Rapid Test untuk COVID-19

Sejak muncul dan menyebarnya COVID-19 di Indonesia, kita semua pasti pernah mendengar tentang rapid test, atau panjangnya rapid diagnostic test (RDT) untuk mendeteksi COVID-19. Sayangnya, mendengar belum tentu bermakna paham, sehingga banyak kebijakan keliru yang muncul seputar pemeriksaan cepat ini.

RDT COVID-19 merupakan pemeriksaan antibodi terhadap SARS-CoV-2 pada sampel darah yang biasanya diambil dari ujung jari yang dapat dilakukan seketika itu juga di tempat pemeriksaan, sehingga sering disebut sebagai pemeriksaan di tempat atau point-of-care (POC).

Sebagaimana RDT pada umumnya, RDT COVID-19 mendeteksi setidaknya dua jenis antibodi terhadap SARS-CoV-2, yaitu IgM dan IgG SARS-CoV-2.

https://www.ibl-international.com/media/wysiwyg/products/db52181/SARS-CoV-2-RNA-Antigens-and-Antibody-Levels-graphic.png
Ilustrasi pembentukan antibodi sebagai respons terhadap infeksi. Sumber: IBL International.

Oleh karena antibodi (sederhananya: daya tahan tubuh spesifik) perlu waktu terbentuk dari pertama kali antigen (sederhananya: virus) masuk ke dalam tubuh. Maka RDT tidak bisa mengetahui apakah seseorang sudah terkena COVID-19 atau belum secara pasti. Bisa jadi memang tidak, bisa jadi iya, namun karena orang tersebut baru saja terinfeksi SARS-CoV-2, maka antibodi spesifiknya belum terbentuk.

https://www.quimigen.com/upload/rapid-tests-nab2yc.jpg
Luaran RDT COVID-19. Sumber: Natatravel 2020.

Pemeriksaan RDT COVID-19 biasanya menunjukkan empat luaran (baca: hasil) seperti gambar di atas.

C adalah Kontrol (jika positif, maka akan berwarna seperti kontrol); G adalah IgG, dan M adalah IgM.

C akan selalu menunjukkan garis, jika tidak, berarti ada yang keliru dengan perangkat tes yang digunakan. Hasil sebaiknya tidak diinterpretasi.

  1. C (+), G (-), M (-), bermakna tidak ada antibodi spesifik (IgM & IgG) terdeteksi dalam sampel darah. Interpretasinya: (A) Belum terinfeksi COVID-19; ATAU (B) Sudah terinfeksi COVID-19, tapi belum terbentuk IgM & IgG.
  2. C (+), IgG (+), IgM (-), bermakna ditemukan antibodi IgG tanpa IgM dalam sampel darah. Interpretasi: Sudah pernah terinfeksi COVID-19, dan telah melewati fase akut.
  3. C (+), IgG (-), IgM (+), bermakna ditemukan antibodi IgM tanpa IgG dalam sampel darah. Interpretasi: Sedang terjadi infeksi akut COVID-19.
  4. C (+), IgG (+), IgM (+) bermakna ditemukan antibodi IgG dan IgM dalam sampel darah. Interpretasi: (A) Sedang terjadi infeksi akut COVID-19 atau (B) Sedang terjadi infeksi ulang (reinfeksi) SARS-CoV-2.

RDT yang baik selayaknya memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga hasilnya dapat dipercaya. Pada kondisi akut, konfirmasi dengan pemeriksaan RT-PCR dari beberapa sampel dianjurkan. Setelah melewati fase akut, RT-PCR tidak diyakini dapat terlalu bermanfaat, karena kemungkinan proses infeksi sudah selesai.

Apa maknanya? Seseorang yang menunjukkan RDT reaktif bisa jadi sudah melewati fase akut, atau sudah sembuh dari COVID-19 dan sudah memiliki kekebalan (antibodi) spesifik terhadap COVID-19. Sehingga pemeriksaan RT-PCR tidak akan menunjukkan hasil positif, karena pasien sudah sembuh.

Demikian juga, jika RDT non-reaktif, bisa jadi pemeriksaan RT-PCR menunjukkan hasil positif, dan pasien memang positif COVID-19. Hal ini terjadi karena jejak DNA virus yang baru saja masuk ke dalam tubuh ditemukan melalui sampel RT-PCR, dan tubuh belum menghasilkan antibodi spesifik IgM & IgG, sehingga RDT tidak bisa mendeteksinya.

Hal ini juga yang menjadi pertimbangan, mengapa orang yang bepergian melalui transportasi umum, seperti pesawat, kereta dan bus jarak jauh diperiksa RT-PCR sampel apusan (swab). Karena ini menentukan apakah seseorang positif COVID-19 dan berpotensi menularkan ke penumpang lainnya.

