openSUSE 42.3 via WSL Windows 10

Menjalankan Windows 10 dan menjalankan Linux melalui Windows subsytem for Linux (WSL) menjadi pilihan bagi saya yang menjalankan sistem operasi Windows 10 dan juga ingin menjalankan sistem berbasis Linux secara bersamaan. WSL sudah diperkenalkan dan meluas pada awal tahun yang lalu, hanya saja saya baru kali ini mencobanya.

Untuk distrubusi Linux yang saya pilih di sini adalah openSUSE Leap 42.3 yang tersedia melalui Microsoft Store 1. Memasangnya juga cukup sederhana, dan saya cukup familier dengan distribusi ini. Continue reading →

Iklan

10 Hal yang Dilakukan Setelah Memasang openSUSE

Saya selalu ingin membuat judul seperti itu, tapi baru kesampaian kali ini. Mungkin karena disebabkan sebentar lagi saya akan menggunakan laptop baru yang tidak lagi berbasis linux. Bagaimana pun selama lebih dari 12 tahun, openSUSE merupakan distribusi linux yang sudah menemani keseharian saya, dan saya ingin menuliskan sedikit kenangan itu di dalam sini.

Apa saja yang saya lakukan setelah pertama kali memasang openSUSE di sebuah komputer?

Saya suka bereksperimen pada sebuah sistem baru, walau saat ini tidak lagi memiliki cukup waktu untuk itu. Dalam 12 tahun, sebagaimana distribusi linux lainnya, saya menemukan openSUSE memiliki banyak perubahan. Pada sistem partisi misalnya, ini akan membuat cara memasang openSUSE dengan metode dual-boot juga memiliki perubahan.

Saya akan memilih Gnome sebagai desktop pada openSUSE, dan jenis yang saya pilih berubah-ubah, kadang saya menggunakan edisi biasa (sekarang dikenal dengan nama openSUSE Leap) untuk stabilitas, dan sekarang saya sedang menggunakan openSUSE Tumbleweed untuk mendapatkan pembaruan yang berkelanjutan.

Setelah sebuah desktop segar saya dapatkan, berikut adalah hal-hal yang biasanya saya kerjakan dengan openSUSE yang baru:

Melakukan Pembaruan Paket

Paket yang tersedia pada openSUSE bisa jadi sudah agak lama, walau pun biasanya saya mencari snapshot terkini milik bunglon hijau ini.

Pembaruan paket bisa dilakukan secara otomatis, tidak perlu memikirkan apa-apa, nanti akan ada pembaruan dengan sendirinya. Hanya saja saya lebih suka melakukan pembaruan secara manual.

Perintah:

zypper update

Jika terjadi benturan dengan sistem pembaruan otomatis, cukup matikan pembaruan otomatis.

Melakukan Sinkronisasi Firefox

Mozilla Firefox adalah peramban web bawaan openSUSE. Dan banyak bookmark yang saya simpan di dalamnya. Termasuk website yang menyimpan perintah-perintah bash tertentu yang akan saya perlukan untuk bekerja dengan linux. Terus terang, saya tidak pernah hapal perintah bash untuk linux.

Dengan melakukan sinkronisasi pada Firefox, saya bisa mengambil kembali semua bookmark tersebut dengan mudah, dan mencari halaman yang saya perlukan.

Akun Daring

Mungkin ini tidak wajib, namun Gnome menyediakan online account yang bisa ditambahkan ke dalam dekstop. Facebook, Microsoft hingga Google biasanya yang saya aktifkan, sekaligus menjadikan akun surat elektronik pada Evolution tersiapkan secara otomatis.

Repositori Tambahan

Tidak semua aplikasi yang saya perlukan ada pada sistem bawaan openSUSE. Sedemikian hingga saya perlu menambahkan sejumlah repositori untuk mendapatkan perangkat lunak atau paket yang saya inginkan. Beberapa repositori yang sering saya gunakan adalah:

Misalnya saya hendak memasang Google Chrome, maka saya akan memberikan perintah berikut pada bash:

sudo zypper ar http://dl.google.com/linux/chrome/rpm/stable/x86_64 Google-Chrome

wget https://dl.google.com/linux/linux_signing_key.pub
sudo rpm --import linux_signing_key.pub

sudo zypper ref

sudo zypper in google-chrome-stable

Memasang Ekstensi Gnome Shell

Yang membuat dekstop Gnome bisa dikustomasi adalah tersedianya pelbagai ekstensi yang bisa diakses melalui https://extensions.gnome.org. Seperti gambar diatas, saya menggunakan ekstensi ‘dash to dock’ yang cukup populer.

