Klorokuin, obat COVID-19 yang tertunda?

Beberapa hari yang lalu, berdasarkan salah satu penelitian dari Lancet mengenai efikasi (kemanjuran) obat hidroksiklorokuin atau klorokuin1, WHO memutuskan untuk menghentikan sementara uji coba hidroksiklorokuin pada “Solidarity Trial” sementara data yang ada diulas ulang oleh Badan Pemantauan Keamanan Data.

Keputusan ini juga diunggah melalui cuitan di akun Twitter resmi @WHO pada tanggal 25 Mei yang lalu.

Hal ini mengundang banyak sekali debat di kalangan masyarakat awam. Oh ya, tentu saja yang berdebat adalah masyarakat awam, kalangan medis jarang berdebat tentang sebuah penelitian yang menggunakan analisis daftar multibahasa atau ulasan sistematis, kecuali dia bisa membantah atau menyatakan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian tersebut cacat secara keilmuan. Sementara masyarakat awam akan berdebat mengenai apa yang mereka tahu dan percaya, bukan berdasarkan keilmuan. Lanjutkan membaca “Klorokuin, obat COVID-19 yang tertunda?”

Resep Elektronik Sederhana oleh Dokter

Era nirkertas (paperless) menjadi tuntutan dunia modern, termasuk dunia kedokteran. Salah satunya adalah dalam bidang rekam medis dan penulisan resep. Komite Akreditasi Rumah Sakit sempat mendorong agar rumah sakit menyediakan penulisan resep secara digital – terkomputerisasi, sedemikian hingga tidak ada lagi kejadian salah baca resep dokter.

Hanya saja kendala selalu ada. Penerapan peresepan elektronik (e-prescribing) menjadi sesuatu yang mahal pada investasi awalnya di sebuah fasilitas pelayanan kesehatan. Apalagi ketika kebanyakan pihak tidak melirik pada opsi open source, tapi pada proyek digital yang tersedia.

Belum lagi ditambah di situasi pandemi COVID-19 kali ini, bisa jadi pasien menghindari berkunjung langsung ke tempat praktik dokter dan memilih berkonsultasi jarak jauh, melalui teknologi digital, yang merupakan salah satu praktik paling sederhana dari telemedicine.

Permasalahan kemudian muncul, bagaimana jika dokter hendak meresepkan obat pada pasien?

Resep bisa dibuat dalam bentuk tertulis pada kertas, atau dalam bentuk elektronik sebagai permintaan tertulis oleh dokter kepada apoteker.

Jika seorang dokter tidak memiliki fasilitas penulisan resep secara elektronik, maka penulisan resep pada kertas resep dianjurkan. Karena peraturan perundangan (Permenkes RI Nomor 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek & Permenkes RI Nomor 9 tahun 2017 tentang Apotek) telah menetapkan hanya ada dua bentuk resep tersebut.

Resep yang ditulis manual dapat dipindai dan dipindahkan menjadi bentuk elektronik, ini adalah pilihan yang paling mudah.

Nah, pertanyaan berikutnya. Bagaimana cara mengamankan resep dalam bentuk elektronik ini, sedemikian hingga tidak disalahgunakan?

Kita tahu saat ini teknologi sangat canggih, berkas elektronik sangat mudah dimanipulasi. Sedemikian hingga sebagai penerbit resep, dokter sedikit banyaknya memiliki tanggung jawab dalam melindungi resepnya dari penyalahgunaan.

Dalam pengalaman saya, saya menganjurkan agar resep di atas kertas dipindahkan ke dalam bentuk elektronik berupa dokumen format portable atau PDF. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan pelbagai jenis aplikasi pada  ponsel pintar. Kata kunci seperti “Scan, Photo, & PDF” dapat membantu menemukan aplikasi yang diperlukan.

Kedua, berkas elektronik resep dalam bentuk PDF ini perlu ditandatangani secara digital oleh dokter yang menerbitkan. Yang menandakan, bahwa dokter tersebut memang menyetujui resep itu, dan menandakan bahwa tidak ada perubahan dibuat pada resep setelah ditandatangani oleh dokter.

Tanda tangan digital ada banyak metode yang bisa dilakukan, dan dokter bisa memilih layanan yang ia sukai.

Anotasi 2020-05-31 104120

Contoh tanda tangan digital pada resep.

Tentu saja, jika suatu saat terjadi penyalahgunaan resep dokter. Tanda tangan digital bisa melindungi dokter secara hukum, jika terbukti bahwa resep elektronik tersebut telah dimanipulasi pasca diresepkan dan ditandatangani secara digital oleh dokter.

Pasien dapat membawa resep yang ditandatangani secara digital oleh dokter ke apotek untuk menebus obat. Tentu saja, tidak setiap apotek menerima resep elektronik, ini terkait dengan kesiapan apotek tersebut dalam melakukan transaksi elektronik sebagaimana yang diatur oleh UU ITE.

Misalnya saja, tidak banyak yang tahu bahwa resep elektronik tidak untuk dicetak. Tapi diverifikasi secara elektronik/digital, karena tanda tangan melekat secara elektronik/digital. Resep yang tercetak di kertas hanya resep yang ditulis tangan langsung oleh dokter, bukan resep elektronik.

Sebagai penutup, ada sejumlah obat yang tidak dapat (entah diatur secara legal atau tidak) diresepkan secara elektronik, dan dokter sebaiknya menghindari meresepkan obat tersebut secara elektronik. Misalnya adalah golongan narkotika, psikotropika/antipsikotik, stimulan, dan sedatif. Sementara itu di beberapa negara yang melegalkan mariyuana (ganja), dokter juga tidak boleh meresepkannya secara elektronik.

