghasilkan kualitas multimedia yang tidak bisa diremehkan, mulai dari klasik mono ke stereo hingga, kelas suara suround seperti Dolby Digital yang sudah menyamai sebuah home theater, dilengkapi dengan kemampuan membaca format-format HD (high definition) seperti pada HDTV, HDDVD, atau Blue-Ray. Juga kemampuan berkoneksi dengan berbagai perangkat seperti MP3 Player, Apple iPod, Windows Mobile Device, berbagai Telepon Seluler, juga konektivitas ke dunia maya ~ internet, kemampuan sharing berkas-berkas multimedia juga menjadi salah satu acuan yang kini semakin ditingkatkan. Yah, peranti lunak multimedia yang beredar saat ini memang menggiurkan, namun terkadang untuk kualitas yang baik, harus digandeng dengan kualitas peranti keras yang tidak setengah-setengah, dan tentunya sejumlah dana harus dikucurkan untuk produk-produk proprietary ini.

Tak selamanya memang pilihan yang cukup komplit itu menarik, terutama bagi mereka yang memiliki komputer kelas menengah ke bawah (maaf). Program-program kelas tinggi memakan cukup banyak Resources (sumber daya) pada komputer, tak ayal terkadang, penjalanan multimedia menjadi begitu menyebalkan, entah film yang slow-motion karena dukungan grafik yang tidak membaik, atau suara musik yang tersendat-sendat. Ini tentunya tidak membuat nyaman. Apa lagi setelah sedemikian kerennya, eh… ternyata muncul tulisan “File can’t opened” oleh karena MP tidak mendukung jenis file tersebut. Memang ada beberapa solusi untuk masalah ini, misalnya menggunakan program codec yang mumpuni, misalnya salah satu program populer seperti K-Lite-Movie Codec (dikenal juga sebagai KLM Codec ~ sudah pernah dibahas pada posting sebelumnya), codec ini akan membantu MP seperti WMP atau Winamp untuk membaca beberapa file yang sebelumnya tidak didukung oleh media player tersebut. Namun ini akan menjadi mesalah, karena resources yang diberdayakan tetap saja tinggi, maka beberapa orang cenderung memilih menggunakan Windows Media Player Classic yang digandeng menjadi satu pada program KLM codec Pack.  Dalam tampilannya yang sederhana, dan penggunaan resources yang minimal, WMP-C dapat memainkan banyak format film tanpa kesulitan. Walau terkadang tetap ada bugs dan error atau pun sejenisnya, sehingga terkadang beberapa orang lebih memilih memasang program alternatif seperti Quicktime alternative, atau Real alternative yang lebih ringan dari program aslinya. Tentu saja program ini tidak sekeran aslinya, namun bisa membantu menjalankan format-format tersebut. Oh ya, berhati-hatilah dalam menggunakan codec, karena beberapa codec yang berjalan secara simultan justru terkadang menimbulkan efek-efek yang tidak menguntungkan. Cukup satu jenis namun yakin itu bisa bekerja dengan baik. Lihatlah berbagai Player Alternatif di situs FileHiipo.

Jika aku baru saja mencoba menggunakan VLC media player masuk salah satu player terpopuler, pertama tampilannya sangat sederhana, bahkan jauh lebih sederhana dibandingkan dengan Windows Media Player Classic. Aku mencoba menjalankan sebuah media ber-ekstensi-kan .avi (alias X-video: audio video), dan membandingkannya dengan WMP serta WMP-C, hasilnya, VLC memainkan format audio video sekitar 8x lebih baik dari dari WMP dan 4x lebih baik dari WMP-C (ini dikarenakan komputerku yang memiliki resources terbatas sangat diuntungkan oleh sistem yang teramat kompak yang dimiliki oleh paket program ini. Tentu saja ini mungkin tak berlaku pada komputer berspesifikasi lebih tinggi). Yang kugunakan adalah VLC media player seri 0,8.6h Janus dan keterangan lebih lanjut dapat dilihat di situs The VideoLAN Team. Dan tenang saja, ini adalah sebuah freeware.

Menjalankan Berbagai Format Multimedia

Dari kesibukan yang memusingkanku dan segudang tugas yang bertumpuk, aku mencari beberapa file multimedia untuk diputar dan menambah “bosan” suasana. Beberapa file berformat .avi .??? dan lainnya yang membuat pusing tidak akan bisa dijalankan dengan program windows media player standar yang dibawa oleh Microsoft Windows, terkadang orang perlu menambah sofware lain seperti Quick Time dari Apple, atau Real Player. Tentunya itu akan cukup memakan banyak tempat di hardisk kita, yah … apa boleh buat memang begitulah caranya. Namun beberapa tips sederhana bisa dilakukan dengan menambahkan codecs ke dalam sistem operasi Windows.

Apakah itu codecs? Mungkin cuplikan berikut yang saya ambil dari sebuah FAQ bisa membantu, “Most players use DirectShow for playback. DirectShow is a system that uses multiple DirectShow filters as building blocks to construct what is called a DirectShow graph. A file is a root of this graph and the audio and video renderers are the leaves of the graph. During playback data flows from the root to the leaves. Each filter in the graph performs a subtask of the whole process. Typical elements in the graph are a source filter, also called a splitter, and decoders for the audio and video. A source filter is responsible for reading the file format and feeding the data to the other filters downstream in the graph. During graph creation, if DirectShow finds multiple filters that are able to perform the same subtask, then it will typically select the filter that has the highest merit. The merit of a filter is simply a numerical value that indicates the preferability of the filter. Tools exist to alter the merit of a DS filter. Advanced players are often able to manipulate which filters are used in the graph, allowing for example to block or prefer certain filters. If no suitable DirectShow filter can be found to decode a certain audio/video format, then DirectShow is able to fall back to using VFW and ACM codecs (see below) through special wrapper filters. It is a myth that filters can ‘conflict’ with each other. If something goes wrong it is simply because some filters in the graph are not performing their subtasks correctly. The filters in this pack are carefully selected to provide you with optimal functionality and a minimal chance of running into problems.

Codec is short for ‘compressor-decompressor’, a piece of software that is able to decode and encode a certain format. By this definition, a DirectShow filter is not a codec.

Two other systems are VFW (Video For Windows) and ACM (Audio Compression Manager). Components for these system are called codecs, because they are typically able to both encode and decode. These two types of codecs are required by most video editing applications, such as VirtualDub. Traditional video editing applications are not able to use DirectShow. More modern applications are sometimes capable of using DirectShow for decoding, but they usually still require VFW and ACM codecs for encoding.

 

Ha… ha…, emang bikin pusing, tapi sederhananya memasang utility yang bernama codecs ini membantu kita membaca dan memutar berbagai berkas multimedia. Salah satu yang kusarankan adalah KLM-codecs dan bisa diunduh secara gratis dari internet. Well, semoga menikmati ber-multimedia-ria…. (jika kurang silahkan mencoba mencari di http://www.free-codecs.com/ untuk program sejenis lainnya).