Memasang Aplikasi Tambahan

Beberapa aplikasi yang saya inginkan/perlukan biasanya saya tambahkan kemudian, misalnya saja:

  • VLC media player (sekarang lebih suka menggunakan SMPlayer)
  • Opera/Vivaldi/Chrome web browser
  • Dropbox
  • Telegram
  • WhatsApps (dulu pakai Whatsie)
  • Shutter
  • Clamav

Beberapa paket seperti codec, biasanya juga saya pasang secara manual (Panduan: http://opensuse-guide.org/codecs.php).

Kandar Tambahan

Khusus bagi mereka yang menggunakan perangkat keras tambahan, seperti kartu grafis misalnya, maka akan memerlukan kandar tambahan.

Anda mungkin memerlukan jika hendak menikmati video game dari Steam (https://en.opensuse.org/Steam). Tapi biasanya untuk ini, Leap lebih direkomendasikan dibandingkan Tumbleweed.

Flash Player

Ini bagian yang tidak saya sukai, namun dalam beberapa kondisi masih diperlukan. Di era HTML5, Flash menjadi sesuatu yang tampaknya kuno. Beberapa perintah berikut dapat berguna.

# Install Flash player for 32-bit system #
$ sudo rpm -ivh http://linuxdownload.adobe.com/adobe-release/adobe-release-i386-1.0-1.noarch.rpm

# Install Flash player for 64-bit system #
$ sudo rpm -ivh http://linuxdownload.adobe.com/adobe-release/adobe-release-x86_64-1.0-1.noarch.rpm

# Import adobe key #
$ sudo rpm --import /etc/pki/rpm-gpg/RPM-GPG-KEY-adobe-linux

# Install flash plugin #
$ sudo zypper install flash-plugin

Tinggal memilih, hendak dipasang atau tidak.

Microsoft Office

Untuk beberapa pengguna, Microsoft Office mungkin adalah hal yang terasa mirip dengan Flash Player. Ketika semua bisa didapatkan ‘tanpa’ mengeluarkan uang untuk lisensi, Microsoft Office sebaliknya.

Saat ini Microsoft Office 2013 bisa dipasang pada openSUSE, setidaknya saya telah mencobanya menggunakan WINE.

Hanya saja, tidak semua berjalan dengan baik. Bagian paling penting bagi saya adalah kemampuannya melakukan sinkronisasi dengan OneDrive tidak bisa dilakukan. Sehingga aplikasi seperti OneNote tidak dapat melakukan sinkronisasi. Untuk lisensi yang dibayar, saya rasa memilih LibreOffice akan jauh lebih baik dibandingkan dengan Microsoft Office pada Linux.

Tapi karena penasaran, saya masih mencoba memasang Microsoft Office dan membeli lisensinya. Terpaksa membeli karena linsensi Office 365 tidak bisa digunakan.

Gimik/Tampilan

Pada akhirnya, semua hal memerlukan pemanis. Inilah tampilan atau pengaturan tema pada desktop yang kita gunakan. Misalnya saya suka menggunakan ikon Numix dengan tema Paper. Dan orang lain mungkin menyukai hal yang berbeda.

Memasang Microsoft Office 2013 pada openSUSE dengan Wine 2.x

Salah satu unggulan dari Wine 2.0 adalah dukungan pada Microsoft Office 2013 sedemikian hingga dapat berjalan lancar di Linux. Oleh karena itu, saya menyempatkan diri untuk mencoba memasang Office 2013 pada openSUSE Tumbleweed yang saya gunakan saat ini. Setelah beberapa kali uji coba, saya mendapatkan Office 2013 yang bisa berjalan pada Linux.

Pertama-tama, saya mengikuti langkah lama sebagaimana saat memasang Office 2010 dulu di Linux.

Untuk openSUSE, Wine bisa didapatkan melalui repositori sebagaimana yang dijelaskan di: https://en.opensuse.org/Wine. Wine dan Wine-Mono dipilih untuk dipasang.