Hanya menggunakan surat keterangan sehat dari dokter, atau dengan tambahan keterangan pemeriksaan RDT saja justru bisa “menipu” dan memberikan “rasa aman palsu” dan membantu melonjakkan laju pandemi COVID-19. Karena kedua keterangan medis tersebut, tidak membuktikan bahwa orang yang tidak menderita COVID-19 atau OTG sedang berada di antara orang sehat dalam waktu beberapa puluh menit atau jam ke depan dalam sebuah ruangan tertutup.

Di Amerika, FDA sendiri baru mengizinkan satu jenis produk RDT COVID-19 untuk pemeriksaan pasien pada situasi darurat dengan banyak persyaratan yang harus dipenuhi.

FDA dan Produk RDT untuk situasi klinis. Sumber: FDA.

Mengapa ketat, karena ada setidaknya beberapa hal yang perlu dingat dan dicatat sehingga tidak muncul kekeliruan.

  1. RDT COVID-19 tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis infeksi COVID-19 aktif.
  2. Hasil RDT COVID-19 tidak bisa digunakan untuk menyatakan bahwa orang yang diperiksa kebal atau memiliki tingkat kekebalan (imunitas) tertentu terhadap COVID-19.

Sedemikian hingga, sebagai masukkan dari saya. Bagi Anda yang hendak bepergian atau berkumpul dalam bersama banyak orang, namun penyedia jasa atau pemberi undangan hanya menyarankan surat keterangan dokter dan/atau surat RDT-COVID-19 non-reaktif sebagai syarat boleh “ikut.” Maka saya sarankan, pertimbangkan kembali atau tunda, atau cari penyedia jasa lain.

Karena jika Anda bersikeras bepergian dengan situasi di atas, maka Anda dapat jadi bepergian dengan penderita COVID-19 dan tertular darinya. Atau Anda sendiri adalah penderita COVID-19 yang berpotensi menularkan ke orang lain.

Uji Diagnostik untuk SARS-CoV-2

Pemeriksaan untuk COVID-19 dilakukan melalui pelbagai cara, mulai dari penapisan (screening) dengan menggunakan RDT (rapid diagnostic test), hingga menggunakan RT-PCR (reverse transcriptase–polymerase chain reaction), serta melacak menggunakan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) IgM dan IgG SARS-CoV-2.

Sejauh ini, tes yang paling umum digunakan dan dapat diandalkan untuk diagnosis COVID-19 adalah tes RT-PCR yang dilakukan menggunakan penyeka nasofaring atau spesimen saluran pernapasan atas lainnya, termasuk usap tenggorokan atau, baru-baru ini, dari sampel air liur. Pelbagai target gen RNA digunakan oleh produsen yang berbeda, dengan sebagian besar tes menargetkan 1 atau lebih dari amplop (env), nukleokapsid (N), spike (S), RNA yang bergantung pada polimerase (RdRp) RNA, dan gen ORF1.

Lanjutkan membaca “Uji Diagnostik untuk SARS-CoV-2”

Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia

Pedoman ini merupakan respon cepat Gugus Tugas COVID-19 terhadap munculnya
pandemic global Coronavirus Disease-19 di Indonesia yang telah menjadi perhatian dunia. COVID-19 telah menyebabkan setidaknya 14,705 kematian di dunia dan 49 kematian di Indonesia hingga tanggal 23 Maret 2020. Penyebaran virus dan penambahan korban yang begitu cepat telah menjadi fokus seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Pedoman ini merupakan hasil identifikasi dan diskusi oleh Kementerian Kesehatan, para organisasi profesi, serta para pakar terbaik di bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, dan laboratorium. Pedoman ini juga telah disesuaikan dan sejalan dengan Pedoman Pencegahan dan Penanganan COVID-19 terbaru oleh Kementerian Kesehatan yang diperuntukkan untuk tenaga medis.

syringe and pills on blue background

Photo by Miguel Á. Padriñán on Pexels.com

Lanjutkan membaca “Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia”

Tanda, Gejala dan Pemeriksaan COVID-19

Manifestasi Klinis

COVID-19 memiliki masa inkubasi 1-14 hari, kebanyakan berjarak antara 3 hingga 7 hari. Gejala yang paling umum pada pasien kondisi ringan hingga sedang adalah demam, lelah, dan batuk kering, diikuti oleh gejala lainnya termasuk nyeri kepala, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, nyeri otot, dan nyeri sendi. Sejumlah kecil pasien memiliki gejala saluran cerna, seperti mual, muntah, dan diare, terutama pada anak-anak.

Pada sebuah penelitian dengan 1099 pasien COVID-19, 43,8% kasus menunjukkan demam pada saat onset (dimulainya) sakit dan persentase meningkat hingga 88,7% pasca rawat inap. Perlu dicatat bahwa demam dapat tidak muncul pada pasien lansia atau mereka yang memiliki kondisi penurunan daya tahan tubuh (immunocompromised).

