Menyusun Pedoman Anti-Fraud di Rumah Sakit

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas layanan kesehatan memiliki potensi memunculkan tindak kecurangan (fraud), apalagi pada era di mana sistem pembiayaan melibatkan banyak pihak, antara klien (peserta BPJS Kesehatan), badan penyelenggara sistem asuransi kesehatan (BPJS Kesehatan), dan pemberi layanan (fasilitas kesehatan).

Pada umumnya dan sebagian besar tenaga kesehatan dan para profesional pemberi asuhan adalah pihak-pihak yang jujur, bekerja keras dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan pasien-pasien mereka. Namun selalu ada oknum-oknum yang ingin menambah pundi-pundi finansial mereka secara tidak legal. Jika ini terjadi di rumah sakit, maka tidak hanya merugikan klien dan badan penyelenggara, namun juga rumah sakit itu sendiri – baik oleh karena beban dari proses penyelidikan hingga proses sanksi (administratif hingga tuntutan hukum) juga memengaruhi nama baik rumah sakit.

Continue reading →

Iklan

Pedoman Rujukan Berjenjang

Pada era BPJS Kesehatan, layanan kesehatan menggunakan sistem rujukan berjenjang. Mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (dokter keluarga, klinik pratama, puskesmas) ke tingkat sekunder, hingga pada akhirnya ke tingkat tersiar. Dengan demikian pasien diharapkan mendapatkan pelayanan optimal, dan fasilitas layanan kesehatan mampu menangani kasus kesehatan sesuai dengan kompetensi mereka masing-masing.

Terdapat sejumlah kriteria pasien untuk dapat dirujuk dari fasilitas kesehatan dasar ke fasilitas layanan kesehatan lanjutan. Praktisi kesehatan biasanya memiliki panduan mereka masing-masing. Continue reading →

Membangun Sebuah Hospital Disaster Plan

Indonesia adalah wilayah rawan bencana alam dan bencana buatan manusia. Rumah Sakit adalah salah satu area kerja yang menghadapi tantangan dalam bersiap-siaga menghadapi bencana ini. Oleh karena itu wajar, ketika membangun rumah sakit pertama kali, area yang rawan terkena dampak bencana perlu dihindari, atau tempat di mana bencana mungkin memberikan dampak paling merusak tidak akan cocok dijadikan rumah sakit.

Namun demikian, bencana tidak selalu bisa dihindari. Kita memiliki segudang bencana di negeri ini, baik itu bencana gunung meletus (abu vulkanik), gempa bumi, banjir, angin kencang, hingga bencana buatan manusia seperti ancaman bom dan terorisme. Ketika bencana ini terjadi, rumah sakit akan terkena imbasnya, baik imbas langsung dari bencana seperti kerusakan bangunan dan sistem, maupun imbas tidak langsung seperti lonjakan korban bencana yang menjadi pasien. Continue reading →

Pendekatan Pasien dengan Disabilitas Netra di Rumah Sakit

Orang-orang dengan disabilitas penglihatan (tuna netra, kebutaan, rabun/low vision) merupakan pribadi yang berkebutuhan khusus dalam menyerap situasi lingkungan mereka. Mari kita lihat sedikit panduan bagi tenaga kesehatan atau keluarga pasien, sedemikian hingga Anda bisa membantu pasien merasa mudah dan nyaman selama menjalani rawat inap di rumah sakit.

Continue reading →

Pedoman Praktik Kedokteran yang Baik

Ini bukan tentang panduan praktik klinis bagi seorang dokter yang memuat bagaimana dia mendiagnosis dan memberikan terapi pada pasiennya, atau kapan dia harus merujuk. Namun pada praktik kedokteran yang baik, seorang dokter diajak untuk melihat bagaimana dia “seharusnya” atau “selayaknya” bersikap dengan pasien, kolega dan pihak lainnya dalam situasi dan kondisi tertentu. Misalnya bagaimana seorang dokter bersikap jika ada konflik kepentingan? Continue reading →

Menyampaikan Kabar Buruk Kepada Pasien

Salah satu tantangan dokter dalam berkomunikasi dengan pasien adalah saat menyampaikan kabar buruk, ini bisa menjadi dialog yang paling ingin dihindari oleh seorang dokter. Kabar buruk tidak hanya bisa membuat pasien putus asa, namun juga menutup potensi hasil yang masih bisa diharapkan bagi pasien, jika tidak disampaikan secara baik. Continue reading →