Jangan lupa memasang winetricks sebagaimana yang diinformasi di: https://wiki.winehq.org/Winetricks.

Setelah memasang wine, wine-mono, dan winetricks, maka selanjutnya membuat wineprefix 32-bit yang baru berbasis Windows 7.

WINEPREFIX=~/.wine/Office2013 WINEARCH=win32 winecfg

Pada TAB ‘winecfg’ dipilih Windows Version: Windows 7. Kemudian tutup jendela.

Kemudian akses winetricks dengan perintah:

WINEPREFIX=~/.wine/Office2013 WINEARCH=win32 winetricks

Dari jendela winetricks, bisa dilakukan beberapa hal:

  1. Menambah fonts yang mungkin akan diperlukan.
  2. Melalui default winetricks, pilih “Install Windows DLL Components” dan pasang msxml6.
  3. Jalankan regedit, pilih pohon ‘HKEY_CURRENT_USER – Software – Wine’. Buat ‘new key’ dan namakan sebagai ‘Direct3D’, di dalamnya tambahkan ‘new DWORD value’ dan namakan sebagai ‘MaxVersionGL’ lalu atur nilai data menjadi 30002 (hexadecimal). Ini memperbaiki layar hitam yang muncul ketika saya pertama kali mencoba memasang Office 2013 dengan Wine.

Tutup semua jendela, dan langkah terakhir adalah memasang Office 2013 dengan masukkan DVD instalasi dan mengakses berkas instalasi:

WINEPREFIX=~/.wine/Office2013 WINEARCH=win32 wine ~/JalanKE/Office2013Setup.x86.exe

Ini akan memakan waktu beberapa menit, tergantung kecepatan komputer.

Sayangnya, saya masih belum bisa menggunakan lisensi Office 365 ke dalamnya, meskipun linsensi saya dikenali. Tapi ini sudah cukup bagus, mungkin memerlukan lisensi tersendiri nantinya.

Jika memerlukan alat pembuktian bahasa Indonesia (proofting tool), bisa diunduh dari: https://www.microsoft.com/id-id/download/details.aspx?id=35400 dan dipasang sebagaimana memasang Office di atas. Karena sebenarnya inilah yang paling saya butuhkan dari Microsoft Office.

Migrasi dari Leap 42.1 ke Tumbleweed

Karena sudah rilisnya openSUSE Leap 42.2, saya berminat melakukan peningkatan (upgrade) dari seri 42.1 yang saat ini saya gunakan ke seri 42.2. Namun setelah membaca sejumlah panduan dan pengalaman pengguna, saya tidak memilih meningkatkannya, karena tetap saja untuk keamanan, saya akan memerlukan sebuah DVD instalasi.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba melakukan peningkatan, atau mungkin lebih tepatnya migrasi dari seri Leap 42.1 ke seri Tumbleweed. Dari yang saya baca, Tumbleweed saat ini sudah cukup stabil untuk digunakan harian. Continue reading →

WhatsApp di Desktop ala Whatsie

Whatsie sebenarnya bukan aplikasi baru lagi, dan banyak digunakan oleh pengguna WhatsApp sebagai klien dekstop untuk WhatsApp Web. Saya menginginkan versi desktop app yang terpisah dengan aplikasi lain (misal bukan ekstensi Chrome). Pada Windows, WhatsApp sudah memiliki aplikasi desktop asli tersendiri yang saya pasang.

Aplikasi Whatsie (yang katanya masih dalam versi beta) ternyata cukup nyaman digunakan pada Desktop.

Continue reading →

FreeOffice 2016

FreeOffice 2016 dari SotfMaker merupakan aplikasi alternatif untuk Microsoft Office 2016 dan LibreOffice 5 (karena muncul pada masanya). Aplikasi ini bisa dikatakan salah satu aplikasi Office paling ramping, karena ukuran berkas instalasi yang diunduh tidak melebihi 80 MB (walau terpasang nanti sekitar 114 MB). Lalu apa yang menarik dari aplikasi atau perangkat lunak Office yang disediakan secara gratis ini? Siapa tahu Anda tidak perlu membeli linsensi Microsoft Office yang agak mahal itu.

Continue reading →