Give Me Some Sunshine

Acara saresehan semalam yang membahasa masalah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di salah satu stasiun televisi swasta tampaknya tidak memberikan jawaban apapun. Masing-masing pihak tetap pada pandangannya. Apalagi jika ditanyakan pada saya, yang dalam catatan bukanlah seorang pemikir, maka saya lebih tidak memiliki solusi apa-apa.

Karena bagi saya sederhana, fungsi negara adalah “melindungi segenap tumpah darah Indonesia“. Jika fungsi penggerak panji negara kita tidak memahami hal ini, maka sudah habislah negara ini. Negara ini akan menjadi sebuah kapal besar yang karam. Continue reading →

Kemanusiaan Di Seputar Kemajemukan

Dulu, seorang sastrawan tua datang pada kami, dan di antara kata-katanya terucap – bahwa setiap orang (baca: siswa) yang berdiri di hadapannya ketika itu, berhak bermimpi menjadi apapun di masa depan, dan silakan menjadi seperti yang diinginkan, entah itu mulai dari kepala negara/daerah hingga menjadi preman jalanan sekali pun, asal jangan lupa untuk tetap menjadi manusia.

Ya, manusia bisa menjadi apapun, mengambil peran sebagai apapun, bertindak dan berpikir seperti apapun, namun selayaknya semua itu tidak membuatnya berhenti untuk menjadi manusia. Dan tentu saja seorang manusia dalam makna yang sesungguhnya. Continue reading →

Pro Kontra Imunisasi dan Vaksinasi

Imunisasi dan vaksinasi adalah salah satu metode preventive medicine yang baru berkembang dalam 200 tahun terakhir ini, atau yang bisa kita sebut sebagai upaya pencegahan primer. Teknologi imunisasi dan vaksinasi dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjamin keamanan penggunaan, tapi apakah absolut aman, tentu saja tidak sesempurna itu – sama halnya dengan menyadari tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sehingga hal ini sering kali menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat.

Mungkin imunisasi dan vaksinasi sering diartikan sama, meski ada sedikit perbedaannya. Imunisasi adalah transfer antibodi secara pasif, sedangkan vaksinasi merupakan upaya pemberian antigen (vaksin) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem kekebalan tubuh kita.

Continue reading →

102 Tahun Kebangkitan Nasional

Hari ini aku mengantarkan ibu untuk apel pagi dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional. Aku tak akan protes, walau entah mengapa aku hanya merasa ini sesuatu yang hanya sekadar rutinitas. Itu-itu saja, tanpa ada sesuatu yang baru sebagai pendobrak kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Continue reading →

Perdana Menteri Dan Peti Mati

Ketika itu pada sebuah negara seorang perdana menteri baru melantik anggota kerjanya yang berjumlah 20 orang, dalam upacara pelantikan yang seharusnya meriah malah ada banyak peti mati yang terjejer rapi di tengah aula.

Peti-peti itu sederhana, hampir tak ada yang istimewa. Namun tentu keberadaannya yang nyleneh itu bikin orang bertanya-tanya. Walau demikian tak seorang pun tahu apa maksudnya, dan tak seorang pun berani bertanya pada Perdana Menteri yang terkenal tegas dan lugas itu sementara ia masih dengan khidmat memimpin upacara pelantikan menteri-menterinya yang dua puluh orang itu. Tak ada yang berani mengusik acara itu, karena di negeri itu pimpinan begitu dicintai dan dihormati.

Setelah acara selesai seorang wartawan memberani kan diri mendekati perdana menteri yang tampaknya sudah agak luang dan hendak menuju mobilnya. Dengan sopan ia mempersiapkan dirinya untuk bertanya – mungkin amat berbeda dengan negeri kita yang para wartawannya selalu tampak berebutan di tayangan berita (ups.. no offense).

Pak, maaf, apakah kami dapat meminjam waktu luang Anda sesaat? Kami dari stasiun berita PQR.” Kata wartawan dengan santun.

Perdana menteri dengan ramah menyambutnya, sementara ia meminta ajudannya untuk menunda sesaat acara selanjutnya yang harus dihadirinya. Ia mempersilakan wartawan muda itu bertanya apa saja, namun hanya lima menit, karena ia harus segera berada di tempat lainnya.

Lalu wartawan pun bertanya tentang peti-peti mati yang berjejer di ruang itu, mungkin juga pertanyaannya adalah hal yang sama yang diajukan setiap mata yang memandang ke upacara pelantikan itu.

Nak, itu hanya peti mati biasa, diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah mati, sehingga mereka mereka dapat dikuburkan secara layak sesuai tradisi kita.” Kata perdana menteri dengan halus.

Wartawan berkata, bahwa ia mengerti tentang hal itu. Namun mengapa benda-benda itu justru ada di ruangan saat acara yang secara logika tidak sesuai dengan yang sedang berlangsung.

Ah…, itu begini. Salah satu dari dua puluh peti mati akan saya hadiahkan bagi menteri yang terbukti bersalah melakukan korupsi berat, merugikan rakyat dan negara. Satu yang di depan adalah untuk saya sendiri jika saya bersalah melakukan kejahatan yang sama terhadap rakyat dan negara.” Jawabnya sambil tersenyum ramah.

Tentu si wartawan menjadi kaget mendengar hal itu, ia melihat peti-peti itu kembali, dan sepertinya memang sesuai dengan yang dikatakan perdana menteri itu. Namun masih ada satu peti lagi yang tersisa, lalu itu untuk siapa? Peti itu tampak lebih bagus dari yang lain.

Oh…, itu sama saja, hanya saja saya sempat menyisihkan uang tabungan saya untuk memberi polesan yang lebih bagus. Bagaimana pun itu setidaknya harus lebih bagus, karena diperuntukkan bagi sahabat baik saya sejak kecil yang baru pergi dalam mobil kuno itu” Perdana menteri menunjuk pada sebuah mobil hitam yang mengangkut wakil perdana menteri.

Ups…, kini si wartawan kehabisan kata-kata dan perdana menteri pun bisa pamit dengan tenang tanpa diganggu pertanyaan lebih jauh lagi.

Tulisan ini adalah respon bagi “Belajar Dari Lula”, sebuah tulisan yang menarik oleh Dian Purnomo.