Sebagian pasien dapat menunjukkan perburukkan kondisi berupa sesak napas, umumnya pada minggu sakit kedua, dan dapat dibarengi atau memburuk menjadi hipoksemia (kekurangan oksigen dalam peredaran darah). Lanjutkan membaca “Tanda, Gejala dan Pemeriksaan COVID-19”

Target HbA1c yang ideal pada Penderita Diabetes Melitus

Pasien-pasien dengan Diabetes Melitus, atau sebut saja diabetes, dianjurkan menjalani pemeriksaan dan jika perlu juga menjalani pengobatan secara teratur dan berkala pada dokter atau dokter ahli, sesuai dengan kondisi dan komplikasi yang dialami oleh pasien tersebut.

Dalam ranah dokter keluarga atau dokter layanan primer, pasien mendapatkan lini awal tata laksana diabetes pemeriksaan rutin meliputi kadar ‘gula darah’ untuk mengetahui apakah terapi yang telah dijalani pasien selama ini membuahkan hasil dalam mencapai tujuan mengontrol glikemia atau kadar gula darah.

Lanjutkan membaca “Target HbA1c yang ideal pada Penderita Diabetes Melitus”

Tes Laboratorium untuk Gula Darah

Gula darah atau kadar glukosa darah adalah salah satu tes laboratorium yang paling banyak dikerjakan ataupun diinstruksikan dalam dunia kedokteran, selain pemeriksaan darah rutin. Bahkan karena cukup banyak digunakan, tersedia juga alat genggam yang bisa digunakan untuk memeriksa kadar gula darah secara mandiri.

Ada banyak kasus yang memerlukan pemeriksaan gula darah, mulai dari pemantauan kondisi gula darah pada pasien diabetes, hingga bayi yang mengalami kejang atau pasien asing yang kehilangan kesadaran. Sehingga tes gula darah bisa ditemukan pada kondisi harian di banyak ruangan, mulai dari rumah pribadi hingga ruang triase unit gawat darurat dan ambulans. Lanjutkan membaca “Tes Laboratorium untuk Gula Darah”

Pemeriksaan Laboratorium untuk Hepatitis B

Hepatitis B bisa disebut sebagai “pembunuh yang senyap”, karena hampir tidak ada gejala yang bermakna – bahkan kadang timbul seperti gejala flu saja. Sehingga ada baiknya kita memeriksakan diri untuk kemungkinan terinfeksi hepatitis B.

Namun, okelah, karena saya masih semangat, mungkin saya bisa sedikit berbagi mengenai pemeriksaan hepatitis B (dikenal juga sebagai: anti-HBs; HBsAg; HBeAg; anti-HBc; anti-HBc,IgM; antiHBe; HBV DNA), saya ambilkan rujukannya dari LabTestOnline: Hepatitis B Test.

Lanjutkan membaca “Pemeriksaan Laboratorium untuk Hepatitis B”

Amniosentesis

Amniosentesis (amniocentesis) adalah prosedur yang dilakukan ketika hamil. Alasan paling umum bagi seorang ibu hamil disarankan menjalani amniosentesis adalah guna melihat apakah janin yang dikandungnyanya mengalami kelainan kromosom, seperti misalnya sindrom Down.

Biasanya amniosentesis ditawarkan pasca usia kehamilan 15 minggu (biasanya antara 15-18 minggu). Hal ini dikarenakan pada masa ini terdapat cukup cairan di sekitar janin untuk dimungkinkan diambil sedikit tanpa risiko tinggi terhadap kehamilan. Namun, tetap ada risiko kecil komplikasi dari amniosentesis, termasuk keguguran. Lanjutkan membaca “Amniosentesis”

Prinsip Tes Laboratorium untuk Demam Berdarah Dengue

Sering kali dokter kesulitan menjawab ketika ditanya oleh pasien, “Apakah saya positif demam berdarah Dok?” – tentu saja di sini yang dimaksudkan adalah demam dengue atau demam berdarah dengue. Hal ini disebabkan karena umumnya jika pemeriksaan dilakukan pada fasilitas yang tidak memadai, maka yang bisa dilihat dokter hanyalah gejala, dan tanda klinis, namun tidak keberadaan virus itu sendiri. Jika diibaratkan ketika kita masuk rumah kita menemukan rumah berantakan, maka kita curiga bahwa ada pencuri yang baru masuk, tapi apakah itu pencuri atau tidak – karena kita tidak melihatnya langsung, sulit dikatakan.

Lanjutkan membaca “Prinsip Tes Laboratorium untuk Demam Berdarah Dengue”

Mammografi

Mammogram adalah pemeriksaan foto payudara dengan sinar-x dosis rendah. Ditujukan untuk membantu mendeteksi kemungkinan adanya kanker payudara, bahkan pada stadium yang sangat awal, di mana kondisinya masih bisa diobati/diterapi. Kadang perempuan atau dokter mungkin tidak bisa mendeteksi sendiri adanya benjolan yang mengindikasikan kanker, di sinilah fungsinya mammogram sebagai alat bantu pemindaian payudara. Lanjutkan membaca “Mammografi”