Ranitidin, NDMA, dan Kanker

Pelbagai berita mengenai ditariknya obat yang bernama ranitidin mengisi media masa sejak beberapa hari ini hingga pagi tadi ketika saya menyeruput secangkir teh tarik. Praktisi kesehatan mungkin sudah mengetahui berita ini, tapi tidak banyak yang mengetahui kejelasannya.

Kabar penarikan obat ranitidin berasal dari pengumuman oleh FDA1 dan EMA2 secara bersamaan pada 13 September yang lalu. Yang kajian tersebut menyebabkan lahirnya penjelasan publik dari BPOM RI3 pada 4 Oktober yang lalu, terkait obat yang dimaksud.

Ranitidin merupakan obat yang umum digunakan untuk mengatasi keluhan dispepsia atau masalah refluks gastroesofageal. Di luar negeri, obat ini memiliki salah satu merk paten terkenal yaitu Zantac.

Infografik cara kerja Ranitidin (Zantac). Sumber: zantac.ca.

Lanjutkan membaca “Ranitidin, NDMA, dan Kanker”

Daftar Obat Keadaan Darurat di Ruang Praktik Dokter

Keadaan darurat bisa terjadi di mana saja, termasuk di ruang praktik mandiri seorang dokter.  Dokter pun tidak akan pernah tahu kapan pasien atau bahkan dirinya sendiri mungkin mengalami keadaan darurat di tempat praktiknya, misalnya saja serangan asma, atau nyeri akut.

Oleh karena itu, dokter selayaknya dan wajib menyediakan obat-obat keadaan darurat (emergency drugs kit) di ruang praktiknya. Minimal kelengkapannya sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01/07/MENKES/263/2018 yang dirilis pada Mei lalu.

Lanjutkan membaca “Daftar Obat Keadaan Darurat di Ruang Praktik Dokter”

Bantuan Ponsel Cerdas dalam Telaah Interaksi Obat oleh Dokter

Pelayanan dokter pada jenjang kuratif akan sering melakukan pengobatan atau peresepan obat kepada pasiennya. Peresepan obat oleh dokter didasarkan kepada kaidah peresepan obat secara rasional 1 berdasarkan hasil kajian klinis terhadap kebutuhan terapi pasien. Oleh karena peresepan memang tidak mudah, maka sejumlah kaidah yang dikembangkan untuk menghasilkan peresepan yang lebih baik dalam pembelajaran yang terus-menerus 2.

Lanjutkan membaca “Bantuan Ponsel Cerdas dalam Telaah Interaksi Obat oleh Dokter”

Pengobatan Tanpa Mencederai

Setiap orang pada suatu masa dalam kehidupannya, pasti akan minum obat untuk mencegah atau mengobati penyakit. Obat telah selamanya mengubah pola hidup manusia dalam melawan penyakit. Obat memberikan kesempatan bagi manusia untuk hidup lebih sehat, lebih panjang usia. Namun di sisi lain, obat juga memiliki potensi mencederai secara serius jika dikonsumsi tidak sesuai aturan, tidak dipantau penggunaannya, atau oleh karena suatu kesalahan dan keterbatasan komunikasi.

Lanjutkan membaca “Pengobatan Tanpa Mencederai”

Kuman yang Kebal Obat

Dunia kesehatan memiliki salah satu isu besar, yaitu kuman (mikroba) yang mulai kebal terhadap obat antimikroba. Kuman atau mikroba dalam hal ini bisa bermakna virus, jamur atau pun bakteri.

Keuntungan dunia kedokteran modern dalam melawan banyak penyakit saat ini adalah adanya antimikroba ini, seperti antibiotik untuk melawan penyakit pnemonia misalnya. Hanya saja, semakin hari, kita menemukan munculnya kuman-kuman yang sudah mulai tidak bereaksi dengan pengobatan ini alias kebal dengan obat.

Kita menyebut kondisi ini dengan istilah kekebalan terhadap obat antikuman, atau antimicrobial resistance. Lanjutkan membaca “Kuman yang Kebal Obat”

Aspirin Sebagai Pencegah Kanker

Aspirin merupakan salah satu obat lama yang ada di pasaran dan bisa didapatkan secara bebas dan murah. Sejak dulu, aspirin memang diketahui memiliki sifat pencegah kanker; namun belum berani direkomendasikan karena kekhawatiran akan dampak penggunaan jangka panjangnya. Kini, ada penelitian yang memberikan gambaran tentang bagaimana aspirin dapat direkomendasikan untuk mendapatkan manfaatnya dalam mencegah kanker. Lanjutkan membaca “Aspirin Sebagai Pencegah Kanker”

Tangguhkan Antibiotik untuk Mengobati Sinusitis

Setiap tahun banyak orang menderita sinusitis akibat komplikasi batuk pilek, flu, rinitis alergi dan sebagainya. Dan banyak dari kasus tersebut mendapatkan obat-obatan antibiotik, padahal kebanyakan kasus tersebut mungkin saja tidak memerlukan antibiotik.

Ada sejumlah alasan mengapa saat terserang sinusitis antibiotik tidak terlalu diperlukan, atau setidaknya tidak secara buru-buru diberikan sebagai tahap awal dalam pengobatan. Lanjutkan membaca “Tangguhkan Antibiotik untuk Mengobati Sinusitis”