Persimpangan Yang Membingungkan

Jalanan masih cukup gelap, langkah kaki pelan di bawah taburan bintang yang masih cukup segar dan cemerlang. Rayapan dingin pagi rasanya tak begitu kental, aku tahu cuaca banyak berubah belakangan ini. Continue reading →

Iklan

Pencicip Kue Matahari

Karena Hari Raya Galungan sudah dekat, ibu jadi sibuk membuat kue matahari sejak pagi tadi. Termasuk mengolah bahan, dan sekarang menggorengnya. Tentu saja sebagai anak yang berbakti saya juga membantunya, yaitu membantu mencicipinya 🙂 Continue reading →

Mentari Pagi

Sebagaimana yang kuceritakan di Broken Sheel Broken Mirror, aku tidak akan berpura-pura bahwa segalanya telah lebih baik saat ini. Setidaknya, tidak secepat itu. Perasaanku tidak dapat mudah menjadi tenang, bahkan tanganku tak dapat menuliskan apa yang kurasakan sehingga aku dapat bercermin darinya.

Selama aku berlayar di kehidupan ini, mungkin inilah pertama kali si nahkoda melihat badai yang demikian besarnya, walau jauh hari sebelumnya ia telah memprediksi, namun badai tetaplah badai, ia tak sama dengan apa yang ada di dalam angannya.

Semalam aku terbangun di tengah waktu yang tidak tepat. Aku mencoba keluar dan melihat di sekitarku. Rasanya seperti menyentuh sesuatu yang tidak nyata. Walau aku dengan senang biasanya dapat memandang bintang-bintang yang bertaburan, namun malam itu awan-awan putih menutupi sebagian besar langit di atasku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini dapat terpengaruh, mungkin karena ia begitu rentan dan lemahnya.

Waktuku seakan tergulung bersama badai, walau malam begitu tenang dan menentramkan. Gelisahku seolah berpacu dengan ketidaktahuan, sementara aku hanya diam terpatung. Ya, tubuhku lunglai, mungkin karena sehari sebelumnya tidak ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuhku kecuali dari dua potong apel dan dua potong roti tawar, dan seteko air putih.

Paginya aku kembali terbangun begitu sinar matahari pagi menerobos ke dalam kamarku. Aku tahu aku tak dapat lagi beristirahat. Setelah mencuci muka aku pun berjalan ke luar, aku tahu betapa lama sekali aku telah melewatkan sinar yang selalu menghangatkan setiap pagi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suasana tenang pedusunan di pagi hari mengingatkanku suasana di desa. Hal yang selalu menentramkan hatiku. Mungkin itulah yang membuatku berkeinginan untuk tetap berada di pedesaan untuk saat-saat kemudian, daripada berada di perkotaan.

Sinar matahari pagi mengingatkanku akan banyak hal, mungkin karena itulah aku selalu merindukannya.